Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Kau memarahi ku


__ADS_3

"Tante ada apa kesini?" Tanya joon.


"Aku mau melihatmu dan Helena, katanya dia dan anak-anak tinggal bersama mu ya?" Tambah Rossie yang merupakan tante joon.


"Iya tante" Sahut Joon.


Sejak Shaina muncul dari dapur sudah menarik perhatian tante Rossie yang melihat Helena dari bawah kaki hingga ujung kepala, itu membuat shaina tidak nyaman apalagi saat perempuan itu manyoroti perut buncitnya.


"Kalian tidak tinggal selamanya kan, bersama Joon?" Pertanyaan tante Rossie yang sontak mengagetkan shaina.


"Ehh?!" Gumam shaina dengan melempar pandangannya pada Joon.


"Tante bicara apa sih?" sela Joon.


Tante Rossie masih kekeh mengarahkan pandangannya pada Shaina dan berkata, "Soalnya Joon juga punya kehidupannya sendiri apalagi dia akan menikah dengan Marissa, kan tidak mungkin kamu dan anak-anak mu tinggal bersama mereka" Tambah tante Bianca pada shaina.


"Cukup tante, aku bisa mengatasinya sendiri jadi ku mohon tante jangan ikut campur urusan kami" Timpal joon.


"Joon! tante Rossie benar, kita tidak mungkin tinggal dengan nona Helena dan anak-anaknya" Sela Marissa.


"Marissa! Bisakah kau diam?" Sergah joon pada Marissa dengan nada tinggi hingga suaranya bergema.


Shaina memilih diam dan tidak ikut menyuarakan pendapatnya karena pada dasarnya ia tidak tahu kehidupan Joon yang sebenarnya dan ia juga tidak tahu bagaimana hubungan Helena dengan keluarganya terutama tentang tante Rossie yang tiba-tiba saja muncul. Hal itu pula shaina mulai cemas dengan nasibnya dan ia juga anak-anak jika harus pergi dari rumah Joon, tinggal di rumah Helena berarti ia harus bisa memenuhi kebutuhannya dan anak-anak belum lagi ia juga akan memiliki anak lagi.


Yang belum tentu ia bisa makan dan popok bayi karena Helena tidak meninggalkan sepersen pun untuk mereka apalagi shaina tidak punya keahlian apapun untuk bertahan hidup di negeri orang yang semuanya serba mahal.


Shaina terkejut saat tangannya dipegangi Alice dan Alfan, itu seperti sebuah mantra ajaib yang dapat menenangkan hati shaina yang sedang dihempas gelombang kekhawatirannya. Bukan Shaina saja yang merasakan tapi kedua anak itu juga merasa hal yang sama, mereka juga sedih karena perkataan Marissa dan tante Rossie, Shaina yang sadar akan hal itu berusaha untuk tetap tegar tersenyum pada dua anak yang mengira dirinya itu adalah Mama mereka.


Sudah satu jam berlalu, semua sudah pergi dari rumah Joon, bahkan Marissa meski ia tidak suka pergi dari Joon.


Shaina disibukkan dengan aktivitas masak memasaknya untuk makan siang mereka, kegiatan yang sudah menjadi rutinitasnya padahal sebelumnya ia sangat membenci kegiatan semacam itu yang berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga.


Walau ia terlihat sangat sibuk dengan urusan memasaknya tapi perkataan tantenya Joon dan Marissa tadi masih menggenang di pikirannya, tidak hanya itu ia juga masih kesal dengan gaya berpacaran yang tidak ada filter itu, karena hal tersebut ia sampai mengabaikan Joon yang membantunya di dapur. Saking ketidaksukaannya itu ia sampai enggan untuk melihat wajah Joon.


Sikap Shaina itu membuat Joon sendiri bingung, karena Shaina terlihat kesal tanpa alasan.


Sendok yang dipegang shaina tidak sengaja terlepas dari tangannya dan itu membuat shaina kesal karena ia harus merunduk dan itu sesuatu yang mulai sulit dilakukannya akhir-akhrir ini. Joon mendekat untuk membantu shaina yang tampak kesusahan berjongkok di lantai.


"Biar aku saja yang ambil" Kata Joon sambil merunduk.


Tanpa berterimakasih, ia mengambil sendok itu dari tangan Joon dan menaruh di wastafel. Joon terpaku dengan sikap shaina yang tidak biasanya mendiamkannya bahkan untuk melihatnya saja tidak.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya joon.


Shaina tidak menjawab pertanyaan itu hingga joon terus bertanya hal yang sama. Tapi Shaina masih sibuk berputar-putar didepan joon dengan dengan urusan masak-memasaknya.

__ADS_1


Mendadak shaina di serang rasa pusing yang mengharuskannya berhenti sejenak sambil memegang kepalanya. Tubuhnya juga tampak terhuyung-huyung dan hampir terjatuh, tapi dengan sigap Joon menangkap tubuh Shaina dan membantunya berdiri.


"Lepaskan aku!" Kata Shaina.


"Apa kau bercanda? Lihatlah dirimu, kau itu terlihat sangat lelah!" Timpal Joon.


Shaina melihat Joon dengan ketus lalu memukul tangan Joon yang ternyata memegang perutnya.


"Main pegang-pegang aja...!" Gumam Shaina.


Menyadari kesalahannya itu Joon segera melepaskan tangannya dari perut buncit shaina.


"Maaf" Joon menyeringai sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Dengan terhuyung-huyung Shaina berusaha berjalan ke meja makan karena rasa pusingnya, tapi dengan tiba-tiba Joon menggendongnya.


"Apa yang kau lakukan? Apa masih kurang jatah mu dari Marissa?" Celetuk shaina sembari memukul-mukul bahu Joon.


Joon berhenti dan memencingkan matanya dengan tajam hingga Shaina jadi diam dan bergidik ngeri pada Joon. Pelan-pelan Shaina di duduki di kursi meja makan dengan keadaan diam tanpa perlawanan ataupun mengomel lagi.


"Kau marah padaku?" Tanya Joon pada perempuan yang memasang wajah cemberut itu.


"Ke-kenapa aku marah?" Sergah Shaina yang memalingkan wajahnya.


"Lalu kenapa sikapmu seperti ini?"


"Siapa yang ganggu? Aku malah bantuin kamu" Timpal Joon.


"Bantuin apanya? kau malah pegang-pegang dan sengaja berdiri dekat-dekat denganku! aku bukan Marissa yang suka dipegang-pegang!!" Berang Shaina.


Joon tersungging, "jadi, kau masih memikirkan aku dan Marissa tadi?".


"Malah tersenyum? Dasar tidak punya malu!! Berbuat tidak senonoh bisa sebahagia itu, aneh!" Ketus Shaina.


Joon terdiam memperhatikan Shaina yang memalingkan muka darinya, Joon berlutut di depan Shaina.


"Bukankah itu wajar? Aku kan laki-laki normal" Kata Joon.


"Ihhh...!!! Apa kau tidak malu bicara seperti ini pada kakak ipar mu?" Timpal Shaina.


"Tidak. Karena kau bukan kakak iparku dan jika kau mau aku bisa membuka bajuku didepan mu sekarang, bahkan lebih dari yang tadi kau lihat" Sambung Joon yang semakin merekah senyumnya terhadap Shania.


"Isshh!!! Jauh-jauh dariku!!! Otak mu tuh sudah konslet! Sebaiknya kau percepat pernikahan mu!" Berang Shaina dengan mendorong joon lagi.


Joon terkekeh melihat Shaina yang tampak semakin menggemaskan saat ia sedang marah seperti ini, apalagi ekspresi naturalnya yang jarang ia lihat dari para perempuan yang pernah ia temui. Kata-kata Shaina bernada manja yang tidak dibuat-buat itu juga menambah nilai plus menandakan dia memiliki kepribadian manis sekaligus bisa jadi teman yang asik namun menjengkelkan karena suka menasehati orang dengan blak-blakan.

__ADS_1


"Dengan siapa aku akan menikah?" Tanya Joon.


"Dengan kekasih mu lah masak denganku? Kan aneh? Lagian entah sudah apa yang telah kau lakukan pada anak gadis orang" Timpal Shaina.


"Tenang saja, dia bukan anak gadis lagi kok saat pertama kali bertemu denganku" Tambah Joon.


Shaina mengerjap dengan kata-kata Joon dan sambil tersenyum.


"Bisakah kau mendekat sebentar" Pinta Shaina dengan suara lembut berbeda dari sebelumnya.


Joon heran dengan perubahan Shaina dari marah-marah jadi selembut itu dan membuatnya enggan untuk menolak permintaan perempuan itu.


Senyuman manis Shaina yang dapat melelehkan Joon itu siapa sangka mengandung racun mematikan. Tanpa di duga dengan cepat Shaina menjambak rambut Joon lagi hingga Joon harus berteriak karena kaget.


"Lepaskan! Sakit ini!" Pekik Joon.


Shaina melepaskan tangannya dari rambut Joon dengan ekspresi geram, dan Joon kaget melihat beberapa helai rambutnya di tangan Shaina.


"Rambutku..." Gumam Joon, "Kau punya dendam apa pada ku? Jika saja kau tidak hamil aku pasti akan membalas mu!" Sembur Joon.


"Salah mu sendiri! Siapa suruh merendahkan perempuan? Kau hanya ingin bersenang-senang saja tapi tidak mau menikahinya!!" Timpal Shaina.


"AKU TIDAK MELARANGMU APAPUN SELAMA DISINI TAPI BUKAN BERARTI KAU BOLEH IKUT CAMPUR MASALAH PRIBADIKU, KAU ITU HANYA ORANG ASING YANG TIDAK TAHU APA-APA TENTANG KU!!!" Berang Joon dengan suara nada tinggi.


Shaina terdiam membisu, hatinya terasa sakit dan takut karena bentakan Joon. Perlahan-lahan air mata shaina menetes lalu sesegukan, Joon yang melihatnya jadi merasa bersalah telah membentaknya.


"Shaina, berhentilah menangis aku minta maaf... " Gumam Joon yang kebingungan dengan sikap shaina.


Tangisan shaina semakin menjadi-jadi meski Joon telah berusaha menenangkannya dan berbicara lembut padanya. Joon dibuat kebingungan meredam tangis shaina hingga terdengar oleh anak-anak.


Mengundang Alice dan Alfan untuk datang ke dapur, "kenapa Mama menangis?" Tanya Alice.


Shaina tidak mampu menjawab Alice saking kerasnya ia menangis, Joon jadi salah tingkah untuk menenangkan shaina lagi.


"Apa yang paman lakukan hingga Mama menangis?" Tambah Alfan.


"Apa yang kau katakan, aku tidak melakukan apapun pada Mama kalian" Sahut Joon.


"Shaina, ku mohon jangan nangis lagi, mereka bisa salah sangka padaku" Kata Joon dengan suara memelas.


"Hiks! Hiks! Hiks! Kau memarahiku... Aku takut dimarahin... " Lirih shaina.


"Shaina, aku minta maaf, kamu minta apa akan aku turutin asalkan jangan nangis lagi... "


Shaina memanyunkan bibirnya dan menyeka air matanya, "benarkah?" tanya Shaina.

__ADS_1


Joon mengangguk seraya berkata, "aku janji" Joon tersenyum.


__ADS_2