
Di tempat kerja Joon tersenyum-senyum sendiri dan ia pun tidak segan-segan berbagi senyuman dengan pelanggannya yang membuat mereka kegirangan khususnya bagi pelanggan cewek, tapi sikap Joon itu mengherankan Harris karena tidak biasanya Joon bisa bersikap ramah pada orang lain.
Harris sibuk memperhatikan tingkah sahabatnya yang berbeda seperti biasanya.
"Apa kau baru mendapat jatah dari Marissa?" Tanya Harris.
Pertanyaan itu seketika memudarkan senyuman Joon mengingat kejadian kian hari ia kepergok bermesraan dengan Marissa oleh Shaina dan itu membuatnya menyesal pernah melakukan itu.
"Dari reaksimu kurasa bukan itu, atau mungkin... Kau sudah mendapat jatah dari kakak iparmu ya?" Tambah Harris
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Batuk Joon mengagetkan Harris dan hampir menumpahkan air panas gelas yang dipegangnya.
"Hati-hati bicara mu! Shaina eh Helena tidak seperti itu! Dia berbeda dengan perempuan yang kau bayangkan!" Timpal Joon.
"Shaina? Siapa lagi itu? Apa dia seksi?" Selidik Harris.
"Shaina?" Joon terdiam seraya tersenyum, Harris semakin penasaran dengan perubahan sikap Joon saat menyebutkan nama itu. "Dia seksi dengan gayanya, tapi aku tahu dia sangat manja dan bawel, dia juga orang yang lembut, aku merasakan ketenangan di dekatnya" Sambung Joon.
"Aku jadi penasaran dengan gadis itu, bisa-bisanya membuatmu mabuk kepayang seperti ini" Tambah Harris.
"Maksudmu?" Tanya Joon.
"Jangan berlagak bodoh, kau itu sedang jatuh cinta pada gadis itu" Harris menyeringai.
Joon kaget dengan pernyataan Harris dan kali ini dia yang hampir menjatuhkan cangkir kosong di tangannya tapi beruntung dengan cepat ia dapat menangkapnya kembali. Ia mengerjap dan menelaah maksud Harris tentang ia yang jatuh cinta dengan Shaina si perempuan misterius itu.
"Ngomong-ngomong kenalkan aku dengan Shaina itu, aku jadi penasaran seperti apa dia itu" Tambah Harris.
Joon terdiam dengan lesu, "kau tidak akan bisa melihatnya atau mengenalinya sekalipun aku memperkenalkannya padamu dan mungkin akan menganggap ku gila seperti pertama kalinya aku bertemu dengannya" Jelas Joon.
"Hahaha.... Ada-ada aja kamu, apa dia hantu? Sampai-sampai aku tidak bisa melihatnya?" Ledek Harris.
Drrrttt....!!!!
Ponsel Joon menggetarkan saku celananya dan ia melihat nomor kontak Helena, Joon menepi ke posisi yang sepi untuk mengangkat panggilan dari Shaina, dan Shaina memberi tahu ia hendak pergi jalan-jalan dengan anak-anak sebentar. Joon memberi izin asalkan tidak jauh-jauh karena mengkhawatirkan Shaina bisa kelelahan.
"Tenang saja bos, aku tidak akan membiarkan tanganmu pegal-pegal memijat kakiku nanti malam" Cetus Shaina.
Joon yang mendengar kata Shaina membuatnya tertawa hingga menarik perhatian Harris dibalik meja meracik kopi espresso itu.
Joon menutup telponnya sebelum membuat sahabatnya itu semakin penasaran dengan sosok Shaina.
__ADS_1
Alfan dan Alice sangat senang bisa jalan-jalan yang sudah lama tidak ia lakukan lagi, dan Shaina sudah meminta izin pada Joon tapi belum sempat ia memberitahu dengan siapa ia pergi Joon sudah menutup telponnya.
"Sudah siap kan?" Tanya Calvin pada Shaina.
"Sudah tapi aku belum sempat mengatakan pergi dengan Anda" Kata Shaina pada Calvin yang sudah dari tadi menunggunya dan anak-anak.
"Jangan khawatir, aku dan Joon teman baik, dia tidak akan mempermasalahkan jika kita pergi bersama" Ujar Calvin.
Shaina tahu Joon dan Calvin teman baik seperti yang dikatakan Calvin, tapi tetap saja itu membuatnya tidak enak dengan Joon, namun Shaina juga ingin jalan-jalan keluar rumah, apalagi itu negeri asing yang mustahil ada kesempatan lagi seperti itu, ditambah ia tidak perlu mengkhawatirkan budget untuk dikeluarkan karena semua orang melihatnya sebagai Helena jadi tidak segan-segan orang mentraktirnya. Menunggu Joon libur juga tidak mungkin karena Joon lebih betah dirumah jika sedang tidak ada kerjaan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan, Shaina pernah bekerja jadi ia mengerti yang dirasakan Joon.
Sebuah kesempatan emas bagi Calvin dapat mengajak Helena pergi menikmati suasana kota dan sengaja ia mengajaknya ketika Alice dan Alfan sudah pulang sekolah karena Shaina pasti tidak mau pergi bersamanya jika anak-anak belum pulang sekolah.
"Maaf Helena aku memanfaatkan fisikmu" Batin Shaina yang meringis.
Shaina sengaja memakai mantel panjang untuk bisa menyamarkan bentuk tubuhnya dan menggunakan syal untuk menutupi lehernya, dan ia tidak menggunakan kerudung karena itu bisa menarik perhatian orang-orang yang mengenali Helena, dan ia tidak bisa Helena mendapat masalah dikemudian hari jika jiwa Helena kembali lagi.
Shaina tidak henti-hentinya berdecak kagum melihat pemandangan kota dan apa yang ada didalamnya.
"Waaah!!! Ternyata ini lebih keren daripada yang terlihat di foto" Seru Shaina saat melihat monumen yang jadi magnet bagi para wisatawan di luar mau dalam negeri.
"Bukannya kamu sudah sering kesini? Bahkan setiap hari karena kantormu tidak jauh dari sini" Ujar Calvin.
"Oh ya aku lupa...!!" Shaina cengengesan menutupi kegugupannya karena menyinggung kebiasaan Helena dulu. "Tapi ngomong-ngomong dimana kantor ku bekerja dulu soalnya kamu tahu kan aku ini amnesia?" Tambah Shaina.
Shaina berpikir sesaat lalu mengatakan, "kayaknya enggak deh, aku masih takut kesana" Ujar Shaina dengan memasang ekspresi sedih, berpura-pura ia benar-benar Helena.
Sebenarnya Shaina tidak mau kesana meski dia sangat penasaran dengan tempat kerja Helena tapi ia khawatir bertemu dengan orang-orang yang mengenali Helena dan akan menyuguhkan berbagai macam pertanyaan yang sulit dijawabnya seperti dengan Calvin.
Jadi Shaina beralasan ia lebih nyaman berada jauh dari tempat itu apalagi anak-anak juga menikmati jalan-jalan diluar sana, dimana mereka bisa bebas berlarian dengan es krim di tangan yang dibelikan oleh Calvin.
Semakin lama dengan Helena yang sekarang semakin terasa ada yang aneh menurut Calvin, dari postur tubuh saat berjalan hingga cara ia melihat orang lain yang tidak memandang ras dan warna kulit. Semuanya dihormati dan dihargai dengan baik oleh Shaina.
"Aku lapar, kita kesana yuk" Ajak Calvin seraya merujuk pada sebuah kafe yang terdapat papan bertuliskan CAFFE ROMANTIC.
"Tapi aku tidak suka kopi" Kata Shaina.
"Jangan khawatir, kita bisa pesan yang lain banyak menu yang tersedia kok" Balas Calvin.
Shaina memanggil anak-anak dan mereka ikut bersama Calvin ke tempat yang dikatakan itu.
Dengan sigap Calvin menarik bangku untuk diduduki Shaina dan meminta mereka menunggu sebentar karena ia pergi ke meja pesanan untuk memesan.
"Satu kopi dua jus apel dan satu alpukat, dan bawakan aku menu andalan di sini tapi yang aman buat anak-anak dan wanita hamil" Kata Calvin pada salah seorang Batista itu.
__ADS_1
Barista itu tak lain ialah Joon sendiri, dan Calvin sengaja memesan makanan padanya untuk menggodanya. Joon berdecak kesal ketika melihat pelanggannya Calvin, dalam pesanannya Calvin menyebutkan wanita hamil dan itu mengingatkan Joon pada Shaina di rumah.
"Wanita mana lagi kau ajak kencan kali ini?" Sela Harris.
"Adalah... Mau tahu aja" Timpal Calvin.
"Apa rumah sakit sudah kekurangan pasien? Dokternya jadi pengangguran kayak gini" Celetuk Joon membuat Harris tertawa.
"Terserah kau! Yang penting aku bisa kencan daripada kau pacaran di rumah!" Sindir Calvin terhadap Joon tentang kemarin ia dan Marissa.
Calvin dan Harris menertawakan Joon yang kesal dengan dua temannya itu.
BUUUKKK!!!!
"Oh maaf nyonya!!" Ucap seorang lelaki.
"Tidak apa-apa" Sajut Shaina.
Joon dan yang lain melihat ke arah asal kegaduhan itu, mereka sangat terkejut karena kegaduhan itu berasal dari meja yang terdapat Shaina dan anak-anak. Joon dan sahabatnya menghampiri mereka.
"Shaina? Kamu tidak apa-apa?" Tanya Joon yang panik.
"Nona Helena? Apa yang terjadi?" Tambah Harris dan Calvin.
Shaina dan anak-anak kaget melihat keberadaan Joon di kafe itu yang bekerja sebagai Batista.
"Aku tidak apa-apa?" Ujar Shaina.
Laki-laki yang menumpahkan kopi di baju Shaina meminta maaf atas keteledorannya, dan itu membuat Joon semakin khawatir dengan keadaan Shaina.
"Bagaimana dengan kulit mu Shaina? Itu air panas" Ujar Joon.
"Tidak apa-apa Joon, airnya tidak tembus bajuku" Kata Shaina.
"Beneran kan?" Tambah Joon.
Shaina mengangguk, baju Shaina meninggalkan bekas kopi dan Joon memintanya untuk membersihkan di toilet.
"Kalian disini dulu ya, Mama ke toilet dulu untuk membersihkan mantelnya" Kata Joon pada si kembar dan mereka mengiyakan kata Joon.
"Her!! Gantiin aku bentar ya, aku nemanin Shaina dulu dan kamu Calvin tolong jagain keponakanku bentar" Perintah Joon pada dua sahabatnya itu.
Harris maupun Calvin terdiam sambil mengangguk mendapatkan titah dari Joon, setelah kepergian Joon dan Shaina ke toilet dua pemuda itu saling memandangi dengan keheranan dengan sikap Joon pada Helena.
__ADS_1