
"Maaf nona Helena, Joon mabuk berat" kata Harris.
"Mabuk?" ujar Shaina.
Harris dan Calvin mengangguk, melihat Joon dalam keadaan seperti seperti itu membuat Shaina sangat shock karena ia tidak pernah menghadapi orang mabuk bahkan bermimpi saja tidak pernah apalagi menghadapi secara langsung, Shaina tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan pada kedua lelaki itu untuk membawa Joon ke kamarnya karena ia tidak kuat membopong tubuh Joon ke kamarnya, sedangkan Joon sendiri sudah dibawah pengaruh alkohol dimana kesadarannya dititik terendah dan tidak dapat mengontrol dirinya berjalan dengan baik lagi.
"Joon, kenapa kau mabuk?" Tanya Shaina dengan suara memelas.
"Siapa kau? Aku tidak peduli padamu Helena maupun Shaina, kalian semua akan membuangku!!" Timpal Joon dengan melepaskan pegangan teman-temannya yang membantunya berjalan.
Joon terjatuh ke sofa, Shaina pun segera menghampirinya. Bau alkohol dari mulutnya sangat menyengat bagi Shaina hampir-hampir saja ia muntah karena tidak tahan dengan aroma minuman haram itu.
"Joon, aku minta maaf, tolong jangan mabuk lagi..." Kata Shaina, ia merasa bersalah dengan keberadaannya yang membuat Joon stress.
"Apa pedulimu? Aku tidak tahu siapa kau dan sekarang aku malah percaya pernyataan mu... Pergi kau!!" Joon mendorong Shaina.
Shaina terduduk di lantai karena di dorong oleh Joon, ia bersyukur Joon tidak mendorongnya dengan keras yang bisa membahayakan kandungannya, tubuhnya bergetar dan matanya juga tidak kuasa menahan air mata untuk mengalir, ia tidak menduga Joon jadi seperti itu karena pernyataannya yang mengaku sebagai Shaina bukan Helena, pernyataan yang tidak masuk akal itu telah membuat Joon mabuk.
"Joon... Aku minta maaf..." Gumam Shaina.
Kedua teman Joon melihat Shaina dan Joon, lalu mereka di minta mengantar Joon ke kamarnya. Tapi Joon juga enggan di bantu oleh mereka berdua tapi mereka tidak mau mendengarkan Joon.
Di depan pintu Shaina mengantarkan dua temannya Joon keluar, "Terima kasih telah mengantar Joon pulang" kata Shaina pada teman Joon.
"Iya, kami juga minta maaf karena membawa Joon pulang seperti ini" kata Harris.
Shaina merunduk sambil tersenyum yang di buat-buat. Harris dan Calvin meninggalkan rumah Joon dengan membawa mobilnya yang sudah di diberitahukan pada Shaina untuk membawa mobil Joon dan besok ia akan mengantarkannya kembali.
Shaina kembali mengunci pintu dan masuk ke kamar Joon, melihat lelaki muda itu tertidur pulas. Shaina membantu melepaskan sepatu dan jaket yang di pakai Joon. Tanpa sadar Shaina menangis di samping ranjang Joon, ia tidak menduga karenanya yang terjebak dalam tubuh Helena membuat Joon sulit menerimanya.
"Kenapa Joon terus mengatakan perempuan itu bukan Professor Helena?" Tanya Calvin
"Kata orang mabuk didengarkan" sergah Harris yang sibuk menyetir.
"Tapi aku merasa ada yang aneh dengan nona Helena, dia seperti tidak mengenaliku padahal dia kan sahabat kakakku, dulu dia juga sering mengobrol denganku" tambah Calvin.
"Kau cemburu? Nona Helena tidak mengenali mu dan lebih memperhatikan Joon sekarang?" Celetuk Harris.
__ADS_1
"Kau ini!! Kau kira aku apaan?" Tanya Calvin.
Harris tersungging dan menoleh pada sahabatnya itu, "kau pikir aku tidak tahu apa? Dari dulu kau menyukai Professor Helena, karena dia cantik dan cerdas tapi sayang dia sudah menikah" ujar Harris.
Calvin mendengus kesal pada Harris, "bukan itu maksudku tapi nona Helena sekarang ia terlihat agak pendiam berbeda seperti dulu, dia juga terlihat sangat mencemaskan Joon" tambah Calvin.
Harris terkekeh-kekeh mendengar perkataan Calvin, dan dia semakin memanaskan Calvin dengan menceritakan bagaimana Joon sering di telpon oleh Helena saat mereka sedang bekerja. Obrolan mereka terus berlanjut dalam perjalanan pulang.
Paginya...
Perlahan Joon membuka matanya, kepalanya masih terasa sangat berat, matanya menatap langit-langit lalu beralih seisi ruangan dan ia tahu betul kamar itu kamarnya, dengan setengah kesadaran ia kembali mengingat-ingat kejadian semalam tentang dirinya yang mabuk berat, ia kebingungan bagaimana dirinya bisa pulang dengan selamat . Dengan tenaga yang ada Joon bangkit dari tidurnya, duduk dengan di topang oleh tangannya dan tangan yang lain memegang kepalanya, berusaha mengingat-ingat cara ia pulang. Tapi saat menoleh ke sampingnya ia sangat terkejut karena ada seseorang tidur bersamanya semalam.
Perempuan itu tidur dengan membelakanginya, jadi Joon tidak dapat melihat wajah orang tersebut, perlahan-lahan Joon bergerak untuk melihat siapa perempuan di sebelahnya itu, sekaligus khawatir ia semalam membawa pulang perempuan dari klub dan menidurinya mengingat kesadarannya yang nol persen itu karena pengaruh alkohol, dan jikapun benar maka ia tidak tahu harus berkata apa pada Shaina.
Saat sudah dapat melihat sosok perempuan tersebut, Joon kembali dikagetkan karena perempuan itu tak lain adalah Shaina sendiri. Pelan-pelan Joon menarik selimut yang menutupi tubuhnya Shaina, untuk memeriksa apakah l pakaian Shaina masih utuh dikhawatirkan mereka tidak hanya tidur saja apalagi Joon semalam dalam keadaan mabuk berat.
"Ya Tuhan! Semoga semalam aku tidak melakukan itu padanya, dia sedang mengandung anak kakakku, bisa gila aku memperkosa istri kakakku sendiri..." Ringis Joon dengan tatapannya masih fokus pada Shaina dan tangannya terus memerosoti selimut itu.
Akhirnya Joon menghembuskan nafas lega karena Shaina masih berpakaian lengkap dan tidak ada tanda-tanda bekas bercinta di tubuh Shaina, namun tanpa diduga ia terus memandangi wajah Shaina yang mirip seperti anak kecil saat tertidur. Saat Shaina bergerak secara tiba-tiba Joon langsung menyingkir dari Shaina dan sangat terkejut Shaina yang berbalik badan secara tiba-tiba lalu memeluknya dalam dekapan hangatnya.
Seketika jantung Joon berpacu dengan cepat seakan ingin menerobos dadanya ketika Shaina meletakkan kepalanya di dada kekarnya, perasaan yang tidak biasa bahkan disaat Joon sedang bersama perempuan lain termasuk kekasihnya sendiri tidak seperti itu.
"Aku takut mati... Aku janji akan jadi Mama yang baik" gumam Shaina dengan mata yang masih terpejam, kecupan manis pun mendarat di dada Joon.
Joon terdiam mendengar perkataan Shaina, "Oh no! Jangan yang itu" rintih Joon dengan mencekal tangan Shaina dari pinggangnya yang semakin ke bawah sampai di pinggang celananya.
Joon menyingkirkan tangan shaina hingga membangunkannya, awalnya Shaina tidak tahu apa yang terjadi bahkan ia tidak sadar jika dirinya tidur bukan di tempat seharusnya. ia melihat kesegala arah dan merasa ada yang aneh karena menurutnya Alice atau Alfan tidak sebesar itu. Dan betapa terkejutnya saat melihat orang yang bersamanya ternyata bukan anak kecil melainkan Joon bahkan ia sampai memeluk Joon yang tanpa mengenakan baju itu, dengan cepat ia mendorong Joon untuk menjauh dari dirinya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau disini?" Pekik Shaina sembari meringkuk tubuhnya dan menutup diri dengan selimut.
BUUKK!!!
Joon terjerembab ke belakang dan terjatuh dari ranjang akibat dorongan Shaina.
"Apa-apaan ini? Seharusnya aku yang menanyakan kenapa kau tidur di kamarku?" Timpal Joon.
"A-apa yang kau bicarakan?" Gumam Shaina.
__ADS_1
Shaina terperanjat mengingat kejadian semalam ia terlalu mengantuk setelah menangis dan tidak sadar ia ikut tertidur di sebelahnya Joon.
Joon bangkit dari lantai sambil memegang kepalanya yang terasa berat, "jangan-jangan kamu ingin melakukan itu dengan ku ya?".
BUKKK!!!
Dengan keras Shaina melempar bantal pada Joon, "Bicara apa kau ini? Dasar otak kotor!!!"
Shaina bergegas beranjak dari ranjang tapi saat ia hendak pergi dari kamar, mendadak Joon memegang kepalanya sambil meringis, "aduhh!!"
Shaina secepatnya kembali menghampiri Joon dan memapahnya, "kau tidak apa-apa?" Tanya Shaina.
"Kepala ku pusing dan berat" gumam Joon, "aku tidak mengira semalam aku minum sebanyak itu" tambahnya.
Sontak Shaina melepaskan pegangannya dari Joon hingga membuat lelaki itu terjatuh ke ranjang dengan kasar, "kau pantas mendapatkannya!!! Bahkan segunung batu menimpamu kau juga pantas menerimanya!!!" Timpal Shaina.
"Kenapa kau marah-marah? Memangnya salah apa aku padamu?" Tanya Joon.
"Salah?! Aku menunggumu pulang semalaman suntuk, dan pulang mabuk-mabukan begitu! Masih kau tanya salah apa?" Timpal Shaina.
Joon terperanjat mendengar pernyataan Shaina yang menunggunya pulang semalam. Shaina secepatnya keluar dari kamar Joon sembari menahan malu karena tidur bersama Joon dan mengakui ia menunggu Joon pulang semalam.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian Shaina menyiapkan sarapan pagi untuk semua anggota keluarga, dan ia sengaja tidak membangunkan Alice dan Alfan karena itu hari libur jadi Shaina membiarkan mereka bangun lebih lama sedikit.
Shaina belajar memasak menu baru sesuai dengan selera orang-orang Aus**** yang telah ia browsing internet semalam saat menunggu Joon pulang. Meskipun tampak kesulitan karena ia tidak suka memasak tapi ia berusaha keras untuk tidak mengecewakan Alice dan Alfan.
"Masak apa?" Tanya Joon yang tiba-tiba muncul di dapur.
Shaina menoleh pada Joon, "aku tidak tahu masakan apa ini, tapi menurut dikatakan di internet ini sarapan yang sering disaji saat sarapan orang-orang Aus****" kata Shaina.
Shaina melihat Joon masih tampak pusing jadi ia memberikan air perasan lemon untuk meredakan rasa mualnya karena mabuk. Joon merasa senang karena di perhatikan oleh Shaina bahkan matanya terus memburu gerak-gerik Shaina di depannya, perutnya juga sudah terlihat agak lebih besar daripada kemarin-kemarin.
"Mobilmu dibawa oleh Harris yang waktu itu semalam, katanya hari ini ia akan mengembalikannya" kata Shaina, nada bicaranya sudah berbeda dengan tadi pagi.
Joon mengangguk lalu meneguk air yang di disuguhkan Shaina sambil menahan rasa asamnya. Dari gelagatnya perempuan yang didepannya sudah jelas itu bukan Helena, walau fisiknya Helena, tapi perempuan lain yang mempunyai sifat agak girlie dan manja jauh dengan karakter Helena yang dewasa dan tertata secara keseluruhan, tapi Shaina orang yang ceroboh dan ceria, sifatnya juga sulit ditebak dari awalnya marah bisa berubah menjadi baik dalam waktu singkat.
Shaina juga tampak sangat ekspresif, dia bisa cemberut, tersenyum bahkan terlihat jutek dalam waktu bersamaan. Itu membuat Joon mulai dapat membedakan dua karakter itu dari satu orang.
__ADS_1
"Aku tidak tahu itu kebiasaan mu atau bukan tapi tolong jangan minum lagi" ujar Shaina yang membuyarkan lamunan Joon.
Joon mengarahkan pandangannya pada Shaina yang kembali bergulat dengan kesibukan paginya menyiapkan sarapan, "kenapa? Bukannya kau senang aku mabuk? Jadi punya kesempatan untuk tidur denganku" celetuk Joon yang tersungging.