
️Alarm jam berdering dengan volume yang sudah diatur sesuai keinginan Shaina agar tidak menggangu tidur anak-anak. Meski tubuhnya terasa lelah karena kurang tidur semalam tapi ia harus bergegas bangun pagi untuk menjalankan ibadahnya dan setelahnya mempersiapkan sarapan untuk anak-anak.
Langkahnya Shaina terhentikan dekat sofa di ruang tamu, melihat Joon tertidur pulas yang hanya berselimutkan kain tebal membalut dirinya. Ada rasa kelegaan dari Shaina melihat Joon tidur di ruang tamu dan membiarkan Marissa seorang diri tidur di kamarnya. Seketika senyuman Shaina yang sempat hilang kembali mengembang dari bibirnya, ia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda di dapur.
Bunyi dencangan alat perabotan dapur bergemetam yang juga diikuti suara air yang keluar dari kran memenuhi dapur. Shaina begitu sibuk dengan urusan memasaknya tanpa disadari dirinya sedang diperhatikan oleh Joon yang baru masuk ke dapur.
"Waaaahhh! Pagi-pagi sekali kau sudah bermain musik di dapur" celetuk Joon yang tersungging melihat kesibukan perempuan hamil itu.
Shaina sempat mengerjap tapi ia melanjutkan kegiatan memasaknya tanpa menghiraukan keberadaan Joon yang bahkan selangkah demi selangkah telah mendekatinya. Hingga Joon berdiri didekatnya dan memandangnya, Shaina masih teguh dari sikap acuh tak acuhnya.
"Sepertinya Mama Elif pagi ini senang sekali" gumam Joon.
Perkataan Joon hanya bisa membuat Shaina melirik kesal tanpa ada respon positif seperti yang diharapkan Joon, dimana Shaina suka sekali bercanda dan tertawa ataupun tersenyum.
"Perempuan hamil itu tidak boleh bekerja terlalu berat dan sering cemberut nanti anaknya jadi jelek" kata Joon yang menghalangi jalan Shaina.
"Jangan ganggu aku Joon, aku harus menyiapkan sarapan untuk anak-anak" kata Shaina.
"Baik aku akan minggir, tapi kamu harus mengatakan kenapa ibu hamil ini bisa cemberut kayak gini pagi-pagi" ujar Joon yang berdiri di depan Shaina.
"Siapa yang cemberut? Aku hanya lagi serius saja untuk menyiapkan sarapan anak-anak" sahut Shaina.
"Anak-anak saja? Lalu bagaimana denganku? Memangnya aku tidak penting?".
"Kau bisa masak sendiri atau kau suruh pacarmu saja yang memasak, masakanku tidak enak" ketus Shaina.
"Ohoho... Jadi ceritanya kau sedang marah, gara-gara Marissa menginap?" Joon tersungging dan mendekat pada Shaina.
__ADS_1
Shaina membuang muka dari Joon seraya berkata, "Siapa yang marah? Lagian apa hak ku marah pada mu, kalian pasangan kekasih yang bebas" ucap Shaina.
Tiba-tiba Shaina tersentak, "Aah!!" Teriaknya yang kaget karena Joon menarik pinggangnya menjadikan mereka sangat dekat. Mata Joon menyeka setiap ekspresi Shaina, menatap lekat-lekat mata Shaina.
"Semalaman aku tidak bisa tidur, aku juga tidak bersama Marissa bahkan aku tidak sedekat ini dengannya" bisik Joon.
Wajah Joon yang merunduk membuat mereka sangat dekat sampai-sampai hembusan nafas menyapu telinga Shaina yang menyebabkannya bergidik tanpa alasan.
"Jangan pegang-pegang kita bukan muhrim" timpal Shaina yang melepaskan tangan Joon dari pinggangnya.
"Ayo kita jadi muhrim biar aku bisa pegang-pegang" ucap Joon.
Spontan Shaina mendorong Joon untuk menjauh darinya, ia berkata, "bicaranya dipikirkan dulu jangan asalkan ngomong!" Timpalnya dengan kesal.
Joon terkekeh mendapati dirinya ditolak mentah-mentah, padahal belum seorangpun perempuan mendorongnya saat ia merayu atau menggencarkan pesona seksinya. Lagi-lagi Shaina mengabaikan Joon yang mulai terdiam itu, Shaina kembali melanjutkan memasak. Tapi perlahan Joon mendekat dan tiba-tiba jari jemarinya menyeka bibir Shaina yang seketika Shaina tidak bisa bergerak lagi seakan dirinya benar-benar telah terbius oleh Joon.
"Se-sepert-inya ba-bau aneh itu memang dari mulutku, ka-karena aku lupa sikat gigi tadi" ucap Shaina yang tiba-tiba, membuyarkan adegan selanjutnya.
Joon melepaskan Shaina dan memundurkan langkahnya sambil mengerjap.
Shaina cengengesan pada Joon, "kau mencium bau tak sedap itu kan? Aku juga menciumnya, tapi aku baru sadar bau itu ternyata dari mulutku karena lupa sikat gigi, pantas saja kau memegangi bibirku karena mau melihat gigiku yang kuning, hehe...!!!" Kilah Shaina.
Lalu Shaina permisi ke kamar mandi untuk sikat gigi agar tidak bau mulut. Tentunya itu hanya sebagai alasannya untuk menghindari Joon, karena ia tahu bahwa tadi Joon benar-benar ingin menciumnya bukan untuk mencium aroma bau mulutnya, Shaina sebelumnya juga sudah sikat gigi.
Shaina bergegas masuk ke kamar mandi di kamarnya, ia meringkuk tubuhnya. "Sial!! Kenapa aku pake ngomong bau mulut segala? Ini benar-benar memalukan! Dasar otak lemot kenapa tidak pakek alasan yang lain saja?" Gerutu Shaina sambil menjambak rambutnya sendiri, "iihhh...dia juga ngapain pake cium-cium segala??? Bisa malu tujuh keturunan aku jika berciuman sebelum menikah" lanjutnya.
Joon yang ditinggal seorang diri di dapur melanjutkan pekerjaan Shaina yang menyiapkan sarapan pagi.
__ADS_1
"Sial...! Apa yang ku lakukan? Padahal niatnya mau bercanda tapi malah kebablasan, pakek acara mau cium segala!!" Cicit Joon, ia memegangi mukanya di depan penggorengan.
"Sial! Siaall!!!" Pekik Joon lagi.
Tapi tiba-tiba sepasang melingkari pinggang Joon dan ia segera melihat yang ternyata Marissa yang memeluknya.
"Apa yang kau lakukan?" Berang Joon.
"Joon, aku kangen..., Kau tadi malam juga tidak tidur di kamar" kata Marissa yang kembali melancarkan aksinya untuk memeluk kekasihnya itu.
Lagi-lagi Joon menolak di peluk, "Marissa! Sudah aku katakan tadi malam, sebaiknya kita jangan melewati batas dan jika ingin melanjutkan hubungan ini kita harus saling menghargai terutama masalah keyakinannya ku" kata Joon.
"Apa yang kau khawatirkan lagian banyak pasangan di luar sana melakukan yang dilarang dalam keyakinannya mereka?"
"Itu mereka bukan aku! Dan mulai sekarang kita tidak boleh seperti dulu lagi!" Tukas Joon.
Bukan maksud ingin menguping pembicaraan pasangan kekasih itu hanya saja waktu Shaina datang ke dapur yang tidak tepat karena ia tidak tahu jika Marissa ternyata ada bersama Joon saat itu, jadi mau tidak mau ia harus bergabung meski dengan berpura-pura seakan tidak mendengar apapun. Joon pun yang melihat Shaina kembali ke dapur segera membantunya memasak sarapan.
"Kamu ini sudah kelewatan! Aku males bicara denganmu, kita lihat saja sampai kapan kau bertahan!" Tukas Marissa. Ia berbalik arah, pergi dari dapur meninggalkan Joon dan Shaina yang sama-sama telah dikuasai rasa canggung keduanya.
Shaina kembali melanjutkan mengiris bawang bombay dan memotong-motong sosis yang diambilnya dari dalam kulkas. Joon membuat susu khusus ibu hamil untuk Shaina dan susu untuk Alice dan Alfan. Joon maupun Shaina terus saja memalingkan wajah mereka agar tidak papasan walau pada akhirnya mereka saling melihat juga dikarenakan berada di ruangan yang sama dan kegiatan yang sama juga.
"Aku bangunkan Alfan dan Alice dulu ya, agar tidak terlambat ke sekolah" kata Shaina yang mempercepat mencuci tangan di wastafel.
Joon tersungging hingga terkekeh, dan mengarahkan pandangannya pada Shaina, ia berkata, "kau lupa? Mereka diskors dari sekolah".
Shaina mengerenyit keningnya lalu ia tampak terkekeh sambil memegang kepalanya, "Oh ya... Kenapa aku bisa jadi pelupa gini?" Gumamnya.
__ADS_1