Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Mimpi


__ADS_3

Shaina mendorong Joon darinya, "lepaskan aku! Aku tidak kenal kamu!" Pekik Shaina.


Namun Joon semakin mendekat meski Shaina telah memundurkan tubuhnya.


"Shaina, lihatlah aku, aku suamimu, kita sudah menikah, dan lihatlah anak-anak sudah besar, aku menjaga mereka seperti permintaan mu" Joon mengarahkan pandangannya pada si kembar.


Shaina memundurkan langkahnya dan menjauh dari Joon.


"A-aku tidak kenal kalian, aku belum pernah menikah dengan siapapun apalagi untuk punya anak, aku juga tidak mungkin bisa menikah dengan orang seperti mu, kenal saja tidak" tukas Shaina.


"Mama... Apa Mama melupakan kami?" Sela Alice.


"Melupakan bagaimana? Aku memang belum pernah melihat kalian apalagi untuk menikah dan punya anak, jikapun aku menikah setidaknya ada yang mengenal kalian, maaf kalian salah orang" tukas Shaina memundurkan langkahnya dan berbalik badan untuk pergi dari tempat itu.


"Joon, hentikan! Dia bukan Shaina yang kita cari, dia saja tidak kenal dengan kalian, namanya saja yang sama tapi dia bukan Shaina!" Seloroh Harris.


Joon menatap wajah teman-temannya yang menunjukkan sikap tidak percaya sama seperti Harris.


"Elif ku tidak mungkin salah mengenal ibunya, kalian lihat kan elif tidak pernah mau pada orang lain tapi dengan perempuan tadi dia tidak mau melepaskannya" ujar Joon.


"Joon kau bilang Elif itu anak kecil yang polos, ya tentu dia tidak tahu apa-apa tentang hal semacam ini" sela Calvin.


"Terserah kalian tidak percaya! Tapi aku sangat yakin itu Shaina kami, aku sangat mengenalinya dan akan ku buktikan dia istriku" Joon pergi meninggalkan keramaian itu.


Alice juga mengikuti Joon.


"Alfan" ucap Darrell.


"Maaf, aku setuju dengan Papa dan Alice" sahut Alfan, setelah itu ia juga menyusul papanya.


Calvin mengejar Joon dan anak-anaknya untuk dapat mencegah apapun yang ingin di lakukan Joon karena ia tahu betul sesuatu yang menyangkut Shaina, Joon tidak akan tinggal diam sampai ia menemukan jawabannya.


Harris merasa serba salah pada keluarganya yang sejak tadi memperhatikan dengan bingung, tapi ia juga ikut menyusul teman-temannya bersama Darrell. Hannah tidak tahu persis apa yang sedang berlangsung dengan Joon dan anak-anak tapi ia tidak menduga reaksi Joon terhadap perempuan tadi menimbulkan rasa cemburu dihatinya.


Joon dan anak-anaknya menyusuri keberadaan Shaina hingga matanya menangkap sosok perempuan itu di parkiran sedang mengeluarkan motor maticnya dari tempat parkir.


Tidak ingin menundanya Joon langsung menyusul dan mencegat tangan Shaina sekali lagi. Shaina mengerjap kaget dan panik melihat Joon.


"Lepaskan aku, aku mau pulang tidak mau di permalukan lagi!" Geram Shaina.


"Shaina berhenti, ini aku Joon dan anak-anak kita" ucap Joon.


Shaina menghela tangan joon, yang diikuti dengan senyum sinis, "anak? Sejak kapan aku punya anak? aku perempuan mandul dan tidak bisa memiliki anak jadi tolong jangan mengejekku seperti ini, aku malu dan sangat tahu diri!" Berang Shaina.

__ADS_1


Ia kembali menstart motornya, lalu melajukan ke jalan raya, Joon mendengus kesal bersama anak-anak yang sedih karena Shaina pergi. Tidak lama setelahnya Harris tiba dengan teman-temannya, menyuruh Joon tidak bertindak gegabah karena belum tentu itu Shaina.


"Tolong berikan alamat Shaina, aku harus mengejarnya" pinta Joon pada Harris.


"Untuk apa? Joon, itu bukan Shaina yang kita kenal!".


"Tidak. Aku yakin itu Shaina, aku harus bertemu dengannya!" Pinta Joon.


"Joon, hentikan dan sadarlah Shaina itu tidak ada" tambah Darrell.


Joon mendengus kesal dan melihat teman-teman yang kembali menganggapnya berhalusinasi, "baiklah jika kalian tidak percaya, lihat saja akan ku buktikan perempuan itu Shaina ku!" Putus joon, ia kembali ke dalam rumah bersama anak-anaknya dan mereka masuk ke kamar.


Harris dan yang lain semakin mengkhawatirkan Joon yang akan melakukan berbagai cara untuk membenarkan keyakinannya mengenai sosok Shaina yang belum ada titik terang mengenai keberadaan perempuan misterius itu.


Harris menyeka tengkuknya dengan kasar, "ya Tuhan, semoga saja Joon tidak mengacaukan pernikahan Fahri, jika tidak aku yang akan di persalahkan" dengus Harris.


Harris mondar-mandir di kamarnya dan aksinya itu malah jadi tontonan Calvin dan Darrell.


"Ya ampun! Aku tidak tahan lagi, aku harus mencegahnya" gumam Harris, dengan langkah cepat ia keluar dari kamar dan di ikuti oleh dua temannya, namun ketika baru beberapa langkah dari kamar ia sudah di hadang oleh ayahnya, pak Herman.


"Masuk dulu" ucap pak Herman pada putra semata wayangnya itu.


"Tapi Pa, aku harus menemui Joon sebelum dia melakukan hal buruk" ujar Harris.


Harris tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah ayahnya, di kamar yang mereka tempati itu pak Herman duduk menghadap putra dan dua temannya.


"Janganlah tergesa-gesa memutuskan sesuatu apalagi ini mengenai hati, kalian harus memikirkan perasaan Joon" ujar pak Herman.


"Tapi Pa, Joon benar-benar di luar batas, masak tunangan Fahri di klaimnya sebagai istrinya yang bahkan perempuan itu tidak mengenal Joon, aku harus mencegahnya tidak peduli dia akan memecat ku karena ini menyangkut hubungan orang lain, dia tidak boleh seenaknya" tukas Harris.


"Itu benar Om, Joon harus bangun dari mimpinya itu" tambah Darrell.


"Om mengerti maksud kalian yang tidak mau Joon kenapa-napa tapi kalian tidak boleh gegabah menyuruh Joon berhenti, karena menurut Om dengan apa yang dialami Joon, ia wajar seperti itu, kehilangan orang yang dicintai terkadang bisa meninggalkan trauma yang mendalam bagi yang ditinggalkan seperti yang dialami Joon, namun tugas kalian sebagai sahabat yang peduli dengannya berilah waktu yang tenang untuk Joon dan bicarakan pelan-pelan padanya" jelas pak Herman.


"Ya semoga saja bisa mengerti itu" cemoh Harris.


Pak Herman menatap lembut pada Harris, berharap putranya mau menerima nasehatnya.


"Terima kasih Om sarannya, nanti kami cara membantu Joon" sela Calvin.


Setelah ayahnya keluar, Harris menemui keluarganya untuk meminta maaf terutama pada Fahri atas kejadian tidak menyenangkan yang dilakukan Joon dan anak-anaknya.


****

__ADS_1


"Ya Allah, teganya mereka membicarakan kekurangan ku di depan umum, aku benar-benar sangat malu..." Lirih Shaina dalam tangisnya.


Di dalam kamarnya, diam-diam Shaina menangis karena perkataan Fahri dan nasib buruk yang menimpanya, namun ratapannya tidak berlangsung lama karena ia tidak mau keluarganya mendengarnya.


Shaina menyeka air matanya dan hendak meraih ponselnya tapi yang didapatkan malah pita rambut Elif yang diletakkan di samping bantal tidurnya.


"Andai saja mereka memang anakku, itu pasti sangat menyenangkan" batin Shaina.


Bayangan Elif dan kakak kembarnya kembali menghampiri lamunannya, membuatnya bermimpi terlalu jauh, tapi ia segera mengetuk kepalanya untuk menyadarkan dirinya bahwa itu tidaklah mungkin.


Waktu sudah menunjukkan tengah malam, Shaina memejamkan matanya untuk memulai tidurnya yang sempat tertunda.


Cahaya yang sangat terang menyilaukan mata membuat Shaina harus mengedip-ngedip matanya untuk menyamankan penglihatannya, dan pelan-pelan cahaya terang itu menghilang sehingga Shaina dapat melihat dengan jelas.


"Aaaa!" Pekik Shaina yang terkejut mendapati sepasang tangan melingkari pinggangnya.


"Sayang, aku merindukanmu" ucap orang yang memeluknya dan saat Shaina melihat wajah orang tersebut membuatnya terkejut bukan kepalang, karena orang tersebut ialah Joon yang tersenyum lebar padanya


Shaina berusaha keras melepaskan tangan Joon darinya tapi tenaganya seakan melemah, sampai-sampai Joon dengan mudahnya memutar tubuh Shaina, tatapan lembutnya seakan berirama mengikuti detakan jantung Shaina. Lama semakin lama Joon mendekatkan wajahnya pada Shaina hingga bibir mereka saling bertemu.


"Aku mencintaimu, pulanglah sayang..." Bisik Joon.


Shaina tersentak dan terbangun dari mimpinya, perasaan malu tiba-tiba menyerangnya, ia tidak menyangka ia memang memimpikan Joon sejauh itu.


Ia menggantikan posisi tidurnya dengan berbalik badan, berharap bayangan Joon menghilang namun itu tidak berjalan mulus karena mimpi yang sama kembali menyapanya.


Dengan langkah pelannya, Shaina berjalan di ruangan itu, ruangan yang tampak seperti dapur dengan sepasang kekasih sedang beradu kasih, Shaina ingin pergi dari tempat itu karena tidak mau jadi pengintip orang lain, tapi langkahnya seakan enggan untuk menjauh dari tempat itu, yang ada ia malah semakin mendekat hingga Shaina dibuat terbelalak saat dapat melihat jelas sosok Joon yang bersama seorang perempuan dengan wajah mirip dengan Shaina.


Joon dan bayangan dirinya tersenyum pada Shaina, adegan kemesraan lainnya ditunjukkan mereka berdua pada Shaina, dimana Joon menyebarkan kecupan hangat di sekujur leher perempuan itu dan Shaina semakin memerah saat mendapati bayangan dirinya juga tidak sungkan-sungkan membalas ciuman Joon dan tersenyum kearahnya.


"Bawalah aku bersamamu" ucap bayangan Shaina pada Joon.


Mendadak terdengar suara tangis bayi dan seorang anak laki-laki berlari ke arah Shaina dan menggenggam tangannya, Shaina mengikuti langkah kecil anak laki-laki itu ke ruangan lainnya yang terdapat boks bayi dan di sebelahnya tampak seorang anak perempuan yang sedang menenangkan bayi dengan beberapa mainan.


Anak perempuan itu menyerahkan adik bayinya pada Shaina yang tertegun dan bingung dengan apa yang dilihatnya, mendadak Joon memeluknya dari belakang sambil berbisik.


"Pulanglah sayang, kami membutuhkan mu" bisik Joon.


"Mama, kami sangat merindukan Mama" tambah anak kembar itu yang menatap Shaina dengan tatapan berbinar-binar.


Shaina tersentak dari mimpinya dan terbangun tengah malam, pita rambut sebelumnya masih didalam genggamannya. Shaina menelentangkan tubuhnya dan memandangi langit-langit kamarnya yang redup itu. Mimpi barusan memunculkan tanda tanya besar dalam benaknya.


****

__ADS_1


__ADS_2