
"Terima kasih, kami di bolehin makan malam bersama kalian" ucap Calvin pada Shaina.
"Tidak masalah, kami malah senang rame seperti ini" sahut Shaina.
"Iya Om, Alice suka dengan om Harris, orangnya lucu dan suka main" sela Alice.
"Benarkah? Oh makasih, om juga senang main sama Alice, kapan-kapan Om datang lagi ya?" Ujar Harris yang tersungging mendengar pernyataan Alice.
Alice mengangguk kecil sembari tersenyum lebar.
"Om Calvin datang lagi ya? Alfan mau di ajarin biar jadi dokter kayak Om" tambah Alfan.
"Tentu saja, Om akan sering-sering main dengan Alfan" ujar Calvin.
Semua orang sibuk mengobrol dengan Calvin dan Harris tapi tidak dengan Joon yang berdiri sendiri di belakang mereka tanpa ada yang mengajaknya ngobrol, ia terlihat sangat kesal dengan kedua temannya yang mendapat perhatian lebih dari Shaina dan anak-anak.
"Ngobrol aja terus... Bisa enggak kelar-kelar pulangnya" gumam Joon sendiri.
Sontak semua mata tertuju padanya.
"Apa? Jangan hiraukan aku, ngobrol aja terus sampai besok pagi juga boleh" cicit Joon dengan ekspresi bete, saat mereka semua mengarahkan pandangan mereka padanya.
"Joon..." Ucap Shaina karena tidak enak hati dengan Calvin dan Harris atas perkataan Joon.
Harris dan Calvin pun terlihat kesal pada Joon tapi mereka juga tidak mempermasalahkannya karena mereka tahu betul sifat Joon.
"Kami pulang dulu ya?" Kata Calvin pada mereka.
"Iya Om, bye!" Alice dan Alfan melambaikan tangan pada kedua lelaki itu.
"Pulang sana kapan-kapan jangan datang lagi ya?" Ketus Joon sambil tersenyum.
Setelah mobil dan motor kedua pemuda itu menjauh dari rumahnya, Joon langsung menutup pintu rumahnya agar udara dingin tidak masuk kedalam rumah.
Alice dan Alfan masih tampak mengabaikan keberadaan Joon.
"Om Calvin dan Om Harris orangnya ganteng-ganteng ya? Seandainya Alice sudah gede Alice mau jadi pacar mereka" celetuk Alice sambil membayangkan Harris dan Calvin.
"Pacar-pacaran? Tidurnya saja masih di nina-boboin udah mikir pacar-pacaran!" Ketus Joon pada Alice.
"Bukan begitu paman, maksud Alice, Om-om itu sangat keren, apalagi Om Calvin, dia dokter tapi orangnya asik buat seru-seruan" sela Alfan.
"Ini satu lagi! Tidur sana ini sudah malam!" Timpal Joon yang semakin kesal dengan pernyataan anak-anak itu.
Seketika Alice dan Alfan berlari ke kamar untuk menghindari dikejar-kejar oleh Joon yang marah-marah. Namun Shaina malah terkekeh kecil dengan sikap mereka bertiga.
"Apa? Kau juga mau memuji-muji mereka di depanku?" Joon memeluk Shaina dari belakangnya.
"Joon... Lepaskan aku, kau bau, mandi sana!" Ketus Shaina yang mencari-cari alasan agar Joon melepaskan pelukannya.
"Kalau aku sudah mandi nantinya memangnya kamu mau aku peluk?" Lirih Joon sambil mengecup pundak Shaina.
"Enggak mau" balas Shaina dengan wajah yang dibuat-buat jutek.
__ADS_1
Sambil terkekeh Joon merenggangkan dekapannya dan melepaskan Shaina.
"Aku menidurkan mereka dulu ya?" Kata Shaina.
"Iya, aku juga mau mandi tapi setelah itu aku juga mau di tidurkan" celetuk Joon.
"Apaan sih?" Ketus Shaina yang tersungging.
Shaina segera masuk ke kamar Alice dan Alfan untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena permintaan dan perlakuan Joon yang terus berbeda setiap waktunya, tidak henti-hentinya ia tersenyum-senyum sendiri dan hatinya terasa sangat menyenangkan apalagi ia belum pernah mendapat perhatian seperti itu oleh orang lain terhadapnya. Dan tentang Joon yang dikatai bau itu tidaklah benar yang ada Shaina malah betah mencium aroma tubuh Joon yang membangkitkan gairah s*ksualnya.
Anak-anak sudah tertidur pulas, Shaina juga mau tidur, perlahan-lahan ia membuka pintu kamar Joon agar tidak menciptakan suara, saat ia mengintip ke dalam Shaina tidak melihat siapapun, jadi ia masuk sambil melangkah perlahan.
"Apa yang ingin kau curi?" Tanya Joon.
Shaina mengerjap kaget karena Joon tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Kenapa kau ini?" Timpal Shaina yang kaget sambil menutup muka dengan tangannya.
"Kau ini, masuk ke kamar saja sudah seperti pencuri pake mengendap-endap segala!" Ketus Joon.
"Bukan itu! Tapi kenapa tidak kau kancing bajumu?" Sembur Shaina yang malu.
Tubuh Joon yang sangat atletis bak seorang model seksi dengan otot perut yang tidak berlebihan itu membuat Shaina dag-dig-dug sendiri, apalagi dalam keadaan bertelanjang dada seperti sekarang, hatinya semakin berdentum keras seakan hendak menerobos dadanya. Sebelum Shaina masuk ke kamar, Joon sedang berpakaian setelah mandi tapi ia keburu melihat Shaina yang mengendap-endap maka ia lupa mengancingkan piyama tidurnya karena perhatiannya teralihkan pada perempuan itu.
Joon tersungging melihat Shaina salah tingkah sambil menutup wajahnya, "kancingkan" ucap Joon.
"Apa?" Shaina kaget sampai menurunkan tangannya dari wajahnya.
"Kancingkan kalau tidak mau maka akan ku lepaskan semua termasuk celanaku" bisik Joon di telinga Shaina.
Dengan terburu-buru Shaina mengancingkan piyama Joon tanpa peduli otot indah yang memanggilnya untuk di elus lembut olehnya.
"Susu mu sudah habis kenapa tidak katakan?" Tanya Joon dengan nadanya melembut.
Seketika Shaina menghentikan tangannya yang sedang mengancing baju Joon, ia mendongakkan wajahnya pada Joon yang lebih tinggi dari dirinya, ia mendapati pandangan Joon meredup dan menenangkan hatinya.
"Aku tidak suka minum susu, jadi aku sengaja tidak memberi tahu mu susunya habis jika tidak, kamu pasti akan membelikanku susu" kata Shaina sambil tersenyum yang dibuat-buat.
"Kau tidak pintar berbohong, jadi katakan yang sebenarnya" desak Joon.
Shaina menatap wajah Joon lekat-lekat, mencari manik mata indah itu bergerak, "kau tidak punya uang, harga susu itu mahal dan aku tidak mau membebankan mu, membeli keperluan rumah dan anak-anak sudah cukup untukku" ujar Shaina.
"Shaina, aku tidak bermaksud menggantikan posisi kakakku bagi Helena dan anak-anaknya tapi kebutuhan kalian sekarang tanggungan ku, aku akan berusaha keras menjadi sosok ayah untuk anak-anak mereka termasuk janin didalam perutmu ini" Joon menyentuh perut Shaina, "jadi tolong beritahu ku kebutuhan kalian, akan ku usahakan untuk dapat memenuhinya" tambah Joon.
Tanpa sadar Shaina menitikkan air matanya, "aku minta maaf, aku lupa kalau ini bukan tubuhku dan aku tidak bisa seenaknya bersikap seperti pada tubuhku sendiri" lirih Shaina.
Joon menyeka air mata Shaina, "kau tidak salah, kau hanya orang baik yang tidak mau membebani siapapun" tambah Joon.
"Joon... Eumm..." Ucap Shaina.
Belum Shaina ingin mengatakan sesuatu Joon telah menempelkan bibirnya ke bibir Shaina dan mencium dengan penuh nafsu lalu memaksa l*dahnya masuk kedalam mulut sebaliknya, Shaina pun sudah dibuat skakmat dan tidak bisa menolaknya. Tangan Joon melingkar di pinggang Shaina yang perlahan memundurkan langkahnya perempuan itu hingga ia duduki di ranjang dengan sangat berhati-hati supaya ia tidak terjatuh yang bisa berakibat fatal bagi janinnya.
Saking agresifnya, Joon yang dalam posisi berdiri rela membungkukkan badannya agar ia tidak menekan perut besar Shaina untuk dapat menikmati manisnya madu cinta Shaina. Setelah memadu kasih yang cukup panjang dan mesra itu Joon melepaskan bibirnya dari Shaina.
__ADS_1
HUFF..HUUFF....!
Shaina tersengal-sengal karena kehabisan nafas.
"Aku minta maaf" ucap Joon pada Shaina.
Tapi Shaina hanya diam sambil memasang wajah cemberut.
"Malam ini aku tidur disini ya?" Ujar Joon.
"Memangnya aku bisa mencegah mu? Bukankah kau selalu seenaknya saja?" Timpal Shaina.
Joon terkekeh dan ikut naik ke ranjang untuk membaringkan tubuhnya yang lelah seharian bekerja, melakukan ini dan itu, bergerak ke sana-sini dan tidak ada waktu beristirahat karena hari ini di kafe cukup ramai.
Shaina juga ikut duduk di sebelah Joon yang terbaring karena ia belum ingin tidur.
"Tadi siang Calvin juga datang" kata Shaina pada Joon.
Mendengar itu, Joon segera bangkit dari tidurnya, "ngapain dia kesini?" Tanya Joon.
"Katanya sih mau main doang di waktu luangnya".
"Dasar anak itu! sekarang main belakang ya?" Decak Joon.
"Kenapa?"
"Tidak ada, Oh ya! Kalau besok-besok mereka datang lagi ketika aku tidak ada di rumah, enggak usah diladeni disuruh pulang saja, mereka itu orang-orang tidak benar" ketus Joon yang tampak kesal.
"Kalau mereka tidak benar kenapa kau berteman dengan mereka bahkan kalian sangat dekat?".
"iiisshhh kau ini!!" dengus Joon pada Shaina yang sengaja menggodanya.
Sikap Joon itu malah ditertawakan oleh Shaina, sampai-sampai ia harus memegangi perutnya karena terlalu keras tertawa. Joon kembali membaringkan tubuhnya di ranjang sambil memikirkan sesuatu. Sedangkan Joon terdiam membisu sambil memandangi Shaina yang tampak sangat puas.
Waktu terus berlalu, malam semakin larut, kedua pasang mata mereka belum juga terpejam meski saling membelakangi namun pikiran mereka memiliki satu harapan.
"Ayo kita menikah" ucap Joon.
Shaina terdiam kaku sekaligus kaget dengan perkataan Joon, dan berkata, "apa?!".
Joon bangkit dari tidurnya dan kali ini ia duduk dengan menghadap pada Shaina, menatap lekat-lekat matanya dengan penuh perhatian.
Joon masih kekeh menyakinkan Shaina mengenai pernikahan dan dia mengakui kesalahannya selama ini, perlakuan Shaina seperti pasangan halalnya, memeluk, menciuminya, bahkan menyentuhnya dengan sesuka hatinya dan ia juga mengakui tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya diantara mereka berdua yang pastinya bukanlah sesuatu yang menguntungkan bagi Shaina sebagai perempuan, karena Joon sendiri manusia biasa yang bisa dikendalikan oleh nafsu, menurut Joon satu-satunya jalan keluar untuk melindungi mereka dari dosa besar adalah pernikahan.
Maksud Joon berkata seperti itu bukan tanpa alasan, tapi ia lebih ingin melindungi Shaina untuk tetap menjadi gadis suci.
"I-iya, ta-tapi apa kau yakin? Joon, aku..." Shaina tergagap.
...----------------...
Akhirnya di lamar juga....
Ngomong-ngomong akankah Shaina harus menerima tawaran tersebut atau menolaknya karena banyak hal yang harus dipikirkannya?
__ADS_1
Bagaimana menurut reader ?
Silahkan komen dan beri sarannya tentang pilihan Shaina....