
"Tidak usah, kamu pasti lelah" Tolak Shaina yang menarik kakinya dari Joon.
"Aku tidak apa-apa" Sahut Joon dengan mata berbinar-binar yang terkena pantulan cahaya lampu.
"Tapi..." Gumam shaina, tapi Joon tidak peduli tolakan shaina.
Diam-diam Shaina mencuri pandang pada si pemilik mata tajam itu bagaikan sepasang mata macan kumbang dengan iris mata abu-abu, dan didukung rahang tegasnya, hidung mancung, bibir seksi serta kulit putih bersih, siapa saja bisa lupa berkedip saat menatap akan paras Joon yang sangat mempesona itu.
Shaina langsung mengalihkan pandangannya saat mata Joon memergokinya yang sedang melihatnya.
Kaki Shaina di remas-remas Joon, tangan dan satu persatu jari tangannya juga tidak luput dari pijatan yang merilekskan hingga tanpa sadar Shaina terlelap di sofa. Di tengah malam Shaina terbangun dan ia kebingungan karena tidak menemukan Alice maupun Alfan disebelah melainkan ia melihat kain membentang di tengah-tengah ranjang yang dijadikan sebagai pemisah, dalam redup cahaya lampu tidur kamar itu tidak terlihat seperti kamar yang ditempatinya dan anak-anak namun kamar itu juga tidak asing baginya.
"Tidak... Jangan usir aku... Aku minta maaf... "
Sayup-sayup terdengar suara seseorang di tengah malam di ruangan itu jadi dengan kegundahan yang menyelimuti, Shaina memberanikan diri untuk mencari tahu siapa di sebelahnya yang tidur dibalik kain membentang itu. Dan ia sangat terkejut kalau suara itu adalah suara Joon yang tidur disebelahnya seraya mengigau.
"Jangan buang aku... Aku ingin pulang... Kakak tolong aku..." Racau Joon.
Peluh dingin membasahi tubuhnya, kepalanya bergeleng-geleng dengan mata tertutup dia masih bergumam kalimat yang sama. Shaina mengguncang-guncang tubuh Joon beberapa kali agar ia terbangun.
"Joon! Joon bangun!" Pekik Shaina yang tidak henti-hentinya mengguncang tubuh lelaki itu.
Perlahan Joon membuka matanya dan melihat shaina dengan cepat ia penarik perempuan itu kedalam pelukannya sembari bergumam, "Marissa! Marissa! Syukurlah kau ada disini".
Shaina terkejut dan memukul-mukul Joon seraya berteriak, "Lepaskan aku! Lepaskan aku! Hey sadarlah! Kau salah orang, cepat lepaskan aku!" Shaina terus melawan dalam pelukan Joon.
Joon mendengar teriak itu dan perut besar yang menempel padanya menyadarkannya lalu merenggangkan dekapannya. Shaina segera bangkit dari atas tubuh Joon dengan wajah juteknya sekaligus mendengus.
"Marissa?" Gumam Shaina.
"Kenapa kau memukul ku? Apa karena aku memanggil Marissa didepan mu?" Tanya Joon.
"Tidak ada hubungannya! Tapi kau menekan perutku, sakit tahu!" Sergah Shaina.
Joon menyeringai pada Shaina yang mengelus perutnya yang sudah cukup membesar itu.
"Aku minta maaf, tapi kau dan bayinya tidak apa-apa ka?" Tanya Joon.
__ADS_1
"Aku baik tapi aku tidak tahu dengan bayinya karena aku bukan dokter!" Ketus Shaina, "tapi kenapa aku bisa disini?" Tambahnya.
"Oh itu? Semalam kau tertidur di sofa, saat ku bawa ke kamarmu, aku melihat anak-anak tidur dengan posisi tidak karuan dan bisa menyakiti perutmu dengan kaki mereka jadi ku bawa ke kamarku" Jelas Joon.
"Benar saja! Aku lebih merasa aman bersama anak-anak daripada dengan lelaki dewasa berotak kotor!" Timpal Shaina.
"Masih untung ku bawa ke kamarku daripada ku tinggalkan di kamar mandi! Tidur sana! Aku tidak tertarik dengan perempuan hamil!" Lanjut Joon.
"Ya terimakasih!!!" Bentak Shaina, "ya tentu! Perempuan hamil mana bagusnya! Udah perutnya besar, aneh pula! belum gejala lainnya muncul!" Shaina menarik kain yang dijadikan turai pemisah antara mereka.
Joon mengernyit keheranan dengan Shaina yang marah-marah, "hah?! Aneh!" Gumam Joon.
Dengan terburu-buru Shaina turun dari ranjang tapi Joon menangkap tangannya dan melarangnya untuk keluar atau tidur di kamar anak-anak dengan alasan demi kebaikan Shaina sendiri karena tidur bersama anak-anak bisa menyebab perutnya terbentur dengan mereka belum lagi ia harus berbagi ranjang bertiga, bisa-bisa Shaina terjatuh karena ranjang kesempitan untuknya, itu semakin membahayakan dirinya dan bayinya.
Mendengar saran Joon membuatnya berfikir sesaat dan itu ada benarnya juga.
"Baiklah, aku tidur disini tapi ingat! Jangan macam-macam bagaimanapun aku ini kakak ipar mu sedang mengandung anak kakakmu! " Ancam Shaina.
"Tentu" Joon kembali berbaring dengan membelakangi Shaina "macam-macam? Memangnya apa yang akan ku lakukan?" Gumamnya.
"Kok gini amat sih jadi ibu hamil? apa-apa sulit, tidur aja susah" Gumam Shaina.
Dari arah lain, Joon dapat mendengarkan keluh Shaina, ia berbalik badan untuk menghadap ke Shaina walau tidak terlihat tapi ia tahu Shaina belum tertidur dan masih bergulat dengan kenyamanan punggungnya yang tidak nyaman itu, jadi Joon bangun lagi dan menarik tirai tapi ia sama-sama terkejut dengan Shaina.
"A-apa yang kau la~kukan? Bu-bukankah sudah ku katakan ja-jangan macam-macam?" Timpal Shaina yang tergagap karena kaget melihat Joon mendekat padanya secara tiba-tiba.
"A-aku hanya ingin memberi ini untukmu" Sahut Joon yang memegang bantal.
"Aku sudah punya tidak butuh lagi" Sergah Shaina.
Joon semakin mendekatinya bahkan dia seakan hendak menindihnya yang membuat Shaina ketakutan dan menghalang tubuh Joon dari perutnya.
"Ganjalkan ini di belakangmu" Joon meletakkan bantal di punggung belakang Shaina setelah itu ia kembali ke sisi ranjang bagiannya sebelumnya.
"Ohh! Terima kasih" Ujar Shaina.
Joon menarik tirai yang tersingkap itu kembali agar menutup Shaina, lalu Joon berbaur kembali tapi matanya mengerjap dengan apa yang baru ia lihat. Saat menarik selimut ia tidak sengaja melihat Shaina tidur tanpa menggunakan selimut bahkan ia menyingkap bajunya karena gerah sehingga perutnya yang buncit itu terekspos jelas dan ketika dia mendekatinya dengan tiba-tiba, Shaina cepat-cepat menurunkan baju tidurnya untuk menutupi perutnya tapi Joon sudah terlanjur melihatnya.
__ADS_1
Seketika jiwa lelakinya muncul membuat Joon hampir sulit mengendalikan nafsunya tapi mengingat itu tubuh Helena, kakak iparnya yang sedang mengandung anak kakaknya jadi Joon dapat meredam nafsu birahinya.
Joon tidak mengira jika Shaina lebih menggoda dari pada Marissa. Setiap kali bersama Shaina, ia merasa seperti ada medan magnet yang menariknya untuk dekat pada Shaina meski dengan perut besarnya yang tidak mengurangi gejolak perasaan Joon terhadap wanita itu. Walaupun tadi siang Joon mencari kepuasan dari Marissa untuk memenuhi hasratnya tapi tidak ia dapatkan, menyentuh setiap bagian tubuh Marissa benar-benar terasa hambar dan tidak menarik sama sekali, ciuman mersa tidak juga dapat membangkitkan gairahnya hingga Joon berpikir dirinya mulai tidak normal karena ia tidak dapat menikmati sentuhan perempuan.
Namun, sekilas saja melihat Shaina sudah mampu membangunkan gairah seksualnya, sehingga berlama-lama dengan Shaina adalah sesuatu yang menyulitkan baginya apalagi memijat wanita itu tapi ia tidak punya pilihan lain, Joon tidak tega melihat Shaina kelelahan dengan kondisinya itu yang bukan keinginannya sendiri. Berbagi ranjang juga sangat menyulitkan Joon tapi bagaimana lagi Shaina akan tidak bagus tidur berdesak-desakan dengan anak-anak.
Shaina masih menahan rasa malu karena Joon melihat perutnya tapi Shaina tetap berpikir positif bagaimanapun Joon tidak benar-benar melihat tubuhnya karena itu tubuh Helena dan Joon mustahil tertarik dengan perempuan hamil yang memiliki perut besar seperti dia. Di balik tirai terlihat bayangan Joon yang masih terjaga, itu mengkhawatirkan Shaina mengingat Joon baru saja bermimpi buruk sembari mengigau.
"Masih belum bisa tidur?" Tanya Shaina, mengkhawatirkan keadaan Joon yang tampak masih shock dengan mimpi buruknya.
"Iya" Jawab Joon.
"Bagaimana jika berdoa dulu sebelum tidur?" Saran Shaina.
Joon terdiam menatap gerakan bayangan Shaina di tirai.
"Bisa tuntun aku, sudah lama aku melupakannya" Kata Joon. "Apa kau menertawakan ku?" Tambah Joon yang tidak mendengar jawaban Shaina.
"Aku juga bukan orang pintar tapi kita bisa belajar bersama-sama" Sahut Shaina membuat Joon tersungging. "Minggu depan bulan puasa, kita puasa bersama ya?" Tambahnya, Shaina menyingkap tirai sedikit untuk melihat Joon.
Dari arah yang berlawanan Joon juga meliriknya, ekspresinya menunjukkan adanya kecemasan dan itu membuat Shaina khawatir jika Joon tidak suka usulannya.
"Jika kamu tidak mau enggak apa-apa kok, aku bisa melakukannya sendiri" Shaina tersungging.
"Apa kau tidak mengkhawatirkan bayinya karena yang ku tahu Helena tidak pernah puasa?" Kata Joon.
Shaina tersenyum, "emmm... Ku rasa tidak akan apa-apa, karena ibadah tidak akan menyakiti kita karena Yang Maha Kuasa bersama kita".
Joon kembali tersenyum, "Terima kasih tidak menertawakan ku" Katanya.
"Untuk apa aku menertawakanmu, aku juga bukan orang suci, tapi kita bisa berjalan bersama menuju fitrahNya" ujar shaina.
Joon berbalik arah pada Shaina seraya bertanya, "apa tidak apa-apa kita tidur bersama seperti ini?".
"Cuma tidur dan tidak melakukan macam-macam ku rasa tidak masalah" Tambah Shaina.
Joon kembali tersenyum dan memejamkan mata setelah mengobrol panjang lebar dengan Shaina.
__ADS_1