
Alfan segera mendekat pada Shaina dan duduk bersamanya sambil memeluknya dan menciumi pipinya kemerahan itu oleh Shaina, ia juga tidak segan-segan mengelus pipi Alfan dan perlakuan sama juga di dapatkan Alice, mereka juga memerintahkan Joon untuk tidak melewatkan satu adegan pun pose mereka.
"Dasar bocah! Masih kecil udah tahu memanfaatkan keadaan" gumam Joon sambil mendengus kesal.
Lelah bersua foto, mereka masih saja bercanda ataupun menggelitik, tapi tidak dengan Joon, ia hanya duduk sambil mengamati tingkah mereka.
"Alice! Alfan! Kalian mau makan apa?" Tanya Joon, membuyarkan canda tawa mereka.
"käsekrainer" sahut Alfan, begitu juga dengan saudara kembarnya yang merequest sama.
...Käsekrainer, sosis renyah yang diisi dengan keju leleh dan disajikan dengan mustard, adalah makanan favorit orang Aust***....
Joon mengarahkan pandangannya pada Shaina, "kau mau makan apa?" Tanya Joon.
"Aku tidak ingin makan apa-apa" sahut Shaina.
Joon berpesan pada mereka untuk tidak pergi kemana sebelum ia kembali dari membeli makanan di gerai terdekat.
Shaina dan anak-anak duduk di bangku sambil bersuka ria dengan tawa dan canda mereka membaur dengan masyarakat sekitar. Didalam hatinya tidak henti-hentinya Shaina bersyukur karena bertemu dengan orang-orang luar biasa seperti Joon dan keponakannya meski bukan dalam bentuk yang diinginkannya, tapi mendapatkan perhatian dan perlakuan semacam itu bukanlah hal yang harus di sesali, apalagi ia bisa jalan-jalan gratis, menikmati keindahan kota Wina, kota para musisi dunia, menjadi bagian dari orang-orang yang meramaikan kota besar itu tanpa harus mencemaskan apapun, habisnya uang ataupun tempat untuk pulang atau cemas pada orang tuanya yang mengkhawatirkannya tidak kunjung pulang, tidak satupun dari mereka merasa kehilangannya yang bahkan tidak mereka sadari, karena Helena telah menggantikan sebagai dirinya dan itu semua patut di syukuri Shaina, hidupnya penuh dengan keajaiban.
"Nona Helena?" Seru seorang lelaki.
Suara itu membuyarkan lamunan Shaina, karena suara itu tidak lain adalah Harris temannya Joon.
"Ya?!" Sahut Shaina.
Ia sedikit terkejut melihat Harris datang menyapanya.
"Dengan siapa kalian kesini?" Tanya Harris.
"Dengan Joon, tapi sekarang dia sedang membeli cemilan" kata Shaina.
"Ooh! Boleh aku duduk?" Tanya Harris.
"Silahkan" balas Shaina, mempersilahkan Harris untuk duduk sebangku dengannya dan anak-anak, meski ia tidak nyaman duduk dengan lelaki asing kecuali dengan Joon.
Sudah menjadi rahasia umum orang Eropa didominasi warna mata beriris terang, baik itu biru maupun warna lain, termasuk Harris, tapi iris bola matanya agak kecokelatan namun semakin menambah nilai plusnya tersendiri. Hanya saja Shaina tidak begitu terpesona dengan paras lelaki muda itu meski ia juga termasuk orang-orang menarik mata. Di mata Shaina, Harris hanya lelaki tampan dan keren serta baik namun tidak menarik perhatiannya meski ia juga gugup jika bersamanya, karena semua orang tahu kalau Shaina perempuan yang tidak pernah dekat dengan lelaki manapun jadi ia tampak gelisah jika harus mengobrol dengan lawan jenis apalagi berduaan.
__ADS_1
"Aku jadi bingung harus memanggil mu apa" tutur Harris.
Shaina tersenyum mendengar kalimat itu, "panggil Shaina atau sebagai Helena juga boleh" jawab Shaina.
Harris tersungging, "kau ini lucu juga ya?" Katanya.
"Hah?!" Shaina mengerjap.
"Aku panggil Shaina saja, lagian kau ini juga bukan Helena" ujar Harris.
Shaina mengangguk sambil tersenyum namun tanpa sadar karena kurangnya perhatian terhadap Harris, Shaina malah terus diperhatiin oleh lelaki itu hingga ikut tersenyum melihat kegugupan Shaina.
"Ngomong-ngomong, dari mana kau datang?" Tanya Harris yang penasaran asal Shaina.
Shaina sempat terdiam, pandangannya terlihat redup, tatapannya tidak terarah dan ia berkata, "aku berasal dari negeri yang jauh" jawab Shaina dengan kalimat singkat.
Dari jawaban yang diberikan Harris paham maksud Shaina yang tidak mau bercerita banyak tentang kehidupan pribadinya di masa lalu, jadi ia langsung mengalihkan pembicaraan mereka ke suasana tempat tinggal baru Shaina.
"Emmm... Bagaimana menurutmu tentang tempat ini selama kau disini?" Tanya Harris dan matanya masih tertuju pada Shaina yang tampak menghindari tatap mata dengannya.
"Apa Joon memperlakukanmu dengan baik?".
Shaina mengangguk sambil tersenyum, ia mengatakan "sampai saat ini aku tidak kenapa-kenapa".
Sontak Harris terkekeh menyebabkan Shaina bingung yang melihatnya dan berpikir Harris menertawakannya, karena ia terlihat malu-maluin saat berbicara.
"Apa Joon sadar, kau ini lucu tahu? Bisa buat orang serangan jantung karena tertawa" ujar Harris.
"Memangnya ada orang serangan jantung gara-gara tertawa? Aku belum pernah mendengarnya" tambah Shaina.
Harris semakin tertawa, "entahlah aku juga tidak tahu" katanya.
Seketika Shaina ikut tertawa bersama Harris, setelah menelaah perkataan lelaki itu.
Harris melirik Alice dan Alfan yang sibuk bermain kejar-kejaran sambil menikmati suasana di luar rumah.
"Mereka anakku yang cantik dan tampan itu" ucap Shaina sambil melemparkan pandangannya pada kedua anak itu.
__ADS_1
"Aku tahu itu" sahut Harris yang menaikan salah satu alisnya.
"Kau seharusnya menjawab sombong" sergah Shaina yang tertawa.
Harris terdiam sesaat lalu ia tersungging, "Oh! Maaf-maaf, aku enggak paham tadi kalau kau sedang melucu dengan menyombongkan diri"
"Tidak usah minta maaf" sahut Shaina.
Walaupun sempat terlihat garing obrolan mereka namun itu segera terselesaikan dikarenakan mereka sama-sama orang yang humoris dan suka bercanda jadi tidak di herankan jika mereka kerap membuat lelucon yang dapat memecahkan keheningan dan kecanggungan diantara keduanya.
Setelah mendapatkan makanan yang diinginkan, Joon kembali dan ia kaget melihat keberadaan Harris yang bersama Shaina, ya mengejutkannya lagi Shaina maupun Harris tertawa lepas bersama dan tidak ada kesenjangan diantara mereka. Sempat keluar kata-kata kasar dari mulut Joon yang mendadak marah tanpa alasan.
"Ngapain kamu kesini?" Tanya Joon yang tiba-tiba muncul.
Sontak mengagetkan Shaina dan Harris melihat Joon telah kembali.
"Ehh Joon? Santai aja kali, inikan tempat umum, siapa saja bisa kesini" sergah Harris.
"Hari akan gelap sebentar lagi, udara pun semakin dingin sebaiknya kita pulang" ujar Joon.
"Baiklah, Ayo kita pulang" sahut Shaina.
Shaina segera beranjak dari duduknya ia terlihat agak kesulitan dikarenakan perutnya yang membesar, tapi Joon dengan cepat meraih tangan Shaina untuk membantunya bangun, namun hal tidak terduga terjadi, diwaktu bersamaan Harris juga meraih tangan Shaina yang bertujuan membantunya juga. Sehingga tatapan mata tiga orang dewasa itu tidak terelakkan, Shaina sendiri jadi salah tingkah melihat dua lelaki itu memandanginya. Sedangkan Alice dan Alfan hanya melihat Mama mereka di kerumuni dua pemuda itu tanpa tahu penyebabnya.
"Te-terima kasih" gumam Shaina.
Harris menjauh dari Shaina sambil melayangkan senyuman manisnya.
"Aku pulang dulu" kata Joon pada Harris.
Harris menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Tidak lama kemudian Joon dan keluarga kecilnya berlalu pergi, menghilang dalam keramaian orang-orang yang berlalu-lalang. Namun, meski telah jauh Harris masih mencoba untuk melihat Shaina dari kejauhan.
Setibanya di rumah, Shaina tidak diizinkan memasak makan malam mereka tapi ia diperintahkan untuk bersantai, memanjakan tubuhnya beristirahat sambil menunggu menu makan malam yang disiapkan oleh Joon sendiri, walaupun begitu Shaina tidak tegaan meninggalkan Joon sendiri yang bekerja di dapur sehingga ia hanya seperti pengganggu di dapur yang mengganggu Joon.
Sudah menjadi rutinitas mereka saat malam tiba, anak-anak akan segera tiba setelah belajar dan nonton serial kartun kesukaan mereka dan Shaina akan tidur di kamar utamanya bersama sang empunya.
Terbangun di tengah malam sudah jadi kebiasaan Shaina, tidak peduli saat ia masih dalam tubuhnya sendiri maupun dalam tubuh Helena sekarang. Maka dari itu tidak mengherankan jika Shaina sekarang juga terjaga disaat-saat ia terlelap. Penglihatannya masih buram layaknya efek blur pada kamera, tidak lama kemudian penglihatan kembali normal setelah berkedip ataupun menguceknya, namun saat melihat ke lantai tempat Joon tidur akhir-akhir ini ia tidak menemukan sosok itu kecuali selimut dan bantal yang tergeletak begitu saja di atas karpet yang menjadi alas Joon tidur.
__ADS_1