Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Kedua kalinya


__ADS_3

"Kakek... Kami mohon izinkan Mama bersama kami lagi, dan kami akan sering-sering mengunjungi kakek saat libur sekolah, atau Kakek juga bisa mengunjungi kami, jika papa tidak membiayai perjalanan kakek, kami akan membiayainya kami akan menabung, asalkan kakek bisa bertemu Mama" mohon Alfan dan Alice yang berlutut pada ayahnya Shaina.


"Kakek, Elliiss cuga cayang kakek, Elliiss cuga cayang nenek, paman cemua, Elliiss cayang cemuanya..." Sambung Elif yang berjalan pada pak Rahmat dengan langkah kecilnya.


Pak Rahmat mengangkat Elif ke dalam gendongannya, "Mama kalian tidak boleh ikut dengan Papa kalian sebelum menikah kembali" tukas pak Rahmat yang melegakan mereka terutama Joon dan Shaina.


"Hohop! Main peluk-peluk aja, memangnya mau kena gagang sapu lagi apa? Nikah dulu baru boleh" sela Adnan dan Jamal yang menghadang Joon.


"Maaf" sahut Joon, menggigit bibirnya menahan malu karena ulahnya sendiri.


Shaina kembali memakai pakaian tertutup dan sopan, tak lama setelahnya ijab kabul itu selesai dan mereka kembali menjadi suami istri. Lagi-lagi Joon menugaskan Harris untuk menyewa sebagian hotel itu tersebut sebagai hukumannya yang pernah meragukan Joon mengenai sosok Shaina.


Joon sengaja tidak memberi tahu Shaina dan yang lainnya jika dia tidak lagi miskin melainkan ia sekarang dapat memilih segala fasilitas yang diinginkan, seukuran hotel yang sedang mereka gunakan sangatlah kecil bagi Joon, ia bahkan bisa membeli semua hotel di kota itu jika ia mau, tapi ia tidak ingin memamerkan kekayaannya pada siapapun dan membiarkan Shaina tahu sendiri saat mereka pulang ke Wina nanti.


Orang-orang berpikir Harris lah yang mengeluarkan banyak uang untuk pernikahan Joon. Orang tua Harris yang tahu semuanya juga ikut menutup mulut seperti teman-teman Joon yang lain, mereka sangat tahu Joon yang sekarang adalah orang yang ramah dan sederhana meski ia memiliki segalanya bahkan jika ia mau ia bisa hidup seperti di kerajaan, yang semua keperluan dan kebutuhan ada yang ngurusin tapi Joon bukanlah orang seperti itu, ia berusaha mandiri bahkan mengajarkan pada anak-anaknya untuk tidak menggunakan tenaga pelayan jika mereka masih bisa melakukannya sendiri.


"Hannah dimana? Dari tadi aku tidak melihatnya" tanya Shaina pada Joon saat-saat sesi berfoto.


"Hannah sudah pulang kemarin, katanya ada urusan mendadak" sahut Joon, "memangnya kenapa kau menanyakannya?" Lanjut Joon.


"Hannah itu orang baik, dia dulu selalu menjagaku dan memanggilku kakak, bagaimanapun aku telah menganggapnya adikku juga" ujar Shaina.


"Oh! Ku kira kau masih bersaing dengannya" celetuk Joon.


"Hah?! Bersaing? Apa kau berencana aku dan dia?" Timpal Shaina.


Joon langsung menyergap Shaina kedalam dekapannya, "tidak ada yang boleh menyaingi kamu sayang, kau satu-satunya yang ku inginkan hari ini besok dan seterusnya" gumam Joon pada Shaina yang membuat pipi merona.


***


Turun dari mobil, Joon dan keluarganya memasuki rumah berlantai dua itu, Shaina merasa tidak asing dengan lokasi rumah tersebut hanya saja, bentuk dan penampilannya bangunan itu belum pernah dilihatnya.


Saat memasuki pintu utamanya sudah disuguhi para pelayan yang berbaris menunggu kepulangan mereka, tanpa diminta para pelayan itu langsung membawa koper pakaian milik anak-anak ke kamar mereka.


"Joon, ini rumah siapa? dan siapa orang-orang ini?" Shaina merasa canggung dengan orang-orang tersebut.


Joon dan anak-anak tersenyum melihat kebingungan Shaina.


"Sayang, ini rumah kita, aku telah merenovasinya agar lebih luas dan aku mempekerjakan mereka untuk membantu kita, dan kedepannya kamu tidak kerepotan di rumah" ujar Joon.


"Bagaimana kamu membayar mereka? Apa kau benar-benar pernah menikah lagi dengan anak orang kaya?" Tanya Shaina.


Para pelayan ikut tersenyum mendengar pertanyaan Shaina yang berpikir Joon tidak bisa menggaji mereka.


"Sayang, bukankah aku pernah mengatakan akan menjadikan ratuku, dan sekarang kau benar-benar menjadi seorang ratu di rumah ini, tugasmu hanya untuk menjaga anak-anak dan berikan mereka kasih sayang sebesar-besarnya dan ... Melayaniku" bisik Joon.


"Aku serius bertanya, bagaimana kita menggaji mereka?" Tambah Shaina.

__ADS_1


"Mama jangan khawatir, kita tidak seperti dulu lagi, papa sekarang sudah bekerja di perusahaan kakek" lanjut Alice.


Shaina menatap Joon, ia masih tidak mengerti maksud Alice, tapi Joon malah memperkenalkan Shaina sebagai istrinya pada para pelayan di rumahnya, sontak mereka merunduk memberikan penghormatan pada Shaina. Shaina semakin canggung tapi Joon yang menggendong Elif segera mengajaknya ke ke lantai dua.


Anak-anak juga masuk ke kamar mereka masing-masing, sedangkan Shaina masih terbengong-bengong melihat barang-barang mewah dan modern yang menghiasi setiap sudut ruangan, belum lagi furniture yang sangat berkelas, Shaina merasa seperti berada di rumah orang lain. Keterkejutan Shaina belum berakhir hingga ia memasuki kamar dengan ranjang super king size, di sisi ranjang itu terdapat boks bayi yang di dominasi warna biru muda yang tampak semakin rapi karena menyatu dengan furnitur yang mengisi ruangan tersebut.


Setelah menutup pintu kamar, Joon menurunkan Elif di ranjang dan menarik Shaina kedalam dekapannya, mengecup keningnya dengan lembut dan menatapnya dengan hangat.


"Aku merindukanmu sayang" gumam Joon sambil menciumi leher Shaina hingga membuat wanita itu geli.


"Joon, malu ada Elif" ucap Shaina.


"Ngapain malu, Elif sudah lihat kita dari dulu kok, bahkan gara-gara dia yang terus bergerak-gerak di perutmu kita jadi semakin dekat" balas Joon.


Shaina terkekeh mengingat dulu ia dan Joon selalu berhasil membuat mereka dekat karena Elif, dan ia sedikit menjerit kaget saat Joon menggendongnya secara tiba-tiba untuk ditidurkan ke atas ranjang.


"Terima kasih sayang, kau mengingatku kembali, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika kita berpisah lagi denganmu" nada suara Joon terdengar serak.


"Aku yang seharusnya berterima kasih, kau menepati janjimu menanti ku meski aku tidak tahu kau pernah ada dalam hidupku" balas Shaina, meraba pipi Joon yang kini benar-benar sudah berstatus suaminya, dari semua pihak.


Joon memejamkan matanya menikmati sensasi sentuhan lembut Shaina, setelahnya membuka matanya kembali dan mereka saling beradu pandang, dalam tatapan yang lembut dan menghangatkan.


Perlahan Joon mendekat pada wajah Shaina untuk menikmati sepasang kelopak mawar merah yang berkilau, perlahan-lahan tangannya ikut menggenggam, menyatu seiring waktu berlalu.


"Mama... Papa, Elliiss ngantuk" Elif melompat ke punggung Joon, sontak saja membuat orang tua kaget sekaligus tertawa karena Elif telah menggagalkan pengantin itu untuk memadu kasih untuk pertama kalinya setelah pernikahan ulang yang dilakukan seminggu lalu.


Tak ada keraguan lagi di hati Shaina, tentang cinta Joon padanya.


"Meski kau tidak bisa melahirkan anak-anak kita, tapi kau telah memberikanku cinta dan keluarga yang luar biasa untukku, kamu dan anak-anak hadiah terindah untukku, terima kasih sayang" lanjut Joon.


Shaina tidak bisa menahan air mata kebahagiaan yang di depan Joon, ia mencium tangan Joon sambil membiarkan air matanya keluar tumpah ruah, membasahi pipinya.


"Besok aku ingin membawa kalian ke makam orang tuaku, kakak dan Helena, kamu mau kan?" Tanya Joon.


"Tentu, tentu saja aku mau" sahut Shaina, air matanya kian deras.


Joon mengecup kening istrinya dengan lembut dimana sisi lembut Shaina yang mudah menangis semakin meningkat.



Tiga bulan kemudian...


Dua bulan kemudian...


Langkah-langkah kecil menapak di karpet yang terbentang, dan sorak-sorai tepuk tangan gemuruh saat si pemilik langkah muncul dari pintu yang terbuka, lelaki bersetelan rapi tiga potong keluar dengan rambutnya yang di sisir ke belakang terlihat sangat tegas, rahang lancipnya semakin mempesona semua mata kaum hawa.


Stigma dinginnya langsung buyar, saat senyuman tipisnya muncul ketika ia melihat kearah gadis remaja yang di gandengnya, beserta balita dalam gendongannya.

__ADS_1


Gaun mengembang yang bertaburan batu permata di bagian depan melekat indah di tubuh Alice yang langsing, tiara berkilau menghiasi kepalanya yang kini sudah terselebung kerudung dan senada dengan warna gaunnya, banyak pemuda sulit untuk berpaling dari menatap wajahnya yang bagaikan tuan putri sungguhan. Ia melangkah beriringan dengan ayah tampannya dan bersama adik kecilnya saat menuju tempat duduk yang khusus untuk mereka diantara para tamu undangan.


Bu Yani dan anggota keluarganya tersenyum lebar saat gadis remaja itu melambaikan tangannya padanya. Mereka secara pribadi di minta Joon untuk mengunjunginya ke Wina dengan semua biaya di tanggung oleh Joon seorang, dan Joon tidak tanggung-tanggung meminta mereka hadir di acara pentingnya, seluruh keluarga besar Shaina di boyongnya, tidak terkecuali adik sepupu Shaina yang kerap.


Mereka semua sangat terkejut mengetahui Joon yang sebenarnya, kehidupannya penuh kekuasaan dan kehormatan. Namun sikap Joon masih tidak ada yang berubah, masih sama seperti saat Joon mengunjungi rumah mereka, ramah dan sopan pada mereka semua. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya terutama orang tua Shaina, jika putri mereka akan jatuh dalam tumpukan berlian seperti yang dimiliki Joon.


Joon tidak langsung menghampiri para kliennya untuk menyapa mereka yang bertebaran di antara tamu undangan, ia dan Alice malah menuju pada keluarga Shaina yang menanti mereka keluar dari tadi.


Saat berhadapan dengan orang tua Shaina, Joon langsung menyalami tangan mereka selayaknya seorang anak yang menghormati orang tuanya, Bu Yani tidak bisa membendung air matanya, begitu juga dengan pak Rahmat meski ia berusaha menahannya.


"Kenapa Mak?" Tanya Joon pada ibu Yani yang sibuk menyeka air matanya dengan tissue yang diberikan putra-putranya.


"Kau ini!" Bu Yani tersungging, "kau benar-benar membohongi kami, kami pikir kamu hanya pekerja biasa, bahkan aku sempat meragukan mu . Tapi, lihatlah! Orang-orang di sini malah menghormati kamu padahal mereka terlihat bukan orang biasa" ujar Bu Yani.


Joon tersenyum dan memeluk Bu Yani yang menangis, sikapnya ikut menarik perhatian orang-orang yang hadir.


"Mak, ini tidak ada artinya bagi ku, karena putrimu satu-satunya yang mampu membuatku bahagia, dia dan anak-anak adalah hartaku yang paling berharga" kata Joon.


Joon menoleh kearah pak Rahmat yang juga menyeka air matanya, Joon melepaskan pelukannya pada Bu Yani.


"Maaf, aku telah memukulmu saat datang ke rumah bahkan aku melarang mu makan" ujar pak Rahmat.


"Ayah jangan minta maaf, karena jika itu terjadi pada Alice dan Elif, aku juga akan melakukan hal sama seperti ayah, aku juga tidak rela putri-putri ku di pegang-pegang orang lain, bahkan mungkin aku akan melakukan lebih daripada ayah lakukan padaku" balas Joon pasti pak Rahmat.


"Iya Kek, sekarang aja Papa sangat cemburuan, gara-gara Papa Alice hampir tidak punya teman-teman cowok, Papa pasti mengirimkan orang-orang ke sekolah untuk mengawasi Alice" sela Alice dengan memasang wajah jutek pada Joon.


Joon dan pak Rahmat tertawa mendengar pernyataan Alice yang beranjak remaja itu.


"Ternyata aku lebih protektif pada putriku daripada ayah" balas Joon sambil tertawa kecil bersama yang lain.


Dalam sela-sela tawa itu Hannah bertanya, "kak Joon, kak Shaina mana? Kok enggak kelihatan?" Tanyanya.


"Shaina di belakang, dia bersama Alfan" sahut Joon.


Hannah sudah tahu mengenai sosok Shaina dan hubungannya dengan Joon, setelah sebulan lalu mereka beri tahu, walaupun ia sempat tidak percaya tapi setelah beberapa bukti kebenarannya, dan Hannah pun tidak ingin ambil pusing dan ia juga tidak bisa memaksa Joon untuk menyukainya jadi ia merelakan Joon dengan perempuan pilihannya.


Sedangkan Hannah mulai dekat dengan Harris, mereka kerap ngobrol bersama dan tampak akrab dibeberapa kesempatan.


Tidak lama setelah Joon menuntaskan kalimatnya, sosok Shaina yang merangkul tangan Alfan terlihat, Gaun biru yang dipakai Shaina jatuh indah diantara anak tangga saat melangkah beriringan menuruni anak tangga yang bagaikan podium kerajaan. .


Bersama putra sulungnya yang bagaikan pangeran di negeri dongeng mendekati Joon yang sejak tadi menunggu mereka.


Tiba di antara mereka Shaina langsung menyalami orang tuanya dan Joon, lalu memeluk putri-putrinya yang bagaikan sosok peri, begitu juga dengan Alfan yang memberikan penghormatan pada Joon dan kakek neneknya.


Gemuruh tepuk tangan semakin meriah saat Joon bersama keluarga kecilnya memotong kue yang berukuran raksasa dengan hiasan indah mengelilinginya.


"Selamat ulang tahun Joon" ucap Shaina pada suaminya yang pada hari itu merayakan hari jadinya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang" balas Joon dan memberikan kecupan hangat di kening Shaina.


__ADS_2