
Disaat Joon sedang bersama tiga anaknya, pak Rahmat menemuinya dan meminta waktu untuk berbicara empat mata dengan Joon.
"Maaf pak, semalam aku di sini dan tidak minta izin sama bapak, karena aku khawatir dengan mereka" ujar Joon.
"Kau pernah merasakan sakitnya kehilangan istrimu, tapi tahukah kau kehilangan putrimu satu-satunya lebih menyakitkan dari itu" ucap pak Rahmat.
Joon mencoba mencerna maksud dari perkataan lelaki paruh baya itu, dan Joon merasa pak Rahmat mencoba menyampaikan sesuatu yang tidak ingin di dengarnya.
"Apa maksud bapak?" Sudi Joon mengarahkan pandangannya pada pak Rahmat.
"Beberapa tahun lalu aku melihat putriku terbujur kaku di ranjang pasien, bahkan dokter mengatakan dia tidak punya harapan untuk hidup kembali, namun sebuah keajaiban terjadi putriku sadar dari komanya sebulan penuh, tapi dia bukan putriku dia mengaku dirinya Helena dan hidup sebagai putriku. Meski aku berusaha keras menganggapnya Shaina dan melihatnya setiap hari didepanku tetap saja dia bukan putriku yang ku rawat sejak kecil, aku sangat khawatir dengan Shaina, apakah dia baik-baik saja atau tidak, aku tidak bisa tahu itu semua, namun setelah cukup lama menunggu akhirnya putriku kembali padaku dan aku tidak mau kehilangannya lagi" ujar pak Rahmat.
"Pak, aku tidak bermaksud memisahkan anda dari Shaina" sela Joon.
Pak Rahmat menatap Joon, "dia pulang padaku seperti saat ia pergi dariku, tanpa membawa apapun bahkan ingatan saat ia bersama mu, baginya kau tidak pernah ada kecuali muncul dalam mimpinya" kata pak Rahmat.
"Tapi Pak, aku benar-benar masih mencintainya dan ingin bersamanya, aku akan berusaha membuatnya mengingatku kembali walaupun aku harus memulainya dari awal lagi" ungkap Joon.
"Tahukah apa yang dikatakan dokter jika kau memaksa keinginanmu itu? Kami akan benar-benar akan kehilangan putri kami untuk selamanya, akibat dari kecelakaan yang menimpanya beberapa sarafnya mengalami kerusakan dan jika di paksakan untuk mengingat sesuatu yang menyulitkannya, maka tidak satupun dari kita mendapatkannya, dia baru sebentar pulang dan aku masih sangat takut untuk kehilangannya sekarang" papar pak Rahmat.
Joon terdiam membisu, jantungnya sekali lagi terhentikan mengetahui kenyataan ia tidak bisa bersatu lagi dengan Shaina bahkan harapan pun tidak ada disaat ia sudah menemukannya, pak Rahmat menangkap ada air mata yang muncul dari mata Joon, tapi dengan cepat laki-laki tampan itu memalingkannya.
"Anak-anak boleh tinggal di sini sebentar lagi, tapi kau tidak boleh, aku tidak mau putriku mendapatkan cercaan dari orang-orang karena sebentar lagi dia menikah dengan orang yang di kenalnya, setelah pernikahan ini kalian harus pergi dan jangan kembali lagi, ini demi kebaikan Shaina" pungkas pak Rahmat.
"Kami sudah menikah" ucap Joon.
"Pernikahan kalian tidak ada satupun saksi dari kami keluarganya, bagaimana kau sebut itu pernikahan? Meski kau bisa membawa sejuta saksi yang lain" tukas pak Rahmat.
Joon semakin terguncang dan tidak bisa membantah apapun lagi, ia tidak mau berdebat dengan pak Rahmat yang akan semakin memperburuk hubungan mereka.
Setelah sarapan di restoran Joon kembali ke kediaman Harris, untuk membereskan barang-barang anak-anaknya, bahkan ia meminta Hannah untuk mengeluarkan barang-barang milik Alice.
"Dari mana saja kau semalam enggak pulang dan anak-anak sekarang dimana" tanya Darrell.
"Aku ada urusan penting, anak-anak juga di tempat yang aman, kami mau tinggal di hotel saja" sahut Joon.
"Kenapa? Apa ada yang membuatmu tidat nyaman disini?" Sela Harris yang memperhatikan Joon sedang mengemasi barang-barangnya.
"Tidak ada, aku dan anak-anak lebih baik tinggal di hotel saja, sekarang ini waktu liburmu sebaiknya kau manfaatkan waktu mu untuk keluargamu jangan urus aku selalu" tukas Joon.
Joon bergegas membawa barang-barangnya dan milik anak-anaknya keluar dari rumah kediaman keluarga Harris, dan keputusan Joon yang mendadak itu sempat membuat yang lain kaget terutama tuan rumah tersebut, tapi Joon menyakinkan mereka bahwa ia hanya ingin berada di hotel dengan anak-anaknya, keputusan tersebut dimaklumi oleh keluarga Harris. Hannah juga ikut keluar dari rumah tersebut karena tidak ada Joon maupun anak-anaknya.
__ADS_1
"Harris, aku dan Darrell juga harus mengawasi Joon, sepertinya ada sesuatu dengannya" tukas Calvin pada Harris setelah mobil Joon meninggalkan kediaman Fahri.
"Apa maksudmu?" Tanya Harris.
"Aku merasa Joon agak marah dan kecewa sepertinya ini ada hubungannya dengan perempuan bernama Shaina itu" ujar Calvin.
Harris menghela nafas panjang dan kesal, "ya Tuhan... Joon kenapa lagi kau ini? Ku harap dia tidak kembali seperti dulu, apalagi calon istri Fahri bernama Shaina pula" lirih Harris.
Sontak pembicaraan Harris dan teman-temannya menarik perhatian keluarganya, tidak terkecuali Fahri, karena ingin tahu akhirnya Harris menceritakan kisah cinta Joon dengan perempuan bernama Shaina itu, meski tidak menceritakan bagaimana Shaina muncul dalam sosok Helena.
Walaupun begitu Harris telah meminta pendapat teman-temannya untuk menceritakan cerita tersebut pada mereka.
Setelah mengetahui kisah cinta Joon yang berakhir tragis itu membuat mereka kasihan dengan apa yang menimpanya.
Tiga hari sudah berlalu, hari yang di nanti-nantikan pun tiba, hiruk-pikuk bergema di sebuah gedung yang sengaja disewa oleh keluarga Fahri untuk acara pernikahan putra mereka, sekaligus memperlihatkan setinggi apa status sosial mereka, meski Shaina sempat menolak untuk diadakan acara seperti itu, tapi apa boleh buat, suaranya tidak terdengar oleh mereka yang mempunyai status tinggi, jadi mau tidak mau Shaina menerimanya.
Pagi-pagi sekali Shaina sudah di jemput untuk berada di gedung tersebut yang merupakan sebuah hotel, pagi ini ia akan di dandani bak seorang ratu untuk sehari, tangan dan kakinya berhiaskan inai merah yang semakin mempercantik tampilannya, senyum kebahagiaan terpancar dari semua orang.
Tapi, siapa yang menduga, hati dan pikiran Shaina tenggelam sendiri, bayangan Joon dan anak-anak tidak lagi membututinya dan sudah tiga hari tidak ada kabarnya, bahkan suara saja tidak terdengar lagi, itu membuatnya gelisah.
Pada hari itu, siangnya Joon kembali untuk menjemput anak-anak tapi ia terlihat berbeda, tidak ada kedipan mata yang biasanya diam-diam di lakukannya maupun rayuan untuk membuat Shaina kesal, malahan Joon datang dan berpamitan begitu saja pada keluarga Shaina tanpa bertemu dengannya, itu membuat Shaina merasa ada sesuatu dengan Joon sekaligus ia tidak suka itu.
"Apa yang Anda pikirkan, sampai-sampai anda menangis begini?" Tanya sang penata rias pada Shaina yang duduk mematung di depan cermin, di sebuah kamar yang di siapkan untuknya.
Shaina tersenyum, "maaf aku pasti menambah masalahmu karena air mata ku" ucap Shaina.
"Tidak apa-apa, aku bisa memperbaikinya. Tapi kalau boleh tahu apa yang membuat anda menangis? Karena tidak biasanya pengantin secantik ini menangis di hari bahagianya" tambah si penata rias.
"Benarkah aku cantik?" Tanya Shaina.
Si penata rias itu tersenyum dan berbagi pandangan dengan dua asistennya.
"Kalo boleh jujur nona, kecantikan itu bukan dari bentuk fisik maupun warna kulit, tapi kecantikan sesungguhnya harus dari hati dan saya merasa nona orang seperti itu bahkan saya merasa ada sesuatu yang terus mengelilingi nona yang membuat nona lebih dari kata cantik" ungkap sang penata rias.
Shaina tersungging, mendengar pujian penata rias itu, yang dianggapnya sebagai pujian belaka hanya sekedar ingin menyenangkan hatinya.
Namun ekspresi Shaina itu cukup di pahami oleh penata rias itu, membuatnya kembali berbagi pendapatnya, "aku sudah bekerjasama dengan berbagai kalangan, dari orang biasa hingga orang-orang dari kalangan atas, tapi tidak satupun dari mereka yang jujur pada dirinya sendiri, beda dengan anda yang tidak percaya pada pujian orang lain" tukas penata rias.
"Anda benar, aku terlalu jujur pada diriku, karena pada dasarnya aku memang jauh dari kata cantik yang ada aku hanya malu-maluin orang saja" tukas Shaina.
"Kurasa nona salah, lihatlah ke cermin dan lihat betapa cantiknya anda sekarang".
__ADS_1
Shaina mengikuti apa yang diminta oleh penata riasnya, bukannya ia tersenyum bahagia, ia malah tampak menertawai dirinya yang terlihat seperti boneka yang menawan, namun hatinya menyembunyikan perasaan kemarahan yang sesungguhnya.
Aaaakkkhh!
Mendadak kilatan terlintas di otak Shaina, ia memekik kesakitan, Shaina terus memegangi kepalanya yang terasa amat sakit, orang-orang yang ditugaskan untuk meriasnya jadi ketakutan dan panik dengan kondisi Shaina yang tiba-tiba menjerit kesakitan.
Dalam kesakitan itu Shaina melihat samar-samar satu persatu ingatan di masa lalunya ketika ia di tubuh Helena, mulai dari ia terbangun di rumah sakit, pertama kali bertemu Joon, dan saat-saat bahagia bersama anak-anak dan Joon, tidak terkecuali saat berduaan dengan Joon yang penuh gairah cinta hingga berakhir dengan tangisan bayi di rumah Joon.
Karena panik penata rias mencari keluarga Shaina atau siapapun yang bisa membantu Shaina, tapi saat mereka hendak menarik gagang pintu, mereka didahului oleh seseorang yang lebih dulu membuka pintu kamar itu, yaitu Dinda yang memasuki kamar itu.
Setelah di mengetahui keadaan Shaina, Dinda tampak tidak peduli dengan keadaannya meski Shaina terus bergumam tidak jelas yang diikuti dengan jeritan mengilu hati hingga ia roboh ke lantai, tapi Dinda malah menyuruh penata rias dan asistennya itu mengangkat Shaina ke ranjang.
Semua para tamu undangan sudah hadir berkumpul di salah satu aula besar hotel yang di jadikan tempat acara pernikahan, tamu dan kedua keluarga pengantin sedang bersiap-siap menunggu pengantin wanita yang belum memasuki ruang acara meski waktunya akan segera di mulai.
Keluarga Shaina menunggu dengan gelisah karena Shaina belum keluar dari kamar rias sedangkan mereka tidak diperbolehkan masuk, itu peraturan yang dibuat Fahri, agar tidak mengganggu aktivitas penata riasnya.
Lama menunggu akhirnya pintu ruangan itu terbuka dan terlihat seorang wanita dengan gaun pengantin memasuki ruangan besar itu, perempuan itu adalah Dinda yang telah menggantikan pakaiannya dengan gaun pengantin milik Shaina.
"Dinda? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau pakai ini? Dimana Shaina?" Tanya ibunya Fahri.
Dinda tampak menangis, "maaf Tante, Dinda tidak bermaksud memakai gaun ini, tapi Shaina...." Lirihnya.
"Shaina? Ada apa dengan dia? katakan lah" pinta mereka pada Dinda.
"Shaina...., Shaina kabur Tante, dia tidak mau menikah dengan Fahri, jadi aku terpaksa memakai ini agar tidak membuat Fahri dan Om malu dengan para tamu" ucap Dinda.
Sontak keluarga Shaina tidak percaya dengan pernyataan Dinda, tapi perempuan itu sangat lihai membuat kata-kata yang bagus untuk membenarkan pernyataannya mengenai Shaina.
Karena tidak ingin semakin malu di depan para tamu, akhirnya orang tua Fahri melanjutkan pernikahan tersebut dan Dinda yang akan jadi pengantinnya, bahkan Fahri sangat senang mengetahui ia tidak jadi menikah dengan Shaina.
Para tamu sempat kebingungan dengan tergantinya pengantin perempuan tersebut, tapi orang tua Fahri cepat mengalihkan kebingungan mereka dengan mengatakan Dinda memang pengantin wanitanya sedangkan Shaina hanya membantu Dinda sebagai teman.
Orang tua dan keluarga Shaina tidak terima dengan pernyataan mereka karena mereka menjadi Shaina sebagai bahan lelucon.
"Maaf semuanya, saya punya bukti jika Shaina tidak mau pernikahan ini terjadi" sela Dinda.
Sebuah rekaman video di perlihatkan Dinda untuk memperkuat asumsi jika Shaina benar-benar kabur, dimana Shaina terus bergumam ia tidak mau menikah dengan Fahri, lalu ia kabur bersama seorang laki-laki, meski wajahnya tidak terlihat jelas tapi baju perempuan itu sama persis yang di kenakan Shaina ditambah lagi postur tubuh mereka sama.
Video tersebut mampu menutup mulut dan menundukkan kepala keluarga Shaina yang membuat mereka malu atas tindakan putri mereka di hari pernikahannya. Ditambah Joon yang akhir-akhir ini kerap menemui Shaina semakin membuat mereka yakin jika Shaina kabur bersama joon.
Dan pernikahan Dinda dan Fahri dapat dilanjutkan kembali sesaat setelahnya.
__ADS_1
Di waktu yang sama pintu ruangan itu terbuka dan Joon masuk bersama anak-anaknya, ia tampak tidak bersemangat untuk datang tapi ia ingin bertemu Shaina sekali lagi untuk yang terakhir, sebelum ia pergi dari hidup Shaina.