Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Terlalu perhatian


__ADS_3

"Her!! Gantiin aku bentar ya, aku nemanin Shaina dulu dan kamu Calvin tolong jagain keponakanku bentar" Perintah Joon pada dua sahabatnya itu.


Harris maupun Calvin terdiam sambil mengangguk mendapatkan titah dari Joon, setelah kepergian Joon dan Shaina ke toilet dua pemuda itu saling memandangi dengan keheranan dengan sikap Joon pada Helena.


"Shaina?" Gumam Harris dan Calvin juga bingung dengan maksud Joon memanggil Helena dengan nama Shaina.


Joon menunggu di depan toilet disaat Shaina masih didalam sedang membersihkan pakaiannya, beberapa saat kemudian ia keluar setelah membersihkan mantelnya dan Joon segera menghampirinya.


"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Joon.


Shaina masih dengan jawaban pertama kalau ia memang tidak kenapa-napa, Joon membantu mengancingkan mantel Shaina yang terbuka membuat Shaina seperti anak kecil yang manis seraya memperhatikan lelaki itu.


"Aaaa...!!!" Pekik Shaina.


"Ada apa lagi, ada yang sakit?" Tanya Joon.


Shaina menggeleng dan tersenyum sembari meraih tangan Joon untuk diletakkan di atas perutnya dan berkata, "bayinya bergerak lagi" Senyum Shaina.


Joon terdiam dan mematung, menatap Shaina yang sibuk memperhatikan perutnya. Seketika muncul getaran di jantung Joon hingga ia sulit memikirkan yang lain selain hayalannya tentang Shaina.


"Kau bekerja disini?" Tanya Shaina dan Joon melepaskan tangannya dari Shaina.


Joon tersenyum lembut, "apa aku terlihat aneh?" Kata Joon.


Shaina menggeleng lagi, "kau hebat, punya rumah sendiri punya pekerjaan dan bisa menjaga Alice dan Alfan" Ucap Shaina sambil mengacungkan jempol.


Joon terkekeh, "semuanya kau katakan hebat, memangnya apa hebatnya pekerjaan dengan gaji kecil?".


"iiihhh kau ini! Kita harus bersyukur belum tentu orang lain seberuntung mu" Kata Shaina.


"Baiklah Nona, aku minta maaf tapi kita harus segera keluar dari sini, anak-anak menunggu kita" Ujar Joon.


Di meja anak-anak dan Calvin menunggu mereka kembali dari toilet, Joon menarik kursi untuk diduduki Shaina.


"Bagaimana kalian kesini?" Tanya Joon pada Shaina dan anak-anak.

__ADS_1


Shaina melihat kearah Calvin dan diikuti Joon.


"Tidak apa-apa kan, aku mengajak mereka keluar?" Kata Calvin.


Joon mendengus kesal pada temannya itu yang mengedipkan matanya padanya, Joon kesal karena Shaina jalan dengan Calvin, sejak dulu ia tahu jika Calvin menaksir Helena bahkan saat sekolah menengah dulu, ia sering membolos hanya untuk mengintip Helena di kampus meski saat itu Helena sudah berpacaran dengan kakak Joon.


Joon berpamitan pada Shaina karena ia harus kembali bekerja, dan tidak seberapa lama kemudian pramusaji datang dengan membawa pesanan Calvin. Pramusaji itu memberikan secangkir kopi espresso untuk Shaina.


"Maaf, aku pesan jus bukan kopi" Kata Calvin pada pramusaji itu.


"Tapi Joon menyuruhku memberikan ini untuk nyonya ini" Kata pramusaji itu sambil menunjuk kepada Joon yang berdiri dibalik meja kopinya.


Shaina terkesan dengan kopi espresso untuknya yang terdapat emoji senyum dan khusus buatan Joon. Ia dan Calvin melihat kearah yang ditunjuk oleh pramusaji itu, disana sudah berdiri Joon yang melihat kearah Shaina sambil mengedipkan matanya padanya hingga membuat Shaina tersenyum.


"Paman...!" Seru anak-anak yang melambaikan tangan padanya dan Joon juga membalasnya dengan dengan senyuman.


Dari tempat yang berbeda Calvin beradu pandang dengan Harris sambil melirik Shaina dan Joon, mereka heran dengan Shaina dan Joon karena yang mereka tahu hubungan Joon tidak begitu baik dengan Helena dan anak-anak itu sebenarnya.


"Apa kalian suka?" Tanya Calvin pada Alfan dan Alice.


Namun pandangan Shaina secara diam-diam melirik Joon dan begitu juga Joon sehingga mereka kerap membalas senyuman, Harris semakin heran dengan Joon. Calvin juga menangkap aksi Shaina, sehingga ia memutar kepalanya untuk melihat apa yang telah menarik perhatian wanita itu, Joon dan Shaina langsung mengalihkan perhatian ketika Calvin dan Harris memperhatikan mereka.


Usai makan, Calvin mengajak mereka pulang tapi sebelum itu ia menghampiri meja kasir untuk membayar pesanan mereka dan Shaina untuk keluar duluan dengan anak-anak.


Dari dinding kaca Joon melihat Shaina berdiri diluar kafe sambil mengarahkan pandangan padanya.


"Semangat!!" Ucap Shaina pada Joon.


Meski suaranya tidak keras tapi Joon tahu dari gerakan bibir Shaina sedang menyemangatinya. Itu membuat semangat Joon seperti boom booster.


Joon juga menggerakkan bibirnya dengan mengatakan "Terima kasih".


Calvin mengantar Shaina dan anak-anak pulang ke rumah dan Shaina tidak mempersilahkan Calvin masuk karena ia tidak nyaman ada lelaki di rumahnya jika tidak ada Joon.


" Emm... Terima kasih hari ini" Ucap Shaina pada Calvin. Mereka berdiri didepan rumah.

__ADS_1


"Tidak masalah, lain kali kita bisa jalan-jalan lagi, kamu mau kan?" Kata Calvin.


"Emmm..." Shaina memutar bola matanya, "aku tidak janji ya" Balas Shaina yang tersungging begitu juga dengan Calvin yang terkekeh.


Shaina berpamitan untuk masuk tapi Calvin mencegahnya dengan bertanya, "apa Joon baik pada kalian?".


Shaina tersenyum bersamaan dengan anggukan, "baik, tidak ada masalah" Sahutnya.


Beberapa menit berlalu mobil Calvin sudah menjauh dan Shaina pun masuk kedalam rumah setelah lelah seharian jalan-jalan dengan Calvin. Shaina sangat kagum dengan Helena yang dikelilingi oleh orang-orang baik dan perhatian, tapi ia merasa Calvin seperti ada perasaan terhadap Helena karena dari segi bicaranya ia tidak ragu-ragu memuji Helena.


Sebelum pulang Joon menemui atasannya untuk mengambil gajiannya bulan ini, dan ia sangat terkejut karena ia tidak hanya mendapatkan gajinya saja tapi ia juga dapat bonus yang lumayan besar, dan ia tidak sabar ingin memberitahu Shaina. Baru selangkah ia keluar dari kafe, tante Rossie sudah berdiri di depan dengan menyandarkan diri di mobil merahnya untuk menunggu Joon.


"Kenapa tante kesini?" Tanya Joon yang menghampiri wanita bergaul dongker itu.


"Ada hal penting yang ingin ku bicarakan" Sahut wanita itu.


"Aku mau pulang".


"Pulang? Itu bahkan tidak layak disebut rumah" Timpal Rossie, "tapi rumah yang sebenarnya adalah rumah orang tuamu kau harus pulang" Lanjutnya.


Joon terdiam dengan memalingkan muka dari tante Rossie. "Aku tidak pantas tinggal disana, aku tidak berguna" Gumam Joon.


"Aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu, tapi kau harus ikut aku sekarang, ada hal penting" Kata tante Rossie.


Joon menyala mesin mobilnya dan mengikuti mobil tante Rossie hingga berdiri di depan gedung bertingkat. Joon dan tante Rossie keluar dari lift dan masuk ke sebuah ruang yang sudah banyak orang dengan pakaian rapi mereka dan mereka semua sedang menunggu Joon.


"Baiklah, semua sudah hadir, kita bisa memulai membaca surat wasiatnya Tuan Salman Roland" Ucap seorang lelaki yang merupakan seorang pengacara Papanya Joon.


Joon di persilahkan duduk bersama yang lain lalu pengacara itu memulai membaca surat itu yang terdiri dari beberapa lembar kertas. Surat yang sudah berbulan-bulan lalu ingin segera diketahui isinya oleh semua orang tapi selalu di tunda-tunda oleh pengacara tersebut atas permintaan Tuan Salman Roland yang merupakan Papanya Joon, dengan alasan ia tidak mau ada anggota keluarganya yang berselisih karena harta.


Tapi penundaan itu malah semakin membuat yang lain ingin memiliki kekayaan tersebut hingga mereka terus bersaing untuk saling menghancurkan terutama dari orang-orang dekat Tuan Salman Roland sendiri, dan tanpa diduga putra sulungnya juga jadi korban dari kebiadaban mereka dengan menyabotase kecelakaan Ervian seakan-akan itu murni kecelakaan.


Sedangkan Joon tidak pernah dianggap sebagai ancaman karena ia sudah lama diusir oleh Papanya dari rumah dan mencoret namanya dari keluarga besar Tuan Salman Roland. Yang disebabkan dari sikap Joon muda yang lebih suka bersenang-senang dan menghabiskan banyak uang tanpa berpikir akibatnya. Belum lagi ia suka mabuk-mabukan dan main perempuan, itu membuat orang tuanya geram terhadapnya dengan terpaksa mereka mengusirnya agar belajar mandiri dan tahu cara menghargai serta menghormati orang lain maupun apa yang ia punya.


Tapi Ervian, selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan Joon dan memberikannya uang untuk Joon bertahan hidup di dunia yang kejam itu, namun Joon menolak menerimanya, ia tidak mau dianggap rendah oleh siapapun termasuk kakaknya sendiri dan ia pun semakin membenci pada Ervian karena Tuan Salman Roland selalu membanggakan putra sulungnya didepan semua orang sedangkan ia sendiri di buang seperti sampah.

__ADS_1


****


__ADS_2