
Shaina segera menjauh dari Joon dan ia khawatir Alice sempat melihat aktivitas barusan.
"I-iya Alice, ada apa?" Shaina mengerjap panik begitu juga dengan Joon yang tampak membuang muka.
"Mama, Alice tidak sekolah hari ini boleh? Udaranya dingin sekali" kata Alice.
"Benar juga, di dalam rumah saja dingin apalagi di luar" ujar Shaina yang mengintip ke luar jendela.
Sontak Alice tersungging dan dia langsung berlari kegirangan ke kamar. Shaina yang malu-malu berusaha untuk tidak berkontak mata lagi dengan Joon, tapi tidak dengan Joon ia malah tersenyum dan tidak berbeda jauh dengan Alice sebelumnya.
Shaina kembali melanjutkan kegiatan memasaknya tanpa berbicara dengan Joon yang berdiri di belakangnya tapi ia kembali dikagetkan dengan sepasang tangan yang muncul dari belakang dan melingkar di pinggangnya.
"Aku akan menghangatkan mu" desis Joon yang memeluknya.
"Ke-kenapa kau lakukan ini?" Gumam Shaina.
"Aku menyukainya" sahut Joon.
Kalimat yang dilontarkan Joon membuat jantungnya berdegup kencang dan sekaligus malu.
"Jika kau tidak menyukainya lagi kau meninggalkannya?" Tanya Shaina lagi.
"Tidak akan" balas Joon.
Shaina mengerenyit sambil melirik kearah Joon, lalu ia tersungging dengan senyuman lebar bersama Joon.
"Kau tidak percaya?" Timpal Joon.
Shaina mengangkat alisnya lalu menggeleng kepalanya sambil mengerucutkan bibirnya. Joon merenggangkan pelukannya dan memutar tubuh Shaina, ditatapnya dengan penuh perasaan, menyeka rambut coklat itu.
"Kita lihat saja nanti, ini janjiku padamu, aku juga akan menjaga kalian seperti kakakku yang menjaga kalian" kata Joon.
Shaina sangat senang untuk pertama kalinya ia mendengar ada seseorang yang menyatakan janji padanya, tapi Shaina hanya mampu terdiam, memandangi lekat-lekat mata Joon sambil menelaah setiap ucapan Joon yang tertuju pada Helena dan itu terasa sakit bagi Shaina. Karena ia merasa cinta tidak pernah ada untuknya meski di raga dirinya sendiri maupun jadi orang lain. Meskipun begitu Shaina tetap tersenyum.
Dalam perjalanan menuju ke tempat kerjanya, Joon berhenti di depan sebuah bangunan tua, terdapat dua lelaki bertubuh besar yang menggunakan mantel hitam dan satu lagi lelaki memakai kacamata hitam lengkap dengan kupluk hitam, mereka berdua berdiri di pintu masuk bangunan tersebut, dan saat Joon hendak memasuki gedung dengan sigap mereka menghadangnya.
"Aku ingin bertemu Mister big" ucap Joon pada kedua pria itu.
"Mr. Big sibuk tidak bisa ditemui sembarangan orang kecuali sudah buat janji sebelumnya!" Tukas pria berjaket hitam itu.
"Tapi semalam kami sudah mengobrol untuk bertemunya sekarang" ujar Joon meyakinkan dua penjaga itu.
Hahaha...!
Kedua pria itu saling memandang lalu mereka tertawa cukup keras, sedangkan Joon hanya melihat mereka dengan ekspresi datar dan tidak sedikitpun ada ketakutan dimatanya kepada dua pria bertubuh kekar itu selayaknya para bodyguard keras.
"Baru ngobrol saja sudah sok-sokan menemui bos! Kau kira dirimu siapa?" Timpal salah satu pria tersebut.
__ADS_1
"Kenapa ini ribut-ribut?" Tanya seseorang yang datang dari belakang dua pria itu.
Seorang pria bertubuh besar dengan setelan jas formal muncul dari dalam tempat itu, dan sontak kedua pria sebelumnya menundukkan kepala mereka.
"Mr. Big, saya datang membawa sesuai yang saya janjikan tadi malam" ujar Joon pada orang yang baru tiba itu.
Lelaki yang dipanggil Mr. Big itu mengayunkan tangannya sedikit pada kedua penjaganya untuk membiarkan Joon berbicara dengannya. Lalu ia mengikuti langkah Joon yang yang menuju pada mobilnya yang terparkir.
"Ini barangnya yang kau janjikan?" Tanya Mr. Big sambil memperhatikan mobil Joon.
"Iya Mr" sahut Joon.
Pria itu yang diikuti kedua bodyguard-nya memutari mobil Joon untuk memeriksa kondisi mobil, membuka kap mesin bahkan sampai menyalakan mesin mobil pun tidak luput dari pemeriksaan tersebut.
"Aku ambil" kata Mr. Big pada Joon.
Pria itu memberikan sebuah amplop coklat terang pada Joon yang disorongkan oleh salah satu bodyguardnya. Joon langsung membuka amplop yang berisi segepok uang hasil penjualan mobilnya.
"Mister, ini kurang dari yang di janjikan" kata Joon.
"Ya segitu sesuai dengan kondisi mobil rongsokan mu!" Timpal Mr. Big.
"Tapi mister, ini kurang, saya butuh uang" rengek Joon.
"Jika tidak mau segitu aku batal membeli mobil mu!" Tukas Mr big.
Misteri big yang bersama dua anak buahnya masih belum pergi dari halaman bangunan yang merupakan rumah Mr big. Dari kejauhan mereka masih memperhatikan Joon yang berjalan ke jalan raya.
"Cari tahu semua tentang orang itu, siapa tahu kita bisa mempergunakannya" perintah Mr big pada anak buahnya.
"Baik bos!" Serenta mereka menyahut boss mereka.
Sebuah senyuman tipis tercipta di bibir Mr big saat melihat Joon yang mulai menghilang dari pandangan.
Dari halte bus yang Joon tumpangi tidak jauh dari kafe tempat ia bekerja dan hanya beberapa menit saja dengan berjalan kaki Joon sudah sampai ke tempat kerjanya. Tanpa menunggu lama Joon langsung berdiri dibelakang meja bermesin espresso setelah menyimpan Sling bag-nya di dalam lemari khusus untuk para karyawan yang bekerja di tempat itu.
"Kenapa denganmu, pagi ini kau terlihat murung?" Tanya Harris pada Joon.
Joon masih fokus dengan cangkir kopi yang sedang ia buat gambar diatas buih-buih espresso.
"Tidak ada" sahut Joon datar.
"Syukurlah" balas Harris, "Joon, ngomong-ngomong Shaina itu lucu juga ya? Orangnya asik dan enggak kaku gitu" sambungnya.
Joon yang tadinya serius mendadak tersenyum sendiri sambil melirik sahabatnya yang asik membicarakan Shaina, apalagi kejadian pagi ini di dapur saat dia bersama perempuan yang sedang di gosipkan oleh Harris itu kembali membayang di ingatan Joon, sampai-sampai ia melupakan para perempuan di meja depan sedang memperhatikannya.
"Joon, sampai kapan kau akan menganggap Shaina itu Helena? Yang jelas karakter sangat berbeda, aku jadi tidak yakin tidak akan terjadi apa-apa diantara kalian selama tinggal bersama" ujar Harris.
__ADS_1
"Husss!!! Ngomong terus dari tadi! Kerja yang benar sana!" Sergah Joon untuk menghentikan Harris membicarakan Shaina si gadis rumahnya.
Harris mendengus kesal pada Joon yang pergi membawa pesanan pelanggan yang sudah menunggu. Setelah menyuguhkan pesanan pelanggannya Joon sekilas melirik ke luar jendela sambil tersenyum, dan pandangan tertuju pada seorang pria yang menggendong anak kecil dan berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita hamil besar, keluarga kecil tersebut melintas depan kafe.
Joon kembali melirik jam tangannya dan hatinya terus menghitung waktu sampai pekerjaannya usai.
Sebuah mobil memasuki pekarangan dan berhenti tepat di depan teras, Shaina mencoba mengintip lewat jendela untuk mencari tahu siapa yang berkunjung.
TUK! TUK!
Tidak lama kemudian terdengar ketukan pintu, Shaina ragu-ragu membukakan pintu tapi ia harus melakukannya. Seorang lelaki bertubuh tegap dan mengenakan mantel abu-abu berdiri di depan pintu masuk, Shaina berusaha tenang saat ia dilanda kekhawatiran, karena seorang pria datang berkunjung disaat Joon tidak ada di rumah.
"Apa kabar?" Tanya lelaki tersebut.
Shaina tersenyum sambil menghela nafas lega saat melihat sosok lelaki dibalik mantel bulu itu yaitu Calvin.
"Mencari Joon? Dia sudah pergi kerja" kata Shaina.
"Aku tidak mencarinya, aku hanya berkunjung saja" ujar Calvin.
"Oh! Ummm....." Gumam Shaina yang bingung harus mengatakan apa.
"Jadi aku tidak disuruh masuk nih?" Ketus Calvin dengan senyuman terbaiknya.
Shaina mengerjap panik, "Oh! Maaf-maaf, silahkan masuk" sambungnya.
Shaina malu-malu menerima parsel buah-buahan yang dibawa oleh Calvin. Di sofa sudah penuh dengan tumpukan baju yang sedang dirapikan Shaina dan melihat Calvin datang di saat keadaan rumah berantakan membuat Shaina semakin salah tingkah.
"Alfan, tolong bawakan ini ke dapur ya?" Kata Shaina pada Alfan.
Meski Alfan dan Alice sedang asik bermain puzzle di pojokan dan harus terganggu karena kedatangan teman paman mereka, Alfan tidak menyanggahnya saat Shaina memintanya untuk membawa parsel buah-buahan dari Calvin ke dapur.
Shaina segera menggeser tumpukan pakaian di atas sofa untuk memberi ruang bagi Calvin duduk.
"Maaf ya! rumah kami agak berantakan" kata Shaina sambil mengambil beberapa lipatan pakaian tersebut.
"Tidak apa-apa" sahut Calvin sambil tersungging.
Shaina mempermisi untuk menyimpan beberapa lipatan pakaian yang diambilnya. Sepeninggal Shaina Joon duduk sendiri di sofa sambil melihat Alice yang sedang menunggu Alfan kembali dari dapur, di depan gadis kecil itu tampak potongan puzzle berserakan dan sebagiannya sudah mereka pecahkan. Pandangan Calvin berkelana seisi ruangan hingga berhenti di tumpukan pakaian yang sudah di tata rapi oleh Shaina, dan ia juga menangkap potongan pakaian Joon diantara lipatan pakaian perempuan yang tidak lain punya Shaina, ekspresi Calvin mendadak datar.
"maaf ya menunggu" Shaina kembali dari kamar usai menyimpan pakaian tersebut.
Karena lipatan pakaian di sofa masih banyak, sekali lagi Shaina minta izin untuk memindahkannya sebagiannya dan saat ia mengangkat lipatan tersebut, Shaina tidak sengaja menjatuhkan celana boxer milik Joon yang terselip di antara yang lain.
"Eh?!" Shaina sangat kaget melihat celana tersebut jatuh tepat di depan Calvin.
Dengan cepat Shaina mengambilnya sambil menahan rasa malunya. Hal tersebut juga mengagetkan Calvin dan membuat pikirannya traveling kemana-mana.
__ADS_1