
TUK! TUK! TUK!
Terdengar ketukan pintu, Shaina maupun Joon heran siapa yang bertamu ke rumah mereka.
Joon mengerjap heran melihat dua orang yang berada di balik pintu rumahnya.
"Ngapain malam-malam kalian kesini?" Tanya Joon pada orang itu.
"Siapa Joon?" Tanya Shaina yang penasaran dengan si tamu.
"Selamat malam Shaina" sapa Harris yang tersenyum lebar pada Shaina.
"Malam, silahkan masuk" kata Shaina pada Harris dan Calvin yang berkunjung.
Dua lelaki itu langsung masuk tanpa dipersilahkan oleh Joon sendiri.
"Eh! Ngapain kalian berjamaah kesini?" Ketus Joon pada dua sahabatnya yang agak kesan mengabaikannya.
"Memangnya tidak boleh?" Ketus Calvin pada sahabatnya.
"Bukan begitu, tapi ini sudah malam" sungut Joon
"Apa masalahnya, bukankah dulu kami sering kesini bahkan sampai menginap di rumah mu?" Timpal Harris.
Mendadak Joon jadi kesal mendengar jawaban temannya yang membahas tentang menginap karena jika mereka benar-benar menginap itu seperti dulu, maka akan sangat mengganggunya.
"Kita boleh makan malam disini?" Tanya Calvin pada Shaina.
Shaina melihat kearah Joon yang tampak sedang menahan kesal, "boleh" sahut Shaina sambil tersenyum.
Karena Shaina melirik pada Joon maka Calvin dan Harris pun ikut menoleh pada Joon.
"Tenang saja kami bawa makanan sendiri" sahut Harris merangkul pundak Joon.
Secepatnya Joon menyingkirkan tangan temannya itu dari pundaknya.
"Issshh! Tadi diajak masuk tidak mau, sekarang malah bertamu pake acara makan malam lagi" ketus Joon.
"Tadi bukannya tidak mau, tapi aku tidak mau mengganggumu yang lelah baru pulang kerja dan di jalan tadi aku bertemu Calvin yang kebetulan mau main ke rumah mu jadi aku sekalian ikut" jelas Harris.
"Kalian udah makan malam atau belum?" Tanya Calvin pada Shaina dan anak-anak.
"Belum Om" sahut Alfan dan Alice sedangkan Shaina hanya menggeleng kecil.
"Baguslah! Kita makan bersama ya? Aku taruh ini di belakang ya?" Kata Calvin yang bergegas ke dapur.
Di belakang diikuti Shaina karena merasa tidak enak.
"Biar aku saja yang melakukannya, kau kan tamu" ujar Shaina pada Calvin sibuk menyiapkan makan malam yang dibawanya.
"Tidak usah, santai saja, kami sudah sering begini di rumah ini, ibu hamil sepertimu istirahat saja bersama l anak-anak" kata Calvin.
"Tapi..." bantah Shaina.
"Biarkan saja dia, karena aku memang berencana menjadikan mereka babu ku" timpal Joon yang kesal dengan tingkah temannya karena ia sudah mencium ada aroma modus dari sikap Calvin yang tiba-tiba mau makan malam di rumahnya.
Calvin tersungging mendengar celoteh temannya, namun tidak di pungkirinya juga kedatangannya tersirat maksud tersembunyi apalagi ia lebih agak sering lirik-lirik Shaina yang polos dan tidak mengerti maksud kedatangannya termasuk Harris.
__ADS_1
"Waaaa... Kau Shaina pintar masak juga ya? Mami ku senang dengan perempuan yang bisa masak lho" seru Harris yang membuka penutup masakan Shaina di meja makan dengan maksud menarik simpati perempuan itu.
"Terima kasih" ucap Shaina.
"Kau keluar saja biar aku yang temani dua makhluk ini" kata Joon sambil menuntun Shaina ke luar dari area dapur.
Meskipun begitu tidak menghalangi Harris dan Calvin untuk memamerkan keindahan senyuman manis mereka untuk menarik perhatian Shaina.
Shaina pergi dari dapur sesuai permintaan Joon, ia ke ruang tamu bersama anak-anak dan meninggalkan tiga lelaki ganteng itu yang di dapur, tanpa sepengetahuannya Calvin maupun Harris terus memandangnya, dan Joon semakin kesal dengan tingkah dua sahabatnya itu.
"Ngapain sih kalian ganggu orang malam-malam?" Timpal Joon.
"Tenang saja kami tidak ganggu kamu kok cuma mau ketemu sama Shaina" kilah Harris yang terlalu jujur.
Calvin mendekati Joon yang berdiri santai dengan bersandar di meja kompor, "ngomong-ngomong kamu belum ngapa-ngapain dia kan?" Celetuk Calvin yang setengah berbisik pada Joon.
"Bicara apa kau ini?!" Sergah Joon.
"Jangan sok naif, kami tahu betul siapa kau ini, kau itu rajanya Playboy dan tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukan itu pada wanita apalagi Shaina itu terlihat masih sangat polos" timpal Calvin.
"Kau bicara begini kayak sudah benar saja, kau ini juga tidak lebih dariku, hampir semua perawat sudah kau nikmati di sela-sela pekerjaanmu" balas Joon terhadap Calvin yang mencurigainya.
"Apaan sih kalian udah sama-sama brengsek pake saling ngatain pula?!" Celetuk Harris untuk menengahi pergelutan dua sahabatnya itu.
"Mending tidak seperti kau! Berlagak menjadi anak suci Mami tapi di belakang serigala juga!" Timpal Joon.
Joon dan Calvin menyeringai pada Harris sehingga lelaki berambut ponytail itu jengkel dengan dua temannya itu yang ikut bawa-bawa namanya. Mengotak-atik rumah Joon bukan lagi hal yang tabu untuk dilakukan Harris dan Calvin, selain sudah keseringan main ke rumah Joon mereka juga sudah seperti rumah sendiri jadi tidak ada lagi kesan malu-malu atau enggan untuk melakukan apapun di rumah itu, tidak hanya itu, dulu sebelum ada Shaina atau Helena di rumah itu mereka sering menginap di rumah Joon jadi tidak heran semua barang-barang yang ada di rumah itu sudah mereka hafal semua letaknya.
Joon juga tidak keberatan dengan kehadiran dua sahabatnya itu yang kerap jadi gengnya saat bersenang-senang tidak terkecuali saat bersama perempuan, diantara mereka juga tidak ada namanya rahasia lagi, semua sudah saling mengenal satu sama lain termasuk dalam melakukan kejahatan terutama dengan perempuan.
Calvin dan Harris sibuk menyiapkan makanan malam sedangkan Joon hanya berdiri sambil mengawasi mereka yang mengotak-atik isi dapurnya.
"Apa maksudmu?" Joon heran dengan pertanyaan Calvin.
"Ini kotaknya sudah kosong dan aku tidak melihat ada kotak susu lainnya" sahut Calvin sambil memperlihatkan kotak susu kosong yang ia ambil dari tempat sampah.
Joon menghampirinya untuk melihat juga kotak susu kosong, lalu ia membuka lemari yang biasa disimpan susu dan di lemari juga tidak ada bahkan ke seluruh tempat ia cari tidak ia temukan. Kemudian Joon teringat saat makan malam beberapa hari terakhir, ia tidak lagi melihat ada gelas susu di depan meja Shaina.
"Pantas saja..." Gumam Joon sambil berdecak.
"Kau ini benar-benar tidak sigap, susu Shaina saja kau lupakan lupa" sela Harris yang sibuk mencicipi masakan Shaina di meja.
"Syukurlah... Ternyata kau tidak terlalu dekat dengan Shaina, hal seperti saja tidak kalian bicarakan" celetuk Calvin yang diiringi dengan hembusan nafas lega.
Walaupun Joon merasa bersalah pada Shaina tapi ia sedikit dapat bernafas lega setidaknya kedua lelaki dirumahnya sekarang menurunkan level kecurigaan mereka tentang hubungannya dengan Shaina.
"Semua sudah siap" seru Harris yang tersenyum lebar ketika melihat makanan sudah tertata rapi, "aku panggil Shaina dulu ya...." Sambungnya sambil berlalu pergi ke ruang tamu.
"Ehh...! Tunggu, enggak usah! Biar aku saja yang panggil" sergah Joon.
"Tidak masalah, aku tidak repot kok, kalian pasti lelah dan santai aja deh" tambah Harris yang mengabaikan Joon dan Calvin yang berdecak kesal padanya.
"Dasar manusia ular! Pinternya nikung teman kerjaannya" timpal Calvin.
"Kau juga sama" gumam Joon.
Melihat tingkah mereka berdua, Joon malah tersungging sekaligus kesal karena sudah ia duga maksud kedatangan mereka ke rumahnya dengan alasan ingin makan malam bersama, melainkan mereka ingin bertemu dengan Shaina, si gadis asing itu.
__ADS_1
Harris memasang senyuman terbaiknya saat melihat Shaina yang sedang mengobrol dengan anak-anak, dan ia langsung menghampiri mereka.
"Ayo kita makan malam, makanannya sudah siap" kata Harris pada Shaina dan anak-anak.
"Horeee!! Akhirnya makan juga, aku sudah laper dari tadi" seru Alice yang kegirangan.
Sedangkan Shaina hanya kalem aja tanpa banyak bicara dan tidak mengurangi sikap sopan pada Harris. Tanpa diminta Alice dan Alfan langsung menarik kursi yang biasa mereka duduki, tapi tidak dengan Shaina karena dengan sigap Calvin menarik kursi untuk Shaina.
"Silahkan" ucap Calvin yang mempersilahkan Shaina duduk.
"Terima kasih" balas Shaina sambil tersenyum malu.
Harris juga menarik kursi untuk ia duduk di sebelah Shaina tapi lagi-lagi Calvin keduluan duduk di sebelahnya perempuan tersebut, sedangkan Joon hanya diam sambil memperhatikan sikap kedua temannya yang tahu mereka tertarik dengan Shaina, terutama Calvin yang sangat menyukai Helena bahkan saat Helena masih berpacaran dengan Ervian, almarhum kakaknya Joon.
Walaupun Joon membiarkan Shaina didekati oleh teman-temannya tapi diam-diam Joon melirik kesal juga pada mereka apalagi saat mereka sok perhatian pada Shaina.
"Mama... Alice mau yang itu" tunjuk Alice pada salah satu lauk yang tersedia di meja makan.
"Tunggu ya sayang, Mama ambilkan" ujar Shaina pada Alice.
Shaina berdiri dari duduknya untuk mengambil lauk yang ditunjukkan Alice.
"Biar aku saja" sergah Calvin. Ia mengambil lauk tersebut yang kebetulan berada di depannya.
Aksi Calvin sekali lagi menarik perhatian dua temannya yang menganggapnya cari perhatian di depan Shaina.
Di sela-sela kegiatan menyantap makan malam bersama, Harris tampak melirik-lirik Shaina dan itu ketahuan oleh Joon, tanpa pikir panjang Joon menjulurkan kakinya ke kaki Shaina di bawah meja, karena ia mencurigai Harris akan melakukan hal gila.
Shaina kaget karena merasa ada sesuatu yang meraba-raba kakinya tapi ia tidak bisa melihat ke bawah meja apa yang sedang terjadi, khawatir akan menarik perhatian yang lain, namun ia tidak sengaja menangkap Joon dihadapannya yang diam-diam sedang menatapnya, awalnya ia bingung dan menganggap Joon sedang menggodanya lalu ia sadar Joon tidak menggodanya melainkan sedang memberi kode sampai-sampai matanya ikut bermain pada Shaina. Mengetahui itu kaki Joon Shaina segera menggeser kakinya sesuai dorongan kaki Joon yang menggiringnya kedekat dudukan Alice.
Di sebelah Joon, terdapat Harris duduk sambil cengengesan tak beralasan, sesekali ia melirik Shaina dengan penuh kemenangan, dan Shaina juga membalas senyuman. Calvin yang bersebelahan dengan Shaina ikut tersenyum-senyum sambil melirik Shaina juga, karena ia merasa Shaina sedang menggodanya dengan menggesek-gesek kakinya ke kaki dirinya. Mengetahui tingkah laku kedua temannya Joon ikut tersenyum.
"Ma, air" kata Alfan.
"Ini sayang" kata Shaina sambil menyodorkan segelas air putih pada Alfan.
Melihat Shaina berdiri sontak mengejutkan Harris dan Calvin.
"Loh! Kalau Shaina berdiri, jadi ini kaki siapa?" Gumam Harris yang heran melihat Shaina berdiri.
Yang heran tidak hanya Harris saja tapi Calvin juga sama bingungnya. Perlahan-lahan mereka berdua mengintip ke bawah meja dan sangat terkejut saat melihat ke bawah meja yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka berdua.
"Aaaaaa...." Serentak Harris dan Calvin menjerit saat mengintip ke bawah meja.
Seketika mereka berdua saling melotot dan mendengus kesal, karena kaki yang digosok-gosokkan Harris bukan kaki Shaina melainkan kaki Calvin, begitu juga dengan Calvin yang berpikir kaki Shaina lah yang meraba-raba kakinya padahal Harris.
"Ada apa?" Tanya Shaina yang bingung melihat Harris dan Calvin mendadak jadi jutek.
"Tidak ada, aku hanya kaget saat mencicipi masakan ini ternyata sangat enak" jawab Harris.
Shaina juga melihat ke arah Calvin yang tampak syok berat, "ya, ini benar-benar sangat enak" tambah Calvin sambil tersenyum getir.
Namun disisi yang berbeda Joon hampir tidak bisa menahan tawanya karena ia tahu betul apa yang sedang terjadi pada teman-temannya tersebut.
"Ohh!" Shaina kembali duduk ke tempatnya.
Akan tetapi yang sebenarnya ia juga sedang berusaha menahan tawanya sama seperti Joon. Ia dan Joon saling berbagi pandangan sambil tersenyum-senyum.
__ADS_1
Usai makan malam bersama berakhir Harris dan Calvin berpamitan pulang.