Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Pengen di ganggu


__ADS_3

...Di jam kerja kantor, suasana caffe tampak lengang dari pelanggan, cuma beberapa orang yang datang tapi tidak menghentikan kesibukan para pekerjanya, walaupun begitu mereka masih bisa bersantai sejenak sambil bercengkrama dengan sesama karyawan. Namun saat Joon sedang bersama teman-temannya ia melihat Marissa berdiri di luar kafe, dan Joon langsung menemuinya....


Belum Joon bertanya apapun, Marissa sudah memeluknya dengan mesra, Joon mencoba menahan Marissa untuk tidak sampai menciumnya.


"Kenapa kau kesini?" Tanya Joon.


"Memangnya sekarang sudah ada larangan bertemu pacar sendiri ya?" Timpal perempuan yang mengenakan blazer tebal dan celana jeans lengkap dengan syal yang semakin menghangatkannya di musim dingin.


"Aku sedang bekerja, tidak enak bos ku melihatnya" sahut Joon yang tampak tidak tenang, celingak-celinguk sekitarnya.


"Aku kangen, soalnya tadi malam kamu sih enggak mau memanjakan ku" kata Marissa.


Joon mendapati atasannya sedang melihatnya dari dalam kafe, dan ia segera bergegas hendak masuk kedalam serta meninggalkan Marissa.


"Joon, nanti malam kita bertemu di rumahku ya?" Kata Marissa.


"Maaf Marissa, aku tidak bisa" ucap Joon yang berlalu masuk ke kafe.


Mendengar jawaban Joon membuat Marissa marah sampai ia mengepal tangannya sambil mendengus kesal lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam dompetnya yang bermerk Luis Vuitton, dengan gesit ia menulis sebuah pesan singkat dan dengan cepat dikirimnya pada Joon yang sudah berada dalam kafe.


"Aku tidak mau tahu! Nanti malam kau harus menemui ku, jika tidak kita putus" tulisnya.


Pesan itu sampai ke tujuannya, Joon yang melihatnya kembali menoleh pada Marissa yang tampak menatapnya tajam.


"Aku tidak bisa menemui mu, maaf" balas Joon melalui pesan singkat.


Mendapati balasan itu, Marrisa meninggalkan kafe dengan mobil super car-nya.


"Kalian marahan lagi?" Celetuk Harris di sebelahnya.


Joon tersenyum tipis, tiba-tiba ia teringat pada sesuatu, "Harris, biaya persalinan itu mahal enggak ya?" Tanya Joon.


Sontak Harris terkejut dan bingung dengan pertanyaan Joon, "aku tidak tahu, tapi ku rasa itu mahal buat orang seperti kita-kita, apalagi kebutuhan si bayi, mulai dari pakaian sampai popoknya, masih syukur ia cuma makan asi doang kalo tidak kau juga harus membelikan susu juga" sahutnya.


Joon termenung seraya memikirkan perkataan Harris tentang kebutuhan bayi nantinya.


"Ngomong-ngomong, Helena tidak meninggalkan cek gitu?" Sela Harris yang menatap Joon.


"Kalau dia ninggalin cek berarti itu bukan kecelakaan namanya!!" Timpal Joon.


Sejak semalam Joon mulai kepikiran tentang biaya persalinan Shaina nantinya, mau normal maupun Caesar tetap akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, dan sekarang Harris mengatakan kebutuhan si bayi semakin membuatnya cemas karena takut tidak bisa memenuhinya dengan gajinya sekarang.


Selepasnya ia bekerja, Joon langsung pulang ke rumah, namun ada yang berbeda dari biasanya, meski anak-anak senang dengan kepulangannya tapi Shaina tampak banyak diam dan menjaga jarak dengannya.


"Kau tidak bertanya bagaimana hari ku hari ini?" Tanya Joon pada Shaina yang serius dengan sendok makannya.

__ADS_1


"Tidak" sahut Shaina.


"Kenapa?" Tambah Joon.


"Tidak ada, ngapain aku tanya rutinitas mu yang berdiri di balik meja espresso, lalu ada perempuan yang memberi nomor kontaknya dan kau buang ke tempat sampah seperti biasanya?" Ketus Shaina.


"Tapi setidaknya tanyakan sesuatu seperti biasa jangan diam begini" rengek Joon.


"Mana ada aku diam? Tadi aku ngoceh terus sama anak-anak dan sekarang aku mau istirahat ngomong dulu" sergah Shaina dengan memelototi Joon.


ucapan Shaina yang agak keras dan seperti orang marah-marah itu mengejutkan Alice dan Alfan, tapi tidak membuat mereka takut malahan menyeringai puas terhadap Joon.


"Memangnya enak kena marah sama Mama!" Gumam Alice.


"Makanya jangan suka memarahi kami, kena marah sama Mama kan enggak enak" tambah Alfan, terkekeh bersama saudari kembarnya, menertawakan Joon yang tampak bergidik terhadap Shaina.


"Kalian ini!" Dengus Joon.


TING!!


Shaina memukul piring dengan sendok makannya, yang seketika membuat Joon diam.


Joon heran melihat Shaina didepan Shaina hanya ada gelas air mineral dan tidak ada susu yang biasanya ia minum setelah makan malam. Usai makan, Shaina membereskan semua peralatan makan hingga tuntas mencucinya tanpa bantuan Joon, karena Joon pergi ke kamar lebih dulu.


Selesai belajar, tanpa menunggu lama mereka langsung berhamburan ke luar untuk menonton, di luar sudah ada Joon yang asyik bermain dengan ponselnya dan TV menyala sendiri. Mereka segera duduk bersebelahan dengan Joon dan mengambil remote di meja.


"Apa yang kalian lakukan? Belajar sana!" Kata Joon pada mereka.


"Katanya kalau udah belajar di bolehin nonton kartun" sahut Alfan.


"Belajar apaan sih, 30 menit udah selesai?" Sergah Joon.


"Enggak kok Paman, sudah sejam kami belajarnya dan sekarang udah setengah sembilan berarti kami sudah boleh nonton" tunjuk Alice ke jam dinding yang tertempel di dinding ruangan tersebut.


"Tidak! Tidak-tidak boleh! Ini sudah malam kalian tidur sana besok hari pertama masuk sekolah, aku tidak mau kalian diskors lagi" timpal Joon, "sini remote nya aku mau nonton!' lanjutnya.


"Tapi Paman... Paman juga nggak nonton dan sibuk dengan ponselnya" sela Alfan.


"Anak kecil jangan ngeyel kalo di bilangin, tidur sana!" Kata Joon yang terkekeh karena aksi konyol para aktor dan aktris di televisi yang di tonton nya.


Alfan dan Alice berjalan ke kamar mereka dengan malas sambil memanyunkan bibir mereka, kecewa dengan sikap Joon yang tidak memperbolehkan mereka menonton.


Setelah kepergian keponakannya, Joon kembali meletakkan remote tv diatas meja dan juga kembali sibuk dengan layar ponselnya. Tidak lama kemudian ia dikejutkan dengan kehadiran Shaina yang tiba-tiba muncul duduk di sofa dan mengambil remote, tidak hanya itu Alice dan Alfan juga bersamanya, mereka tampak takut pada Joon sehingga mereka terus berpegangan pada Shaina, bersembunyi dibalik tubuh Mama Shaina mereka.


"Apa yang kau lakukan? Sini remote nya" pinta Joon pada Shaina yang telah mengganti siaran TV dengan film kartun kesukaan anak-anak.

__ADS_1


Shaina tidak bergeming dari perintah Joon, ia juga tidak mengalihkan pandangannya dari TV, meski Joon memaksanya untuk memberikan remote padanya.


"Hey Nyonya, kembali remote! Aku mau nonton" ujar Joon.


"Aku tidak melihat mu sedang menonton TV malahan sibuk dengan ponselmu, Alfan dan Alice juga mau nonton bentar sebelum mereka tidur" sergah Shaina.


"Issshh kalian ini! Pake ngadu pula sama Mama kalian" ketus Joon dengan melirik Alice dan Alfan yang bersembunyi pada Shaina.


Shaina masih teguh dengan pendiriannya tidak mau menyerahkan remote tidak peduli Joon seberapa keras ia berusaha merebut remote dari tangannya, refleks karena tidak punya tempat untuk melindungi remote, Shaina malah memasukkan remote ke baju rajutnya, terpaksa Joon menghentikan upaya merebut remote itu dari Shaina.


"Pake di masukin ke sana pula, kan jadi enggak enak buat ambilnya" gumam Joon.


Shaina mengerjap kaget menyadari dirinya yang menyembunyikan remote di tempat yang salah di depan Joon, tapi ia tidak bisa mengeluarkannya karena takut Joon akan merebutnya lagi, jadi ia memilih mendiaminya di bajunya sambil menahan malu demi anak-anak.


"Kenapa sih kamu? Mereka cuma mau nonton kartun doang itupun bentar, nanti kau nonton sampai pagi pun tidak ada yang ganggu" timpal Shaina.


"Nanti enggak seru, aku pengennya ada yang ganggu" cicit Joon yang menyeringai sambil melirik Shaina.


"Apa?!".


"Tidak ada" sahut Joon, ia kembali duduk pada posisi semula dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, dan diam-diam melirik perempuan itu.


Satu jam berlalu, film kartun yang tonton pun berakhir, Shaina menyuruh Alice dan Alfan untuk segera tidur agar tidak kesiangan besok pagi. Dengan tertatih-tatihnya si kembar berjalan ke kamar dan diikuti oleh Shaina di belakang mereka. Namun tidak diduga Joon pun mengikuti mereka.


"Ngapain kamu ke sini?" Seloroh Shaina yang kaget karena Joon ikut masuk ke kamar.


"Ya tidurlah" sahutnya.


Shaina mengerenyit keningnya, bingung dengan maksud Joon tersebut, "apa maksudmu?".


"Kamu saja yang tidur di kamarku, aku di sini saja bersama mereka" sahut Joon yang langsung merebahkan tubuhnya di sebelah Alfan.


Shaina semakin di buat bingung, ia menurut saja perkataan Joon, tidak berpikir panjang ia secepatnya masuk ke kamar Joon dan tidur.


"Akhirnya... Aku dapat tidur di tempat yang luas dan nyaman, biarkan saja laki-laki aneh itu geprek sama Alice dan Alfan" gumam Shaina yang terkekeh membayangkan Joon jatuh dari ranjang.


Shaina tidur dengan posisi yang tidak beraturan, berbalik ke segala arah mencari posisi ternyaman untuknya dengan perut besarnya, tangannya tidak jauh-jauh dari perutnya.


"Anakku..., Ya Tuhan seperti inikah jadi seorang ibu? Tidur saja sangat sulit" gumamnya.


Bersusah payah untuk memejamkan matanya namun rasanya sangat sulit dan tidak punya pilihan memanggil Joon, karena entah kenapa ia mulai merasa sangat enggan di tinggalkan Joon meski sedetik sekalipun, Shaina kembali bangkit dari tempat tidur dan mencari ponselnya tapi buruknya, ponselnya tertinggal di kamar anak-anak.


"Joon..." Panggil Shaina, berharap Joon masih terjaga dan mendengar panggilannya di balik dinding disebelahnya, karena jika berjalan untuk memanggil Joon, ia tidak kuat, kepalanya terasa pusing dan berat.


"Joon..." Panggilnya lagi dengan harapan yang sama, tapi sudah beberapa kali ia memanggil Joon tak juga ada balasannya, "Joon... Apa kau mendengarkan ku? Tolong kesini bentar" Panggilnya lagi sambil meremas sprei, menahan nyeri pinggang dan kepala yang terasa berat.

__ADS_1


__ADS_2