
Usai beres-beres peralatan makan dan menyimpan kembali ke tempatnya setelah dicuci, Joon sempat-sempatnya berbisik pada Shaina saat meninggalkan dapur.
"Tidak marah lagi kan? Kalau tidak marah lagi nanti malam serangganya kembali lagi lho..." bisik Joon yang menggidik bulu kuduknya Shaina, bagaimana tidak Joon juga menyentuhnya lembut seakan menghipnotisnya untuk berharap Joon akan segera pulang kerja.
Tapi Shaina malah sengaja mencuekin Joon, sampai-sampai ia tidak merespon setiap yang dikatakan Joon, namun tidak bisa pungkiri jika Shaina juga merasa geli dengan godaan tersebut.
****
Timbul rasa penasaran lebih dari Harris, melihat sahabatnya sekaligus rekan kerja itu sumringah, seperti orang baru gajian meski belum waktunya. Melihat Joon gesit kesana-kemari, melayani pelanggan, menyeduh kopi yang tiada akhirnya apalagi di cuaca yang cukup dingin, mendorong Harris untuk bertanya penyebab Joon tampak bahagia sekali akhir-akhir ini.
Mendapat pertanyaan yang mendadak itu membuat Joon bingung harus berkata apa, karena tidak mungkin bila jujur mengenai keadaan rumahnya, apalagi ia tahu Harris juga tampak tertarik dengan kepribadian Shaina.
Jadi Joon menanggapinya dengan berkata, "aku memang selalu bahagia agar menambah ketampanan ku, memangnya kau? Nangis dan tertawa tidak ada bedanya" timpal Joon sambil bergaya cool dan sok jaim.
"Idiih perasaanmu saja tuh!! Muka-muka sepertimu kalau dijual takkan laku, dilirik saja tidak ada! Aku jamin itu!!" Balas Harris dengan gaya mengejek.
"Hai boy" sela dua perempuan yang merupakan pelanggan mereka, seketika Joon dan Harris menghentikan perdebatan mereka.
"Ya nona, bisa saya bantu?" tanya Harris.
"Boleh minta foto? Sekali saja..." Ucap perempuan itu dengan nada lembut dengan agak memohon.
"Tentu, tentu bisa, mau sebanyak apa juga boleh, enggak masalah kok" ujar Harris yang cengengesan.
Dua perempuan itu kegirangan dan segera membuka kamera ponselnya yang berlambang apel bekas gigitan itu. Keduanya tampak bersiap dengan pose andalan mereka, begitu juga Harris yang merasa menang banyak dapat berselfie dengan dua gadis cantik dan seksi itu, sedangkan Joon memundurkan tubuhnya dan memberi jalan untuk Harris keluar dari meja espresso tersebut.
"Eh? Lho kok kamu sih?" Ujar perempuan itu keheranan melihat Harris.
"Memangnya kenapa? Bukankah mau berfoto?" Tanya Harris.
"Iya sih, tapi kami mau berfoto dengan yang tampan itu" ujar dua gadis itu.
Harris menoleh ke belakang, melihat Joon dengan ketus karena para gadis itu tidak mau berfoto dengannya melainkan dengan Joon.
Joon tersungging melihat Harris yang kesal padanya, dan dengan sombongnya Joon keluar dari balik meja espresso untuk ikut berfoto dengan pelanggannya seperti permintaan mereka.
"Boleh bantu bentar?" Tanya salah seorang perempuan itu pada Harris.
Harris kembali sumringah dan segera mendekat pada mereka, "Ya, apa yang bisa kulakukan?" Sahut Harris.
"Tolong fotoin kami ya? dan harus bagus juga ya?" Tambah perempuan tersebut pada Harris.
Harris mendengus kesal meski ia mau memfoto mereka, karena lagi-lagi ia merasa di tikung oleh sahabatnya sendiri. Namun Joon tertawa kecil dikarenakan Harris yang kesal padanya.
Setelah mengambil beberapa foto mereka selayaknya tukang fotografer, Harris mengembalikan ponsel ke perempuan tersebut.
__ADS_1
"Kamu aktor ya atau selegram terkenal yang menyamar jadi barista disini?" Tanya perempuan tersebut.
"Bukan, aku hanya pegawai biasa disini" sahut Joon.
"Tapi, kamu sangat tampan cocok jadi selebriti" tambah mereka.
"Benarkah? Terima kasih" ujar Joon yang tersenyum sambil melirik Harris yang terlanjur cemberut dan melintirkan apron yang dikenakannya.
Sebelum menuju meja mereka pesan, dua gadis itu meminta khusus pada Joon untuk membuat kopi oleh tangan Joon langsung tanpa campur tangan orang lain.
"Tidak laku ya? Kalau dijual tidak ada yang lirik?" Goda Joon pada Harris.
"Terserah katamu!" Sembur Harris.
Harris kembali ke belakang meja kerjanya dan diikuti Joon yang tidak henti-hentinya menggodanya sehingga membuat mereka saling melempar kata-kata kesal terutama Harris.
PLAAK!
Sebuah nampan melayang dan mendaratkan di kepala Joon hingga mengejutkan keduanya, terlebih Joon yang meringis sambil memegangi kepalanya. Saat melihat orang dibelakang mereka, seketika Joon dan Harris kaget dan mendengus kesal.
"Kerja! Kerja! Kerja! Kerja sana! Jangan main saja tahunya!!" Sembur seorang wanita yang memukul kepala Joon dengan nampan dipegangnyanya.
"Apa-apaan sih kak Gia main tabok aja? Sakit tahu!!" Dengus Joon pada perempuan pirang itu.
"Betul tu kak Gia" celetuk Harris.
PLAK!!
Kali ini nampan kosong itu mendarat di pucuk kepalanya Harris, memaksanya meringis juga seperti Joon.
"KAU JUGA! enggak usah genit-genit jika uang saku hanya cukup buat beli pulsa doang! Perempuan itu butuh perawatan untuk selalu cantik dan tidak butuh tampang!" Terang Gia pada dua juniornya itu.
"Oh gitu ya kak? Makanya kak Gia pacaran sama bos, biar perawatan selalu, karena bos kan orang kaya dan banyak duit?" Sela Joon sembari tersenyum jahat pada Gia.
"Iiih bocah ini!! Kalo bicara suka sembarangan! Ku pukul lagi baru tahu rasa!" Tambah Gia dan semakin garang.
"Kak-kak Gia, bos datang kesini tuh" gumam Harris sambil menunduk.
Secepatnya Gia memperbaiki postur tubuhnya, dari yang garang menjadi anggun, bahkan ia merapikan rambut dan dandanannya sambil bercermin di nampan berbahan stainless tersebut.
"Sini nampannya kak, biar aku yang pegang" kata Joon pada Gia.
Joon dan Harris juga agak menundukkan kepala mereka dengan sikap penghormatan. Gia yang sudah rapi dengan senyuman terbaiknya segera berbalik badan untuk bertemu sang kekasih dan betapa kesalnya ia pada kedua junior itu, karena ia telah dikerjain oleh mereka. Dibelakang Gia tidak ada siapapun kecuali pelanggan yang berlalu-lalang dan tidak ada bos yang dibicarakan Harris dan Joon.
"Awaaaass kalian ya!!!" Pekik Gia yang kembali menoleh pada Joon dan Harris.
__ADS_1
Joon dan Harris yang sudah menjauh dari Gia terus tertawa, sambil mengangkat nampan Joon melakukan penghormatan pada perempuan yang terlanjur kesal itu.
Mengabaikan pegawai yang lain Gia menghampiri Joon dan Harris untuk memarahi mereka, namun Harris dan Joon tampak serius dengan pekerjaan mereka.
"Heiii kalian! Jangan sok rajin di depanku! Aku sudah hapal kebulusukan kalian!" Seloroh Gia pada keduanya.
"Kak Gia, bos di sini" kata Joon setengah berbisik.
"Kau kira aku akan terjebak kedua kalinya, itu tidak akan terjadi, jangan harap..!!!" Dengus Gia.
Joon dan Harris kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan mereka dan mengabaikan kemarahan Gia.
"Sayang?" Ucap seorang lelaki yang berdiri di belakang Gia.
Sontak perempuan yang dipanggil itu menoleh ke asal suara tersebut dan sosok dibelakangnya ialah bos-nya sekaligus kekasihnya.
"Kenapa kau marah-marah dengan mereka?" Tanya laki-laki itu.
Gia menyeringai dan memamerkan keindahan senyumannya yang dibuat-buat itu, bahkan ia juga sempat tersenyum pada Joon dan Harris, ia juga melembutkan nada bicaranya pada mereka berdua di depan sang kekasih. Sikapnya itu malah di tertawakan oleh dua pemuda itu yang berdiri di belakang meja kopi.
"Joon, buatkan kopi latte dan bawakan ke meja 19" titah bos tersebut pada Joon.
"Baik bos" sahut Joon.
Meski ada pelayan yang bertugas menyajikan ke meja pelanggan, tapi Joon tidak mau membantah perintah atasannya apalagi pelanggan karena baginya dan teman-teman seprofesinya pelanggan adalah raja jadi mereka akan melayani pelanggannya dengan sebaik mungkin.
"Awas kalian! Jika aku jadi nikah sama Niko, kalian orang pertama yang akan ku pecat!" Ancam Gia yang berbisik pada Joon dan Harris.
Namun tidak satupun dari mereka berdua yang peduli dengan ancaman tersebut, karena Gia sudah seperti kakak bagi mereka berdua yang selalu membimbing mereka walaupun ia terlihat kejam. Mereka juga sudah saling mengenal sifat masing-masing jadi dimarahin atau apapun itu bukanlah sesuatu yang patut di waspadai, karena Gia tidaklah seperti yang terlihat. Ia juga sangat sering bercanda dengan Joon dan Harris di sela-sela kesibukan mereka.
Setelah membuat kopi sesuai pesanan dan dilengkapi dengan munu andalan kafe tersebut, Joon siap menyajikan ke meja pelanggannya seperti yang diperintahkan oleh bosnya. Namun melihat sosok yang menghuni meja 19 membuat Joon enggan untuk mendekat tapi ia juga tidak bisa menolaknya karena itu salah satu pekerjaannya.
Tanpa basa-basi Joon menyajikan pesanan tersebut ke meja yang dikatakan oleh bosnya tadi.
"Pintar juga kamu gambar" celetuk si pemilik meja 19, yang merupakan Darel Vigor sang sepupunya.
Joon melihatnya tanpa bereaksi apapun.
"Ternyata kau jadi pelayan di sini?" Ucap perempuan di sebelah Darel Vigor, perempuan berbibir penuh dan menggoda itu melihat Joon dari bawah sampai atas kepalanya.
Mendapat kalimat itu, Joon hanya tersungging tanpa menyahutinya.
Bersambung.....
wahai pembaca yang baik hati dan rajin menabung calon orang kaya, tolong dong jangan pelit-pelit lihat dan vote nya biar author semangat ngetiknya....
__ADS_1