
Sepanjang mata memandang hanya ada hamparan salju yang bagaikan permadani putih raksasa yang menutupi daratan, tidak peduli itu pekarangan rumah atau jalanan, semuanya tampak sama, hanya saja jalanan sudah di bersihkan dari gumpalan es oleh petugas khusus agar tidak terjadinya kecelakaan yang membahayakan pengguna jalan, namun tetap dianjurkan untuk selalu berhati-hati saat melintasi jalanan.
Sudah seminggu Shaina membaur dengan salju dan ia masih sangat kagum melihat salju walaupun ia tidak kuat berlama-lamaan di luar rumah. Seperti sekarang ia terus menggenggam tangan mungil Alice agar dapat menghangatkannya sedikit dirinya walaupun sudah menggunakan mantel bulu yang cukup tebal dan di lengkapi sepatu boot serta topi khusus musim dingin yang di padukan dengan sarung tangan tebal.
Karena tidak punya mobil lagi, Joon mengajak mereka menggunakan kereta bawah tanah setelah turun dari bus untuk sampai di tempat tujuan mereka.
Shaina di buat gugup saat untuk pertama kalinya naik kereta, apalagi kereta listrik. Joon selalu siaga melindungi keluarga kecilnya bahkan disaat berdesak-desakan di pintu masuk kereta, beruntung semua orang taat peraturan jadi tidak ada yang namanya dorong-mendorong agar dapat masuk ke dalam kereta.
Berbagai ras, etnis dan warna kulit, semua berkumpul di dalam gerbong tersebut, Shaina kagum sendiri melihatnya karena ia belum pernah melihat orang-orang berbeda seperti itu secara langsung. Alfan dan Alice duduk menghimpit Shaina di tengah-tengah mereka sedangkan Joon duduk bersebelahan dengan Alfan.
Karena di kota terkenal itu sedang ada perayaan tahunan, jadi tidak heran jika banyak orang yang berkumpul termasuk dalam kereta yang memaksa sebagian harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Mendadak seorang lelaki tua berdiri di depan Alfan karena tidak punya tempat duduk. Timbul rasa iba dari Shaina melihat pria setua itu harus berdiri lama, apalagi tampak semua mata mencoba berpaling dari pria itu, padahal kebanyakan dari mereka adalah orang-orang muda bertubuh sehat jauh dari fisik yang dimiliki pria tua itu.
"Pak, silahkan duduk" ujar seorang lelaki yang bangun dari tempat duduknya dan meminta pria tua itu mengambil tempat duduknya.
"Tapi nak" ucap pria tua itu.
"Tidak apa-apa, silahkan duduk saja" sambung laki-laki muda itu yang tak lain adalah Joon sendiri.
Pria tua itu akhirnya duduk di tempat Joon sebelumnya dan Joon sendiri berdiri, Shaina tersenyum lebar pada Joon yang mengedipkan matanya pada dirinya.
Seorang lelaki lainnya berdiri di depan Shaina karena tidak kebagian tempat duduk, itu membuat Shaina jadi risih apalagi lelaki itu tampak depan sengaja berdiri di dekat kaki Shaina, dimana sesekali ia tampak melirik-lirik Shaina yang di sertai dengan mengedipkan matanya. Tidak hanya itu, saat kereta terguncang pria itu dengan sengaja memiringkan pinggulnya kearah Shaina, spontan Shaina kaget dan takut.
Akibat keberadaan laki-laki tersebut membuat Joon terganggu apalagi ia menangkap perlakuannya yang tidak seharusnya di lakukan pada Shaina.
"Tuan, bisakah Anda berpindah tempat?" Joon mengarahkan pandangannya ke ujung gerbong, "disana kosong, anda bisa berdiri di sana" kata Joon pada pria itu.
"Kalau aku tidak mau kenapa?" Timpal lelaki itu.
"Tapi istri dan anak-anakku terganggu dengan keberadaan anda di sini" ungkap Joon.
Ucapan Joon menarik perhatian penumpang lainnya, bahkan Shaina dan anak-anak ikut terkejut mendengar pengakuan Joon yang mengakui mereka sebagai istri dan anaknya.
"Istrimu atau bukan aku tidak peduli, lagian nona manis ini tidak keberatan, ya kan nona cantik?" Ujar lelaki itu sambil melempar senyum pada Shaina.
Shaina mengerjap cemas, ia semakin menggenggam tangan-tangan mungil di kembar. Tapi Joon tidak tinggal diam ia langsung meraih kerah baju laki-laki itu dan mencengkeramnya dengan kuat.
__ADS_1
"Dasar brengs*k! Sudah ku peringatkan tapi kau tidak mau mendengarkannya!" Pekik Joon, dengan tatapan bak seekor elang yang siap memangsa buruannya.
Laki-laki itu berusaha melepaskan kerah bajunya yang di cengkeram itu sampai-sampai ia mendorong Joon tapi usahanya tidak membuahkan hasil, dengan kuat Joon menghempaskan tubuh lelaki itu ke lantai kereta, sehingga aksi mereka jadi tontonan penumpang yang lain.
"Joon, sudah cukup" ucap Shaina mencegat tangan Joon yang kembali hendak mendekati lelaki yang tersungkur ke lantai tersebut.
"Dia ini harus di beri pelajaran, agar tidak seenak melakukan pelecehan di tempat umum" ujar Joon.
Mendengar pernyataan Joon, beberapa pria mulai mendekati si laki-laki yang tersungkur itu, mereka berencana ingin memberi peringatan yang sama seperti yang dilakukan Joon, sehingga si laki-laki tersebut tampak ketakutan dan berusaha kabur tapi yang lain dengan cepat menangkapnya kembali.
Seorang pria berkulit hitam dengan tubuh yang cukup besar dan berotot berkata, "tenang saja pria ini tidak bisa kabur, di pemberhentian ada polisi yang sudah menunggunya".
Joon kembali berdiri di depan Shaina dan suasana kembali kondusif.
"Papamu orang hebat" ujar pria tua sebelumnya pada Alfan.
Alfan tersenyum, "iya, itu Papaku" sahut Alfan.
Shaina dan Joon tersenyum mendengar pernyataan Alfan.
"Terima kasih, saya disini saja" sahut Joon.
"Ya tentu menolaknya, anak muda ini tidak mau berjauhan dengan keluarga kecilnya, apalagi istrinya sedang hamil tua" celetuk ibu-ibu di sebelah Alice.
Penumpang yang lain ikut memperhatikan Shaina terlebih lagi perutnya yang lebih menonjol di balik mantel tebalnya.
"Selamat ya..." Ucap para penumpang pada Joon dan Shaina.
"Sudah berapa bulan?" Tanya ibu-ibu sebelumnya pada Shaina.
"Sudah tujuh bulan" sahut Shaina.
"Wah bentar lagi kalian mau punya adik bayi ya? Pasti senang" tambah perempuan itu lagi.
"Iya, kata Mama dan pam- eh Papa adik bayinya cewek seperti Alice" sahut Alice dengan polos selayaknya anak kecil.
__ADS_1
"Oh namamu Alice?" Tanya ibu-ibu yang lain.
Alice tersenyum lebar sambil memeluk Shaina.
"Tidak nyangka anak muda sekarang masih muda sudah punya banyak anak" celetuk yang lain.
Penumpang yang lain ikut tersenyum pada Joon, bagaikan seorang pahlawan yang mereka pikir Alfan dan Alice serta kehamilan Shaina hasil kerja kerasnya. Namun bagi Shaina itu sudah cukup membuatnya tersipu malu apalagi Joon ikut cengengesan dengan yang lain seolah membenarkan anggapan mereka.
Kereta berhenti di stasiun, awak penumpang mulai mengosongkan tempat mereka untuk menuju ke tempat tujuan masing-masing, tidak terkecuali Shaina dan sekeluarga, tapi ia mengalami kesulitan untuk bangkit dari tempat duduknya tapi Joon dengan sigap memegangi Shaina untuk membantunya bangun dari tempatnya.
Turun dari kereta, mereka menuju ke atas melalui eskalator, Shaina masih belum terbiasa dengan perkembangan jaman tersebut jadi ia terus berpegangan pada lengan Joon untuk menyeimbangkan tubuhnya dan tidak terguncang.
VISUAL
hadiah Ied...🎁
JOON RAFARDHAN : muda, energik, badboy, humoris dan masih banyak kebulusannya
SHAINA HAFIZHAH : muda, naif, sensi-an, suka belajar, dan masih banyak yang belum terungkap
HELENA : pintar, cerdas, karismatik, seksi.
Alfan dan Alice
; si manis, manja, dan suka belajar
MENCOBA MEMBERI VISUAL, ENTAH COCOK ATAU TIDAK. TAPI AUTHOR SUKA DENGAN MEREKA. TAPI BAGAIMANA DENGAN READER SEKALIAN? SESUAI TIDAK???
__ADS_1
BUTUH SARAN