
"Sorry ya sayang, aku enggak jenguk kamu lagi, karena beberapa bulan terakhir aku ditugaskan ke luar negeri dan baru kemaren aku pulang".
Perempuan bersahaja itu terus berbicara panjang lebar yang Shaina sendiri tidak mengerti apa yang dibicarakannya, tapi Shaina menyukai perempuan itu tanpa alasan meskipun ia tidak tahu hubungan apa antara ia dan Helena sehingga ia terlihat sangat akrab.
"Tante Colleen?" Ujarnya Alice bersamaan dengan Alfan.
Perempuan itu menghamburkan diri untuk memeluk kedua anak itu sembari berseru, "Oh... My baby Tante sangat merindukan kalian tahu?".
Perempuan itu semakin mendekap erat mereka dengan sangat gemas.
"Kalian pasti sangat senang sebentar lagi akan punya adik bayi kan?" Tanya perempuan itu melepaskan pelukannya.
Alice dan Alfan mengangguk sedangkan Shaina masih bingung dan tidak tidak kenal sosok perempuan yang terlihat sangat akrab dengan anak-anak Helena.
"Shai- eh maksudku Helena" Calvin meralat Kalimatnya yang salah ucap, "dia kakakku Colleen, sahabatmu dari dulu" tukasnya melanjutkan kalimatnya.
Shaina mengerjap lalu ia tersenyum untuk menetralisir perasaannya yang bingung harus bersikap seperti apa, tapi Calvin yang dapat membaca keadaan segera memberitahu Colleen bahwa Helena mengalami amnesia yang otomatis tidak mengingat siapapun di masa lalunya.
"Ya ampun! Benarkah Helena?" Colleen terkejut mengetahui keadaan sahabatnya itu.
"I-iya, maaf ya aku lupa tentang nona juga" ucap Shaina yang cengengesan.
Colleen kembali memeluk Shaina.
"Tidak Helena, seharusnya aku yang minta maaf, teman macam apa aku ini sampai-sampai aku tidak tahu apa-apa keadaanmu" balas Colleen suaranya merendah.
Shaina mencoba tersenyum pada Colleen, bersikap seperti seorang Helena sungguhan, dan Colleen pun percaya ditambah tidak seorangpun dari mereka termasuk Calvin sendiri yang tidak menceritakan kebenaran tentang keberadaan Shaina.
Lalu Colleen mengajak Helena dan anak-anak untuk duduk di bangku karena itu khawatir dengan Helena yang hamil tua, ia juga sempat memarahi Joon karena kurang perhatian pada Helena, ia juga menyuruh Helena untuk tidak ragu-ragu meminta bantuan pada Calvin jika ia mengalami kendala dalam kesehatannya.
"Kita ke sana yuk!" Ajak Harris pada dua temannya untuk ikut main ski.
"Aku disini saja" sahut Joon sambil melirik Shaina dan anak-anak.
"Tidak apa-apa kamu pergi sana, Helena dan anak-anak biar sama aku jaga" sela Colleen.
Harris dan Calvin juga ikut menyakinkan Helena akan baik-baik saja bersama Colleen, Shaina sendiri juga tidak keberatan di tinggalkan bersama teman Helena itu.
Namun bukan Joon saja yang bergabung dengan teman-temannya, melainkan Alfan juga meminta ikut bersama Joon dan teman-teman pamannya itu, karena ia juga tertarik untuk mencoba berseluncur di salju dengan papan khusus tersebut. Shaina yang ditemani Alice, mengajak mengobrol teman Helena tersebut apalagi Colleen terlihat dengan dengan Alice. Meski Shaina bingun harus membahas apa dengan Colleen tapi berusaha bersikap wajar agar ia tidak ketahuan jika dia bukan Helena sesungguhnya.
BUUUKKK!
Karena keasyikan ngobrol sambil berjalan-jalan, tidak sengaja Shaina menumbruk seseorang dari belakang.
__ADS_1
"Maaf... Maaf..." Ucap Shaina pada orang yang di tabraknya.
Seorang lelaki berjas formal menatap Shaina yang meminta maaf padanya. Shaina menjadi cemas ia akan kena masalah dari kecerobohannya.
"Kau tidak apa-apa Helena?" Tanya Colleen seraya memegang pundak Shaina.
Shaina menggeleng kepalanya pada Colleen, lalu ia melihat ke arah lelaki yang ditabraknya itu dengan tatapan redup, karena khawatir ia akan di marahi oleh sang empunya tubuh.
"Apa kabar Professor?" Laki-laki itu menyorongkan tangannya pada Shaina.
Shaina menyambut tangan lelaki itu seraya berkata "kabar baik".
"Maaf, apa Anda mengenalnya?" Tanya Colleen pada lelaki itu.
"Tentu saja, tapi hubungan kami tidak terlalu dekat" ujar lelaki itu sambil tersenyum tipis saat mengarahkan pandangannya pada Shaina.
Shaina masih terheran-heran melihat laki-laki bertubuh tinggi itu dengan pipinya ditumbuhi bulu-bulu halus yang cukup lebat, memperlihatkan ketegasan dari karakternya dan terkesan seperti bukan orang biasa.
Mata lelaki itu menyoroti perut besar Shaina yang diikuti senyuman tipis di bibirnya, "Ku harap Joon merawat mu dengan semestinya" sambung lelaki itu.
"I-iya, Joon baik pada kami" sahut Shaina, ia berpikir pria itu salah seorang dari temannya Joon yang lain.
"Sekarang dia dimana?" Tanya lelaki itu.
Lelaki itu mengarahkan pandangannya ke atas bukit yang di penuhi orang-orang berjaket tebal, beberapa diantaranya membawa perlengkapan ski.
"Tidak ada yang berubah, masih tidak bertanggung jawab, meninggalkanmu dalam bahaya dia malah bersenang-senang dengan teman-temannya" tukas pria itu sambil mengangkat salah satu alisnya yang diiringi dengan senyuman tipis.
"Anda salah paham, Joon tidak meninggalkanku" sela Shaina.
"Ku dengar-dengar kau amnesia akibat kecelakaan itu dan itu sangat berbahaya karena banyak hal yang tidak kau ketahui lagi" potong lelaki itu.
"Hah?!" Shaina mengerjap dan tidak mengerti yang dibicarakan lelaki itu.
"Apa yang anda bicarakan? Dan siapa Anda?" Sela Colleen yang menangkap ada yang aneh dari ucapan lelaki itu saat mengobrol dengan Shaina.
Lelaki itu tersungging, ia melihat pada Alice dan Shaina, "aku hanya khawatir pada keluarga almarhum sepupu ku yang harus di rawat oleh seorang berandalan" tukas lelaki itu.
Shaina terkejut mendengar lelaki itu menyebutkan Joon sebagai berandal, dan hatinya bertanya-tanya maksud lelaki itu sampai mengatakan Joon seperti itu.
Semua tampak lelah setelah puas bermain terlebih lagi Alfan yang tampak jelas ia kelelahan mendaki bukit sambil menenteng papan ski lengkap dengan sticknya, tidak tertinggal pula helm pengaman buat berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan walaupun Joon dan teman-temannya selalu sigap mengawasi anak itu.
Sebuah rumah makan di lokasi tersebut jadi pilihan mereka beristirahat sambil menikmati hangatnya secangkir kopi bertemakan sup ikan, berbeda dengan Shaina dan anak-anak yang tidak bisa menikmati kopi, tapi bukan alasan mereka tidak bisa memanjakan perut mereka seperti yang lain, namun pilihan mereka jatuh pada coklat panas yang tidak kalah nikmat.
__ADS_1
"Sejak kapan kau Helena makan ikan? Bukankah kau vegetarian?" Tanya Colleen yang heran melihat Shaina makan ikan.
"Hah?!" Shaina tersentak, "i-itu karena aku sedang hamil dan kandungan ikan bagus untuk tumbuh-kembangnya janinku" jawab Shaina seraya melirik tiga lelaki yang juga mengarahkan pandangan mereka padanya karena mereka tahu kalau yang bersama mereka sekarang bukan Helena tapi Shaina.
"Kau ini memang berbeda setelah kecelakaan itu, sudah seperti bukan Helena yang ku kenal dulu, kau seperti orang asing sekarang" celetuk Colleen.
Perkataan Colleen membuat yang lain kaget, oleh karena itu mereka segera mengganti topik pembicaraan untuk mengalih perhatian Colleen dari Shaina.
"Ah! Ah! Panas...!" Karena kurang hati-hati, mulut Alfan terbakar oleh sup yang ia sedu.
Sontak semua mata tertuju padanya, tidak terkecuali Joon.
"Makanya pelan-pelan, sini biar paman tiup buat Alfan" ujar Joon mengambil alih sendok sup Alfan.
Setelah meniup sup, Joon juga menyuapinya dengan hati-hati agar Alfan tidak kebakaran oleh sup yang panas.
"Menyebalkan! Alice kan enggak bisa makan kalo begini?" Ketus Alice yang duduk di sebelah Shaina.
"Kenapa Alice?" Joon mengarahkan matanya pada Alice yang tiba-tiba cemberut.
"Rambut Alice mengganggu sekali...! Saat Alice mau makan, rambut Alice ikut jatuh" papar Alice sambil memegang rambutnya yang tergerai bebas meski memakai kupluk rajut.
Joon meletakkan sendok sup dan berkata, "kesini Alice, paman punya ide" ujar Joon dengan senyuman manisnya.
Terlihat jelas Alice terkesan marah saat menghampiri Joon, apalagi saat Joon memintanya berdiri dengan membelakanginya. Joon melepaskan karet gelang hitam di tangannya lalu di lilitnya dirambut Alice.
"Udah selesai... Rambut Alice pasti tidak kan enggak ganggu lagi" cetus Joon yang tersenyum lebar.
Alice kembali ke kursinya dan memulai makannya lagi.
"Ini baru nyaman, terima kasih paman, walau paman tidak se-jago Mama, Alice suka kepangan paman ini...!" Ungkap Alice dengan penuh kebahagiaan menatap Joon yang juga tidak berbeda-beda jauh seperti keponakannya tersebut.
Sebuah tos tangan tercipta di meja itu antara Joon dan Alice yang sumringah.
"Waaaa... Ternyata Joon manis juga ya?" Celetuk Colleen, melihat sikap Joon terhadap si kembar, "Ngomong-ngomong sejak kapan kau mulai akrab dengan keponakanmu ini?" Sambung Colleen.
"Iiiihhh... Kayak gitu aja dibilang manis? Hati-hati lho Colle, bisa-bisa kamu nanti jadi korban kebulusukannya" timpal Calvin.
Colleen terkekeh mendengar pernyataan adiknya yang tidak senang temannya di puji olehnya.
"Kalau itu sih aku sudah tahu, tapi melihat Joon sekarang sepertinya sudah siap jadi ayah" lanjut Colleen.
HKUUKK! HKUUUKKK!
__ADS_1
Mendadak Shaina tersedak dengan kuah sup, Colleen dan yang lain secepatnya membantu Shaina dan memberikannya air untuk meringankan pedasnya kuah sup ikan yang ditaburi sosis.