Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Perempuan selalu benar


__ADS_3

Di ranjang yang empuk itu Shaina kembali membaringkan tubuhnya, beberapa menit sudah berlalu, sosok yang di harapkan belum juga menampakkan diri. Gelimang air mata yang hangat itu, tangannya tampak menari lincah di kepalanya untuk memijat bagian yang mendadak terasa sakit. Sambil berdoa, berharap bayi di dalam kandungannya baik-baik saja.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, terlihat bayangan berdiri di depan pintu.


"Shaina? Kamu kenapa?" Tanya Joon yang masuk ke kamar.


Sosok yang sejak tadi diharapkan muncul oleh Shaina, melihat ranjangnya berantakan dengan bantal yang berserakan dimana-mana sampai ada yang terjatuh di lantai, membuat Joon cukup terkejut sekaligus heran dengan apa yang sedang terjadi.


"Joon... Kau datang?" Gumam Shaina.


"Tadi aku mendengar suaramu memanggil ku" kata Joon, "kau baik-baik saja? Ada yang sakit?" Sambung Joon, menghampiri Shaina yang terkulai dalam balutan selimut.


Joon mendekat dan meletakkan punggung tangannya di dahi perempuan itu, ia terkejut mengetahui kepala Shaina sangat panas, lalu menyeka air matanya yang menetes. Joon juga mengangkat Shaina ke tengah ranjang dan menidurkan dengan posisi yang benar agar ia tidak jatuh saat bergerak.


"Jangan pergi, aku takut ditinggal sendirian" lirih Shaina yang mencegah Joon hendak keluar dari kamar.


"Aku keluar sebentar mau mengambil air untuk mengompres mu, aku akan kembali" kata Joon.


Tidak seberapa lama kemudian pintu kamar kembali terbuka dan Joon datang dengan membawa baskom berisi air hangat dan diambilnya handuk kecil dari lemari lalu direndamnya handuk itu kedalam air hangat, setelah itu Joon meletakan handuk basah itu di dahi Shaina.


"Sejak kapan kau demam?" Tanya Joon sambil mengompres Shaina.


"Entahlah!" Sahut Shaina.


"Bagaimana kau bisa demam tinggi seperti ini" tambah Joon.


"JIKAPUN AKU TAU AKU TIDAK AKAN SEPERTI INI!!" Hardik Shaina, "orang sakit ditanya-tanya terus sudah kayak di ruang operasi aja" lanjutnya.


"Diruang interogasi" ralat Joon atas perkataan Shaina yang salah sebut.


"IYA ITU!! tadinya mau bilang ruang interogasi juga!!" Timpal Shaina, "iiihh... Jadi sebel deh!" Gerutu Shaina sambil memukul-mukul Joon yang hampir menumpahkan air didalam baskom.


Joon terkekeh melihat Shaina yang mulai ngambek lagi seperti anak kecil.


"Kok di ketawain? Kan makin nyebelin... Sebel... Sebel...!" Gerutu Shaina lagi.


"Maaf, cup-cup tidur aja yang tenang biar demamnya turun" bujuk Joon dengan lembut, dan menyelimutinya dengan penuh perhatian.


"Kamu doain aku cepat mati ya? Suruh aku tidur dengan tenang!!" Sembur Shaina yang mendadak itu dan membuat Joon terkejut.


"Apaan sih? dari tadi salah melulu? Aku jadi bingung menghadapi mu" ketus Joon.


Seketika tangis Shaina pecah bahkan ia tampak tersedu-sedu karena ucapan Joon tersebut membuat Joon semakin bingung.

__ADS_1


"Kau memarahi ku? Hiks! Hiks! Hiks!" Sungut Shaina.


"Tidak, mana mungkin aku memarahi orang hamil, aku hanya bergumam sendiri saja, kamu tidur aja ya? Tidurlah... Agar demammu segera turun".


Shaina kembali tenang dan mengangguk seperti anak kecil yang menggemaskan, ia memejamkan matanya dengan membiarkan Joon mengelus-elus kepalanya yang tertempel handuk kecil sebagai alat kompres penurunan panasnya. Dengan sangat hati-hati Joon melepaskan lengannya dari pelukan Shaina yang sudah tertidur, ia berusaha tidak membuat suara sekecil pun agar tidak membangunkan Shaina.


"Mau kemana...?" Tanya Shaina yang tiba-tiba.


Baru selangkah Joon menjauh dari tempat tidur, ia sudah disuguhi pertanyaan oleh Shaina yang masih terjaga.


"A-aku... mau ke kamar mandi" sahut Joon.


"Bohong! Pasti mau keluar kan? untuk ketemuan sama seseorang di luar sana, alasan semacam itu sudah basi!"


"Aku cuma mau pup doang di kamar mandi" sahut Joon.


Shaina menatap tajam pada Joon seakan tatapannya mengisyaratkan ia tidak percaya dengan kata Joon.


"Apa aku harus pup di sini biar kamu percaya?" Timpal Joon yang mendengus.


Secepatnya Joon masuk ke kamar mandi dan duduk di kloset, sudah dari tadi ia tidak tahan lagi untuk mengeluarkan hasil metabolismenya.


"Gila... Mau pup doang sudah kayak buronan yang kepergok sama polisi" gumam Joon.


Shaina yang merasa pusing dan untungnya pinggulnya tidak lagi sakit melainkan ia merasa kedinginan saja, jadi ia mengganjal belakang tubuhnya dengan bantal untuk menopang perutnya, belum lagi ia merasa nyeri di bagian pay*daranya.


Shaina meringis kesal pada dirinya sendiri, "Aku tidak cemburu, ini bukan cinta, aku tidak percaya cinta itu ada, perasaan ini hanya karena kami terlalu sering bersama saja, tidak lebih dari itu" gelut Shaina dengan hatinya.


"Helena pasti ngelakuin hal yang sama seperti ku" lanjutnya.


Saat Joon kembali dari kamar mandi, ia melihat Shaina sudah tertidur pulas, panas demamnya juga sudah turun. Joon ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Shaina, sebelum ia memejamkan matanya ia sempat memandangi wajah Shaina hingga membuatnya tersungging, setelahnya ia juga menyentuh pipi Shaina dengan lembut dan penuh kasih.


"Bermimpi lah yang indah, penyihir ku..." Ucap Joon sambil menatap Shaina.


Ia dikagetkan tangan Shaina yang tiba-tiba di letakkan di dadanya, namun Joon tidak kesal melainkan ia tersenyum dan ikut menggenggam tangan lembut itu.


"Dasar penyihir super sensi... Tolong jangan sampai kau bersikap seperti ini pada lelaki lain, cukup padaku saja" Gumam Joon lagi.


Malam semakin larut dan hanya ada keheningan bersama makhluk malam di cuaca yang mulai memasuki musim dingin. Semua orang sudah terlelap yang terbuai dalam mimpi mereka. Joon menarik selimutnya yang sudah merosot saat ia tertidur, dalam setengah kesadarannya ia mencoba menghangatkan tubuhnya, meski semua alat pendingin sudah di matikan tetap saja sulit untuk tidur jika tidak berselimut dengan selimut yang tebal. Ia merasa kosong saat mencoba meraba-raba di sebelahnya, meski matanya sangat berat untuk terbuka ia tetap berusaha keras.


Joon tersentak kaget melihat Shaina yang sudah duduk di ujung ranjang sambil menatapnya dalam cahaya remang-remang.


"Kenapa kau duduk di sana? Apa kau sakit lagi?" Tanya Joon pada Shaina yang terdiam di kakinya.

__ADS_1


Shaina menggelengkan kepalanya lalu sedikit agak mendekat sambil bergumam, "Joon... Aku pengen...".


Joon mengerenyit dan bingung dengan maksud Shaina, tapi kesadarannya kembali sepenuhnya, ia langsung semringah, "jangan sekarang aku ngantuk banget" sahutnya.


"Aku maunya sekarang!" Tukas Shaina.


Joon tersungging, "baiklah, kamu yang memaksanya jangan salahkan aku nantinya" Joon bangkit dari tidurnya, "suasana yang pas sekali di udara yang dingin seperti ini" celetuk Joon yang membuka bajunya.


Refleks Shaina memejamkan matanya, "apa yang kau lakukan? Cepat pakai bajumu!" ujar Shaina pada Joon yang membuka bajunya.


"Oh! Kamu enggak suka main buka baju ya? asal jadi aku sih enggak apa-apa" dengus Joon yang tersenyum simpul dengan pikiran kotornya.


"Kamu mau kan? Kamu enggak marah kan? Aku bangunin tengah malam gini?" Tanya Shaina.


"Apa sih? Mana mungkin aku marah, tidak tidur semalaman pun aku bisa, jika buat Mama manis ku apa sih yang enggak?" Joon memakai bajunya kembali, ekspresinya sudah seperti orang yang baru memenangkan lotre, "ayo kita mulai" lanjutnya sembari ingin memeluk Shaina.


Shaina langsung turun dari ranjang sambil menarik tangan Joon untuk keluar bersamanya.


"Di dapur? Ta-tapi, apa ini tidak terlalu terbuka? Bagaimana kalau anak-anak bangun nanti? kan enggak enak dilihat mereka" gerutu Joon yang heran dengan Shaina yang membawanya ke dapur.


Shaina menggelengkan kepalanya sambil berkata, "memangnya kenapa? Kita bagi saja mereka, siapa tahu mereka mau?".


Joon mengerenyitkan keningnya, "bagi? tu-tunggu, sebenarnya kita ngapain ke sini?" Tanya Joon.


"Aku pengen makan bubur kacang merah, aku lihat tadi siang di TV ada iklan kacang merah dan di kulkas juga ada kacang merah, tapi aku tidak bisa membuatnya" papar Shaina.


Joon terdiam memaku, karena kenyataan tidak seperti yang ia kira, "jadi, tadi kau bilang pengen itu... pengen makan bubur kacang merah?" Gumam Joon.


Shaina mengangguk dengan kedua matanya membulat sempurna menatap Joon yang hanya bisa menepuk jidatnya karena terlanjur senang ia tidak sempat berpikir panjang apa yang di inginkan perempuan hamil.


"Bodoh! Kenapa aku berpikir Shaina akan mengajakku begituan? Dasar si otak mesum!!!" Batin Joon.


"Kau bicara sesuatu?" Tanya Shaina.


"Tidak ada, aku hanya mengatakan kacang merah harus di rendam dulu semalaman baru bisa buat bubur" kata Joon, "kamu makan besok aja ya?" Lanjutnya.


Mendengar jawaban Joon, Shaina kembali cemberut sambil bergumam, "aku maunya sekarang..." rengeknya dan hampir-hampir menangis.


"Tapi tidak bisa, harus bagaimana lagi? Kamu makan yang lain saja ya?" Saran Joon.


Shaina menggelengkan kepalanya, dan selalu jawaban yang sama di berikan Shaina, meski Joon menawarkan makanan lainnya hingga menyarankannya untuk besok hari saja di buatnya bubur yang dimaksud Shaina, tapi ia masih kekeh dengan keinginannya dan tetap mau makan bubur kacang merah. Joon yang berdiri di depan tepatnya di depan meja mengerenyit heran, ia tidak habis pikir dengan fase ngidam Shaina yang tidak kunjung hilang meski telah memasuki bulan ke lima kehamilannya.


Setelah menghembuskan nafas panjang ia bertanya, "Kandunganmu sudah lima bulan tapi kenapa ya kau masih saja ngidam? Seharusnya itu kan tidak ada lagi".

__ADS_1


"Mana aku tahu? Memangnya aku dokter kandungan?" Timpal Shaina yang kesal dengan pertanyaan Joon.


Joon menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari beberapa kali menguap mengingat ia baru sebentar saja memejamkan matanya Shaina sudah kembali membangunkannya, meminta di buatkan bubur kacang merah selarut itu.


__ADS_2