Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Serangga berbahaya


__ADS_3

Lebih dua puluh menit kemudian, Shaina keluar dari kamar anak-anak dan menuju ke dapur untuk menyajikan sarapan tapi saat ia tiba di dapur semuanya sudah siap makan karena Joon telah terlebih dulu menyiapkannya.


Didepan semuanya Shaina memamerkan senyumnya seperti biasanya tapi tidak bisa dipungkiri juga ia baru saja menangis, terlihat jelas matanya yang sembab dan merah, hal yang sama juga ditunjukkan Joon yang bersikap baik-baik saja antara dia dan Shaina di depan anak-anak.


Namun disaat semuanya fokus pada isi piring makan mereka, Alfan malah keheranan melihat kulit Shaina.


"Ma, kenapa leher Mama merah gitu?" Tanya Alfan yang memperhatikan bekas merah di lehernya Shaina.


Pertanyaan Alfan yang polos itu sontak mengagetkan Shaina dan Joon, terlebih Shaina yang jadi salah tingkah apalagi Alice ikut penasaran dan ikut-ikutan bertanya bagaimana ruam merah itu bisa muncul.


"I-ini... Karena...gatal dan di garuk jadi kayak gini" jawab Shaina.


"Tapi Ma, bagaimana bisa gatal gitu?" Tambah Alice ikut memperhatikan tanda merah itu.


Malu-malu Shaina menarik kerah rajutnya untuk menutupi tanda yang ditinggalkan Joon semalam, sesekali ia juga tampak menggaruknya sambil melirik Joon yang diam-diam mencuri pandang.


"Oh itu... Karena gigitan serangga semalam" ujar Shaina.


"Serangga? Apa serangga itu sangat banyak Ma, sampai ninggalin gigitan sebanyak itu?" Lanjut Alice.


Shaina kesal karena ia seperti sedang diinterogasi oleh anak-anak akibat ulahnya Joon semalam, sedangkan si pembuatnya malah cengengesan sambil menikmati sarapannya dengan tenang.


"Tanyakan saja pada Paman, dia yang lebih tahu!" Kilah Shaina menatap tajam pada Joon.


Seketika Joon dibuat kaget karena namanya di bawa-bawa dalam pembicaraan itu. Kali ini dia yang jadi objek interogasi Alfan dan Alice yang masih polos itu namun memiliki rasa penasaran yang cukup tinggi.


"Hah?! Aku?!" Joon mengerjap kaget.


"Paman! Bagaimana Paman biarkan Mama digigit serangga seperti itu? Apa paman tidak kasihan? Itu pasti sakit sekali..." Sembur Alfan.

__ADS_1


"Bagaimana jika dede bayinya juga kenapa-napa?" Tambah Alice.


Pertanyaan demi pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan sikembar terhadap Joon yang memojokkannya, memaksanya terdiam dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi kemarahan anak-anak itu. Namun, Shaina yang duduk di sisi berlawanan malah cengengesan dan tersenyum bahagia sambil menikmati sarapan paginya dengan disuguhi tontonan yang menghibur hatinya, karena Joon tampak kewalahan menghadapi pertanyaan yang sulit untuk dijelaskan.


"Apa Paman tidak sayang sama Mama Shaina?" Sambung Alfan.


"Karena Paman sayanglah makanya jadi kayak gitu" gumam Joon sambil melihat Shaina dengan ujung matanya.


"Jadi benar Paman tidak sayang sama Mama? Paman jahat, Alfan sangat sayang sama Mama" ungkap Alfan yang mulai agak ingin menangis.


"Hiks!... Hiks!... Alice juga sayang banget sama Mama Shaina, jika saja Mama Helena ada disini, Paman pasti akan di marahi" tambah Alice.


Shaina menyeringai dan menjulurkan lidahnya pada Joon, lalu ia mengusap kedua kepala anak itu.


"Cup...cup... sayang..., Jangan nangis lagi, Mama percaya cuma putra-putri Mama yang benar-benar tulus sayang sama Mama Shaina" cetus Shaina.


Seketika keduanya memeluk Shaina dan Shaina pun tidak ragu-ragu mencium mereka.


Disaat yang sama ingatan Joon kembali ke dua puluh (20) tahun yang lalu. Kehangatan yang sama juga terjadi di meja makan keluarganya, ketika semua masih bersama, sikap tegas dan berkarismatik orang tuanya dimata semua orang semuanya sirna bila di rumah, hanya ada cinta dan kasih sayang yang hangat, hidupnya benar-benar sempurna, selain memiliki kasih sayang orang tuanya ia juga punya kakak yang selalu melindunginya tidak peduli seberapa banyak orang membenci kenakalannya, Ervian selalu jadi tameng pelindung yang siap berdiri di depan Joon.


Namun, semua itu menghilang ketika sang ibu mengalami kecelakaan dan dirinya terbuai dengan dunia malam dan nyamannya jadi anak sultan, membuatnya lupa diri yang memaksa sang ayah mengambil langkah tegas terhadapnya dan sang kakak yang sudah memiliki tanggungan keluarga sendiri tidak bisa selalu melindungi Joon lagi.


Dan kebencian pun mulai tumbuh di hati Joon, terutama pada sang kakak yang selalu ia andalkan sebelumnya malah berubah jadi saingannya di tambah lagi beberapa orang datang dan membisikkan kebencian yang semakin memupuk rasa ketidak-sukaannya pada Ervian termasuk orang-orang yang selalu mendukungnya, tidak terkecuali Helena dan anak-anak mereka.


Bagi Joon, Helena dan anak-anaknya adalah tembok pemisah antara ia dan kakaknya karena Ervian lebih memprioritaskan keluarga barunya dan tidak ada lagi untuk Joon. Daripada membantu finansialnya Joon, Ervian lebih sering meminta Joon untuk meminta maaf atas kesalahannya pada ayah mereka, namun Joon menolak karena menganggap ia tidak melakukan kejahatan tapi kewajaran di usianya tersebut.


Mimpi-mimpi buruk Joon pun di mulai, dari berpunya jadi tidak berpunya, satu persatu orang-orang di dekatnya menjauh namun Joon belum juga menyadari kesalahannya, karena ia masih bisa memanfaatkan statusnya anak seorang yang cukup dikenal, dan itu tidak bertahan lama, karena sang ayah lebih tahu langkah apa yang tepat untuk putra bungsunya, mulai mengumumkan pembuangan Joon hingga di hapuskan namanya dari keluarga besar dan dari situlah Joon belajar bertahan hidup dengan mandiri, menghargai setiap hasil kerja kerasnya. Tapi, takdir mengguncangnya, maut menjemput sang ayah dan kakak dalam waktu yang hampir bersamaan dengan kejadian yang juga sama seperti dialami ibunya yang lebih dulu mendahului mereka.


Namun demikian, Joon masih belum bisa menerima Helena dan anak-anaknya dalam hidupnya, tapi setelah pesan singkat yang dikirim Ervian sebelum ia meninggal, secara khusus meminta Joon untuk menjaga keluarga kecil dari orang-orang yang tidak dipercayai oleh Ervian sendiri. Meski awalnya Joon sempat mengabaikan pesan tersebut tapi setelah Helena kecelakaan itu akibat ledakan di tempat kerjanya, mau tidak mau Joon harus mengurus orang-orang dibencinya itu apalagi setelah mengetahui Helena hamil buah cinta kakaknya sendiri.

__ADS_1


Dari sebuah rasa balas budi pada sang kakak yang melindunginya, Joon malah tertarik dengan sosok perempuan asing yang terjebak dalam tubuh Helena dengan karakter yang jauh berbeda dari Helena yang dulunya selalu menentang Ervian dalam memenuhi finansial Joon.


KLEK! KLEK!


(Shaina menjentikkan jarinya di depan Joon beberapa kali).


"Joon!" Panggil Shaina, "JOON!!!!" Berang Shaina dengan mencubit tangin laki-laki itu.


"Ya! Maaf-maaf, lain kali aku tidak menggigit di situ lagi" ucap Joon.


PLAK!


Dengan keras Shaina memukul tangan Joon lagi yang tergeletak di atas meja yang mengejutkan Joon dari lamunannya.


"Gigit? Paman menggigit Mama? Kenapa?" Tanya Alice.


Shaina menggigit bibir bawahnya sambil melotot tajam pada Joon, "awas kau! Jika bicara yang aneh-aneh lagi malam ini tidur di luar saja!" Ancam Shaina setengah merendahkan suaranya.


"Paman! Kenapa Paman jahat sekali? Apa Paman masih tidak suka pada kami? Kaki enggak nakal kok, semua kami turuti, kami juga enggak berteriak-teriak di rumah seperti dulu dan tidak berantakan rumah Paman juga" tambah Alfan yang kembali berkaca-kaca.


Joon meringis, bingung harus bagaimana menjelaskan pada mereka dan tidak seperti yang dipikirkan, ia juga bergidik melihat Shaina dalam mode mengancam keberlangsungan masa depannya.


"Sini" Joon mengangkat Alfan ke pangkuannya, "Paman percaya kok kalo Alfan dan Alice Paman ini tidak nakal seperti anak tetangga kita tuh...!" Ujar Joon sambil menunjuk ke luar jendela dengan bibirnya.


"Iya Paman, Marley itu memang nakal sekali, kemaren tuh dia jambak rambut Alice gara-gara boneka saljunya jelek dari buatan Alice" adu Alice pada Joon.


"Oh! Benarkah? Si anak nakal itu mau Jambak si cantik Paman? Ini tidak boleh dibiarin, Paman jadi kesal kalo gini!" Gerutu Joon yang berlogat selayaknya anak kecil di tambah dengan ekspresi lucu yang di buat-buat.


"Alfan juga, beberapa hari lalu Marley dan teman-temannya rebut mainan Alfan..." Tambah Alfan yang ikut mengadu pada Joon.

__ADS_1


Joon melirik ketus yang dibuat-buatnya, "awas ya mereka! Berani-beraninya ganggu Alice dan Alfan paman, nanti paman aduin pada orang tua mereka biar di marahin" tambah Joon yang tak kalah lucu.


Shaina terus terkekeh melihat ekspresi wajah Joon diimbangi dengan Alfan dan Alice yang sengaja memasang wajah cemberut dan memelas untuk mencari perhatian Joon yang mereka duduki. Meski begitu, Joon juga ikut terkekeh melihat tingkah si kembar yang diam-diam memakan sarapan milik Joon di sela-sela cerita sedih mereka.


__ADS_2