
"Mak. Bukan aku yang melakukannya tapi perempuan di dalam tubuhku ini yang bertindak sesuka hatinya" gerutu perempuan yang di panggil Shaina itu.
Perempuan paruh baya itu semakin gencar menyerbukan sapu lidinya ke segala arah, betis dan lengan perempuan muda berambut panjang yang dikuncir itu tak luput dari hantaman lidi segepok itu.
"Masih ngeyel juga kamu ya?!" Pekik emaknya, "Sahir! Cepat ambilkan tali, Mak mau ikat kakakmu ini biar enggak kelayapan kemana-mana, bikin malu aja!" Berang emak pada adik laki-laki perempuan bermata almond itu.
"Mak! Hentikan! Aku tidak mau diikat! Ini bukan aku! BUKAN AKU!!!!" Pekiknya.
Seketika Shaina terbangun dan bangkit dari tidurnya, nafasnya tersengal-sengal dan terduduk di ruangan yang remang-remang, sebuah tangan menyentuhnya dan secepatnya Shaina menepis tangan tersebut sembari berteriak keras.
"AAAA....!"
Lampu dinyalakan dan Shaina kaget melihat seorang lelaki di ranjangnya.
"Shaina, ini Aku!" Ujar Joon.
"Joon?" Ucap Shaina.
Joon menganggukkan kepalanya sembari mencoba menenangkan Shaina yang tampak ketakutan, terkadang ia enggan untuk bersentuhan dengan Joon, dimana ia kerap menepis dan menghindar dari lelaki itu.
Shaina tampak tergesa-gesa menyingkap bajunya sehingga memperlihatkan perut besarnya yang cukup mulus.
"Masih ada" gumam Shaina sambil meraba-raba perutnya.
"Apa maksudmu masih ada? Memangnya kamu mimpi apa?" Tanya Joon yang ikut cemas melihat Shaina.
Shaina sadar Joon juga memperhatikan perutnya, ia segera menutupnya kembali dengan pakaiannya dan menyuruh Joon untuk tidak terlalu dekat-dekat dengannya. Shaina kembali membaringkan tubuhnya di tempat semula hanya saja ia tidak mau berdekatan dengan Joon.
"Semoga mimpiku tidak jadi kenyataan, nona Helena ku mohon berpura-pura lah jadi diriku jangan sampai keluargaku membenciku" batin Shaina.
****
Bukan rahasia lagi jika keinginan terbesar Shaina menjadi wanita karir, itu membuatnya optimis dalam hal bekerja meski bukan kantoran karena akademinya hanya sebatas SMA, namun sifatnya yang haus ilmu pengetahuan tak menyurutkan niatnya untuk berkarya terutama di bidang fashion dan menulis.
Selain itu ia kerap jadi informasi berjalan diantara orang-orang disekitarnya termasuk kalangan teman-temannya oleh karena itu ia sering jadi kejutan untuk yang lain berkat pengetahuannya yang luas, namun bukan berarti ia menjadi sosok yang sombong melainkan ia suka merendah sampai-sampai tidak ada yang menduga gadis muda yang pendiam dan jarang bergaul itu merupakan si penggila ilmu pengetahuan.
Beruntungnya lagi Shaina hanya menyukai sesuatu yang fakta dan real, bisa di bilang ia bukan hanya sekedar pengen tahu, tapi ia sangat antusias untuk mengulik setiap informasi akan kebenarannya tidak peduli itu tentang pemerintahan, fashion, realita, alam semesta dan masih banyak lagi karena ia tidak mau menjadi orang yang cacat pengetahuan yang tidak ada bedanya dengan orang bodoh yang mengungkapkan sesuatu tanpa adanya kebenaran, meski jarang di tilik oleh masyarakat awam dan menganggap buang-buang waktu.
__ADS_1
Sedangkan memasak, mencuci atau sesuatu yang berhubungan dengan mengurus rumah malah menjadi sesuatu yang tidak di liriknya apalagi menjadi ibu rumah tangga, itu bukanlah harapan terbesarnya bahkan tidak sama sekali ada dalam list kehidupannya. Namun, sekarang itu malahan jadi rutinitasnya, tapi anehnya tidak sekalipun Shaina mengeluh kegiatan barunya tersebut, tidak peduli pagi maupun siang hari bahkan malam hari, Shaina selalu mau memasak untuk keluarga barunya, walaupun si kembar minta di suapin seperti anak kecil, Shaina akan melakukannya tanpa ragu.
Dulunya, ponsel sering ia gunakan untuk mencari inspirasi atau hanya sekedar menghibur diri, tapi kini ia gunakan untuk belajar memasak menu favorit keluarga barunya, atau secara diam-diam Shaina suka belajar berdandan ketika Joon tidak ada di rumah. Seperti halnya sekarang, Shaina bersama Alice sibuk mengoleskan perona pipi sampai menggambar alisnya untuk mempercantik penampilannya. Wajah khas yang dimiliki Helena semakin terlihat anggun berkat kerja keras Shaina mendandani dirinya apalagi gaya dandanannya yang flawless.
Step by step, Shaina dan Alice mengikuti tutorial di YouT*be cara menggunakan alat make-up, dan hasilnya pun tidak mengecewakan mereka berdua.
"Mama cantik" seru Alice, melihat Shaina di cermin.
"Alice juga sangat manis, tapi jangan banyak-banyak ya sayang pake make-upnya, nanti wajah Alice rusak" ujar Shaina yang membalas senyuman dengan putri cantiknya.
"Baik Ma" sahut Alice, sibuk mengoleskan lipstik yang khusus anak-anak. "Paman pasti kaget jika lihat nanti, soalnya waktu itu paman tawain Alice dan ngatain Alice jelek" tambah gadis kecil itu yang tampak kesal ketika mengingat kejadian Joon yang menertawakannya saat berdandan dulu.
"Mama enggak mau paman lihat kita begini, bisa-bisanya Mama juga ditertawakan olehnya" sambung Shaina.
"Mama!!" Panggil Alfan yang tiba-tiba muncul di balik pintu.
Shaina pun menoleh ke arah suara Alfan yang berdiri di pintu kamar.
"Ya Alfan, ada apa?" Tanya Shaina.
"Tunggu bentar ya sayang, Mama mau hangatkan makanan dulu buat Alfan" ujar Shaina pada Alice.
"Iya Ma" sahut Alice.
Shaina beranjak dari kursinya di depan cermin dan pergi ke dapur bersama putranya, saat melewati ruang tamu ia melemparkan pandangannya pada jam dinding yang tertempel di dinding dan ia kaget melihat jarum jam yang menunjukkan waktu sudah tengah hari, sedangkan ia belum menyiapkan makan siang, karena keasyikan berdandan bersama Alice.
"Maaf ya sayang, Mama lupa menyiapkan makan siang, kamu pasti sudah sangat lapar" kata Shaina pada Alfan.
Shaina mempercepat proses memasaknya dan menyiapkan beberapa menu lainnya untuk mereka makan.
Sembari menunggu masakannya matang ia duduk di kursi dan mengarahkan pandangannya ke luar jendela yang tutupi udara dingin, akibat salju yang membeku beberapa hari terakhir ini.
"Ya ampuh... aku belum hapus makeup, semoga Joon tidak pulang sekarang" gumam Shaina, ia cemas karena belum menghapus make-upnya.
Beberapa menit berselang, Shaina sudah menghidangkan makanan ke meja makan.
"Alfan...! Alice...! Cepat sini ayo kita makan" teriak Shaina.
__ADS_1
Mendengar panggilan Shaina, Alice dan Alfan segera meninggalkan mainan mereka dan berlari ke dapur.
"Maaf ya sayang, kita makan ini aja, soalnya Mama enggak bisa masak yang lain" ujar Shaina sembari kerepotan menyiapkan makan siang.
"Tidak apa-apa sayang, kau masak apapun pasti aku makan" suara lelaki dewasa dari belakang Shaina.
Shaina segera menoleh ke asal suara dan ia terkejut melihat Joon sudah berdiri dengan bersandar di meja dapur sambil cengengesan.
Beberapa menit yang lalu....
Saat Alice dan Alfan hendak ke dapur mereka dikejutkan dengan kepulangan Joon yang membuka pintu rumah. Dan melihat banyak mainan berserakan di lantai ruang tamu, Joon meminta kedua keponakannya untuk membereskan semua mainan tersebut sedangkan ia sendiri mengatakan akan membantu Shaina di dapur.
Melihat Shaina yang sangat menjiwai ketika menyiapkan makan siang bak seorang istri sungguhan membuatnya tertegun menatap perempuan itu.
..........
"Kau? Ku kira anak-anak" ketus Shaina.
Joon terkekeh dan mendekat, mengambil makanan di tangan Shaina untuk ia bawa ke meja makan.
"Bukankah ini masih siang? Kenapa kau pulang cepat?" Tanya Shaina yang mengekor dibelakang Joon.
"Kalau masih siang memangnya aku enggak boleh pulang, sayang?" Sahut Joon.
...----------------...
Halo semuanya, author mau minta bantuan, tolong beri sarannya ya jika ceritanya mulai membosankan tapi tolong jangan sadis-sadis juga, karena author punya kesamaan dengan Shaina yang suka jaim gitu padahal orangnya baperan ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ alias mudah mewek.
Tapi, demi pembelajaran, author mau kok terima saran yang membangun.
Author juga punya rahasia lho, ingatkan tentang bab Shaina yang mimpi mau di nikahin Joon? sebenarnya waktu itu author mau buat itu bukan mimpi tapi berkat reader semuanya mengatakan itu salah memang tidak diperbolehkan, jadi author banyak-banyakin baca referensi agar tidak jadi orang yang cacat pengetahuan apalagi memberi informasi yang tidak ada kebenarannya, maka author ubah ceritanya yang lebih masuk akal, walaupun ceritanya aja di mulai dari yang tidak masuk akal, maklum author suka ngehalu yang tidak masuk akal juga...
Maaf ya author pada curhat di sini, pasti ganggu sekali ya? Tapi mau bagaimana lagi author orangnya gitu sih, tidak tahu malu...
hehehe......
Sekali lagi Author ucapin banyak-banyak terima kasih....
__ADS_1