
Sepulangnya dari rumah sakit, belum satupun dari mereka yang memulai percakapan, selain Shaina bingung harus menjawab apa jika Joon bertanya dimana Helena sekarang, maka Shaina memilih diam untuk menghindari pertanyaan tersebut.
perempuan itu yang bertukar jiwa itu duduk di sofa mengistirahatkan sendi-sendinya yang terasa agak lelah, tak lama kemudian Joon datang membawakannya segelas air untuk diminumnya.
"Aku minta maaf soal tadi pagi" ucap Joon memecahkan keheningan diantara mereka.
Sekilas Shaina melirik lelaki berparas menawan itu dan dengan secepatnya ia kembali mengalihkan pandangannya sambil menjawab, "iya".
Ragu-ragu Shaina kembali mengarahkan pandangannya pada Joon seraya bertanya, "kamu tidak bekerja?".
"Aku sudah minta izin untuk masuk terlambat" sahut Joon.
"Emm..." Gumam Shaina.
Ia membuka amplop yang diberikan dokter, berisikan gambaran janinnya 4D,
Joon melihat Shaina tampak serius dengan gambar tersebut namun disisi lain jari-jemarinya meremas erat sisi kertas itu.
"Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja" kata Joon.
Shaina mengangkat wajahnya pada Joon seraya memendamkan kegelisahan hatinya, ia tidak tahu harus berkata apa, karena ia percaya Joon masih tidak akan mendengar kenyataan yang dikatakannya.
"Shaina" panggil Joon.
"Eh! Iya" dengan cepat Shaina menyahutinya,
Joon mengamati setiap gerak-gerik perempuan itu lalu ia bertanya dengan sikap serius, "Apa benar kau ini bukan Helena? Tolong katakan yang sebenarnya, aku akan mencoba memahaminya".
Shaina terdiam, "Tidak ada gunanya, kau tidak akan mempercayainya juga" Shaina bangkit dari duduknya, "aku ke kamar dulu" tambahnya sebelum ia melangkah.
"Katakanlah! Aku janji tidak akan memarahimu atau menuduh mu yang tidak-tidak" Joon mencegat tangan Shaina.
Shaina melihat langsung kearah mata Joon dengan penuh kemantapan, "Aku bukan Helena tapi Shaina, aku tidak mengenal perempuan ini ataupun kalian semua, dan jika kamu tanya dimana Helena maka jawabannya aku tidak tahu, karena aku memang tidak mengerti yang terjadi padaku!" Shaina melepaskan tangannya dari genggaman Joon, "terserah aku akan dituduh apa, aku menerimanya" tambahnya.
Joon terdiam dengan mata masih memandang Shaina lalu ia tampak menghembuskan nafas yang dapat diartikan Shaina, "siapapun kamu tolong jaga janin Helena dan kakakku, aku tidak mau ada yang kehilangan lagi", kata Joon.
Shaina melihat ke bagian perutnya, "Aku tidak berpengalaman hamil tapi aku akan berusaha menjaganya" sahut Shaina.
*****
Bekerja sebagai Batista membuat Joon cukup sibuk melayani pelanggannya, kepiawaiannya dalam meracik espresso sudah tidak diragukan lagi berkat ketekunan dan kesabaran selama ini, meski ia tergolong masih baru berkecimpung di dunia tersebut. Namun, seperti hari-hari sebelumnya ia jadi incaran para wanita yang kerap menyuguhkan tatapan menggoda padanya.
__ADS_1
Suasana kafe cukup sibuk di jam-jam istirahat kantor, mengharuskan para pelayan untuk selalu cekatan dalam melayani pelanggannya. Tidak terkecuali Harris yang juga piawai membuat kopi yang berbasis espresso tersebut, namun disela-sela kesibukan dia masih sempat bercanda atau menggoda teman karibnya itu.
"Hey! Kamu lihat kan cewek itu?" Kata Harris sambil mengarahkan pandangannya pada salah satu perempuan seksi yang berada di meja ujung, "aku dapat nomor kontaknya!!" Harris memperlihatkan nomor yang tertulis di selembar kertas.
Namun Joon tidak bergeming dari cangkir kopinya, meski Harris tampak sangat antusias dengan topik pembicaraannya mengenai para wanita itu.
"Nanti malam, aku dan yang lain mau ke klub" tambah Harris.
Joon menoleh pada Harris yang sedang menunggu responnya, pengakuan Shaina tentang dirinya yang bukan Helena kembali bergema di kepalanya membuat Joon sakit kepala memikirkannya.
"Aku juga akan datang" ujar Joon.
"Itu baru seru! Jadi kita bisa bersenang-senang bersama!!" Harris menepuk-nepuk pundak Joon.
Joon memberikan kopi hasil buatannya pada pramusaji, lalu mengelap tangannya.
***
Shaina masih tidak percaya Joon mau mendengarkan pernyataannya tentang dirinya yang sebelumnya sering di anggap omong kosong belaka olehnya. Walau terkesan sepele tapi bagi Shaina itu sudah membuatnya senang. Ia tidak sabar menunggu anak-anak pulang sekolah, entah kenapa setelah ia mulai menerima nasibnya sekarang ia juga mulai merasa nyaman dengan keberadaan anak-anak Helena bahkan tentang kehamilannya.
Dengan malu-malu Shaina mencoba mengelus-elus perutnya sambil bergumam, "hai bayi kecil, mulai sekarang aku jadi Mamamu, kamu tidak marah kan?" Suaranya terdengar terbata-bata saat mengatakan itu.
Tidak seberapa lama kemudian terdengar suara mesin mobil yang berhenti di depan rumah lalu diikuti oleh suara Alice dan Alfan yang masuk ke rumah.
Shaina juga menyambut mereka dengan ramah dan menyuruh mereka mandi dan Shaina juga telah menyiapkan makan siang.
Shaina benar-benar terpukau dengan paras yang dimiliki sikembar itu, ia juga merasa Helena sangat beruntung memiliki anak-anak yang patuh dan penurut seperti mereka. Sehingga Shaina sendiri tidak merasa terbebani ataupun mengalami dengan mereka.
"Mama, ini masakan apa?" Tanya Alfan sembari melihat menu yang tersaji di meja makan minimalis itu.
Alfan maupun Alice tampak bingung dengan beberapa masakan Mama mereka akhir-akhir ini, yang beda dari biasanya bahkan masakan Shaina belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Shaina mengatakan, "maaf ya, aku tidak bisa memasak masakan kalian" kata Shaina dengan wajah bersalahnya.
Alice dan Alfan mengakui masakan Shaina memang aneh dan rasanya juga berbeda dengan lidah mereka tapi, mereka senang Mama mereka yang sekarang, karena Shaina lebih sering di rumah menghabiskan waktu bersama mereka, tidak seperti dulu, Shaina hampir tidak punya waktu luang di rumah, bahkan terkadang pulang larut malam ketika kedua anaknya sudah tidur.
Peluk dan ciuman sudah sering Shaina dapatkan dari mereka, mulai sebelum berangkat sekolah, pulang sekolah bahkan sebelum tidur dan Shaina pun merasa senang di perlukan semacam itu dari dua anak itu.
Jan dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, anak-anak sudah terlelap sejak tadi setelah selesai mengerjakan PR mereka, Shaina masih asyik menonton TV di ruang tamu untuk mengalihkan perhatiannya yang merasa jenuh, ia juga belum mengantuk karena ia khawatir pada Joon yang belum pulang karena selama Shaina tinggal bersamanya belum sekalipun Joon pulang larut malam.
Sesekali pandangan Shaina ke arah jam atau keluar jendela, berharap Joon sudah memarkirkan mobilnya di garasi yang terdapat di samping rumah, tapi setiap kali Shaina melihatnya hanya kesunyian dan kekosongan yang didapatkan.
__ADS_1
Shaina memberanikan diri untuk menelpon Joon tapi panggilannya tidak dijawab sekalipun bahkan Joon mematikan ponselnya. Itu membuat Shaina semakin gelisah dan khawatir dengan Joon.
"Sayang, lihatlah pamanmu, ini sudah sangat malam kenapa dia tidak pulang?" Gumam Shaina dengan tangannya mengelus perutnya.
"Kamu tidak marah kan, jika aku memanggilmu sayang dan menjadi Mamamu? Karena aku tidak punya teman bicara lagi yang dapat mengerti situasi ku sekarang" tambah Shaina yang berbicara sendiri di ruang tamu itu.
Suara keras musik yang diputar cukup membisingkan telinga, sehingga siapapun yang berada di ruangan dengan cahaya lampu yang redup itu harus berbicara dengan suara keras seakan sedang meneriaki agar dapat di dengarkan oleh lawan bicaranya. Belum lagi orang-orang berjoget mengikuti musik yang di putar, ada pula duduk bersama baik dengan orang dikenal maupun tidak, ada juga yang hanya duduk sendirian sambil menikmati minuman memabukkan itu dengan berbagai jenisnya, perempuan maupun laki-laki membaur menjadi satu dalam ruangan itu, ada yang masih dalam keadaannya sadar ataupun tidak karen pengaruh minuman beralkohol tersebut.
Dari sekian banyak orang yang ada di ruangan itu terdapat Joon dan teman-temannya termasuk Harris. Terlihat beberapa wanita berpakaian minim dan seksi duduk diantara mereka kecuali di dekat Joon, bukannya tidak ada yang mau duduk di dekatnya tapi Joon menyuruh para perempuan seksi itu menjauh dari dirinya, ia sedang tidak mau bersama siapapun saat ini.
"Hei sobat, ada apa denganmu? Minummu banyak sekali" cetus lelaki di sebelahnya Joon.
"Iya, apa kau ada masalah? Kakak iparmu juga terus menelpon mu" tambah Harris.
Joon mengabaikan pertanyaan teman-temannya dan masik menikmati minumannya sampai menghabiskan seisi gelasnya, "dia bukan kakak ipar ku" gumam Joon.
"Apa kau ada masalah dengannya sampai-sampai kau tidak mengakuinya?" Kata Harris.
"Masalah? Iya aku dalam masalah, otakku sudah di luar batas, aku mempercayai perkataan wanita itu, dia mengatakan bahwa dia bukan Helena tapi perempuan lain" gumam Joon yang sudah setengah sadar karena pengaruh minuman beralkohol itu.
"Dasar anak ini! Dia sudah benar-benar mabuk bicaranya saja sudah di luar kendali" tambah temannya.
"Joon, ayo kita pulang, kami akan mengantarkan mu pulang" Harris mengangkat tubuh Joon yang sudah terhuyung-huyung.
"Aku tidak mau pulang... Aku tidak mau bertemu perempuan bernama Shaina itu... dia bukan Helena... bukan kakak ipar ku...".
Joon terus bergumam namun teman-temannya tidak mengerti maksud Joon. Kepalanya sudah menempel di permukaan meja karena tidak sanggup lagi mengendalikan dirinya.
"Dia bukan Helena... dia bukan Helena namanya Shaina, perempuan itu memasuki tubuh Helena..." Gumam Joon lagi dan ia juga semakin menambah minumannya yang sudah entah berapa banyak gelas ia habiskan.
Harris dan Calvin saling melihat dan merasa bingung dengan perkataan Joon yang semakin ngawur, dan Joon terus bergumam hal yang sama tentang itu bukan Helena tapi Shaina yang telah merasuki tubuh Helena.
Harris dan Calvin membopong Joon dan mengantarkannya pulang karena sudah tidak mungkin jika Joon di biarkan mengemudi dalam kesadaran seperti itu. Di dalam mobil Joon masih berbicara yang sama membuat dua temannya itu semakin heran karena Joon biasanya agak kalem saat mabuk, apalagi dengan nasib buruk yang menimpa nya.
Mendengar suara mesin mobil memasuki halaman rumah, Shaina yang mulai terlelap segera bangun dan melihat lewat jendela, ia melihat Joon keluar dari mobil yang dibantu oleh Harris dan seorang lelaki lainnya, Shaina mengambil kardigan di kamar untuk menutupi tubuhnya, ia tidak mau Harris menikmati tubuh Helena seperti pagi itu lagi.
Saat pintu di ketuk, Shaina langsung membukanya karena khawatir melihat Joon harus di bopong oleh orang lain.
"Joon! Kenapa dengan mu?" tanya Shaina yang panik. "Bau apa ini?" Tambahnya mencium aroma yang tidak biasa oleh Shaina.
"Maaf nona Helena, Joon mabuk berat" kata Harris.
__ADS_1
"Mabuk?" ujar Shaina.