Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Pengen jadi orang kaya


__ADS_3

Waktu-waktu terang dan bising sudah berlalu, yang ada hanya keheningan memenuhi malam, kebanyakan manusia sudah terlelap dalam tidur mereka kecuali mereka-mereka yang masih setia dengan malam mereka, melakukan pekerjaan atau hanya sekedar bersenang-senang saja menikmati saat-saat sebelum mentari menjemput.


Sepi, hening, menggambarkan suasana malam hari di komplek perumahan tempat tinggal Joon, dikarenakan semua manusia sudah terlelap dalam tidur mereka, Tapi tidak dengan Joon yang memanfaatkan waktunya untuk mengotak-atik laptop yang ia pangku, ia tampak begitu serius menatap layar persegi itu dibawah redup cahaya lampu tidur yang sengaja dinyalakannya agar tidak terlalu mengganggu tidurnya Shaina. Dikamar yang sederhana itu dengan luas yang tidak seberapa, hanya dihuni oleh satu tempat tidur berukuran Queen dan satu lemari yang tidak terlalu besar beserta nakas di salah satu sudut ruangan.


Joon duduk bersandar di sebelah Shaina yang tertidur pulas itu, jari-jemarinya dengan lihat menari di atas keyboard dan mata tajamnya memperhatikan layar laptopnya yang menampilkan berbagai kata dan angka, mendadak tubuhnya bergetar dan matanya pun berkaca-kaca saat di perlihatkan sebuah foto keluarganya yang memperlihatkan kedua orang tuanya duduk di kursi sedangkan ia dan Ervian sang kakak berdiri di belakang kedua orang tersebut.


Tidak seberapa lama foto tersebut digantikan dengan beberapa abjad dan huruf mengenai CALISTA Groups, perusahaan orang tuanya yang sekarang sedang jadi incaran beberapa pihak untuk memilikinya. Meski bekerja sebagai Barista dengan gaji yang tidak seberapa di bandingkan pegawai kantoran, Joon adalah lulusan akademi terbaik dan tersohor di luar negeri, ia juga tidak seperti yang dipikirkan oleh koleganya yang tidak mengerti bagaimana mengurus perusahaan, apalagi ia pernah belajar langsung dari orang tuanya yang merupakan pembisnis terbaik dalam jajarannya di negaranya. Hanya saja Joon yang dulu terlalu naif dan hanya berpikir bersenang-senang saja dan tidak mau bersusah payah bekerja karena semuanya telah tersedia hingga membuatnya lupa diri, memaksa Papanya mengambil langkah tegas dengan mengusirnya dari rumah dan mengancamnya mencoret namanya dalam surat warisan.


Sejak saat itulah hidup Joon terpelanting-pelanting tanpa tujuan karena semuanya yang dimilikinya disita habis oleh orang tuanya, tidak lama setelah itu ia bertemu dengan Marissa dan akhirnya mereka menjalin hubungan asmara.


Tapi ketika Joon telah bisa menerima kenyataan dan mampu menata hidupnya kembali, masa lalu kembali menyapanya ditambah lagi tanggung jawabnya pada keluarga kakaknya yang ditinggalkan sampai pertemuannya dengan kakak ipar dengan jiwa orang lain dan sekarang tidur di sebelahnya, dimana Joon betah memandanginya, matanya enggan untuk berpaling melihat Shaina yang begitu manis saat ia tertidur.


Perlahan-lahan Joon menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Shaina berparas ayu.


"Emmm...." Gumam Shaina sambil tersungging dalam tidurnya.


Membuat Joon ikut tersenyum melihatnya, tanpa sadar ia juga mengelus perutnya bahkan sampai memegangi tangan Shaina.


"Hei! Kenapa kau ini lucu sekali sih?" bisik Joon.


Perlahan Shaina membuka matanya dan Joon segera mengalihkan pandangannya pada layar laptop dengan berpura-pura sibuk.


Shaina yang mulai mengumpulkan kesadarannya cukup terkejut melihat Joon sibuk dengan laptop di tengah malam, tapi ada hal lain yang mengganjal di hatinya untuk diketahuinya.


"Apa aku ngiler?" Tanya Shaina sambil menyeka mulutnya berharap apa yang ditanyakan tidak benar-benar terjadi karena ia sempat melihat Joon sedang melihatnya.


Joon menarik senyuman tipis sekaligus menaikkan alisnya yang sontak membuat Shaina jadi panik, ia kembali menyeka bibirnya untuk memastikan itu tidak benar. Shaina penasaran apa yang membuat Joon masih terjaga di depan laptopnya.


"Kau main game, ya?" Tanya Shaina lagi, Joon jadi tersungging mendengarnya, "aku tidak suka kau main game terus" lanjut Shaina memberi tahu Joon isi hatinya.


Joon menolehkan wajahnya pada Shaina dengan tatapan datar hingga Shaina jadi bergidik melihatnya.


"Aku minta maaf..." Gumam Shaina dengan memanyunkan bibirnya pada Joon, dan ia segera menarik selimutnya untuk menyembunyikan wajahnya.


Joon menarik selimut Shaina, "aku tidak main game tapi sedang belajar" kata Joon.

__ADS_1


Shaina kembali tersenyum lebar dan rasa penasarannya juga ikut menguasainya, "belajar?" Tanya Shaina dengan mendongakkan wajahnya bahkan ia ikut duduk bersama Joon dan sama-sama menatap layar laptop.


"Iya, aku belajar sesuatu karena ingin pindah ke pekerjaan yang lebih baik dengan gaji yang lumayan besar agar dapat memenuhi kebutuhan kita, apalagi kita butuh biaya persalinan nantinya" kata Joon.


Shaina tersungging, "Oh begitu? Semangat ya!!" Serunya dengan antusias, "aku juga ingin lihat" sambung Shaina lagi.


"Kemari lah!" Kata Joon.


Shaina mendekat pada Joon dan ikut duduk bersebelahan dengannya, bahkan menyandarkan diri pada bahu Joon, meski ia tidak mengerti apa yang sedang di lihat oleh Joon pada laptopnya, tapi Shaina terus menunjukkan sikap senangnya hingga Joon jadi bersemangat. Tanpa sadar mereka mengobrol banyak hingga larut malam.


"Kau sudah punya rencana pekerjaan apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Shaina.


Joon tersenyum tipis sambil menikmati lengannya dipeluk oleh perempuan itu, "aku sudah memilih satu perusahaan" ucap Joon.


"Waaww!! Perusahaan? Posisi apa yang kau inginkan?" Tambah Shaina.


"CEO" sahut Joon.


Seketika Shaina tertawa, "Hahahaha!!! Joon, aku tahu posisi CEO itu seperti apa jadi jangan bercanda malam-malam" celetuk Shaina.


Tapi Joon tidak bereaksi saat Shaina menertawakannya, namun malah membuat Shaina merasa bersalah, "maaf... Aku kelewatan ya?" Ucap Shaina.


Sesaat Shaina terdiam memikirkan sesuatu, "kau tidak berencana menjalin hubungan dengan putri si pemilik perusahaan tersebut, kan?" Sosor Shaina dengan tatapan tajamnya.


Mendengar pertanyaan Shaina hampir saja membuat Joon tertawa karena ia tidak menduga Shaina akan berpikir seperti itu, namun senyuman Joon semakin di salah artikan oleh Shaina yang menganggap kecurigaannya benar.


"Kau tidak boleh melakukan itu!" Tukas Shaina.


"Kenapa?".


"Pokoknya enggak boleh tetap enggak boleh!" Timpal Shaina, memasang wajah jutek dan mengintimidasi.


"Alasannya?".


"Tidak ada alasan! Pokoknya aku tidak setuju jika kau mau jadi pimpinan perusahaan!!!" Berang Shaina, ia menarik selimutnya dengan kasar dan kembali membaringkan tubuhnya bersama kemarahannya.

__ADS_1


Joon tersungging dengan aksi ngambek Shaina yang mendadak tersebut, ia segera menyimpan laptopnya ke atas meja lalu mendekat pada Shaina untuk membujuknya.


"Hei...! Jika aku jadi orang kaya, kamu dan anak-anak juga akan ikut hidup senang, kita bisa beli segalanya dengan mudah, kamu juga bisa belajar memasak tanpa harus khawatir kehabisan bahan-bahan dapur" ujar Joon pada Shaina yang membelakanginya.


Shaina berbalik badan kearah Joon, "segalanya?" Tanya Shaina.


Joon tersenyum sambil mengangguk.


"Aku mau uang yang banyak" kata Shaina.


"Dasar perempuan! Jika soal uang semuanya mau" Ujar Joon yang meliriknya sinis.


"Aku mau dalam jumlah besar untuk pergi dari sini dan akan ku bawa anak-anak bersamaku terserah kau mau apa dengan perempuan itu!" Timpal Shaina yang mengancam Joon.


"Kau ini! Bercanda doang dibawa serius!" Kilah Joon dengan mencuil-cuil pipi Shaina yang mulai chubby karena faktor kehamilannya.


Shaina menepis tangan Joon darinya, "makanya jangan bercanda sembarangan! Bikin orang emosi aja" sergah Shaina.


"Tapi kamu mau kan jadi orang kaya?" Tambah Joon.


"Orang bodoh mana yang enggak mau jadi orang kaya tapi kalau gitu, aku mending tak usah jadi kaya lah!" Timpal Shaina, ia menarik selimutnya untuk menutupi dirinya, "udah ah ngobrolnya aku mau tidur, ngantuk nih!" Sambungnya.


Dibalik selimut yang menyembunyikan wajahnya ia kembali bergumam, "berbagi memang indah tapi berbagi yang wajar-wajar saja", Shaina menekuk wajahnya, memendam emosi yang menggebu-gebu di hatinya mengenai rencana Joon menjadi orang kaya dengan mendekati anak pemilik perusahaan.


Joon tersungging menatap punggung perempuan itu, lalu ia menyusupkan tangannya ke perut Shaina.


"Apa yang kau lakukan?" sergah Shaina yang kaget karena tiba-tiba tangan Joon menepuk-nepuk perutnya dengan lembut.


"Tenang saja, aku tahu kau sedang hamil dan tidak mungkin melakukan yang aneh-aneh pada mu" kata Joon.


"Aku sedang hamil? Jadi jika tidak berarti kau akan macam-macam?".


"Bicara apa kau ini? Tidak hamil berarti kamu tidak di sini! Jangan bicara lagi cepat tidur sana!" Titah Joon pada Shaina.


Shaina mendengus kesal tapi ia tidak lagi berdebat, membiarkan Joon membelai perutnya meski ada perasaan aneh muncul, membuatnya diam-diam menyeringai saat memejamkan matanya. Detik demi detik, jam demi Jam dilalui mereka berdua yang dibuai oleh kesunyian malam menjelajahi dunia mimpi masing-masing, terlelap tidur bersama di satu ranjang.

__ADS_1


Sesekali Shaina mengganti posisi tidurnya untuk mendapatkan posisi ternyaman untuk dirinya dan sang bayi, tanpa menyadari ia benar-benar memeluk Joon dalam tidurnya, merasakan kehangatan yang berbeda dari biasanya.


...********...


__ADS_2