Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Aku bukan tuan muda lagi


__ADS_3

Keriuhan terdengar dari salah satu ruangan yang berukuran cukup luas, dimana di ruangan tersebut terjadi jejeran kursi yang berbentuk persegi panjang dimana Darrell duduk di kursi paling ujung, semua mata tertuju padanya, ada yang setuju dengan keputusannya dan ada pula yang sebaliknya.


"Tapi pak Darrell itu akan merugikan perusahaan kita" sela seorang lelaki paruh baya, menentang keputusan Darrell yang berencana menjual saham dalam jumlah besar-besaran.


Darrell bangun dari duduknya dan mendekati si penentang tersebut.


"Pak tua, kau di sini hanya sebagai pelengkap dewan ini, jadi pemikiranmu yang kolot itu tidak terlalu berlaku di sini, tapi keputusan ku lah yang harus dipatuhi jika ada yang menentangnya maka jangan salahkan aku apa yang bisa kulakukan" bisik Darrell yang mengancam salah seorang pengikut rapat penting tersebut.


Bisik Darrell tersebut hampi dapat di dengar oleh semua anggota rapat yang lebih dua puluh orang itu, sehingga membuat mereka bergidik ngeri atas ucapan Darrell, karena semuanya tahu Darrell tidak suka bercanda jika ia mengatakan maka harus dilaksanakan bila tidak mau berakhir tragis.


Darrell berdiri dan kembali ke tempat duduknya sebelumnya, bagaimana menurut kalian keputusan ku?" Lontar Darrell pada anggota rapatnya.


"Setuju....!" Seru mereka semua dan satu persatu mereka membubuhkan tanda tangan mereka di kertas yang telah disediakan sebelumnya.


"Tapi..." Lelaki tadi masih menyuarakan pendapatnya tapi seorang lelaki yang lebih muda darinya, ia mengetuk jarinya sebagai tanda pria tadi harus diam.


Darrell tersenyum puas melihat tanda setuju di kertas-kertas yang telah di satukan dalam sebuah map. Rapat pun berakhir, mereka semua meninggalkan ruang rapat tersebut kecuali beberapa orang yang tersenyum-senyum bersama Darrell.


Pria tua tadi keluar dari ruangan tersebut dan saat ia hendak masuk ke ruangannya, ia di bisikkan sesuatu oleh lelaki yang mengetuk meja tadi.


"Saat ini kita lebih baik diam dan menonton saja kehancuran perusahaan ini, tapi jika ingin sebaliknya maka Anda harus membawanya kembali" bisik lelaki itu.


Pria tua tadi tersentak kaget.


"Tapi Cristian, perusahaan ini terlalu besar untuknya bisa-bisa ditangannya juga akan hancur, apalagi masa lalunya yang kelam" sahut pria tua itu.


Lelaki yang dipanggil Cristian itu tersenyum tipis, "jika kita meragukan kemampuannya berarti kita lebih bodoh dari yang lain, apa anda lupa bagaimana tuan Salman Roland lebih cemas kehilangan dia dari anak sulungnya? Karena sejak awal ia memang di persiapkan untuk sesuatu yang besar" tambahnya.


"Tapi dia sekarang tidak lebih dari pelayan biasa" kilah lelaki tua itu.


"Itulah keberuntungannya" Cristian mendekat lelaki paruh baya itu, "ada rahasia besar dibalik semua itu" bisiknya lagi, "Tua Salman sendiri yang menyingkirkannya dari keluarga ini, lebih tepatnya ia di selamatkan dari pertikaian keluarga ini".


Lelaki tua itu terdiam melihat Cristian tersenyum simpul, dan Cristian pun pergi meninggalkannya dalam posisi termangu dengan tatapan kosong.


Jam makan siang adalah waktu sibuk-sibuknya Joon bekerja dan tiba-tiba ia di panggil bosnya untuk melayani ayahnya dari si bos tersebut karena ayahnya tidak mau di layani oleh pegawai yang lain termasuk oleh anaknya sendiri.


"Pak ini pesanan Anda, silahkan menikmatinya" ujar Joon seraya memindahkan menu pesanan ke meja ayahnya si bosnya.


Lelaki itu tersenyum melihat Joon begitu cekatan menyajikan makanan meski dengan satu tangannya. Saat Joon hendak kembali ke tempatnya, pria paruh baya itu memanggilnya.


"Tuan muda" ucap lelaki itu.

__ADS_1


Joon berbalik badan dan melihat ke arah lelaki itu yang tersenyum.


"Maaf, aku bukan tuan muda, tapi tuan muda ada di sana" kata Joon, menunjuk pada bos-nya yang akrab disapa Harley.


"Tuan muda Harley!" Panggil Joon pada bosnya.


"Apa saya harus memanggil Anda tuan muda Joon Rafardhan?" Lelaki itu tersenyum tipis pada Joon, "Supaya kita bisa bicara sebentar" sambungnya.


Joon terdiam dan menatap lelaki itu, kemudian ia tersungging dan kembali menghampirinya serta ikut duduk bersamanya karena lelaki itu menyuruh Joon duduk dengan kedipan mata yang terarah pada kursi kosong di depannya.


"Aku tidak kenal tuan muda anda itu tapi aku kenal anda pak Kosim" Joon tersungging saat menyebut nama lelaki itu, "cerdas dan pintar itulah Anda yang saya tahu sampai-sampai ada anak kecil bodoh yang ingin mengalahkan kehebatan Anda" sambung Joon.


"Kau benar, tapi si pintar dan cerdas itu sekarang sudah menua dan membutuhkan anak kecil bodoh itu" ujar pak Kosim.


Joon terkekeh dan melihat kearah Harley yang memperhatikannya dalam keadaan heran.


"Sedikit demi sedikit Calista groups telah hancur di tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab dan sebentar lagi kehancuran terbesarnya tiba, Darrell melakukan penjualan saham dalam konteks besar, kau tahukan apa yang terjadi jika itu terwujud?" ucap pak Kosim.


Joon menatapnya dan berkata, "aku tidak ada hubungan lagi dengan mereka, apapun yang terjadi bukanlah masalahku" sahut Joon.


"Jika kau tidak mencegahnya bagaimana dengan nasib orang-orang yang menggantungkan hidupnya di sana? Orang-orang seperti kami bisa pergi ke tempat lain tapi mereka? orang-orang yang bekerja di belakang walaupun posisi mereka rendah tapi berkat bantuan mereka juga Calista bisa di kenal seantero negeri".


Joon terdiam lalu ia berkilah, "aku tidak-".


"Aku tidak tahu apa-apa tentang mengurus perusahaan, bahkan diri sendiri aku tidak bisa mengurusnya apalagi berhubungan dengan orang banyak" kilah Joon.


"Kau bilang aku ini pintar dan cerdas berarti aku juga tidak salah memilih orang" sambung pak Kosim.


"Ada apa sih Pa, serius amat bicara dengan Joon?" Celetuk Harley yang mendadak hadir dalam pembicaraan mereka.


Joon bangkit dari kursinya dan berjalan ke tempat ia bekerja. Tapi beberapa langkah ia berjalan, pak Kosim kembali menghentikan langkahnya, karena berkata, "anak muda sepertimu mana tahu rasanya tanggungan keluarga seperti kami-kami, yang harus memenuhi kebutuhan anak istri, jadi kau bisa melakukan apa yang kau inginkan tapi jika sudah menikah nanti baru kau tahu rasanya berjuang untuk orang-orang yang kau sayangi" ucap pak Kosim.


Joon kembali ke tempat kerjanya dan terus memikirkan perkataan pak Kosim tentang orang-orang yang menggantungkan hidupnya di perusahaan keluarganya, dan perjuangan mereka juga untuk keluarga yang mereka cintai. Joon melihat ke arah tangannya yang di perban.


"Aku juga berjuang disini setiap hari agar kalian dapat hidup dengan layak bersamaku" batin Joon, ia mencoba menggenggam tangan sakitnya.


Dari meja pelanggan pak Kosim tersungging melihat Joon melamun yang tenggelam di pikirannya, seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.


Di rumah, Shaina sibuk dengan acara memasak tapi mendadak ia kebingungan.


"Ya ampun! aku lupa bilang pada Joon bumbu dapur habis" Shaina menepuk dahinya sendiri.

__ADS_1


Ia menuju ke kamar dan mengambil dompetnya dimana berisikan beberapa lembar uang kertas yang di berikan Joon beberapa hari yang lalu, ia segera memakai mantelnya dan keluar rumah, bergegas pergi ke supermarket terdekat meski di luar bersalju, tapi itu lagi masalah baginya karena ia mulai terbiasa dengan iklim tersebut.


Tidak lama ia berada di supermarket yang ia datangi tersebut ia keluar lagi tanpa membawa apapun dari supermarket itu, karena supermarket sudah kehabisan stok barang yang Shaina cari dan juga mau di tutup oleh pemiliknya karena masalah tertentu, terpaksa ia mencari ke supermarket lain, dengan mengandalkan ingatan dan map di HP-nya Shaina berjalan menelusuri jalan untuk sampai di supermarket lainnya, apalagi ia sudah hafal jalan daerah itu karena sering di ajak keluar oleh Joon, soal perut besarnya juga bukan lagi masalah berarti selama ia bisa mengontrol tenaganya dan tidak terburu-buru.


Shaina bersyukur di supermarket yang kedua ini memiliki semua apa yang ia butuhkan, setelah membayar Shaina melanjutkan langkahnya menuju rumah.


Di sebelah supermarket yang di datangi Shaina terdapat kedai makanan cepat saji, dimana ada Darrell yang duduk di mobil sembari menunggu sopirnya yang ditugaskan membeli makanan cepat saji di kedai tersebut.


"Helena? Ngapain dia kesini?" Gumam Darrell yang tersungging.


Matanya menangkap sosok Helena keluar dari supermarket. Tidak menunggu lama, Darrell keluar dari mobilnya untuk menghampiri Shaina yang di kira Helena.


"Halo Helena?"


Shaina sempat tersentak kaget mendengar nama samarannya di panggil seseorang.


"Pak Darrell? Kenapa anda disini?" Tanya Shaina melihat Darrell di depannya.


"Seharusnya aku yang bertanya begitu" balas Darrell.


Shaina tersungging dan menyadari pertanyaan memang ada benarnya, "biasa ibu-ibu" sahutnya dengan mengangkat plastik berisi bumbu dapur sekaligus terdapat sayur-sayuran di dalamnya.


Darrell tersungging melihat tentengan di tangan Shaina yang menumpuk.


"Permisi, aku pulang dulu ya, sebentar lagi anak-anak pulang sekolah dan aku belum menyiapkan apa-apa untuk mereka" ujar Shaina.


Darrell mengangguk dan menyingkir dari jalannya Shaina, ia masih memandangi Shaina yang berjalan kaki di trotoar jalan.


Tiitttt....!Tiiiitttt!!


Shaina mengerjap kaget mendengar klakson mobil yang di sebelahnya dan ia melihat Darrell menurunkan kaca jendela mobil yang berhenti di sebelahnya.


"Masuklah, wanita hamil enggak boleh jalan kaki jauh-jauh" ujar Darrell yang membuka pintu mobilnya.


"Tidak perlu, aku bisa jalan kaki kok" sahut Shaina.


Darrell tersenyum sambil melirik tentengan di tangan Shaina, hingga keduanya sama-sama tersungging.


"Baiklah, asal tidak merepotkan" tambah Shaina.


"Katakan itu pada sopirku atau pada mobilku, karena mereka yang bertugas melakukan itu" ujar Darrell.

__ADS_1


Shaina membuang muka, dan melihat ke sekelilingnya, lalu ia tersungging, mengingat anak-anak akan segera pulang. Ia menghampiri mobil Darrell dan ikut masuk bersamanya, apalagi Darrel sepupunya Joon jadi tidak akan ada masalah karena menurutnya mereka adalah masih terdapat hubungan keluarga dekat.


__ADS_2