Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
I Miss U


__ADS_3

Setelah mengeringkan rambut, Joon yang lelah segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang namun ada sesuatu yang mengganjal punggungnya, ia kembali bangkit dari tempat tidur dan menyingkap selimut yang seperti ada seseorang di bawahnya.


"Shaina?" Joon mengerjap kaget mengetahui Shaina ternyata yang berada di bawah selimutnya.


Joon merangkak ke ranjangnya untuk tidur di sebelah Shaina karena sebelumnya ia hanya asal berbaring tanpa mempedulikan posisi tidurnya.


Joon kembali tersenyum melihat Shaina yang terlelap di tempat tidurnya, perlahan ia mendekat dan berbisik, "buka matamu jika tidak, kau tahukan apa yang terjadi, sayang? Apalagi kau sendiri yang naik ke ranjangku".


Shaina membuka matanya dan tersenyum lebar pada Joon yang mengetahui ia sedang berpura-pura tidur. Ketika Joon semakin mendekat, Shaina menggeser tubuhnya ke belakang dan depan cepat Joon menangkapnya jika tidak ia bisa jatuh.


Joon mengangkat dagunya sebagai isyarat ia sedang bertanya.


"Kamar anak-anak sempit jika aku tidur di lantai, aku khawatir mereka akan menginjakku saat mereka mau ke kamar mandi, kemarin malam saja Alice jatuh keatas ku saat mau buang air" cerita Shaina yang di tambahkan dengan gerakan tangan.


"Benarkah? Tapi kalian tidak apa-apa kan?" Joon tersentak kaget mendengar cerita Shaina, "kita harus ke rumah sakit untuk memastikan Elif baik-baik saja" Joon beranjak dari tempatnya.


Shaina terkekeh dan mencegah Joon, "aku baik-baik saja karena aku cepat menghindarinya dan Elif juga masih bergerah bahkan ia sangat aktif" sambung Shaina.


Mendadak Joon jadi sedih, ia mengelus-elus perut Shaina, "maaf ya Elif, Papa terlalu egois sampai mengabaikan peri kecilku, Papa janji tidak akan marahan sama Mama lagi, Elif papa baik-baik saja ya nanti kita bertemu" kecupan manis mendarat di perut Shaina.


"Joon, hentikan itu geli..." Shaina cekikikan.


Joon ikut tertawa melihat Shaina yang mendorong-dorongnya untuk menjauh, "Joon pake baju sana! Kau bisa masuk angin" Shaina baru sadar sejak tadi Joon hanya menggunakan celana panjang dan tidak menggunakan paku.


"Enggak mau, siapa suruh masuk ke kamarku jadi kau harus terima konsekuensinya" Cetus Joon yang menyeringai sambil mengedipkan mata pada Shaina.


Joon kembali berbaring disebelah guling sebagai pemisah antara mereka, meskipun demikian tidak mengurangi membuat jantung Shaina berdebar-debar lebih kencang seakan-akan ingin menerobos rongga dadanya.


Shaina memandangi langit-langit kamar "Joon, aku minta maaf ya karena membuatmu marah" ucapnya.


"Itu bukan kesalahanmu tapi aku saja yang terlalu egois dan tidak mau mendengarkan penjelasan mu" sahut Joon, menoleh pada Shaina.


Mendengar itu sumringah tipis mengembang di wajah Shaina, namun senyumannya redup saat melihat Joon yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Joon, siapa tadi yang bicara denganmu?" Tanya Shaina, berharap Joon jujur padanya.


Joon kembali menoleh pada Shaina, "kau cemburu?" Balas Joon berbarengan dengan senyuman manisnya.


Shaina mencubit Joon dengan kesal hingga Joon tertawa terbahak-bahak, yang semakin menambah kekesalan Shaina.


"Joon! Aku serius tidak bercanda!" timpal Shaina, ia membalikkan badannya dan membelakangi Joon.


Joon menghela nafas panjang dan membujuk Shaina untuk tidak ngambek seperti anak kecil.


"Tadi itu teman-temanku yang memberitahu jika besok aku bisa kembali masuk kerja" tukasnya, namun Shaina masih tidak percaya dengan jawaban yang diberikan.


Shaina kembali berbalik badan pada Joon dan menatapnya serius, "Bagaimana dengan Darrell dan nyonya Rossie? Mereka orang baik atau jahat?" Tukas Shaina.


Joon terkesiap dan terdiam, ia mendadak membisu dan tidak punya jawaban atas pertanyaan Shaina, karena ia sebenarnya tidak ingin Shaina benar-benar tahu tentang Darrell, ia khawatir Jika Shaina tahu semuanya maka ia akan selalu cemas.


"Joon, mereka orang jahat, kan? Mereka tidak akan menyakiti kita kan?" Tambah Shaina yang terus mendesak agar Joon menjelaskan dengan alasan lebih masuk akal.


Joon mengecup kening Shaina, "kau tidak boleh takut, tidak akan ku biarkan siapapun menyentuh kalian" Joon menepuk-nepuk pundak Shaina.


"Joon, aku tahu mereka jahat dan mulai sekarang aku akan hati-hati untuk tidak mudah percaya dengan orang asing" ucap Shaina.


Joon mengelus-elus rambut Shaina lalu ia bangkit untuk duduk dan hal yang sama juga dilakukan Shaina.

__ADS_1


"Shaina, aku punya masa lalu yang buruk, aku suka mabuk, gonta-ganti pacar dan..." Joon mulai menceritakan masa lalunya dari hubungannya dengan Darrell, Tante Rossie, keluarganya bahkan tentang pengusirannya oleh orang tuanya sendiri karena kebodohannya sendiri di masa lalu, semua diceritakannya tanpa di tutup-tutupi kecuali tentang dirinya yang terlahir dari keluarga orang berpengaruh.


Shaina terdiam matanya jadi sendu seiring dengan Joon yang tampak melemah dan mata yang berkaca-kaca saat menceritakan tentang orang-orang yang di sayangnya hilang satu persatu, membuatnya seakan tidak berdaya.


Tampak sekali Joon menahan bendungan air matanya, rasa penyesalan tentang dirinya yang dulu selalu melakukan semuanya seenaknya tanpa peduli dengan orang lain.


"Bukankah aku ini sangat buruk bahkan tidak pantas lagi untuk memiliki apapun?" Ucap Joon pada Shaina.


Shaina menggenggam tangan Joon lalu menyeka air matanya untuk menguatkan Joon.


"Joon, jangan bicara begitu, kau sudah menyesalinya dan belajar dari kesalahanmu, aku yakin kau akan mendapatkan kebahagiaanmu yang lebih baik" kata Shaina.


"Terima kasih" sahut Joon.


"Tapi Joon, ku mohon jangan ulangi lagi kesalahan mu dan hiduplah dengan penuh semangat!!!" Imbuh Shaina, lengkap dengan gerakan tangannya untuk menyemangati Joon.


Joon tersenyum dengan tatapannya yang lembut, tangannya menyentuh pipi Shaina, dua pasang mata kembali beradu tanpa terkendali yang sama-sama terhipnotis dalam kesyahduan malam, sehingga kecupan mesra pun tidak terelakkan.


"I miss you my witch..." Desas Joon.


Cup!


Shaina yang telah berbaring mengangkat kepalanya untuk memberikan kecupan manisnya di bibir Joon yang berada di depannya. Tidak lama setelahnya Joon membalasnya dengan yang lebih panas.


*****


Joon yang setengah sadar merasa ada yang menghimpitnya di kedua sisi tidurnya. Perlahan-lahan ia membuka matanya yang masih buram, dua kepala anak kecil menindih lengannya, dan sebuah senyuman muncul di bibirnya saat mendapati Alice dan Alfan yang melakukannya.


Kedua anak itu terlelap sambil memeluknya, bahkan Shaina pun masih terlelap dalam tidurnya di sebelah Alfan.


Tiba-tiba Alice menggeliat dan hampir terjatuh dari tempat tidur tapi Joon dapat menangkapnya, namun aksinya itu malah membangunkan yang lain.


"Mama..." Gumam Alfan, mengucek matanya.


"Ya sayang, Mama disini" Shaina meraih Alfan dan menyeka matanya.


Joon melempar pandangan pada Shaina yang masih kebingungan dengan keberadaan si kembar di antara mereka.


"Kapan kalian tidur disini?" Tanya Joon pada Alfan dan Alice yang terlihat masih ketakutan padanya.


"Tadi malam" sahut Alfan.


Shaina mengangkat bahu dan memainkan keningnya saat melihat Joon.


"Kami minta maaf jika paman tidak suka, kalau gitu kami keluar" Alice beranjak dari duduknya.


Joon mencegat keduanya dan menggendong Alice dan Alfan kembali ke tempat tidur.


"Siapa bilang paman tidak suka? dan kenapa juga kalian masuk ke kamarku?" Tanya Joon dengan ekspresi jutek.


"Joon" panggil Shaina yang bingung melihat Joon tampak marah pada anak-anak.


Sssttt!!


Joon meletakkan telunjuknya di bibirnya seraya mengedip mata pada Shaina.


"Alfan kangen sama Paman, pengen main lagi dengan Paman Joon seperti dulu" ucap Alfan.

__ADS_1


"Iya, Alice juga mau di gendong lagi sama paman, pokoknya kami sangat merindukan paman, kami mau kita seperti dulu lagi" sambung Alice yang menangis.


Joon tersenyum dan memeluk mereka, "paman minta maaf ya, paman sangat jahat" kata Joon.


"Paman tidak jahat kata Mama tapi Paman lagi lelah saja, paman jadi kesal" ujar Alice.


Joon memeluk Alice dan Alfan, ia kembali menidurkan mereka bersamanya.


"Alfan sayang paman"


"Alice juga" ucap si kembar dan Joon pun mengatakan hal yang sama pada mereka.


Shaina tersungging melihat mereka yang saling menyayangi. Kesempatan tersebut tidak di lewatkan begitu saja oleh Shaina, ia menggoda Joon yang ngambekan seperti anak kecil karena kurang perhatian.


Akibat godaan Shaina, joon malah jadi bulan-bulanan Alfan dan Alice, sehingga suara tawa menggelegar di kamar Joon pagi-pagi buta.



Rutinitas masak-memasak Shaina kembali sebelum hari di mulai, rambut cepolnya tampak menjulang tinggi, keahlian memasaknya mulai meningkat, saking asiknya dengan peralatan memasak sampai-sampai tak menyadari sepasang mata yang sedang memperhatikannya.


Lalu menyekap pinggangnya, "serius amat memasaknya" desas Joon yang memeluk Shaina dan memberikan kecupan hangat di tengkuk Shaina.


"Joon, apa yang kau lakukan? Nanti anak-anak lihat bagaimana?" Ucap Shaina.


Joon memutar tubuh Shaina dan melepaskan centongan di tangan Shaina, menggendongnya ke atas lemari penyimpanan.


"Mereka masih tidur" bisik Joon di telinga Shaina lalu beradu pandangan, "terima kasih sayang karena kamu selalu mengatakan yang baik-baik pada anak-anak, mereka bisa menerimaku kembali" lanjutnya.


Shaina tersenyum, "aku tidak melakukan apa-apa, mereka begitu memang karena tulus mencintaimu" ujar Shaina.


Joon mengelus-elus kepala Shaina, "Tuhan tidak salah mengirimmu untukku, kau memang penyihir ku yang manis" balas Joon.


Shaina mengerucutkan bibirnya lalu tersenyum lebar, "kau bicara begini pasti ada maunya kan?" Dengus Shaina.


"Aku tidak punya maksud apa-apa tapi... jika kamu tidak keberatan aku pun tidak masalah" Joon terkekeh.


Shaina merangkul leher Joon sambil menggeleng kepalanya, "tidak lagi, tadi malam aku hanya terbawa suasana saja dan kau memaafkan kesempatan itu, iiiihhh! Kau ini benar-benar menyebalkan!" Shaina mencubit pipi Joon.


Joon tertawa mendengar itu dan mengecup tangan Shaina. Mereka memasak bersama, di sela-sela kesibukan tersebut, Shaina mengerling Joon.


"Joon, kalau melahirkan sakit enggak?" Tanya Shaina.


Joon menolehkan wajahnya pada Shaina, "kau takut ya?" Balasnya.


"Iya" sahutnya, "kurasa waktunya hanya beberapa hari lagi".


Joon mendekat, "kau memang belum pernah melahirkan tapi Helena sudah pernah, jadi kali ini seharusnya akan lancar juga, kamu tidak boleh takut ya?" Ujar Joon.


"Tapi Joon, masalah bisa datang kapan saja dan tidak mesti sudah pernah melahirkan maka akan lancar ke dua kalinya, banyak orang-orang di luar sana yang sudah pernah melahirkan tapi mereka juga berakhir-"


Dengan cepat Joon menutup mulut Shaina, "jangan bicara seperti itu, yakinlah semua akan baik-baik saja" ucap Joon, menatap lekat-lekat mata Shaina.


Dibayang-bayangi ketakutan saat persalinan tidak hanya di alami Shaina saja, tapi Joon juga sejak lama sudah khawatir akan hal itu, sehingga Joon bertekad mengambil keputusan untuk kembali mengurus perusahaan ayahnya hanya untuk anak-anak dan Shaina.


Agar ia bisa membiayai kebutuhan mereka juga ia tidak kekurangan uang jika Shaina mengalami masalah yang tidak terduga nantinya saat ia melahirkan, Joon mendapatkan informasi dari berbagai sumber jika pada saat wanita melahirkan bisa terjadi dua kemungkinan yaitu nyawa mereka dipertaruhkan antara hidup dan mati.


Oleh karena itu, Joon tidak mau hanya mengandalkan gajinya sebagai barista yang jauh dari kata cukup itu tidak mampu membiayai persalinan Shaina yang mungkin membutuhkan operasi atau penanganan lainnya yang tak terduga saat melahirkan nanti.

__ADS_1


Hari-hari berharga Joon kembali, Alice dan Alfan kembali pergi sekolah bersama Joon walau hanya naik bus kota, bahkan mereka tidak menolak diantar oleh Darrell yang datang pagi-pagi dengan tujuannya seperti biasa, yaitu untuk mencari perhatian anak-anak dan Shaina, tentu membuat Joon di abaikan oleh semua.


__ADS_2