Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Diabaikan 2


__ADS_3

Esok paginya Darrel kembali berkunjung dengan tujuan yang sama, ingin mengantarkan anak-anak lagi ke sekolah, kali ini Joon tidak lagi mencegahnya bahkan menanggapinya saja tidak, ia pergi begitu saja tanpa pamit atau apapun itu.


Di rumah Joon lebih banyak diam, tidak bicara dengan anak-anak maupun Shaina yang selalu mencari celah untuk dapat mengobrol dengannya.


Seperti kemarin, Joon diam-diam kembali menyusul anak-anak sampai ke sekolah dan pemandangan yang sama masih diperlihatkan anak-anak dan Darrell.


Pekerja keras, kalimat itu cukup pantas disematkan pada Joon, sudah dua tahun terakhir Joon berada di kafe tersebut, pekerjaannya selalu rapi dan bertanggung jawab, seperti hari ini dia belum sekalipun beristirahat, ia cukup sibuk melakukan pekerjaannya yang tidak ada habis-habisnya, dikarenakan sekarang para pelanggan cukup ramai sedangkan karyawan kafe ada yang libur.


Disaat bersamaan ponselnya bergetar, dan nomor kontak Helena tertera di layar, sempat mencuekin panggilan masuk tersebut tapi karena khawatir Joon akhirnya mengangkat panggilan tersebut.


"Halo! Halo Joon, kamu ada di sana?" Terdengar suara Shaina yang memanggilnya penuh harap.


"Ada apa?" Tanya Joon pada intinya, meski ia meringis dan hatinya mengutuk dirinya yang mengkasari Shaina tapi apa boleh buat Joon terlanjur kesal melihat Shaina akhir-akhir ini dekat dengan Darrell.


Mendengar suara Joon yang ketus, Shaina jadi bergetar seakan ia sudah melakukan kesalahan yang fatal.


"Joon, Darrell datang ke rumah, dia mengajak kami keluar" ujar Shaina.


"Siang-siang begini kau menggangguku hanya untuk memberitahu itu?" Pungkas Joon.


"Jika kau tidak mengizinkannya kami tidak akan pergi"


"Terserah apa yang ingin kau lakukan! aku tidak peduli memangnya aku ini siapanya kamu yang punya hak melarangmu?" Tegas Joon.


"Joon, kenapa kau begini? Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Shaina lagi.


"Kau tidak salah aku saja yang-"


"Hai Joon! Aku ajak kakak ipar jalan-jalan ya? suntuk tahu kalau di rumah terus" sela Darrell yang menyerobot handphone dari tangan Shaina.


Joon mendengus kesal ketika mendengar suara berat lelaki itu dari ponselnya, ingin sekali ia banting ponselnya tapi diurungkan niatnya karena ia sedang berada di tempat banyak orang.


"Tidak ada jawaban berarti iya" Darrell terkekeh, "seharusnya ini tidak perlu minta izin segala karena kita kan saudara tapi Helena saja yang merasa tidak enak denganmu, cukup disini saja obrolannya kamu kan lagi kerja aku khawatir bisa-bisa kau dipecat karena ngobrol terus" Darrell menutup panggilan itu dan menyerahkan kembali ponsel itu pada Shaina.


Harris yang sedari tadi mendengar percakapan itu ikut kasihan melihat sahabatnya seperti dilanda masalah tersebut.


"Kau biarkan Shaina ikut dengan manusia itu?" Imbuh Harris, "Joon, dia itu Shaina bukan Helena dan tidak tahu siapa itu Darrel sebenarnya, kau membiarkannya dalam masalah" tambah Harris karena sebelumnya Joon tidak merespon katanya.


"Jika dia itu masih manusia dia tidak akan menyakiti wanita hamil dan anak kecil" sahut Joon.


"Iya jika masih manusia? Tapi aku meragukan itu, maaf Joon" timpal Harris, ia kembali mengerjakan tugasnya dan mengabaikan Joon karena kesal.


Reaksi Harris tidak ada yang salah dan Joon sadar akan itu, mereka tahu Darrell orang seperti apa tapi kali ini Joon berharap Darrell tidak sampai menyakiti Shaina dan anak-anak.


*****


Anak-anak cukup senang mengetahui Darrell mengajak mereka ke restoran mewah dan berkelas, terlebih lagi Shaina yang kikuk tidak tahu harus bersikap seperti apa, karena baru sekali ia menginjakkan kakinya di tempat semacam itu, itupun ada Joon bersamanya yang selalu siap membantunya, apalagi tidak sekalipun ia merasa dipermalukan dengan ke kolotan-nya yang belum terbiasa dengan kebiasaan orang-orang perkotaan.


Satu persatu makanan di sajikan ke meja mereka oleh pelayan dengan berbagai macam masakan yang Shaina sendiri belum pernah melihatnya.


Dari tampilan yang menggiurkan sampai yang terlihat aneh.

__ADS_1


"Apa ini bisa di makan?" Tanya Shaina, kedua alisnya menyatu saat pandangannya tertuju ke salah satu hidangan.


"Yang benar saja kau ini! Itukan kesukaan mu" jawab Darrell.


"Kesukaanku?" Shaina menelan salivanya, perutnya terasa aneh saat melihat makanan tersebut, "makanan orang cerdas memang aneh-aneh tapi jika aku yang makan bisa-bisa aku muntah" gumam Shaina.


Darrell menoleh kearahnya karena mendengar kata-kata Shaina, "apa maksudmu?" Tanya Darrell.


"Itu paman, Mama yang ini bukan Mama yang it-" dengan cepat Shaina menutup mulut Alice untuk tidak melanjutkan kalimatnya.


"Mama Shaina tidak-" tambah Alfan tapi Shaina segera memberi kode dengan meletakkan telunjuknya di bibirnya agar Alfan juga tidak melanjutkan kalimatnya.


"Shaina? Siapa itu Shaina?" Tanya Darrell.


Shaina meringis, "shaiiina itu... temanku, ya teman ku di luar negeri, dia sering mengobrol dengan anak-anak jadi mereka memanggil dengan sebutan Mama juga" kilah Shaina agar Darrell tidak bertanya-tanya lagi.


"Oh" gumam Darrell, ia sedikit mengangguk.


Shaina menghembuskan nafas panjang, ia hampir saja ketahuan pada Darrell. Ia mulai menikmati sajian tersebut meski pikirannya tertuju pada Joon, dan sosoknya terus membayanginya sampai-sampai pelayan restoran ia kira Joon yang tersenyum padanya.


Bukan hal yang aneh lagi bagi Darrell jika mengajak perempuan berbelanja usai makan bersama di restoran, seperti halnya sekarang, ia mengajak Shaina dan anak-anak ke pusat-pusat perbelanjaan terkemuka di negeri tersebut.


Tidak hanya sampai di situ Darrell membebaskan anak-anak memilih apapun yang mereka diinginkan dari mainkan sampai pakaian. Shaina sendiri tidak mampu membayangkan bagaimana mudahnya hidup seperti Darrell yang tidak pernah memikirkan kekurangan uang.


Berbeda dengan hidupnya dulu yang serba kekurangan bahkan saat bersama Joon ia juga masih mengkhawatirkan kekurangan uang.


Gaun-gaun indah dengan berbagai model terpajang rapi di kiri maupun Shaina, ia hanya berjalan diantaranya mengikuti langkah Darrell. Sesekali ia menyentuh kain-kain tersebut hanya sekedar ingin melihat bahan pakaian tersebut mengingat dirinya dulu yang bekerja di toko pakaian seperti itu.


"Ini bagus untukmu" Darrell memperlihatkan dress indah pada Shaina.


"Ini untukmu, kau pasti sangat cantik jika memakai ini" ucap Darrell.


Shaina terkejut mendengar itu karena untuk berpikir saja memakai dres semacam itu ia tidak berani kecuali di depan suami sahnya nanti, karena dress itu terlalu pendek buatnya.


"Maaf, aku tidak bisa pakai itu" ucap Shaina.


Darrell tersenyum, matanya tertuju pada perut Shaina, "oh ya aku lupa" kata Darrell.


Darrell kembali tampak memilih-milih pakaian diantara deretan pakaian yang terpajang hingga ia kembali mengambil sebuah dress lainnya.


"Ini pasti cocok untukmu" kata Darrell lagi dengan menenteng pakaian lainnya.


"Maaf, aku juga tidak bisa pakai itu" ucap Shaina.


"Benarkah? Kenapa? apa ini kurang menarik?" Tanya Darrell.


"Bukan begitu, aku tidak pakai pakaian terbuka, aku lebih nyaman dengan gamis jika memakai gaun" jelas Shaina.


Karena dres di tangan Darrell memang panjang tapi belahan dadanya cukup rendah belum lagi bahannya yang agak transparan dan tanpa lengan, Shaina tidak bisa membayangkan jika harus memakai itu di depan umum.


"Kalau begitu aku tidak tahu harus memilih sesuai dengan keinginanmu" ucap Darrell yang menyerah dan meminta Shaina sendiri memilih pakaian untuk dirinya.

__ADS_1


Shaina terkejut mendengar itu jika sejak tadi Darrell sedang mencari pakaian untuknya, namun Shaina berusaha menolaknya karena ia merasa sangat canggung jika Darrell sampai membelinya pakaian. Tapi Darrell tidak menyerah begitu saja, ia tetap memaksa Shaina menerima tawaran tersebut hingga Shaina tidak punya celah untuk menolaknya.


Lelah berbelanja Darrell mengantarkan mereka pulang dan ia melarang Shaina memasak untuk malam ini karena ia telah memesan makanan dari luar.


Kemarahan Joon kembali bergejolak saat ia pulang kerja, mendapati mobil Darrell kembali terparkir manis di halaman rumahnya dan ia lebih terkejut lagi melihat meja makannya penuh dengan masakan restoran.


"Joon, kamu baru pulang?" Tanya Shaina melihat Joon masuk ke ruang makan.


Di ruang makan tampak Shaina dan Darrell sedang menyajikan makanan di meja makan, Joon memperhatikan Darrell yang berbagi senyuman dengan Shaina.


"Kenapa memangnya jika aku baru pulang? Apa itu mengganggu kalian?" Timpal Joon.


Shaina meletakkan piring di tangannya ke atas meja dan menghampiri Joon, "Joon, apa yang kau bicarakan?" Tanya Shaina.


Darrell tersenyum dan menyandarkan dirinya pada sisi meja menonton mereka berdua.


"Hah! Jangan sok naif di depanku, kau berharap aku tidak pulang cepat kan? Bahkan kau berharap aku tidak sampai pulang malam ini!!" Tambah Joon.


"JOON!!!!" Pekik Shaina, matanya menatap tajam pada Joon.


Suara Shaina mengagetkan semua orang tidak terkecuali Darrell, ia mendekati Joon dan Shaina.


"Kenapa kau bicara seperti ini? Kau salah paham Joon, kami hanya berteman biasa seperti kau" sela Darrell yang menengahi mereka.


"Aku tidak butuh penjelasan kau, sebaiknya kau pergi dari rumahku!! Aku muak melihat orang sepertimu berkeliaran di rumahku!!" Bentak Joon, pandangannya beralih pada Darrell.


"Joon! Hentikan ini!" Sergah Shaina.


"Hentikan? Hentikan katamu? Kalian bersenang-senan di rumahku dan tidak menghargai ku di luar sana bekerja keras! Tahu tidak dia itu brengsek!! Membuatku tidak dihargai dimana pun bahkan sekarang di rumahku sendiri!!!" Berang Joon.


"Joon, kau salah paham, aku tidak seperti itu, kita ini saudara sepupu tidak seharusnya seperti ini, aku sangat menghargai mu" ujar Darrell, memegangi pundak Joon tapi dengan cepat di tepisnya.


"Pergi kau! Pergi dari rumahku! Aku tidak butuh penjilat sepertimu!!" Joon mendorong-dorong Darrell.


"Joon! Apaan kau ini? Hentikan!" Shaina berusaha mencegah Joon untuk tidak sampai memukul Darrell, karena dari posturnya Joon siap meninju wajah Darrell yang tersudut itu.


Alice dan Alfan ikut menangis dan ketakutan melihat dua lelaki dewasa itu yang bertarung. Melihat dua anak kecil itu menangis histeris, Joon mendorong Darrell dan melepaskan kerah bajunya ia melangkah cepat menuju kamarnya.


"Paman Joon jahat...!!" Sungut Alice dan Alfan, itu sempat membuat Joon berhenti tapi ia kembali masuk ke kamarnya.


"Darrell, aku minta maaf Joon pasti sedang lelah saja" ucap Shaina terbata-bata pada Darrell yang sedang merapikan kemejanya.


"Kau tidak perlu minta maaf, ini bukan salahmu" sahut Darrell.


"Tolong pulanglah" tambah Shaina.


"Tapi aku khawatir Joon akan menyakitimu dan anak-anak, aku sangat kenal siapa Joon, dia suka lupa diri jika sedang lelah" kata Darrell.


"Itu tidak akan terjadi, Joon pasti tidak seperti itu dan sekarang ku mohon pulanglah, aku tidak mau masalah ini semakin besar jika Joon melihatmu masih di sini".


Melihat Shaina memohon akhirnya Darrell pulang setelah berpamitan pada anak-anak yang memeluknya.

__ADS_1


Darrell masuk kedalam mobilnya yang telah dibukakan pintu oleh sopir pribadinya.


"Rasanya kurang jika kemenangan ini tidak di rayakan" gumam Darrell tersenyum tipis lalu terkekeh melihat ke rumah satu lantai itu.


__ADS_2