Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Menemui dokter kandungan


__ADS_3

"Waaaa... Menu baru ya Ma?" Seru Alfan, ia langsung menarik kursi meja makan untuk segera duduk di dekat Shaina.


"Iya sayang, coba cicipi semoga ini tidak mengecewakan seperti waktu itu ya sayang?" sahut Shaina, menyuapi masakannya pada Alfan.


"Alice juga mau Ma" sela Alice yang menyenggol saudaranya agar ia juga bisa dekat dengan Shaina.


"Jangan dorong-mendorong, semuanya kebagian" ujar Shaina yang bergantian menyuapi Alice dan Alfan.


Shaina tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah dua anak itu yang berebut kursi untuk dapat duduk di dekatnya, tapi tidak lama kemudian mereka berbaikan lagi berkat bujukan Shaina. Namun kelakuan mereka itu mengingatkan Shaina pada kehidupannya dan saudara-saudaranya di masa kecilnya dulu yang kerap bertengkar karena kejahilan salah satu saudara-saudaranya dan Shaina lah yang selalu mengalah demi adik-adiknya selaku ia anak pertama.


"Enak Ma" tambah Alice.


"Terima kasih sayang..." Sahut Shaina.


Alice dan Alfan terus makan dengan disuapin oleh Shaina, membuat mereka sangat lahap menghabiskan makan siang mereka, dan Shaina sendiri juga dengan senang hati menyuapi mereka.


"Aku kok enggak diajakin?".


Shaina dan anak-anak menoleh pada asal suara itu dan itu sangat mengejutkan mereka pada sang punya suara itu.


"Paman? Kok masih di rumah? Enggak pergi kerja?" Tanya Alfan.


"Memangnya kau tidak senang jika aku di rumah ya?" Tanya Joon.


"Bukan begitu, ini hanya tidak biasanya paman di rumah" ungkap Alfan.


Shaina tidak menanyakan apapun dan membiarkan kedua anak itu yang bertanya pada Joon karena ia masih malu tentang kejadian malam itu, sampai-sampai Shaina juga tampak sering membuang muka agar tidak beradu pandang dengan Joon begitu juga dengan Joon sendiri, ia juga jadi salah tingkah di depan Shaina.


"Fan, kenapa kau tidak makan sendiri?" Tanya Joon pada Alfan yang sedang menikmati makanan suapan Shaina.


"Di suapin Mama lebih enak paman dari pada makan sendiri" jawab Alfan.


"Iya paman, makanannya jadi luar biasa enak, kami senang Mama Shaina orang baik, kami bisa makan masakan Mama kapanpun dan Mama tidak sibuk lagi" timpal Alice.


Shaina terkekeh kecil dengan senyuman tulusnya, mendengar pujian Alice dan Alfan yang benar-benar dari dalam hati mereka. Sedangkan Joon terdiam sambil mengamati mereka.


"emmm.... benarkah? ini bukan sekedar di puji doang kan?" celetuk Shaina yang menyeringai dan tertawa kecil menggoda anak-anak.


"ya enggaklah Ma! kami benar-benar menyayangi Mama" sahut Alfan.


"OOO... makaciih..." seru Shaina dengan ekspresi terharu yang di buat-buat dan tampak menggemaskan.


Cup! Cup! Muaaahh!


Kecupan manis didaratkan Alfan dan Alice di pipi Shaina yang kegirangan mendapatkan pengakuan sayang dari anak-anak Helena, ia pun tidak henti-hentinya tersenyum hingga menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi dan indah itu, semakin meningkat akan kecantikan Helena apalagi Shaina orang yang murah senyum.

__ADS_1


Di arah yang berlawanan Joon duduk dan hanya memperhatikan tindak-tanduk wanita itu bersama anak-anak yang kian hari kian akrab bahkan tidak ada yang menduga jika Shaina bukanlah ibu kandung mereka sesungguhnya.


"Kalian makan dengan tangan sendiri jangan pake suapin kayak anak kecil gitu!" Dengus Joon pada anak-anak.


Seketika semua terdiam, karena jika Joon sudah bersuara tidak ada yang berani membantah, jadi mereka hanya diam dan menurut saja.


"Kenapa dengan mu? Aku sendiri tidak masalah!" sergah Shaina pada Joon yang tidak terima dengan sikap Joon memarahi anak-anak.


"Kau ini terlalu memanjakan mereka, sebaiknya kau makan untuk dirimu sendiri, apalagi bayimu juga butuh perhatian lebih" sembur Joon.


"Apa yang kau bicarakan? Aneh sekali" Gumam Shaina, heran dengan yang dimaksud Joon.


Alice mengangkat tangannya pada Shaina untuk mendekat padanya lalu ia berbisik.


"Ma, kayaknya paman cemburu deh, suka ngambek seperti anak kecil gitu" bisik Alice yang memecah tawa bersama Alfan tapi tidak dengan Shaina.


"Hahaha..." tanpa terduga Shaina malah tertawa lepas akibat perkataan Alice yang berbisik padanya.


Kata-kata yang dibisik Alice dapat didengar oleh Joon sendiri, sehingga ia jadi mengarahkan pandangannya pada Shaina yang terlalu cuek dengan tatapan Joon, tapi mendadak ingatannya berputar pada kejadian malam itu yang membuat Shaina kembali salah tingkah, meskipun demikian, mereka masih bersikap tenang seakan kejadian itu tidak pernah terjadi.


"Sejak kapan kau tidak menggunakan sendok?" Tanya Joon pada Shaina yang makan pake tangan langsung tanpa menggunakan sendok makan seperti yang lain.


Shaina terperanjat karena Joon tiba-tiba bertanya padanya, "i-itu, aku lagi kepengen saja" sahutnya.


"Gunakan sendokmu jangan seperti itu, itu tidak sopan" celetuk Joon.


"Iya paman, aku ud-" sela Alice.


"Saat makan jangan mengobrol" timpal Joon.


"Tapi pa-" lanjut Alice.


Lagi-lagi Joon melirik tajam dan membuat Alice bergidik tapi Shaina langsung mengalihkan perhatian anak itu pada makanannya.


Usai drama di meja makan selesai, mereka duduk bersantai di ruang tamu, dan Joon juga tidak kelihatan dari tadi. Seperti hari-hari sebelumnya, Shaina bercengkrama dengan kedua anak manis berparas cantik dan tampan itu yang selalu berhasil membuat perasaan Shaina bahagia.


Disaat semua sedang tertawa Joon keluar dari kamar dan membingungkan Shaina.


"Bagaimana kau masih di rumah? Kau tidak kerja?" Tanya Shaina pada Joon yang datang dari arah kamar.


"Aku tidak kerja hari ini" sahutnya.


"Kenapa?".


"Aku mau istirahat sehari dari pekerjaanku" jawab Joon.

__ADS_1


Shaina mengangguk dan ia sedikit bergeser bersama anak-anak, memberi ruang untuk Joon duduk di sofa berbentuk L itu.


Shaina beranjak dari duduknya, "kau mau minum apa?" Tanya Shaina pada Joon.


"Tidak usah" sahutnya.


"Tidak apa-apa, aku sekalian mau buat jus buat mereka" jelas Shaina, "teh? kopi? Tambah Shaina.


Joon melirik ke sebelahnya yang terdapat anak-anak sambil mengangguk pada Shaina.


"Jus juga sama seperti mereka" jawab Joon.


Shaina segera menuju ke dapur untuk menyiapkan jus request anak-anak termasuk Joon. Lima menit lebih telah berlalu, Shaina kembali dengan membawa baki berisikan gelas jus, setelah berbagi ke masing-masing pemilik jus, Shaina kembali duduk bersama mereka, meski ia masih segan memulai percakapan dengan Joon, tapi ada hal sangat penting yang harus ia bicarakan.


Tergagap Shaina mengeluarkan suaranya yang ingin memulai percakapan dengan lelaki berparas menawan itu, yang siap membidik hati kaum perempuan yang melihatnya.


"Joon... Kau punya uang?" Tanya Shaina pada Joon.


"Kau mau belanja?" Balas Joon.


"Bukan. Kita sudah lama tidak memeriksa kandunganku, aku khawatir ada masalah dengan bayinya karena aku juga belum berpengalaman hamil" ungkap Shaina.


Joon terdiam sejenak pandangannya tertuju pada perut besar Shaina.


"Jangan memaksanya jika tidak punya uang, sebaiknya kau istirahat saja, besok-besok jika punya uang baru kita pergi" lanjut Shaina yang tersenyum.


Diam Joon menyiratkan kesedihan yang diartikan Shaina, meski tidak dikatakan secara langsung oleh Joon sendiri, tapi Shaina merasa ada yang aneh dengan Joon yang tampak lesu setelah mendengar pernyataannya tersebut. Joon hanya beberapa teguk meminum jusnya ia berlalu pergi masuk ke kamarnya. Didalam kamar ia segera mengeluarkan buku rekeningnya yang tersimpan di lemari pakaiannya lalu membuka setiap lembarannya untuk mengecek saldonya.


"Sial! Tabunganku hanya cukup untuk bulan ini saja, bagaimana ini? aku juga harus membawa Shaina ke dokter" ketus Joon.


Nasib buruk Joon tidak sampai disitu saja, dimana di dompetnya juga hanya menyisakan beberapa lembar uang kertas yang rencananya untuk membayar listrik rumah, tapi mendengar perkataan Shaina dengan terpaksa ia harus menggunakan uang tersebut untuk biaya Shaina ke dokter kandungan. Seharusnya Joon tidak akan sepepet itu jika bukan karena membayar perbaikan mobilnya yang sering mogok akhir-akhir ini. Dengan memantapkan hatinya Joon keluar menemui Shaina yang bersama anak-anak.


"Bersiap-siaplah, kita akan pergi ke dokter untuk mengecek kandunganmu" kata Joon pada Shaina.


Shaina terperanjat kaget, "Joon...".


Setelah membicarakan tentang tidak lagi memeriksa kehamilannl, Shaina jadi tidak enak hati, apalagi melihat kehidupan sehari-hari Joon bukanlah orang yang memiliki penghasilan lebih. Jadi Shaina berusaha kembali mencoba menundanya untuk tidak mau mendengarkannya dengan alasan akan berusaha bisa mengurus semua keperluan dan kebutuhan mereka dengan baik, mau tidak mau Shaina tidak bisa menolaknya untuk tidak pergi bersama Joon ke dokter.


****


Di depan dokter yang menanganinya, Shaina mulai mengatakan semua keluhannya, dari mulai dari ia sering merasa ngilu dan tidak nyaman di tulang pinggulnya hingga beberapa masalah lainnya. Namun dokter perempuan yang berspesialis kandungan itu hanya tersenyum dan mengatakan Shaina sedang mengalami perubahan tubuhnya yang cukup signifikan karena perkembangan si bayi dan itu normal dialami oleh para ibu hamil.


Sebuah benda berbentuk stick digosok-gosokkan ke permukaan perut Shaina yang terbaring di ranjang pasien oleh sang dokter, stik itu disebut stick USG 4D dimana dengan alat tersebut dapat menangkap aktivitas dan ekspresi wajah si janin yang lebih jelas. Sehingga Joon maupun Shaina yang melihatnya tampak bahagia, tidak henti-hentinya senyuman bahagia merekah di bibir merah sepanjang pemeriksaan tersebut.


"Ma, itu adik bayinya ya?" Tanya Alice yang antusias melihat adiknya melalui layar dimensi sambil berpegangan pada Shaina, begitu juga dengan Alfan yang tidak jauh-jauh dengan Joon.

__ADS_1


Shaina sendiri yang baru pertama kali melihat janin sejelas itu di buat takjub sekaligus menganga, tanpa sadar bulir-bulir air matanya keluar dari pelupuk matanya, mengingatkannya pada sosok perempuan yang telah mengandungnya sembilan bulan semasa ia masih seperti janin itu, rasa rindunya semakin dalam dan mendalam bagaimana dulu ia selalu bersikap ketus pada ibunya karena perbedaan pandangan dengan kedua orang tuanya. Namun Shania tidak sekalipun membenci mereka walau ia tidak menurut dan tidak menunjukkan sisi lembutnya, tapi sebenarnya ia sangat menyayangi mereka, berusaha keras melindungi adik-adiknya secara diam-diam dan menjadi sosok yang selalu ada ketika di butuhkan, menyamping lukanya sendiri demi terlihat sempurna untuk orang-orang yang ia kasihi, karena ia terlahir sebagai anak sulung yang harus selalu tegar tanpa harus diketahui oleh orang lain dan hati selembut salju untuk merangkul orang-orang yang membutuhkannya.


Namun sejak menjadi Helena, sisi terdalamnya yang selalu ia sembunyikan dulu benar-benar muncul, mudah menangis serta kerap di anggap Joon cengeng atau manja itu adalah sosok dirinya yang sebenarnya.


__ADS_2