Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Posesif


__ADS_3

Belum tangan Darrell mendarat di rambut Shaina, tangan Joon telah mencegatnya.


"Sepertinya yang ini kau tidak bisa menyentuhnya, bukankah begitu sayang?" Joon tersenyum pada Shaina.


Shaina memutarkan bola matanya sambil memikirkan sesuatu.


"Siapa kau? Apa aku mengenalmu?" Tanya Shaina.


Joon mematung menatap Shaina, lalu berdecak kesal sambil berkacak pinggang.


"Oh! Aku ingat, kau ini... Paman Joon anak-anak dan adik ipar yang menyebalkan" Shaina tertawa yang diikuti oleh Calvin dan Harris.


"Kau ini!!" Dengus Joon yang ikut tersungging, lalu ia kembali ingin memeluk Shaina tapi sekali lagi Shaina menghindari.


"Apa-apaan kau ini? Sudah tahu ini aku masih saja menjauhiku!" Lanjut Joon.


"Karena ku tahu ini kau makanya aku tidak mau, kau itu sangat menyebalkan! Dulunya kau mengatakan akan menculik ku jika aku bersama orang lain tapi lihatlah, kau malah meninggalkan ku bahkan ingin bertemu denganku hanya untuk mengucapkan kata perpisahan, kalau tahu gini aku mohon-mohon saja sama bang Fahri menjadikan aku yang kedua" gumam Shaina dengan mengerucutkan bibirnya.


"Kau enggak perlu memohon pada si Fahri, karena masih ada aku, aku juga bisa jadi ayah tiri, apalagi aku dan anak-anak sudah sangat dekat" sela Harris.


"Lagian sebutan adik ipar memang cocok untukmu, Joon, bukankah begitu Shaina?" Tambah Darrell yang ikut menertawakan Joon bersama Harris.


"Kalian ini! Kemarin-kemarin menganggapku berhalusinasi tapi sekarang malah-?" Dengus Joon pada teman dan saudaranya.


"Shaina-" sela Calvin.


"Kau lagi?" Sergah Joon yang memencingkan mata terhadap Calvin.


"Posesif sekali kau ini! Aku hanya ingin melihat leher Shaina yang berdarah" tukas Calvin.


Seketika Joon dan yang lain jadi panik melihat darah di leher Shaina, dengan cepat Joon menyuruh Calvin memeriksa kondisi Shaina, beruntung itu hanya goresan ringan dan tidak terlalu membahayakan, di tutup saja dan dipakai obat luka nantinya akan sembuh sendiri. Namun, tetap saja itu membuat Joon sangat khawatir ia terus menahan leher Shaina dengan tangannya saat Cristian mencarikan obat.


Alfan yang menggendong adiknya ikut cemas dengan keadaan Shaina. Sedangkan Shaina di perintahkan Joon untuk duduk dan tidak di perbolehkan bergerak apalagi untuk celingak-celinguk.


"Kenapa Cristian lama sekali? Harris seharusnya kau yang bertugas melakukannya bukan Cristian" ocehan Joon pada Harris yang berdiri.


Tak lama setelahnya Cristian kembali dan membawa obat-obatan untuk Shaina dan secepatnya diserahkan pada Calvin, agar ia menanganinya segera.


"Fokus ke lukanya jangan lirik-lirik yang lain!" Dengus Joon pada Calvin yang tertangkap sedang tersenyum pada Shaina.


"Kau ini, sudah tahu di sini banyak mata-mata jahat masih pake keluar dengan baju seperti ini" lanjut Joon pada Shaina yang menggunakan gaun indah dengan kancing sampingnya.


"Ini masih mending ada yang minjemin baju daripada aku pake baju basah ke sini?" Balas Shaina.


Joon semakin kesal melihat Harris dan Calvin cengengesan pada Shaina yang tampil elegan bak seorang wanita berkelas.


"Darrell! Buka jas mu!" Perintah Joon pada saudaranya itu.


Darrell sempat bingung dengan kemauan Joon, tapi ia menuruti saja apa yang diperintahkan padanya.

__ADS_1


Joon membentangkan jas Darrell di tubuh Shaina hingga tertutupi dadanya, "Begini baru enak dilihat" Joon tersenyum puas melihat Shaina terbalut dengan jas tersebut.


"Terima kasih Darrell" ucap Shaina pada Darrell.


"Jangan berterima kasih padanya nanti dia kege-eran, dan jangan hirup aroma tubuhnya itu tidak baik untuk kesehatanmu!" Imbuh Joon pada Shaina.


Calvin yang duduk di depan Shaina, sibuk membersihkan luka Shaina agar ia bisa memakainya obat untuk penyembuhan luka.


"Perih tidak?" Tanya Calvin.


"Lumayan" sahut Shaina.


Calvin kembali menyeka kapas khusus dan membersihkan luka dari darah, tapi Joon yang melihatnya semakin di bakar cemburu.


"Aku tidak menduga kau nyata dan secantik ini pula, aku tidak menyesal pernah mengatakan itu saat kita di danau, kau masih ingat itu?" ucap Calvin seraya pekerjaannya.


Shaina tersungging "Tentu saja, saat itu kita semua pergi piknik ke luar kota dan kita jalan-jalan di sekitar danau, saat itu aku ingin berjalan di atas danau yang membeku tapi kau melarang ku karena berbahaya setelah itu-".


"Aku datang ingin menenggelamkan orang ini ke dasar danau" sela Joon memotong kalimat Shaina, "jika tidak kau selesaikan tugas mu secepatnya aku benar-benar menenggelamkan mu sekarang ke sungai!" Lanjut Joon, matanya menyorot tajam kearah Calvin.


"Apa-apaan sih, dari tadi marah-marah melulu" sergah Shaina mengerling Joon karena tidak bisa menggerakkan lehernya.


Calvin semakin tertawa dengan sikap Shaina memarahi Joon.


Bahkan Harris ikut mengadu Joon pada Shaina, mengenai sifat menyebalkannya yang tidak pernah hilang dari dulu dan itu semua sangat merepotkan mereka semua.


"Oh gitu? Aku ini sangat merepotkan? Jadi mulai besok kau tidak boleh mengurusku lagi dan silahkan urus orang lain saja" cerca Joon.


Sontak gelak tawa pecah diantara teman-teman Joon yang menertawakannya.


"Bagaimana kalian saling kenal?" Tanya pak Herman dan istrinya.


Harris dan yang lainnya saling berbagi senyuman.


"Pak Herman, apakah buah mangga di rumah bapak masih ada?" Balas Shaina, mengajukan pertanyaan kepada orang tua Harris.


Pasangan suami-istri itu terdiam dan tidak mengerti maksud Shaina, karena pohon mangga di rumahnya tidak ada yang tahu kecuali keluarganya.


"Kalau masih ada siapa tahu aku dan Joon ingin memintanya lagi, tapi kali ini kami tidak akan datang malam-malam untuk mangga muda atau sampai harus meminjam motor Harris untuk pulang" lanjut Shaina sambil berbagi senyum dengan Joon.


Setelah menelaah kalimat Shaina, nyonya Bianca mengerjap kaget, "aku baru ingat malam itu tapi bagaimana kau tahu Jika Joon pernah datang ke rumah kami hanya untuk mencari mangga muda? Waktu itu Joon bersama nyonya Helena, aku ingat sekali nyonya Helena memakan mangga muda dengan sangat lahap" tukas nyonya Bianca.


"Iya Bu, bapak juga ingat malam itu" imbuh pak Herman.


"Malam itu aku tidak bersama Helena tapi bersama...." Joon tersenyum dan mengarahkan pandangannya pada Shaina.


Seketika suami istri itu mengerjap kaget dan didukung oleh Harris yang mengangguk pada orang tuanya, di waktu bersamaan Fahri dan keluarganya ikut menanyakan hubungan Shaina dengan yang lainnya, meski tidak di jelaskan dengan detail tapi Joon mengakui Shaina adalah perempuan yang ia cari selama ini.


Fahri meminta maaf atas segala ketidak-sopanannya terhadap Shaina, begitu juga keluarganya yang menganggap Shaina orang yang bersalah, terlebih lagi Dinda yang berharap di maafkan atas kekhilafannya, Shaina telah memaafkan mereka semua dan bagaimanapun ia bersyukur atas perbuatan Dinda, ia tidak jadi menikah dengan Fahri sehingga ia kembali bertemu Joon dan anak-anak.

__ADS_1


Meskipun Shaina telah memaafkan Dinda, tapi tidak bisa di pungkiri jika nama baik Dinda sudah tercoreng di keluarga Fahri, bahkan Fahri merasa Dinda bukanlah wanita baik-baik. Tapi Shaina menyakinkan mereka semua orang pernah melakukan kesalahan hanya bagaimana ia memperbaikinya, memberi kesempatan kedua bukanlah ide yang buruk, selama kesalahannya masih ringan.


"Setelah ini apa?" Celetuk Darrell di sela-sela kebahagiaan Shaina dan Joon.


"Apa?" Balas Joon.


"Apa kalian akan begini terus atau kau tetap ingin hanya berstatus adik ipar karena aku sekarang sudah jomblo seperti yang Helena eh maksudku Shaina katakan dulu" celetuk Darrell.


Mata Joon membulat sempurna saat menyadari yang di maksud oleh Darrell segera ia bangkit dari duduknya yang memangku Elif.


"Enak aja! Aku bukan adik iparnya tapi kau yang akan jadi kakak iparnya istriku" timpal Joon.


Joon melihat ke arah Shaina yang sedang mengobrol dengan keluarganya termasuk orang tua dari Harris, Joon mendekat dan berlutut dihadapan Shaina dan melepaskan salah satu cincin di jari kelingkingnya, aksinya itu kembali menarik semua pasang mata.


"Shaina, pulanglah bersama ku ke rumah kita dulu dan jadilah satu-satunya perempuan yang menemaniku sampai ajal yang memisahkan kita" ucapnya sembari memperlihatkan cincin tersebut, cincin yang pernah dipakai Shaina dulu saat ia di tubuh Helena.


Shaina tidak bisa membendung air matanya meski ia berusaha keras untuk tersenyum apalagi di tambah seruan anak-anak yang berharap ia menerima cincin itu kembali, dan bisa pulang bersama mereka.


"Tapi Joon, aku... Aku tidak sempurna, aku tidak bisa menjadi wanita seutuhnya" ucap Shaina.


Mendengar pengakuan Shaina, Joon bangkit dan tersenyum padanya, "aku tidak menginginkan kesempurnaan dari mu karena aku juga bukan manusia sempurna, yang ku inginkan kau tetap setia pada cinta kita dan mau menggenggam tanganku dalam keadaan apapun, agar kita berjalan bersama-sama menuju kesempurnaan yang hakiki, dan jangan pernah berpikir dirimu bukan seorang wanita seutuhnya, kau itu istimewa yang dititipkan yang maha kuasa pada ku, kau ibu dari anak kakakku, terlebih lagi Elif, Helena telah berbagi rasa denganmu. Melalui kakakku dan Helena yang menitipkan anak-anak mereka, kita telah diajarkan tentang rasa tanggung jawab sebagai orang tua seutuhnya" pungkas Joon.


Alice mendekat dan memeluk Shaina seraya berkata, "Mama pulanglah bersama kami, kita bisa kembali seperti dulu dan aku janji Alice tidak akan jadi egois lagi, Mama kami merindukanmu setiap saat bahkan di dalam mimpi kami tetap berharap bertemu Mama".


Lirih Alice semakin mengiris hati Shaina karena ia juga sangat merindukan mereka meski ia sendiri bingung dengan perasaannya sendiri, akibat ia tidak mengingat mereka semua sebelumnya.


Alfan juga ikut memeluk Shaina walaupun ia tidak banyak bicara tapi dengan meminta Shaina pulang sudah menggambarkan hatinya.


"Si cerdas ku, kau tumbuh sangat cepat sampai-sampai tinggi mu sudah menyamai ku, ku harap di sekolah kau tidak jadi si penebar pesona" ucap Shaina menyeka rambut remaja itu yang kini tumbuh bak seorang pangeran dengan parasnya yang rupawan.


Alfan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Baguslah, jangan kau ikuti sifat Papamu itu" dengus Shaina, dengan mengedipkan matanya.


Alfan tersungging lalu melirik kearah Joon yang tampak malu-malu di sindir oleh Shaina.


"Tenang saja Shaina, dari dulu aku sudah mengawasi Joon untuk tidak melakukan hal bodoh itu lagi" Harris menyela sembari menepuk-nepuk pundak Joon yang melirik ketus padanya.


Teman-teman Joon ikut menertawakannya bahkan nyonya Bianca ikut menyarankan Harris untuk juga ikut insyaf agar ia juga akan mendapatkan istri yang baik dan benar-benar tulus mencintainya.


Joon menatap Joon dengan mata yang berbinar-binar, "Aku akan ikut bersamamu Joon, kemanapun kau pergi asalkan kau minta izin dulu pada ayahku" ujarnya.


Seketika Joon bergidik melihat kearah pak Rahmat, mengingat hubungan mereka yang kurang baik, tapi Joon memantapkan hati untuk minta izin bawa Shaina bersamanya dan ia tetap akan menjadi anaknya pak Rahmat.


Joon juga berjanji akan memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan Shaina bahkan jika pak Rahmat menginginkan Shaina pulang, Joon berusaha untuk membawanya pulang bersama-sama.


Setelah pernyataan tersebut pak Rahmat diam seribu bahasa, tidak ada tanda-tanda baik bagi Joon.


"Saya tidak mengizinkan Shaina ikut bersama mu" papar pak Rahmat.

__ADS_1


Joon dan Shaina saling beradu pandang, ada kecemasan yang meliputi perasaan mereka. Bu Yani dan yang lain juga khawatir dengan keputusan pak Rahmat yang mengancam perpisahan Joon dan Shaina kembali terjadi.


bersambung.....


__ADS_2