Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Terluka


__ADS_3

Joon kembali duduk di bangku penumpang setelah turun tadi untuk membeli pesanan Alfan dan Alice, beberapa menit kemudian ia sampai di kediamannya, memasuki rumah dengan menenteng kotak ayam goreng pesanan si kembar, mengetahui Joon pulang Shaina segera merebahkan diri di sofa berpura-pura ia masih marah padanya, berbeda dengan Alfan dan Alice yang menyambut Joon dengan baik apabila melihat tangan Joon menenteng pesanan mereka membuat mereka senang bukan kepayang hingga menyerobot plastik berisi kotak ayam mereka sebelum Joon membuka mantelnya. Alice membawa kabur ke dapur untuk disajikan bersama menu makan malam yang lain.


Melihat Shaina tidak bergeming dari sofa dan memasang wajah cemberut Joon menghampirinya dan duduk di sebelahnya yang berbaring di sofa.


"Masih marah ya? Aku kan udah minta maaf" gumam Joon pada Shaina.


Namun Shaina hanya melirik ketus tanpa mengatakan apapun. Dengan berlagak memelas Joon meminta maaf sambil meraih kaki Shaina yang terjulur, memijatnya lembut seperti biasa sembari mengajaknya ngobrol agar Shaina melupakan kemarahannya.


"Jangan marah lagi dong, apa kamu tidak khawatir pada Elif nanti, jika lahir dengan wajah cemberut bagaimana? Kamu juga kan yang repot" ujar Joon sambil menahan rasa sakit di lengannya akibat kejatuhan palu tadi di gudang.


Pelan-pelan namun pasti senyuman Shaina kembali mengembang hingga cekikikan karena melihat ekspresi Joon yang menurutnya sangat lucu, "aku tertawa bukan berarti aku memaafkanmu tapi demi periku agar nantinya ia akan secantik peri dan berhati malaikat" balas Shaina.


"Baiklah, tapi aku mandi dulu ya, aku juga sangat lapar" sambung Joon yang berdiri dari duduknya.


"Tunggu dulu" ucap Shaina, menghentikan langkah Joon yang hampir masuk ke kamarnya.


Shaina mendekat, memutari dan mengendus-endus pada Joon.


"Kenapa kau kotor sekali? Pakaian mu juga penuh dengan debu dan jaring laba-laba ini?" ujar Shaina, mengambil jaring laba-laba yang tersangkut di kaos Joon kenakan.


Joon kaget dan berusaha menghindari Shaina untuk tidak melihat lengannya karena ia tidak mau membuatnya cemas.


"Oh i-itu tadi... kami memindahkan barang-barang ke gudang yang kotor dan kau tahu kan jika para cowok lagi bersama? pasti ada aja kejahilannya" kilah Joon, berbohong agar Shaina tidak bertanya-tanya lebih jauh lagi.


"Oooh... Tolong letakkan pakaianmu ini di tempat pakaian kotor besok aku cuci" pesan Shaina.


"Tentu, tapi aku bisa cuci sendiri, kamu masak saja sudah cukup, aku tidak mau kamu kecapean" tambah Joon.


"So sweet...!" Seru Shaina dengan mengedip-ngedip matanya serta menyungging bergaya manis membuat lelaki itu ikut tersenyum, "enggak usah sok-sokan manis padaku mesin cuci aja enggak cari perhatian seperti kamu" timpal Shaina yang mengubur senyuman manis Joon.


Di kamar mandi saat menanggalkan pakaiannya Joon kembali meringis kesakitan dari lengannya yang semakin membengkak namun ia menyalakan shower agar suaranya tersamarkan dengan decuran air agar tidak ada yang mendengar rintihannya.


Rasa laparnya telah membuat Joon tidak sabar untuk makan malam karena sejak tadi siang ia belum makan apa-apa ditambah lagi hari ini ia mendapat pekerjaan ekstra dan itu sangat melelahkan. Di meja makan sudah ada Alice yang membantu Shaina menyajikan makanan, meski sangat lapar Joon menyempatkan membantu Shaina mengangkat-ngangkat menu makan malam mereka.


"Hei! Duduk saja, biar aku yang melakukannya kau kan baru pulang kerja" celetuk Shaina pada Joon.


"Iya Paman, disini ada Alice juga yang bantu Mama" tambah Alice.


Joon tersungging melihat dua perempuan di rumahnya itu kompak, "tidak apa-apa, aku bantu kan jadi lebih cepat selesai dan kita bisa segera makan" ujar Joon.


"Paman, ayo kita duduk" Alfan menghampiri Joon.


AAUU! Pekik Joon,


PRANGGG!!!!


Seketika piring di tangan Joon terjatuh dan pecah berserakan di lantai, Shaina dan anak-anak kaget dan segera mendekat pada Joon.

__ADS_1


"Maaf... Alfan tidak sengaja menarik paman" gumam Alfan yang ketakutan karena tindakannya menarik lengan Joon hingga menjatuhkan piring di tangannya.


"Tidak apa-apa sayang, paman saja yang ceroboh" ucap Joon sambil mengutip pecahan piring di lantai.


Shaina ikut membantu Joon membersihkan lantai dan ia terkejut melihat memar di lengan Joon.


"Joon! Kenapa dengan lenganmu?" Tanya Shaina.


"Tidak apa-apa" kilah Joon.


Shaina meletakkan pecahan piring di tangannya ke dalam tempat sampah dan memaksa Joon untuk membiarkannya melihat tangannya.


"Apanya yang tidak apa-apa? Tanganmu bengkak begini, kau pasti belum ke dokter kan?" Sembur Shaina yang sangat khawatir.


"Aku baik-baik saja, Ayo kita makan" sahut Joon.


Shaina menatap Joon dengan sedih, "kita harus ke rumah sakit!" Shaina bangkit dan berjalan ke kamar Joon.


Joon mengejarnya sembari berkata, "Shaina, kita tidak perlu ke rumah sakit, aku baik-baik saja".


"Dompet mu di mana? Aku akan memesan taksi" kata Shaina tanpa mempedulikan Joon yang memintanya untuk tidak ke rumah sakit.


Shaina mondar-mandir di kamar Joon untuk mencari dompetnya Joon dan saat ia menemukan yang dalam laci meja, refleks ia membuka dompet Joon dan ia terkejut melihat isi dompet tersebut yang hanya terisi beberapa lembar uang kertas saja, tampak sadar air matanya menetes tapi ia segera menyekanya agar tidak ketahuan oleh Joon. Ia kembali bersikap normal dan masih memaksa Joon ke rumah sakit.


Dengan tergesa-gesa ia keluar kamar dan membawakan mantel yang lain untuk Joon.


"Tidak perlu aku-" ujar Joon.


"Tidak apa?! Aku tidak mau dengar! aku juga akan ikut denganmu agar aku bisa lihat kau ke rumah sakit atau tidak? Alfan, Alice kalian makan aja dan kunci semua pintu jangan buka pada siapapun kecuali kami" titah Shaina.


"Baik Ma" sahut mereka berdua.


Sedangkan Joon tidak bisa membantah lagi karena jika Shaina sudah bertitah apalagi mencemaskan dirinya ia jadi tidak berkilah lagi, selain itu Joon merasa senang mendapatkan perhatian ekstra dari Shaina yang jarang ia dapatkan dari orang lain bahkan tidak ia dapatkan beberapa tahun terakhir ini.


Beberapa saat kemudian taksi sudah datang menjemput, tanpa menunggu lama Shaina menggandeng Joon ikut bersamanya ke rumah sakit.


Dokter memeriksa lengan Joon dengan teliti ia juga mengoles obat lalu di perbannya hingga ke pangkal sikunya.


"Tulang hasta bapak ada yang retak, jika saja lebih lama lagi tidak mendapatkan penanganan bisa-bisa Anda mengalami komplikasi yang serius" ujar dokter sembari membalut lengan Joon dengan perban.


"Makasih Dok" sahut Joon.


Shaina terus melihat Joon yang tampak tenang saja meski tangannya terasa sakit.


Usai mendapat pengobatan dari dokter, Shaina dan Joon keluar dari ruang khusus itu dan saat berjalan di ruang tunggu mereka berpapasan dengan Calvin.


"Joon? Shaina? Kenapa kalian disini?" Tanya Calvin lalu matanya tertuju pada lengan Joon yang di perban, "ini? Kenapa tanganmu di perban? Apa yang terjadi?" Tanya Calvin tidak henti-hentinya.

__ADS_1


"Ini temanmu! Sok kuat tulangnya retak pada enggak mau ke dokter" celetuk Shaina mengerling pada Joon.


"Retak? Apa yang terjadi?" Tambah Calvin.


Joon terkekeh, "saat bekerja tadi, aku sedikit ceroboh" sahut Joon.


"Ada-ada saja kau ini" timpal Calvin pada Joon.


"Dokter Calvin! Pasien ruang C 10 butuh penanganan Anda" sela suster yang berlari ke menemui Calvin


"Sudah dulu ya, aku hanya bekerja kalian hati-hati pulangnya ya" ujar Calvin pada Joon dan Shaina.


Joon dan Shaina mengangguk serta berpamitan pulang, mereka menuju pintu keluar, namun Calvin kembali menengok kebelakang ke arah mereka, melihat Joon mengobrol dengan Shaina yang diiringi tawa dan canda sembari mereka berjalan, dan Shaina juga tidak ragu-ragu berpegangan pada Joon dan terlihat sangat akrab.


"Joon!" Suara perempuan terdengar dari belakang.


Joon dan Shaina segera menoleh ke arah asal suara tersebut, mereka sangat terkejut melihat Marissa.


Perempuan itu tampak muram dan menghampiri mereka, "katamu kau sibuk dan tidak punya waktu untukku! Tapi, lihatlah! Kau berkencan dengan wanita ini!" Sembur Marissa dengan nada tinggi bahkan ia menunjuk-nunjuk pada Shaina.


"Marissa tenanglah! Kami tidak berkencan, Ki baru dari rumah sakit" ujar Joon menghalangi Marissa yang mendekati Shaina.


"Memangnya aku percaya? Kalian ini terus berduaan sampai-sampai kau tidak pernah lagi menemui ku!" Pekik Marissa.


"Marissa pelankan suaramu, malu di lihati orang-orang" Joon melirik ke sekelilingnya yang banyak orang berlalu-lalang di depan rumah sakit.


Shaina memundurkan langkahnya, ia tidak terbiasa di labrak apalagi di depan orang-orang yang akan berpikir dia orang ketiga dalam hubungan Joon dan Marissa, itu sangat memalukan baginya.


"Biarkan orang-orang tahu! Perempuan ini tidak punya malu ngerusak hubungan orang! Jangan-jangan itu juga anakmu kalo tidak, bagaimana bisa kalian sedekat ini??" Terang Marissa.


"Cukup Marissa! Kau ini keterlaluan" balas Joon.


"Kau sekarang juga lebih membela perempuan itu daripada aku yang pacarmu sendiri!! Dasar janda! Seharusnya kau ikut suamimu yang mati itu!!!" Marissa semakin meninggi suaranya dan tidak henti-hentinya menunjuk-nunjuk pada Shaina.


Kegaduhan itu telah menarik banyak pasang mata sehingga mereka tidak beda jauh dengan tontonan jalanan. Joon terdiam sejenak menatap tajam kearah Marissa.


"Suaminya yang kau sebut mati itu kakakku!!" Ucap Joon. Ia berbalik badan dan menggenggam tangan Shaina untuk diajaknya pergi.


Dengan langkah cepat Joon meninggalkan Marissa dan orang-orang itu.


"Joon... Aku minta maaf, aku tidak sengaja mengatakan itu pada kakakmu..." Marissa terus memohon pada Joon karena ia melakukan kesalahan karena membawa-bawa sang kakak dalam perdebatan mereka.


Sejak dulu Joon memang membenci sang kakak tapi ia tidak mengizinkan orang lain atau siapapun menyakiti Ervian bahkan menghinanya saja sangat di bencinya, seperti kejadian dua tahun silam, ketika ada salah seorang menyebutkan nama Ervian dengan nada mengejek di sebuah acara terbuka hingga membuat para tamu ikut tertawa, tapi tidak seberapa lama kemudian Joon menemui orang tersebut dan di buatnya babak belur hingga harus dirawat di rumah sakit, dan Joon hampir saja di penjara, beruntung saat itu papanya datang menjamin kebebasannya.


...****************...


Halo semuanya tolong jangan pelit-pelit like dan vote nya ya, biar aku semangat ngetiknya.

__ADS_1


... Terima kasih kunjungannya........


__ADS_2