Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
bullying


__ADS_3

Hari-hari terus bergulir, hari gajian pun tiba. Joon menerima gajinya dengan penuh rasa syukur atas upayanya selama ini, di selipkannya amplop berisikan sejumlah uang yang sudah jadi miliknya ke dalam mantel yang ia kenakan sebagai pelindung dari udara dingin. Hal sama juga dirasakan oleh pegawai lainnya, mereka bersuka cita atas gaji mereka setelah sebulan penuh menguras tenaga dan waktu mereka untuk bekerja.


Harris meletakkan lengannya di tengkuk Joon melihatnya dengan mata berbinar-binar dan berkata, "Joon, kita keluar yuk, kita makan-makan bos yang traktir".


"Iya Joon, kapan lagi kita keluar buat senang-senang ditraktir pula sama bos kan lumayan...!" Nimbrung Gia yang cengengesan melirik bos di ujung kafe yang sekaligus sang kekasihnya.


Joon menghela nafas berat, "maaf aku enggak bisa ikut, aku harus pulang" ucap Joon.


"Iiiihhh! Kamu enggak seru Joon, masak enggak gabung lagi bareng kita, akhir-akhir ini kamu juga sering pulang cepat udah kayak punya istri dan anak di rumah" celetuk yang lain.


Joon tersungging, "sorry" ucap Joon.


Harris menurunkan tangannya dari pundak Joon dengan sedikit kekecewaan tapi daripada yang lain ia lebih mengerti alasan Joon yang menolak ajakan mereka.


Setelah berpisah dan pamit lebih dulu pada yang lain, Joon tidak langsung ke halte bus melainkan ia meluruskan langkahnya ke toko yang berderet sepanjang jalan dan berhenti di sebuah toko tas khusus anak-anak. Lelah berkeliling dan bingung dengan pilihannya yang sesuai untuk selera Alice, Joon mengambil salah satu tas berkarakter Disney bewarna merah yang cukup menarik perhatiannya dari yang lain.


"Saya ambil ini" ujar Joon pada penjaga kasir.


"Baik pak" sahut penjaga kasir yang tersenyum-senyum, ujung matanya melirik Joon di sela-sela packing, "Ada ingin yang lain pak? Misalnya boneka?" Tambahnya, bukan salah sang penjaga kasir tersebut jika mencuri-curi pandang untuk bisa melihat Joon, tapi itu karena paras Joon saja yang kelewatan enak di pandang.


"Tidak, terima kasih" jawab Joon.


Dalam perjalanan pulang Joon tidak henti-hentinya tersenyum, memandang tas bawaannya tersebut, ia tidak ingin menunggu lagi segera tiba di rumah untuk melihat bagaimana bahagia Alice mendapatkan hadiahnya.


Seperti rencananya tiba di rumah Joon langsung memanggil Alice sembari menyembunyikan bawaannya di belakangnya, bahkan Shaina yang melihat ikut heran dengan sikapnya itu.


"Coba tebak, paman bawa apa untuk Alice?" Ucap Joon pada Alice, bibirnya seakan tidak bisa untuk tidak tersenyum.


"Tidak tahu, paman bawa apa?" Sahut Alice.


"Taraaa....! Paman punya sesuatu untuk Alice...." Joon memberi bawaannya pada Alice.


"Waaaahhh! Itu tas baru.... Horeee!!!" Seru Alice yang senang langsung membuka bungkusan tersebut setelah mengetahui itu isinya tas.


Ketika bungkusan tas itu terbuka semuanya mendadak Alice diam dan cemberut.


"Kenapa Alice? Alice tidak suka?" Tanya Joon yang bingung melihat Alice diam.


Alice kecewa tapi tidak dengan Alfan yang ikut senang melihat tas baru milik Alice itu.


"Joon..." Sela Shaina menyentuh lengan Joon.


"Alice tidak suka tas ini! Hiks hiks hiks! Tas ini jelek!" Pekik Alice yang menjatuhkan tas itu dan duduk memeluk lututnya di sofa.


"Tapi kenapa? tas ini bagus kok, ada karakter Disney nya juga" kata Joon.


"Iya Alice, tas mu bagus ada gambar mobilnya, Alfan aja suka" sela Alfan.


Hiks....! Huaaaa....!


Tangis Alice semakin kencang mendengar kalimat Alfan dan Joon soal tasnya.


"Tas itu jelek! Jelek! Jelek! Alice tidak suka!!!" Pekik Alice.


Shaina mendekati Alice dan membelainya, "Alice jangan gitu, ini pemberian paman lho! Khusus di beli untuk Alice" ucap Shaina.


"Mamaaa.... Alice tidak suka itu tas anak cowok bukan untuk Alice..." Gerutu Alice dalam pelukan Shaina.


Joon berdecak, "CK, jadi aku salah beli?" gumam Joon.


Joon mendekat pada Alice dan Shaina, ikut duduk di sebelah mereka, "Alice, Paman minta maaf, soalnya paman tidak tahu apa yang disukai Alice, tapi ini keren lho, ada lightning McQueen nya si super car yang bisa melaju sangat cepat, siapa tahu nanti kita juga bisa punya lighting McQueen sungguhan" ujar Joon.


Alice berbalik badan dan melihat kearah Joon, "benarkah ini bagus?" Gumamnya.


"Tentu saja, lihatlah McQueen nya aja tersenyum melihat Alice, nanti kita naik McQueen sungguhan, Alice mau kan?" Papar Joon.


Dengan cepat Shaina mencubit lengan Joon yang diikuti wajah kesal.

__ADS_1


"Jika ingin menenangkan anak enggak usah beri harapan ketinggian nanti bisa kecewa" sela Shaina.


Joon tersungging pada Shaina yang tidak senang dengan bujukannya pada Alice yang dianggapnya hanya bualan belaka.


Alice mengambil tas pemberian Joon untuk di pakainya hingga ia kembali tersenyum meski sesekali menyeka air matanya.


****


Di ruang berfasilitas lengkap dan mewah itu, Darrell duduk di meja kebesarannya dengan menghadap ke layar laptopnya, memperhatikan gerak-gerik seorang perempuan yang terekam di kamera, perempuan itu adalah sosok Shaina bertubuhkan Helena yang bersama anak-anak di halaman rumah mereka.


Sudah beberapa hari sejak kunjungannya ke rumah Joon, Darrell membayar orang-orang untuk mengawasi Shaina karena ia menangkap ada yang berbeda dengan Helena di kenalnya, Helena sekarang lebih seperti gadis muda pada umumnya dengan sifat girly dan cute, tampak malu-malu di depan lelaki tidak terkecuali saat bersama Darrell yang memiliki hubungan tidak baik antara mereka sebelumnya.


"Awasi terus perempuan itu!" Titah Darrell pada dua lelaki bertubuh tegap yang berdiri sembari merunduk di depan meja kerjanya.


"Baik pak" Sahut mereka sebelum meninggalkan ruang kerja Darrell.


Darrell memutar kursinya dan posisinya kini menghadap ke jendela kaca dibelakangnya, hampir seluruh kota Wina yang ditemani hingar-bingar malam terlihat melalui jendela tersebut dari ketinggian ribuan kaki itu.


"Bagaimana bisa Helena berubah 180 derajat seperti ini? Jangan-jangan ini hanya akal-akalannya saja, jika itu benar kau telah memilih jalan yang salah, Helena" ucap Darrell seorang diri, bibirnya tersenyum tipis.


****


Meski sempat terjadi drama semalam, akhirnya Alice tampak ceria dan bangga memakai tas yang dibelikan oleh Joon tidak peduli karakter apa yang mendumpleng di bagian depan tas tersebut.


Mereka berangkat ke sekolah barengan sambil menggandeng tangan Joon dan duduk di sebelahnya Joon ketika mereka naik bis. Namun dalam perjalanan ke sekolah, perhatian Alfan tertuju pada seorang anak yang merupakan teman sekelas mereka.


"Hai Alfan" sapa temannya yang duduk di bangku samping, anak itu memegang ponsel yang jadi pusat perhatian Alfan sejak tadi karena anak itu tampak seru bermain game.


"Hai juga" sahut Alfan, matanya masih tidak teralihkan pada smartphone anak itu.


Namun perhatian Alfan itu di sadari oleh sang punya smartphone terbaru, dan ia bertanya, "kapan aku bisa melihat smartphone mu, Alfan? Aku juga ingin melihat kau bermain".


Alfan tersentak tidak tahu harus menjawab apa, ia teringat pada Shaina yang tidak suka jika mereka berbohong.


"Aku...aku... Tidak punya smartphone" jawab Alfan.


"Aku berbohong, aku tidak punya smartphone apapun..." Tukas Alfan.


"Hahaha... Ternyata kau tidak punya smartphone? Dasar penipu!!!" Tambah anak itu.


Joon yang sedari tadi mengamati mereka jadi jengkel apalagi ia melihat Alfan sangat malu dan seperti ingin menangis.


"Hei nak! Masih kecil jangan bicara sekasar itu pada orang lain itu tidak baik" kata Joon pada anak tersebut.


Mendengar perkataan Joon, anak tersebut langsung mengadu pada ibunya sambil menangis, mengatakan Joon membentaknya.


"KAU! Kau kira kau ini siapa, seenaknya membentak putra ku!!!" Sembur perempuan yang di sebelah temannya Alfan.


"Aku tidak membentaknya tapi memintanya untuk bersikap sopan pada orang lain" sahut Joon.


"Tidak membentak? Tapi kenapa putraku bisa menangis?" Timpal perempuan itu.


"Mana aku tahu, itu putramu" balas Joon.


anak itu kembali mengadu kepada ibunya bahwa Joon membentaknya karena Alfan ingin bermain smartphone barunya, dan tangis nya pun semakin kencang.


Namun, Joon berkilah kalau putra si ibu itu berbohong, tapi perempuan itu tidak percaya dengan kata Joon, ia lebih percaya pada putranya.


"Kau itu yang pembohong dan miskin! Satu smartphone saja tidak mampu diberikan untuk anak-anakmu!" Timpal perempuan itu.


"Jaga bicara anda, nyonya!" Ucap Joon.


"Memangnya salah yang kukatakan? Kau itu hanya pelayan cafe! Mana mungkin punya uang untuk membahagiakan anak-anakmu! Makanya jangan suka punya anak jika tidak punya uang!" Lontar perempuan itu pada Joon.


Joon terdiam dan kembali duduk ke tempatnya karena ia jadi pusat perhatian penumpang yang lain.


"Ya beginilah anak muda yang suka pacaran lewat batas, ketika punya anak tidak bisa di urusin" bisik yang lain.

__ADS_1


Joon diam meski telinga berdenging mendengar stigma orang-orang padanya, apalagi wajah Joon dengan Alfan dan Alice lebih 50 persen ada kemiripan yang sangat besar dan siapapun yang melihat mereka pasti akan menganggap mereka ayah dan anak.


"Paman, Alfan minta maaf" gumam Alfan.


"Alfan jangan pikirkan itu" ucap Joon.


"Paman jangan ceritakan sama Mama, Alfan cemas Mama akan marah lagi jika tahu Alfan berbohong" kata Alfan.


"Alfan jangan khawatir ya, kalian fokus saja belajar dan jangan pikirkan yang lain" katanya lagi.


Namun ejekan tentang Alfan yang berbohong mengenai smartphonenya itu berlanjut sampai di kelasnya hingga teman-temannya yang lain ikut mengatai Alfan si pembohong dan tidak memiliki punya HP, mendapat kelakuan tersebut Alfan tidak melawannya karena janjinya pada Shaina yang melarangnya untuk berkelahi di sekolah.


Berbeda dengan Alice yang melawan dan tidak terima saudaranya dihina.


"Hentikan! Alfan bukan pembohong!" Pekiknya Alice.


Ia mengejar teman-temannya yang menghina Alfan.


"Alice, tas siapa yang kau pakai itu? Itu bukan pas pinjaman kan?" Celetuk yang lain.


"Mana mana?" Mereka berkumpul dan mengelilingi Alice, "waaaahhh iya benar! Inikan tas murahan banyak yang pakek juga..."


"Ternyata Alice dan Alfan sudah miskin ya? Tasnya saja tas sumbangan".


Teman-teman sekelasnya menyerobot tas milik Alice dan di tarik-tariknya mereka hingga tali dan resletingnya rusak parah meski Alfan dan Alice mencoba merebutnya kembali dan menyelamatkan apa yang bisa mereka selamatkan namun tidak membuahkan hasil yang bagus.


Sehari penuh selama di sekolah Alfan dan Alice mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari teman-teman sekelas, walaupun begitu mereka tidak menangis maupun melawan meski menahan malu dan air mata.


Pulang sekolah, sikap mereka tidak ada yang berbeda, sama seperti hari-hari sebelumnya, kejadian di sekolah masih belum mereka ceritakan pada Shaina maupun Joon. Hanya saja keduanya lebih sering berada dekat dengan Shaina, bermanja-manja dan tidur di pangkuannya hingga perasaan itu tidak tertahankan lagi, Alfan maupun Alice menangis sesugukkan yang membingungkan Shaina dan Joon.


Setelah bersusah payah membujuk barulah Alice dan Alfan menceritakan apa yang mereka alami tadi di sekolah.


"Ini benar-benar rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi" kata Shaina sambil melihat pada Joon.


Mereka tidak menduga tas baru Alice telah terkoyak-koyak hingga tidak bisa digunakan lagi.


Joon berdiri dari tempatnya. "Kalau gitu ayo siap-siap kita akan pergi dan mencari tas baru untuk tuan putri kita" seru Joon membuat Shaina tersenyum.


"Ok, aku ikut, dan siapa lagi yang mau ikut?" Tambah Shaina yang tidak kalahnya bersemangat.


Alice dan Alfan menyeka air mata mereka lalu tergantikan dengan tawa cekikikan melihat Joon dan Shaina yang bersiap seperti seorang tentara.


Beberapa menit berselang mereka sudah tiba di pusat perbelanjaan setelah keluar dari taksi.


"Kamu tidak apa-apa kan harus jalan-jalan seperti ini?" Tanya Joon pada Shaina sambil memegang tangannya, untuk membantu Shaina berdiri di eskalator dengan perutnya yang besar.


"Aku baik-baik saja, daripada aku di rumah bosan rasanya, aku juga ingin lihat dunia luar" sahut Shaina sambil berbisik pada Joon.


"Terserah kau sajalah jika kau senang" balas Joon yang semakin mempererat genggamannya sehingga mereka saling beradu pandang yang diiringi dengan senyum.


Takut tersesat Shaina terus menggandeng tangan Alfan agat mereka tidak terpencar di toko yang lumayan luas itu, menjualkan berbagai bentuk dan warna tas khusus anak-anak semuanya lengkap dengan harga bervariasi.


Joon terus mengikuti Alice yang sibuk memilih-milih akan tas yang ingin di belinya, dan pilihannya jatuh pada tas ransel berwarna pink dengan karakter Barbie di depannya, namun diwaktu bersamaan lewat seorang anak kecil yang juga bersama orang tuanya.


"Alice? Kau disini?" Tanya anak kecil itu yang merupakan teman sekelasnya.


"Iya, kamu sendiri?" Balas Alice.


"Aku sih lagi shopping sama papi dan Mami ku, kamu?" Ujar temannya.


"Aku ju-"


"Jangan bilang kamu mau beli itu? yang aku tahu tas itu udah ketinggalan jaman harganya juga pasaran dan tidak berkelas gitu" sela temannya memotong pembicaraan Alice.


Mendengar itu Alice terdiam dan setelah beberapa saat setelah temannya pergi, Joon menghampirinya.


"Waaaahhh... tas Alice cantik sekali seperti Alice, sekarang ayo kita bayar" seru Joon.

__ADS_1


__ADS_2