
"Aku sudah membunuh Helena, rencanaku berhasil, kini giliran kau Joon, aku akan membunuhmu agar aku semua harta keluarga mu jatuh pada ku, ha-ha-ha....!" Suara nyonya Rossie menggelegar seisi ruangannya.
"Mami makan dulu ya?, Darrell yang suapin" ujar Darrell pada wanita berambut berantakan itu yang berpakaian pasien rumah sakit jiwa.
"Aku sudah membunuh kakakku dan anaknya, bukankah itu sangat hebat? Hebat! Hebat!" Seru wanita itu lagi.
Melihat kondisi ibunya yang tidak lagi sama seperti dulu tidak sedikitpun terbesit dalam benak Darrell untuk meninggalkan sang ibu meski ia tidak lagi di kenal, ia tetap mengurusnya sebagai anak yang berbakti pada orang tuanya, menemuinya setiap minggu sambil mendengarkan ia berceloteh setiap saat.
Namun tidak bisa di pungkiri jika hatinya berharap nyonya Rossie dapat sembuh dan hidup normal seperti orang lainnya, tapi apa boleh dibuat, semua sudah terlanjur terjadi, giliran Darrell sekarang adalah mengurusnya dengan baik tanpa berkecil hati karena ia percaya semua pasti ada hikmahnya.
*****
Di boarding area yang terdapat di airport internasional tampak Harris dan Calvin beserta Darrell duduk sambil melihat pesawat hilir mudik melalui gate-gate berdinding kaca besar di hadapan mereka dan sesekali menoleh ke arah pintu masuk untuk melihat kedatangan Joon dan anak-anaknya yang belum tiba.
Tapi sekitar lima menit kemudian tampaklah Joon yang menggendong Elif sambil mendorong kopernya dan si kembar dibelakangnya.
Melihat mereka muncul Harris dan yang lainnya beranjak dari duduk mereka.
Seperti permintaan si kembar, Joon terpaksa menuruti mereka untuk berlibur ke tempat keluarganya Harris, oleh karena Harris juga tidak bisa menahan Calvin dan Darrell yang juga tertarik ikut bersamanya.
"Alice, biar paman saja yang bawa" usul Darrell pada gadis remaja itu.
"Tidak perlu Paman, kata papa Alice harus mandiri dan tidak boleh manja" sahut Alice.
Darrell tersungging melihat Joon yang tampak senang dengan jawaban putrinya, ia memang mengajarkan mereka untuk tidak manja meski dengan semua kenyamanan dan fasilitas kemewahan yang mereka miliki karena Joon tidak mau mereka mengikuti jejaknya dulu, hidup dalam serba ada dan mudah tapi pada akhirnya itu membuatnya hancur sendiri.
Calvin menengok ke arah jam tangannya, "ayo kita pergi, sebentar lagi pesawat akan berangkat" kata Calvin.
"Tunggu sebentar lagi" sahut Darrel.
"Siapa lagi?" Sela Harris.
Belum sampai semenit Harris bertanya sudah tampak dua perempuan cantik nan seksi berjalan kearah mereka dengan masing-masing menjinjing satu koper mereka.
Rambut yang tergerai bebas bergerak seirama dengan gerakan kaki mereka yang berjalan bak seorang model profesional belum lagi kacamata hitam jadi aksesoris terpenting untuk menunjang penampilan mereka.
"Kenapa mereka berdua di sini?" Sela Alice pada teman-teman Joon.
Seketika Darrell jadi pusat perhatian teman-temannya atas pertanyaan Alice.
"Maaf ya, aku tidak beri tahu sebelumnya jika Gladys dan Marissa ikut, soalnya aku lupa" sahut Darrell.
"Tapi bagaimana mereka bisa tahu jika kita pergi?" Tanya Joon.
"Kamu keberatan ya Joon kami ikut?" Sela Gladys dengan memasang wajah polosnya, "kau jangan khawatir kami tidak menggangu kalian, kami cuma mau liburan saja apalagi Darrell bersama kalian" lanjut Gladys sambil tersenyum pada Marissa di sebelahnya.
"Bolehkan? Aku ikut denganmu, lagian aku bisa jagain Alice dan Elif" sambung Marissa.
"Memangnya kamu binatang peliharaan yang harus di jagain?
Kami bisa ngurus diri sendiri dan tidak butuh tante Marissa" tukas Alice yang berdecak kesal.
__ADS_1
Diam-diam Marissa mendungus pada Alice meski berpura-pura tersenyum di depan semua orang.
"Terserah kalian! Tapi jangan berurusan denganku, aku tidak punya waktu ngurus kamu Marissa" ketus Joon lagi.
Marissa tersenyum sebagai ia menyetujui keinginan Joon walaupun ia sendiri juga ingin mencari perhatian Joon kembali. Tapi Elif yang melihat Marissa langsung berbalik badan dan membuang muka dari perempuan tersebut.
"Kalau sudah siap ayo kita pergi" sela Harris.
Calvin dan Harris kembali mengambil koper mereka dan bersiap menuju keluar bersama yang lain.
"Tunggu....!" Teriak seorang perempuan yang berlari ke arah mereka sambil menarik sebuah koper sedang.
Perempuan itu berlari menghentikan langkahnya saat sudah sampai di depan para lelaki itu, nafasnya tersengal-sengal akibat berlari.
"Tante Hannah? Datang juga?" Tanya Alfan.
"Iya, maaf ya Tante terlambat, tapi Tante telah berusaha cepat kesini saat Alice beri tahu kalian akan berlibur" ujar Hannah.
"Tidak apa-apa" sahut Alfan.
Pihak bandara mengumumkan pesawat yang jadi rute keberangkatan Joon dan sekalian akan segera berangkat jadi mereka mempercepat langkah untuk naik ke tangga pesawat.
Tapi mendadak Harris berhenti dan berbalik badan sebelum mereka semua melangkah ke tangga tersebut.
"Oh ya, aku lupa beri tahu bahwa keluarga besarku mayoritas muslim jadi jika dari kalian ingin sekamar dengan pasangan kalian, kalian harus menginap di hotel dan jangan di rumah keluargaku, bila kalian ikut denganku karena aku tidak ingin ada masalah dengan mereka" umum Harris pada rombongannya.
Sontak mereka menyoroti Marissa dan Gladys serta Joon dan Darrell karena semua tahu jika mereka itu pasangan kekasih yang kerap bermesraan meski tanpa ikatan pernikahan. Joon yang tidak punya berhubungan apapun lagi dengan Marissa juga tidak luput dari kekhawatiran Harris, karena menurutnya Marissa wanita yang menggoda dengan kemolekan tubuhnya dan mustahil di tolak oleh kaum Adam, apalagi dengan Joon yang sudah lama tidak mendapatkan belaian lembut dari seorang perempuan setelah kepergian istrinya di tambah ia juga sudah berpengalaman dengan Marissa dalam hubungan semacam itu.
"Iya Pa" sahut mereka.
Hannah tersungging melirik dua perempuan itu yang kesal pada Joon dan Harris, di belakang Hannah, naik Calvin yang juga tersenyum pada sikap Joon, setelahnya naik Darrell mengabaikan mereka.
"Iiiihhh! Aku cuma beri tahu tapi kenapa aku dicuekin?" Timpal Harris.
"Aku sudah bersabar cukup lama dengan sikap cuek Joon, tapi kali ini kau lihat saja Joon, kau akan jatuh cinta padaku lagi" gumam Marissa pada Gladys. Mereka tersenyum licik lalu mengikuti mereka.
Untuk mendapatkan kenyamanan dalam perjalanan jauh, mereka memilih tiket pesawat First Class, apalagi dengan kondisi ekonomi mereka yang tidak biasa itu bukanlah hal sulit untuk membeli tiket yang mahal, terlebih-lebih Joon yang akan selalu memprioritaskan kenyamanan keluarganya.
"Mama... Elliiss kangen Mama" gumam Elif dalam tidurnya, sambil mengemut mulutnya, seakan-akan ia sedang mengemut dot botol susunya.
Joon menciumi kening putrinya itu lalu matanya menilik satu persatu anak kembarnya yang sudah tertidur pulas, ia menangkap setetes air mata mengalir dari mata mereka, membuatnya terasa sesak dan membuatnya memegang dadanya.
"Sayang, dimana kamu? Kami sangat merindukanmu" gumam Joon yang ikut menitikkan air mata.
Deg!
Seorang perempuan bermata coklat tua, mencengkeram dadanya dengan kuat, rasa itu kembali terasa bahkan semakin kuat dari sebelumnya. Ia menatap langit yang berselimutkan awan putih nan lembut, dengan pandangan kosongnya yang sudah menjadi kebiasaan lamanya.
Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya, jantungnya terasa nyeri tanpa alasan bahkan dokter yang memeriksanya juga tidak menemukan kendala apapun dalam tubuhnya yang mengenai kinerja jantungnya.
__ADS_1
Selain itu ia juga melupakan sebagian hidupnya dan hanya mengingat kejadian saat ia kecelakaan kesetrum listrik di jalan yang hampir merenggut nyawanya, lalu kebingungan setelah sadar di rumah sakit.
Meskipun ingatan ada yang hilang dan membuatnya bingung tapi tidak menyurutkan semangatnya untuk hidup dengan baik.
"Kakak!" Seorang gadis remaja mendorongnya dari belakang untuk mengagetkannya dari lamunannya.
"Apa sih? kerajaanmu ngagetin orang melulu" sergah perempuan muda itu dengan rambut panjangnya yang di mainkan angin, mata yang berbentuk almond itu memantulkan bayangan seperti lensa, hidungnya yang tidak mancung ataupun pesek semakin memperlihatkan keayuan parasnya.
"Kakak yang apa-apaan, masak duduk di jendela sambil melamun!" Timpal gadis remaja itu.
"Siapa yang melamun? Aku cuma lihat burung terbang saja" Sergah perempuan itu.
"Cie... Enggak ngaku lagi, aku lihat sendiri Kakak melamun sambil tersenyum-senyum sendiri" godanya, "Uwak!! Kak Shaina melamun lagi nih sepertinya enggak sabar nunggu hari H" seru gadis itu pada ibunya perempuan yang panggil kak Shaina.
"Awas kau Rima ya!!" Sergah perempuan bernama Shaina itu, mengejar gadis remaja itu.
Mereka berlari ke seluruh bagian rumah, Rima berusaha menyelamatkan diri dari kakak sepupunya itu hingga ia berlindung di balik Abang sepupunya.
"Jangan ganggu aku, main ke diluar sana! Kakak dan Rima sama saja seperti anak kecil" tukas pemuda yang di jadikan tameng pelindung oleh Rima.
"Makanya kau Sahir minggir! Aku mau menangkap Rima yang nakal ini" kilah Shaina.
Rima terus menggoda Shaina dengan menjulur lidahnya pada Shaina.
"Shaina, sayangku pulanglah...."
Mendadak Shaina berhenti dan mematung lalu bergerak-gerak dan pergi ke pintu keluar seakan-akan ia sedang mencari sesuatu, sikapnya itu menarik perhatian keluarganya.
"Kakak sedang apa?" Celetuk Jamal adik bungsunya.
"I-itu, a-aku seperti mendengar suara seorang yang meminta ku pulang" gumam Shaina.
"Pulang? Memangnya kakak punya rumah lain apa? Ada-ada saja kakak ini, ku rasa kakak kesambet, soalnya kemarin-kemarin kakak mendengar anak kecil dan bayi yang menangis memanggil kakak dan sekarang ini lagi" timpal Jamal.
"Aku beneran mendengarnya bahkan sering mendengarkan itu dalam mimpiku dan melihat seseorang berdiri bersama tiga anak kecil di depan rumah dan terus meminta ku pulang" ujar Shaina meyakinkan anggota keluarga jika mimpi dan apa yang sering mengganggunya itu seakan-akan nyata dan bukan halusinasi belaka.
"Anak kecil? Jangan-jangan itu hanya impian kakak dimasa depan untuk memiliki anak, kakak kan enggak bisa punya a-"
"Sahir!!" Bentak ibu mereka yang berdiri di depan pintu dapur, memotong ucapan putranya yang keceplosan.
Shaina terdiam, ia tersenyum dan mengikat rambutnya sambil mengedipkan matanya pada adik-adiknya, "ngomong-ngomong ada yang mau menemani ku ke pasar? Ada yang ingin ku beli" kata Shaina.
Seluruh anggota keluarganya yang sibuk beres-beres rumahnya untuk persiapan hari spesialnya ikut terkejut dan mengarahkan pandangan mereka pada Shaina.
"Maaf kak, aku tidak bermaksud..." Ucap Sahir menundukkan kepalanya, ia mendekat pada kakak bungsunya.
"Hei! Santai sajalah, tapi ngomong-ngomong kamu mau kan temani aku ke pasar?" Tambah Shaina.
"Baik kak" sahut Sahir.
Shaina tersenyum dan masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap, namun senyumannya itu menghilang ketika pintu kamar di tutup, air matanya menetes tapi di sekanya dengan terburu-buru.
__ADS_1
"Jangan menangis, ada yang menerima kekuranganku saja sudah cukup" gumamnya pada dirinya sendiri, ia berjalan ke meja rias dan menaburkan bedak di wajahnya untuk menyamarkan hatinya yang gelisah.