Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Akhirnya...


__ADS_3

Alfan dan Alice juga tidak mau ketinggalan memberikan ucapan selamat ulang tahun, bahkan Elif tidak mau kalah dengan kakak-kakaknya, dan memberikan kecupan manisnya yang mampu menciptakan gelak tawa orang-orang yang melihatnya, Darrell serta sahabatnya hingga semua para tamu juga ikut menyalamati Joon.


"Kau Joon, pernah berdansa saat acara pernikahan kami, sekarang kau juga harus berdansa di acara ulang tahun mu sendiri" Celetuk Gia di antara percakapan mereka.


"Iya Joon, ayolah! kami juga sudah lama tidak melihatmu berdansa" tambah Harris.


Sontak teman-temannya menyoraki nama Joon, akibatnya ia tidak punya pilihan selain menuruti keinginan mereka, ia tersenyum pada Shaina, dan menyorongkan tangan untuk mengajak Shaina sebagai pasangan dansanya.


"Jadilah pasangan dansaku lagi" ucap Joon pada Shaina


"Aku tidak bisa berdansa" ucap Shaina pada Joon seraya menahan malu mengingat kejadian tiga tahun silam.


Shaina juga tersipu malu harus berdansa bersama Joon di depan keluarganya yang juga sedang memperhatikannya dengan bahagia.


"Lakukan saja seperti dulu, aku akan memegangi mu" balas Shaina.


Dengan malu-malu Shaina menerima ajakan Joon yang langsung membawanya di bawah lampu kristal untuk menari bersamanya, gerakan lembut yang diimbangi dengan tatapan mata penuh cinta, musik romantis juga dimainkan, semakin terasa aura romantis yang menyelebungi mereka berdua.


Shaina terkekeh geli melihat Joon yang terus menatapnya sambil tersenyum, hingga tubuhnya berada dalam dekapan hangat Joon dimana Shaina kembali bisa mendengar detakan jantung suaminya yang berirama dengan detakan jantung miliknya.


"Jangan tinggalkan aku lagi, sayang" bisik Joon pada Shaina.


Shaina hanya bisa menganggukkan kepalanya, air mata kebahagiaan kembali menggenang di pelupuk mata Shaina, tapi dengan cepat ia menyekanya karena tidak mau para tamu melihatnya menangis.


Joon menghentikan dansanya dan membentangkan tangannya, memanggil anak-anaknya untuk ikut bersamanya dan Shaina.


jepretan kamera membanjiri mereka, untuk mengabadikan momen penting sang CEO Calista groups, yang merupakan perusahaan terbesar dan tersohor seantero negeri.


Saat mereka mau kembali ke tempat duduk, tiba-tiba Shaina merasa pusing, tubuhnya mendadak lunglai dan hampir roboh ke lantai tapi Joon lebih dulu menangkapnya.


"Shaina, kamu kenapa?" Tanya Joon.


"Aku tidak tahu, kepalaku jadi pusing" sahut Shaina.


Orang-orang mulai panik dengan keadaan Shaina terutama orang-orang yang tahu riwayat hidup Shaina, mereka mengkhawatirkan kondisi kesehatan Shaina. Terlebih Joon, ia sangat takut Shaina akan kenapa-napa.


Alfan secepatnya mengambil alih adik kecilnya dari gendongan Joon, sebelum Joon membopong tubuh Shaina ke kamar lain.


Si kembar sangat cemas dengan kondisi Mama mereka, trauma masa lalu belum benar-benar pergi dari mereka, itu membuat Alice tidak kuasa menahan tangisnya dalam dekapan ibunya Shaina.


"Calvin! Cepat periksa kondisi Shaina!" Perintah Joon setelah meletakkan Shaina di atas ranjang.


Calvin langsung menghampiri Joon dan mulai memeriksa, tampak raut kebingungan dari wajah Calvin.


"Apa yang terjadi dengan Shaina? Kenapa dia bisa tiba-tiba sakit?" Pertanyaan demi pertanyaan di lemparkan Joon pada Calvin, meski ia belum selesai memeriksanya.


"Ini agak aneh, kondisinya normal dan tidak ada masalah dengannya, jantungnya juga normal" sahut Calvin.


"Jika tidak ada masalah kenapa Shaina bisa hampir jatuh tadi? Karena kalau faktor kelelahan itu tidak mungkin, Shaina tidak melakukan aktivitas fisik yang berat" Sudi Joon, kepanikan terlihat jelas dari wajahnya.


"Aku tidak ngerti kenapa dia bisa sampai begini, tapi aku benar-benar tidak menemukan masalah apapun tentang kondisi kesehatannya" tambah Calvin. "Aku sudah meminta Harris mengambil peralatan ku di mobil, kau tunggu sebentar aku akan memeriksanya kembali" lanjut Calvin pada Joon.


Joon ikut duduk di sebelah Shaina, dan memberi bahunya sebagai sandaran istrinya bertumpu.


"Sayang, katakan dimana kau merasa sakit?" Tanya Joon.


"Aku hanya merasa pusing dan mual saja, mungkin dengan istilah sebentar aku akan baik-baik saja nanti" sahut Shaina.


Kondisi Shaina tidak hanya di perhatikan oleh Joon dan keluarganya saja tapi seorang wanita yang dari tadi bersama Calvin juga ikut mengamatinya, bahkan ia juga ikut masuk ke kamar, mengikuti Calvin.


"Tuan Joon, boleh saya lihat juga istri tuan?" Sela wanita yang bersama Calvin itu. "Aku juga dokter di rumah sakit Calvin bekerja" wanita itu memperkenalkan diri pada Joon.

__ADS_1


Joon mengarahkan pandangannya pada Calvin yang mengangguk, mengiyakan ucapan wanita itu. Lalu membiarkan wanita itu yang memeriksa kondisi Shaina.


Wanita itu meraba nadi dan ia juga sedikit menekan bagian perut Shaina, hingga mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar mentruasi Shaina yang membuatnya malu menjawab di depan orang-orang kepercayaan Joon, tapi ia tidak punya pilihan lain selain jujur dengan pertanyaan tersebut, dan juga mengatakan ia agak merasa mual.


Wanita itu tersenyum dan beranjak dari duduknya setelah pemeriksaan singkat itu.


"Apa yang terjadi? Shaina tidak kenapa-kenapa kan?" Tanya Joon yang tidak sabaran.


Wanita ini tersenyum, "selamat ya Pak Joon, istri bapak hamil" ucap wanita itu.


Joon dan Shaina terdiam dan seakan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"I-itu tidak mungkin, saya tidak bisa hamil, kondisi kesehatan saya bermasalah" sela Shaina.


Ia tidak ingin mengindahkan kalimat yang dikatakan oleh wanita itu karena tidak ingin kecewa yang akan membuatnya terluka meski ia sendiri juga berharap ia bisa melahirkan buah cintanya dengan Joon dari darah daging mereka sendiri.


"Maaf nona, sebaiknya Anda keluar dan tinggalkan kami!" Tukas Joon, wajahnya memerah menahan emosinya, tidak bisa dipungkiri jika ia juga berharap yang dikatakan wanita itu akan kenyataan tapi ia sudah tahu sejak awal jika Shaina tidak akan pernah bisa hamil.


"Maaf Joon, sepertinya ini ada kesalahan" ucap Calvin, lalu ia meminta wanita itu keluar dari kamar tersebut.


"Tapi Pak Joon, saya sangat yakin istri anda sedang hamil, sudah delapan tahun lebih saya berprofesi sebagai dokter kandungan dan tidak pernah salah" sergah wanita itu, Calvin kembali membenarkan ucapan wanita itu.


"Joon, ku rasa kita harus membawa Shaina ke rumah sakit, agar kita bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut, ini demi kebaikan kalian juga" bujuk Calvin.


Joon menatap wajah Shaina yang mengangguk pela, namun tatapan penuh harapan terlihat jelas di matanya.


"Cristian! Siapkan mobil, kita harus ke rumah sakit" titah Joon pada sekretaris pribadinya.


Joon membungkuk dan membopong tubuh Shaina, karena ia tidak mau Shaina berjalan di saat ia terlihat lemah.


"Aku mencintaimu apapun yang ada padamu, itu sudah cukup untukku" bisik Joon pada Shaina.


"Aku juga mencintaimu" balas Shaina.


Untuk mengusir kecemasan keluarga, Joon meminta mereka untuk tetap tinggal bersama anak-anak, karena ia ingin ke rumah sakit sebentar bersama Shaina.


****


Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan akhirnya hasil yang di tunggu-tunggu pun keluar, Joon melihat dengan seksama yang tertera di kertas yang di berikan dokter spesialis kandungan dan Shaina menanti dengan tidak sabar, berharap Joon segera memberitahunya apa yang terjadi sebenarnya.


"Joon, bagaimana hasilnya? Aku tidak kenapa-kenapa kan?" Tanya Shaina pada Joon yang mematung.


Joon mengarahkan pandangannya pada Shaina dengan tanpa ekspresi.


"Maaf sayang, aku membuat masalah untukmu lagi" ucap Joon yang mendekat ke ranjang pasien.


"Kenapa? Apa yang terjadi? Masalah apa? Bicaralah yang jelas?" Protes Shaina.


Joon mengangkat tangannya pada orang-orang yang berada di ruangan itu, dan mereka semua secepatnya meninggalkan kamar tersebut.


Joon memeluk Shaina dengan mata yang berbinar-binar, "sayang, maafkan aku, kau akan sakit lagi gara-gara aku" lirih Joon.


"Sakit apa? Katakan yang jelas! Sebenarnya aku sakit apa, Joon?" Tuntut Shaina.


"Maaf sayang, ini gara-gara aku, silahkan kau salahkan aku, kau boleh memukul ku atau apapun itu asal itu bisa membuatmu tenang, kau pasti akan sakit lagi".


Shaina mendorong Joon darinya, "Joon! Bicaralah yang jelas! Aku sakit apa?" Berang Shaina.


Joon kembali mendekat dan hendak memeluk Shaina tapi dengan terang-terangan di tolak Shaina.


"Aku benar-benar minta maaf, gara-gara aku kau hamil lagi" ucap Joon, sesaat ia terdiam lalu tersenyum lebar pada Shaina.

__ADS_1


"A-apa maksudmu?" Gumam Shaina.


Joon memeluknya, "aku juga sempat tidak percaya tapi kita benar-benar memiliki anak lagi, Elif punya adik" ucap Joon "kata dokter anak kita sudah empat Minggu di perutmu" Joon mengusap perut Shaina.


Shaina terdiam menatap Joon yang bahagia, lalu ia pun ikut tersenyum lebar dan menitikkan air mata, memeluk Joon dengan segala rasa syukurnya.


"Ku rasa ayah akan memukuli ku lagi karena benar-benar sampai menghamili putrinya" ucap Joon.


Shaina terkekeh lalu hening tak bersuara karena Joon kembali membuatnya terbang membuana ke angkasa dalam ciuman mesra dan lembut itu.


***


Di rumah, semua menunggu Joon dan Shaina pulang, mereka menunggu dengan gelisah berharap Shaina tidak mengalami masalah yang berarti dengan kesehatannya, saat melihat Joon dan Shaina keluar dari mobil yang baru tiba di rumah, semua orang menghampirinya, dengan satu pertanyaan yang sama.


Elif berlari menghampiri Joon dan Shaina pulang, Joon pun menggendongnya.


"Apa yang terjadi denganmu Shaina?" Tanya Bu Yani dengan cemas.


Joon tersenyum setelah saling melempar senyum dengan Shaina.


"Shaina tidak kenapa-kenapa Mak, Shaina pusing dan mual karena Elif mau punya adik bayi" ujar Joon.


Sontak pernyataan Joon membuat yang lain terkejut dan tidak mengerti. Joon memberi tahu jika Shaina sedang hamil empat minggu, dokter juga memberitahu jika kondisi kandungan Shaina tidak bermasalah, dan dia bisa jadi wanita normal seperti yang lainnya yang bisa melahirkan.


Soal diagnosa kemandulan sebelumnya ia tidak ingin mempermasalahkannya karena menurutnya itu sebuah keajaiban yang maha esa untuk mereka seperti pertemuan mereka.


"Jadi kami akan punya adik bayi lagi?" Sela Alice di tengah-tengah pembicaraan orang dewasa itu.


"Iya sayang" sahut Shaina.


"Waaaahhh..." Alice semringah dan langsung memeluk Shaina, begitu juga dengan Alfan yang ikut senang.


"Cristian tolong donasikan beberapa kebutuhan anak-anak ke panti asuhan sesuai dengan biaya yang kita keluarkan untuk acara ulang tahunku hari ini" titah Joon pada sekretarisnya yang dari tadi mengikuti langkahnya dan Shaina.


Tidak sampai di situ, hal mengejutkan lainnya pun di lakukan Joon, ia menyuruh Harris mengirimkan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan di negara yang di landa kekeringan dan kemiskinan selama sembilan bulan berturut-turut.


Itu dilakukannya sebagai rasa syukurnya atas kebahagiaan yang dilimpahkan kepadanya, ia ingin orang lain juga ikut bahagia seperti yang dirasakannya. Sikap kepedulian Joon yang tidak takut miskin membuat Shaina semakin bahagia dan bersyukur.


"Terima kasih Joon" ucap Shaina pada suaminya yang kembali setelah berbicara dengan orang-orang kepercayaannya.


Joon mendekat dan duduk di sebelahnya dan menggenggam tangannya dengan lembut.


"Jangan berterima kasih terus padaku, karena itu anakku juga" sahut Joon, lalu Joon tersenyum pada keluarga besarnya yang sedari tadi memperhatikannya saat bersama bawahannya.


"Malam ini aku ingin makan masakan buatan Mak dan bibi semua, bisakan?" Ujar Joon pada Bu Yani dan saudari-saudarinya.


Bu Yani dan saudari-saudarinya tersenyum sambil mengangguk atas permintaan Joon di masakin oleh mereka semua.


Suasana rumah Joon diramaikan dengan pekik Elif yang berlarian bersama teman kecilnya, anak dari saudara sepupu Shaina. Alfan dan paman-pamannya beserta yang lainnya sibuk bermain basket di lapangan belakang rumah, Joon yang di temani Harris dan Darrell duduk bareng ayah mertuanya dan keluarganya yang lain, sambil menikmati Alfan dan yang lainnya bermain. Alice bersama Rima juga sibuk belajar memakai kerudung di kamarnya.


"Helena, doaku selalu menyertaimu, semoga kau mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya, melalui dirimu aku menemukan cintaku" Shaina menyeka foto yang terdapat Helena dan Ervian, ditemani dengan anak kembar mereka.


Di sisi sebaliknya juga terdapat foto dirinya yang bersama Joon dan anak-anak, lalu di tutupnya album foto tersebut dan disimpan kedalam lemarinya.


Shaina berjalan ke depan cermin, tersenyum pada pantulan bayangan dirinya sambil mengelus perutnya yang sudah di diami oleh buah cintanya dengan Joon, suaminya. Kemudian Shaina keluar dari kamarnya dan menghampiri keluarganya dengan perasaan bahagia.


TAMAT...



Beribu-ribu terima kasih para pembaca semuanya yang telah berkontribusi besar dalam karyaku ini, sekali lagi terima kasih banyak.....

__ADS_1


Semoga tidak kapok untuk mengunjungi karyaku yang lainnya.


maap, promosi lagi 😁😁😁.....


__ADS_2