
Mendadak aura gelap menghantui Shaina, khawatir akan keselamatan dirinya dan anak-anak bahkan Joon, rasa takut itu terus mencuat berbarengan dengan Darrell yang terus tersenyum padanya dan anak-anak di sela-sela obrolan mereka.
Ingin sekali Shaina berteriak untuk memberitahu Joon bahwa mereka semua adalah penjahat yang mengincar dirinya dan anak-anak, Shaina memang tidak tahu dengan siapa saat itu Gladys berbicara tentang rencana menyingkirkan mereka semua tapi yang pasti saat itu Gladys menelpon dengan kekasihnya yang merupakan Darrell.
Shaina mengeratkan pegangannya pada anak-anak, alih-alih sebagai seorang ibu yang tidak mau terpisah dengan anaknya di depan mereka semua, agar tidak ada yang curiga tentang dirinya yang mulai mengetahui siapa mereka semua.
"Helena! Helena!" Panggil Darrell.
"Hah?! Ya ada apa?" Shaina tersentak dari termenungnya.
Ia melihat semua mata sedang memperhatikannya, sudut bibir Darrell yang tersenyum bagaikan sebilah pisau yang ingin menusuknya dan itu sangat menakutkan di mata Shaina.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Darrell yang disusul mata Gladys mengarah padanya.
"Oh! A-aku ingin pulang" sahut Shaina lalu bola matanya menuju pada Joon.
"Tapi kenapa? Kita baru sebentar pergi" ujar Darrell.
"Iya, aku saja baru bertemu denganmu setelah sekian lama kita tidak berjumpa, nikmati saja selagi ada kesempatan" tambah Gladys.
"Hah!!" Shaina tersentak dengan ucapan Gladys.
"Gladys benar, nikmatilah hidupmu sebelum terlambat" Marissa pun ikut nimbrung dengan ekspresi ketus, "sebentar lagi...." Lanjut perempuan bermata tajam itu.
"Bicara apa kau ini Ris?" Sergah Joon pada Marissa.
Marissa tersenyum tipis, "memangnya aku salah? Sebentar lagi dia melahirkan dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi" kilah Marissa.
Jawaban Marissa mampu membuat Joon mendengus kesal, mukanya memerah tapi ia tidak ingin marah-marah di depan Darrell dan Gladys karena ada hal yang ingin ia lakukan. Meskipun begitu Joon tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan Shaina, ia mengira Shaina Han cemburu saja melihatnya bersama mantan pacarnya.
Shaina semakin ketakutan, satu persatu kalimat mereka seperti ancaman yang mengerikan di telinganya.
"Joon, aku mau pulang untuk istirahat, kaki ku agak pegal-pegal" kata Shaina.
"Baiklah, aku saja yang mengantarkan mu pulang, karena kita pergi bersama tadi" sela Darrell.
Shaina menilik Joon dengan sorotan mata kesal, karena lelaki itu tampak tidak merespon yang Shaina katakan, seakan-akan mereka seperti orang asing yang tidak saling mengenal.
"Aku pergi dulu" celetuk Joon yang bangkit dari duduknya.
"Paman Joon..." Gumam Alice dan Alfan bahkan Shaina menatapnya dengan sendu.
Joon membuang muka dari mereka, karena jika lebih lama lagi ia bersama mereka ia akan tidak tega untuk meninggalkan mereka pada orang lain.
"Joon, ayo kita pergi" tambah Marissa yang juga bangun dari duduknya.
"Kalian akan baik-baik saja, karena Mama kalian itu pintar dalam memilih teman" timpal Joon dengan menatap Shaina.
__ADS_1
Shaina hanya terdiam dan matanya terpancar kesedihan dan rasa penyesalan, karena sifat naifnta yang berpikir semua orang baik hanya karena telah melakukan hal baik di depannya sedangkan terhadap Joon dianggapnya pemarah hanya karena pernah memarahinya yang ia sendiri tidak tahu alasan dibaliknya.
Di depan restoran Joon berjalan beriringan dengan Marissa yang tidak ragu-ragu menggandeng tangan Joon yang semakin menciptakan luka di hati Shaina yang melihatnya.
"Ini kunci mobil" kata Marissa yang menyerahkan kunci mobil miliknya.
Joon melepaskan tangan Marissa dari lengannya, "aku punya urusan sendiri" ujar Joon.
"Tapi Joon-".
"Terserah kau mau kemana, kita bertemu juga kebetulan tadi di depan, jadi jangan ganggu aku sekarang" pungkas Joon.
Marissa tersenyum getir, "jadi kau mau ikut bersamaku tadi hanya karena kau melihat perempuan itu bersama Darrell?" Papar Marissa.
"Itu bukan urusanmu".
"Oh-ho! Aku tahu maksudmu, kau cemburu melihat mereka kan? Jadi kau benar-benar punya hubungan khusus dengan wanita tua itu?" Timpal Marissa.
"Terserah katamu, aku harus pergi" Joon melanjutkan langkahnya menuju seberang jalan.
"Joon!! Joon! Joon!" Teriak Marissa yang kesal di tinggalkan Joon, membuat perempuan itu menyentak-nyentak.
"Awas kau Helena! Akan ku singkirkan kau dari hidup Joon! Joon itu milikku!" Gumam Marissa, menggertakkan giginya.
******
Kewaspadaannya semakin ketat, matanya selalu siaga menilik kedua orang yang berada di bangku depan mobil yang ditumpanginya sekarang. Darrell yang di kiranya orang baik ternyata hanya mempermainkannya setelah mengetahui Helena amnesia.
Darrell dan Gladys tidak kurang dari orang-orang yang menginginkan kematian keluarga Ervian. Belum lagi ibunya, Nyonya Rossie yang pernah membuat kesepakatan dengan Shaina yang berniat mencelakai Joon.
Tiba di rumah Shaina segera turun dari mobil dan menyuruh anak-anak masuk kedalam sedangkan ia berbicara dengan Darrell dan Gladys.
"Terima kasih sudah di antar" ucap Shaina dengan sopan.
"Sama-sama" sahut Darrell.
"Kami pergi dulu dan hati-hati di rumah" sela Gladys pada Shaina.
Sekali lagi bulu kuduknya berdiri, Shaina tidak tahu harus berkata apa, yang ada hanya takut, ia berpamitan untuk masuk kedalam rumah, setelahnya di kunci semua pintu agar tidak ada yang bisa masuk.
Bersama Gladys, Darrell menderukan mobilnya meninggalkan rumah Shaina.
Gladys yang sibuk mengotak-atik isi tasnya yaitu mengambil beberapa alat makeup untuk di pakenya, ia melirik Darrell yang sedang fokus mengemudi.
"Aku tidak menyangka Helena yang sekarang sangat bodoh dan tidak tahu siapa kita, ternyata kecelakaan itu sangat menguntungkan kita" celetuk Gladys.
Darrell hanya tersenyum menanggapi perkataan sang kekasih, lalu tersungging saat melirik ke luar jendela mobil.
__ADS_1
"Aku suka itu" gumam Darrell.
"Benar sayang, dengan begini kita lebih mudah menyingkirkannya" tambah Gladys
"Maaf sayang, aku tidak akan melakukan itu pada wanita ku" batin Darrell. Ia tersenyum tipis dan kembali fokus ke jalanan.
Tidak jauh dari restoran tadi terdapat restoran lainnya, Joon masuk kedalamnya menuju ke ruang VIP dengan privasinya yang cukup di jaga oleh pemiliknya untuk kepuasan tamunya.
Joon sengaja mendatangi tempat tersebut karena ia punya janji janji dengan seseorang. Penampilannya Joon cukup membuat orang yang menunggunya terkesan hingga perempuan itu tersenyum tipis melihat keponakannya berjalan bak seorang model yang sedang memperagakan busananya.
PROK! PROK! PROK!
Tepuk tangan dan kata-kata manis yang berbisa, memuji kegagahan Joon dalam balutan pakaian formal tersebut yang di lontarkan nyonya Rossie tidak membuat Joon terkesan atau sampai berbangga hati, karena ia tahu persis seperti apa wanita itu.
Joon langsung duduk meski tanpa di persilahkan untuk duduk.
"Akhirnya... Setelah sekian lama kau menemui ku juga, Joon" kata nyonya Rossie.
"Aku sudah bosan hidup miskin, aku ingin punya banyak uang untuk membeli apapun yang ku inginkan" ujar Joon.
Nyonya Rossie tersenyum, "aku paham perasaanmu, dan sekarang kau memilih jalan yang tepat" timpal wanita elegan itu.
"Aku hanya mau memiliki uang yang banyak agar aku hidupku kembali seperti dulu" ucap Joon.
Nyonya Rossie membuka sebuah map di atas meja, "tanda tangan di sini, dan rekeningmu akan penuh dengan cepat" perempuan itu tersenyum tipis.
Tanpa menunggu lama Joon mengambil pena yang terletak di atas map tersebut dan di bubuhi beberapa tanda tangannya di atas kertas yang telah disiapkan itu, seutas senyum tipis mengembang di bibir nyonya Rossie, namun Joon hanya menaikkan alisnya saat mendapati ekspresi tantenya.
Setelah Joon menandatangani surat-surat tersebut, dengan cepat nyonya Rossie menutup dan mengambil kembali surat itu tanpa memberi waktu untuk Joon lihat isi surat itu.
"Sekarang kau tidak perlu khawatir lagi tentang uang, aku akan mengirimkannya setiap bulannya pada mu, jadi bersenang-senanglah!" Nyonya Rossie mengeluarkan segepok uang dari dalam tasnya dan diletakkan di atas meja.
Joon mengambil uang tersebut dan di selipkannya kedalam jasnya.
"Terima kasih Tante, Anda memang sangat baik" ucap Joon dengan penuh hormat.
Nyonya Rossie tersungging karena seharusnya dirinyalah yang seharusnya berterima kasih, Joon dengan sukarela menandatangani surat pernyataan pengesahan peralihan kepemilikan Calista group, hanya demi sejumlah uang yang jauh lebih sedikit dari yang seharusnya ia miliki.
Setelah menerima uang tersebut, Joon meninggalkan tempat tersebut, ia mendatangi kelab malam yang di penuhi dengan orang-orang berbagai kalangan.
Tanpa sepengetahuannya, nyonya Rossie juga mengikutinya dan ia tersungging melihat Joon yang bersemangat masuk ke dalam tempat hiburan malam tersebut.
"Dasar anak bodoh, kau memang tidak berubah, tapi tidak apa-apa itu adalah keuntungan bagiku yang tidak perlu khawatir pada anak ingusan sepertimu" gumam nyonya Rossie.
"Jalan!" Perintah nyonya Rossie pada sopirnya.
Kemudian mobil nyonya Rossie meninggalkan kelab tersebut.
__ADS_1