Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Dandanan Alice


__ADS_3

Secepatnya Shaina mengambil boxer milik Joon yang jatuh lalu di selipkannya kembali diantara lipatan pakaian lainnya untuk segera dibawanya ke kamar karena tidak ingin berlama-lamaan di depan Calvin. Namun, tanpa disadarinya ternyata lelaki itu malah terus menatapnya yang masuk ke kamar Joon, yang mendadak ekspresinya jadi dingin sambil tersenyum tipis. Saat Shaina kembali ke ruang tamu, menemui Calvin ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan menyampingkan rasa malunya itu.


Shaina ikut duduk di sofa, sisi berlawanan dengan Calvin.


"Maaf, membuatmu menunggu" ucap Shaina memulai percakapan dengan dokter muda itu.


"Tidak masalah" Calvin tersenyum, "anak-anak tidak bersekolah?" Tanya Calvin sambil melempar pandangannya pada Alice dan Alfan.


"Tidak, karena di luar sangat dingin aku khawatir mereka terkena flu" sahut Shaina.


"Benar juga" Calvin mengangguk sembari melihat ke luar jendela "sebentar lagi pasti akan turun salju" ujarnya.


"Salju?" Shaina mengerjap, ia terkejut mendengar Calvin mengatakan akan turun salju.


"Iya, memangnya kau tidak tahu?".


"Mana aku tahu! Ditempat ku hanya ada turun hujan dan tidak ada namanya salju kecuali dalam freezer" Shaina berjalan cepat ke jendela untuk melihat langit yang tertutup awan dengan senyuman yang merekah di bibirnya membuat Calvin tidak berkedip memandanginya.


"Hati-hati bergerak, ingat bayimu" sergah Calvin yang ingin menangkap tubuh Shaina karena ia berjalan terburu-buru ke jendela.


Shaina tersungging pada Calvin dan ia kembali menatap langit lewat jendela yang seakan sedang tertutup kabut dingin, ia tidak henti-hentinya berdecak kagum dan sangat senang untuk menunggu salju turun. Calvin pun ikut tersenyum lalu ia mengajak Shaina untuk duduk kembali agar ia tidak berdiri terlalu lama mengingat ia dalam keadaan hamil.


"Sepertinya kau menikmati jadi ibu rumah tangga" celetuk Calvin sambil melirik Shaina.


Shaina tersungging saat melempar pandangannya pada lipatan pakaian di sofa, sembari mengangguk ia berkata, "ya.... mau bagaimana lagi, kan enggak mungkin aku diam saja melihat anggota rumah ini menumpuk pakaian mereka begitu saja?" Ujar Shaina.


Calvin tersungging, "kau benar" sahutnya.


Obrolan mereka berlangsung cukup lama dan banyak hal menarik mereka bahas, sehingga tercipta suasana yang menyenangkan dan akrab, sudah bukan rahasia lagi Shaina orang yang mudah tersenyum bahkan sampai tertawa hingga tertular pada Calvin yang menjadi teman obrolan mereka.


"Kemarin aku melihat mu di rumah sakit dengan jas putih itu" kata Shaina.


Calvin tersenyum sambil mengangguk.


"Kau seorang dokter?" Tanya Shaina.


Calvin kembali mengangguk dan tersenyum.


"Oh... Pantas saja kau itu sangat protektif" gumam Shaina.


Calvin menatapnya dengan ekspresi bingung.


"Ya seperti tadi, kau itu terus menyuruhku berhati-hati dari tidak boleh melakukan ini tidak boleh melakukan itu" kata Shaina yang terkekeh dan Calvin yang mendengar celotehannya juga ikut terkekeh.


"Pak dokter ini, dokter spesialis apa?" Tanya Shaina.


"Bedah, ya aku dokter bedah" sahut Calvin.


"Waaaahhh Keren! Pantas saja kau sangat berwibawa dan keren! Pokoknya kau terlihat sangat luar biasa" puji Shaina dimana ia sangat piawai dalam memuji seseorang.


Calvin tersungging hingga menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi, "ada-ada saja kau ini".

__ADS_1


"Tapi tahu tidak kita punya kesamaan lho!" Celetuk Shaina.


"Apa?".


"Kita sama-sama ahli menggunakan gunting dan jarum, kau ini sering memotong perban dan menyatukan luka orang dengan jarum sedangkan aku biasa memotong kain lalu menyatukannya menjadi pakaian" ungkap Shaina.


"Emm... Berarti kita saingan kalo gitu" sahut Calvin sambil mengedipkan matanya pada Shaina.


Shaina terkekeh bersama Calvin dan tidak jarang ia memuji pekerjaan Calvin yang menurutnya luar biasa itu. Begitu juga dengan Calvin yang memuji kemampuan Shaina.


Obrolan yang cukup lama itu diakhiri Calvin yang berpamitan pulang dan Shaina hanya mengantarkannya sampai ke pintu saja, mereka masih berbalas senyuman meski Calvin sudah memutar mobilnya.


Mobil Calvin sudah hilang dari kejauhan tapi Shaina masih nangkring di depan pintu sambil cengengesan dalam hayalannya.


"Gila Joon! Udah ganteng bergaul sama orang ganteng pula, ada hikmahnya juga aku terjebak dalam tubuh nona Helena meski hamil tapi bisa ikut nongkrong bareng orang ganteng" decak Shaina sambil terkekeh mengingat keberuntungannya yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.


Perempuan itu terus cengengesan di depan pintu, ketika deruan angin menyapunya Shaina mengerjap kaget, dan segera berlari kedalam rumah dan sekali lagi dikagetkan dengan Alfan yang tiba-tiba berdiri di depannya.


"Huff!!!" Hembus Shaina sambil mengatur pernafasannya yang tersengal-sengal.


"Mama, Alice lapar" seru Alice yang duduk di pojokan setelah lelah bermain puzzle dengan saudara kembarnya.


"Iya sayang, ayo kita makan" sahut Shaina.


Di dapur Shaina dikejutkan dengan meja makan yang kosong karena lupa memasak gara-gara keasikan ngobrol bareng Calvin tadi, jadi Shaina meminta Alice dan Alfan membantunya memasak.


Jam pulang kerja usai, Harris heran melihat Joon menunggu bis di halte dan ia menghampirinya untuk bertanya.


"Mana mobilmu?" Tanya Harris.


"Mobilmu mogok lagi?" Sambung Harris.


Respon yang sama kembali ditunjukkan Joon tanpa menjawab pertanyaannya.


"Ayo pulang bareng yuk!" Ajak Harris.


"Arah rumah kita berbeda" kilah Joon.


Meski sempat menolak ajakan Harris pulang bersama, tapi tidak lama kemudian Joon mau menerima ajakan tersebut karena ia juga ingin segera berada di rumah. Hanya lima belas menit perjalanan saja dari kafe ke rumah Joon akhirnya mereka sampai di rumah, sebagai rasa terima kasihnya Joon mengajak Harris untuk mampir sebentar ke rumahnya.


Melihat Joon membuka pintu dan masuk ke rumah Shaina segera hampiri sambil membantu Joon menyimpan mantel tebal yang baru dilepaskan Joon.


"Bagaimana hari ini?" Tanya Shaina sembari melepaskan mantel yang dikenakan Joon, aksi mereka sudah seperti anak kecil yang sedang diurusin oleh sang ibu.


"Tidak ada masalah, semuanya berjalan lancar" sahut Joon.


Setelah mantel yang menutupi tubuh Joon di lepaskan, Shaina menyangkut baju hangat nan tebal itu kedalam lemari yang terdapat di belakang pintu.


Joon berjalan ke arah sofa lalu merebahkan tubuhnya di sana yang disamperin Alfan juga untuk ikut duduk bersandar di dekatnya. Melihat ada Alfan di sampingnya Joon beraksi kejahilannya untuk menggoda bocah laki-laki itu dengan candaannya yang kerap membuat Alfan kesal dan jengkel.


Tapi kali ini Alfan tidak terpancing oleh candaan pamannya malahan ia menawarkan bantuan untuk memijat pundak Joon yang sejak tadi terus merenggangkan otot-ototnya terutama otot lehernya yang terasa kaku dan pegal-pegal karena bekerja seharian. Tawaran Alfan langsung di terima Joon tanpa penolakan karena ia memang membutuhkannya.

__ADS_1


"Alice mana?" Tanya Joon pada Shaina, karena ia belum melihat gadis itu.


"Alice dikamar tadi" sahut Shaina yang ikutan duduk di sebelah Joon.


Melihat Joon sedang menikmati pijatan relaksasi dari Alfan, Shaina malah datang mengganggunya sambil mencuil-cuil dan mencubit lengan Joon. Tapi bukannya merasa terganggu Joon malah menikmatinya sambil tersenyum melihat tingkah perempuan itu.


"Ada yang mencari ku?" Tanya Alice yang keluar dari kamar.


Sontak semua mata tertuju padanya dan tidak lama kemudian mereka tertawa terbahak melihat Alice yang berdandan menor.


"Kau mau main sirkus dimana?" Tanya Alfan yang terkekeh.


Lipstik merah menyala dibibir Alice sudah memenuhi seluruh permukaan bibir bahkan sudah keluar dari bentuk bibir, pewarna pipi juga sangat terang belum lagi eyeshadow dan eyeliner yang di gunakan sangat tebal, wajah manis Alice sudah seperti memakai topeng yang jelek. Oleh karena itu semua orang yang melihatnya akan tertawa.


"Alice! Apa yang kau lakukan?" Tanya Shaina yang kaget tapi ia tidak tertawa seperti yang dilakukan Joon dan Alfan untuk menjaga perasaan Alice.


Karena tertawaan Joon dan Alfan, sontak membuat gadis kecil itu kesal dan malu hingga sampai ia menangis. Dia langsung ke kamar dan menghantam daun pintu dengan keras saat menutupnya.


"Hueekkk!!!! Mama....!" Pekik Alice yang terdengar dari dalam kamar.


Shaina bergegas menghampiri Alice yang menangis tapi ia tidak bisa membuka pintu karena Alice lebih dulu menguncinya dari dalam kamar.


"Alice buka pintu! Ini Mama," seru Shaina tapi Alice tidak bergeming membuat Shaina semakin khawatir dengan keadaan gadis itu.


Shaina terus menggedor-gedor pintu membujuk Alice untuk membuka pintu sedangkan Alfan dan Joon masih tertawa tanpa memikirkan perasaan Alice. Tapi tidak dengan Shaina, meski ia ingin tertawa melihat gadis itu namun ia tidak sampai hati. Shaina terus meminta Alice membuka pintu hingga beberapa kali dan akhirnya pintu terbuka.


Melihat Alice berdiri dibalik pintu sambil air matanya yang bercucuran Shaina memeluknya dan menciumi keningnya.


"Jangan nangis ya sayang, ayo kita bersihkan wajah mu" ratu Shaina dengan lembut.


"Alfan dan paman..." Sungut Alice.


"Jangan hiraukan mereka, nanti Mama marahin yang penting Alice jangan nangis lagi ya?" Ujar Shaina.


Alice mengangguk kecil, lalu ia ke kamar mandi bersama Shaina untuk membersihkan wajahnya dari alat makeup. Usai membersihkan wajah Alice dan Shaina kembali keluar menghampiri Joon dan Alfan yang masih terkekeh saat melihatnya.


Shaina kembali duduk bersama Alice dan matanya melirik tajam pada dua laki-laki itu.


"Siapa yang berani tertawain Alice akan ku jewer" ancam Shaina yang membuat mereka terdiam meski sambil menahan tawa.


Walaupun Joon dan Alfan masih cengengesan tapi suasana sudah terkendali, Alice tidak lagi menangis ia bahkan terus mendekap Mamanya untuk mendapatkan kehangatan dan perlindungan.


TUK! TUK! TUK!


Terdengar ketukan pintu, Shaina maupun Joon heran siapa yang bertamu ke rumah mereka.


Joon mengerjap heran melihat dua orang yang berada di balik pintu rumahnya.


"Ngapain malam-malam kalian kesini?" Tanya Joon pada orang itu.


"Siapa Joon?" Tanya Shaina yang penasaran dengan si tamu.

__ADS_1


"Selamat malam Shaina" sapa Harris yang tersenyum lebar pada Shaina.


"Malam, silahkan masuk" kata Shaina pada Harris dan Calvin yang berkunjung.


__ADS_2