Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Belajar memasak


__ADS_3

Waktu makan siang para pegawai kantoran pun tiba kecuali mereka yang bekerja di bagian rumah makan atau pusat perbelanjaan, seperti halnya Joon dan kawan-kawan. Dari deretan meja yang tertata dengan rapi, Joon berjalan menuju ke salah satu meja sambil membawakan nampan berisi secangkir kopi untuk diberikan pada Calvin yang sudah menunggunya bersama Harris, usai meletakkan gelas kopi, Joon ikut duduk bersama dua temannya itu dengan mengobrol ringan. Joon dan Harris di perbolehkan beristirahat sejenak, selain sedang waktu istirahat, pekerjaan mereka juga ada yang menggantikan sebentar sebelum mereka kembali bekerja.


Seperti biasanya mereka mengobrol ringan dan kerap bercanda hingga topik pembicaraan mereka tertuju pada Joon yang dimulai oleh Harris.


"Joon, tidak ada yang ingin kau tanyakan pada dokter kita? Selagi bisa konsultasi gratis" Celetuk Harris yang menyeringai terhadap Joon.


"Memangnya apa yang ingin ku tanyakan padanya?" kata Joon.


"Cara bermain dengan wanita hamil agar tidak menyakiti si ibu dan bayinya, kalian pun bisa happy sepanjang pertandingan" papar Harris dengan gaya berbisik-bisik pada mereka.


"Apa maksudnya itu?"tanya Calvin.


"Jangan kau dengarkan dia!" Sergah Joon.


"Itu... Teman kita ini benar-benar gila, dia dan nona Helena..." Ujar Harris panjang lebar, menceritakan hubungan Joon dan Helena yang mulai di luar batas, tentunya menurutnya persepsi Harris saja.


Calvin sempat syok mendengar cerita mengenai Joon dan Helena yang tidak hanya tinggal bersama tapi juga sampai ehem-ehem, namun Joon membantahnya apa yang dituduhkan Harris.


"Jangan kau percaya omongan si brengsek ini! Aku tidak seperti itu, walaupun dia bukan Helena bukan berarti aku akan melakukanya" sanggah Joon.


"Aku percaya padamu, kau tidak akan sejauh itu karena dia istri almarhum kakakmu" tukas Calvin dan Joon membenarkannya.


"Maaf-maaf, aku hanya bercanda" Gumam Harris seraya menepuk-nepuk pundak Joon yang sudah terlanjur geram padanya, "tapi kau tidak penasaran cara bermain dengan perempuan hamil? siapa tahu nanti kau tertarik dengan perempuan hamil" sambung Harris.


Joon mendengus kesal tapi ia juga memikirkan perkataan Harris sehingga melirik Calvin dengan ekspresi penasarannya agar Calvin juga mau memberitahunya. Pada akhirnya mau tidak mau Joon ditertawakan dan jadi bahan candaan mereka.


"Hahaha...! Katanya enggak tertarik tapi pengen tahu juga" tawa Harris.


"Sialan kalian! Aku ini dokter bedah bukan dokter kandungan! kenapa kau menanyakan hal semacam itu padaku?" Timpal Calvin, "kau juga, Joon jangan sampai kau menyentuh Helena ku! Mentang-mentang kalian tinggal bersama!" Sambungnya.


"Tanpa kau beri tahu aku juga sudah tahu! Shaina sendiri juga tidak mau melakukan itu!" Sergah Joon.


"Apa? Shaina? Jadi kau sudah sejauh itu? Kau ini benar-benar gila!" Timpal Calvin.


Harris terdiam menyaksikan perdebatan dua temannya, sesekali ia terkekeh kecil tapi setelah itu ia melerai mereka meski ia tidak bisa menahan tawanya hingga menarik perhatian pelanggannya yang lain. Sedangkan Joon maupun Calvin melirik kesal sekaligus geram tapi mereka tidak lama kemudian keadaan normal kembali.


Diam-diam Joon tersenyum tipis mengingat hubungannya dengan Shaina yang tidak bisa di tebak itu sudah sejauh itu, tidak bisa dipungkiri Joon juga menginginkan Shaina lebih dari yang sekarang tapi ia juga tidak ingin menodai kesucian gadis itu dan dia perempuan pertama yang Joon ingin jaga kehormatannya. Meski semua orang melihatnya sebagai Helena tapi dimata Joon dia tetap Shaina yang manja dan cerewet.

__ADS_1


****


Sejak tadi pagi Shaina sibuk browsing internet mencari tahu tata cara hidup orang-orang di tempat barunya itu mulai dari kebiasaan sehari-hari sampai apa yang sering mereka makan. Setelah membaca dari beberapa sumber, Shaina bergegas mengotak-atik isi kulkasnya, ia cukup senang karena beberapa bahan yang dibutuhkan tersedia di rumah. Tidak menunggu lama ia mulai bereksperimen dengan bahan seadanya, Alice dan Alfan jadi korban pencicip rasanya.


Beberapa kali percobaan pertama hasilnya gagal semua, karena rasanya jauh dari lidah orang Wina.


"Bagaimana Ma? Sudah bisa diangkat?" Tanya Alice yang mendekati Shaina yang sibuk dengan penggorengan di kompor.


"Kayaknya sudah bisa, Mama dinginkan ya? Biar kalian coba" kata Shaina.


Setelah mematikan kompor, Shaina membagi masakannya ke tempat yang berbeda.


"Waaa!! Yang ini lebih harum Ma dari yang sebelum-sebelumnya" seru Alfan.


"Semoga ya sayang? Mama khawatir paman akan marah jika mengetahui Mama menghabiskan banyak bahan dapur" ucap Shaina.


Isi kulkas yang disimpan Joon untuk persiapan dua hari kedepannya sudah ludes semua tanpa tersisa sampai besok hari, karena eksperimen Shaina yang ingin belajar memasak dengan benar. Dan hanya tersisa setengah pack roti saja, ditambah kondisi dapur yang sangat berantakan, belum lagi peralatan makan dan peralatan masak yang menumpuk di wastafel.


"Coba cicipi sayang" Shaina menyodorkan semangkuk masakannya pada si kembar.


Dengan jantung yang deg-degan, Shaina menunggu jawaban dari anak-anak angkatnya itu, terlihat Alfan dan Alice sangat tenang sampai-sampai tanpa ekspresi sehingga membuat Shaina semakin kacau, karena itu masakan terakhirnya dan jika gagal lagi, ia tidak bisa melanjutkannya, semua bahan di dapur sudah raib karena ulahnya tersebut.


"Emmm... Rasanya... kejunya juga terasa..." ujar Alice ala chef terkenal saat mengomentari masakan Shaina.


Komentarnya itu sangat lama dan tidak ada kejelasan yang semakin meningkat kecemasan Shaina.


"Enak" sahut Alfan.


"Apa?" Tanya Shaina lagi untuk memastikan ucapan Alfan.


"Enak Ma, rasanya tidak terlalu kuat dan lumayanlah dari yang tadi" kata Alfan.


"Iya Ma, Alice mau lagi" tambah Alice seraya menyodorkan mangkuknya yang sudah kosong.


Shaina tersungging dan sangat senang mengetahui hasil masakannya akhirnya bisa sesuai dengan lidah mereka. Ia juga ikut makan bersama si kembar untuk menghabiskan menu makanan siang hasil kerja kerasnya untuk membuat semuanya senang.


Shaina melemparkan pandangannya pada jam dinding yang tertempel, jarum jam menunjukkan pukul setengah dua siang. Ia tidak sabar menunggu Joon pulang dan memberitahunya akan keberhasilannya tapi hari masih sangat siang membuat senyuman manisnya kembali mengerucut yang mewakili perasaannya.

__ADS_1


"Nanti, akan ku buat lagi, agar Joon juga bisa mencobanya, aku sangat penasaran dengan tanggapannya nanti" gumam Shaina seorang diri saat sedang beres-beres peralatan makan yang dibantu oleh dua anaknya tersebut.


Sang surya mulai meredup dan akan segera diganti oleh sang bulan, mesin mobil mati tepat didepan garasi rumah, tidak seberapa lama terlihat Joon memasuki rumah yang disambut dengan senyuman manis anak-anak dan Shaina.


Joon bingung melihat Shaina yang cengengesan seperti orang yang baru memenangkan lotre.


"Kau lelah?" Tanya Shaina, suara lembutnya seakan menenangkan jiwa yang mendengarnya.


"Ya, sedikit" sahut Joon, "kamu sendiri tidak apa-apa kan? Tidak mengangkat yang berat-berat di rumah kan?" Sambung Joon yang khawatir dengan Shaina. Joon melepaskan tas sling bag-nya dan meletakkan di nakas dekat sofa.


"Memangnya apa yang ku angkat? Selain panci" sahut Shaina sembari duduk.


Joon yang kecapekan setelah bekerja seharian di kafe, ikut mengistirahatkan sendi-sendinya di salah sofa, dan ia tidak lupa menanyakan keadaan anak-anak hingga mengobrol dengan mereka. Dua menit kemudian Joon kembali bangkit dari duduknya dan menuju ke dapur.


"Mau kemana?" Tanya Shaina yang mencegat langkah Joon.


"Ke dapur, aku haus mau minum" sahut Joon.


"Kamu duduk aja dulu, biar aku ambilkan" kata Shaina.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri" kilah Joon tapi belum ia selesai bicara, Shaina sudah pergi ke dapur.


Mau tidak mau Joon kembali duduk bersama anak-anak yang asyik bermain puzzle. Tidak seberapa lama Shaina kembali dan membawanya minuman, namun Joon jadi heran sendiri dengan sikap Shaina tersebut.


"Ada apa denganmu? Apa karena bayinya kau jadi perhatian begini?" Tanya Joon dengan nada menyindir.


Shaina melirik tajam, "jadi selama ini aku ini tidak perhatian gitu?" Shaina langsung memanyunkan bibirnya.


Joon tersenyum sambil menatap Shaina dengan dekat, "menurutmu?" Sudi Joon dengan mengedipkan matanya.


Shaina memalingkan wajahnya karena malu, ia belum pernah di perhatikan oleh lelaki manapun seperti itu. Tapi Shaina kembali dikagetkan oleh ulah Joon yang berpindah tempat dan duduk di dekatnya laku meletakkan bantal sofa di pangkuannya, Shaina hendak mengambil bantal tersebut tapi Joon mencegatnya.


"Hah?! Ap-?!" Ucap Shaina, ia yang dikagetkan aksi Joon yang membaringkan kepalanya di bantal atas pangkuannya.


"Aku mau tidur sebentar"gumam Joon seraya memejamkan matanya di pangkuan Shaina.


"Lelah ya lelah! Tapi kenapa di pangkuanku?" Timpal Shaina.

__ADS_1


Joon tersungging, "aku ingin lebih dekat dengan keponakan kecilku" gumam Joon.


"Tapi, kenapa harus begini? Ini sangat memalukan tahu!".


__ADS_2