Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Kekasihnya menginap


__ADS_3

Shaina bingung dengan perasaannya yang sudah berbeda dari sebelumnya terhadap anak kembar tersebut, apa-apa ia mudah sekali mengkhawatirkan mereka, merindukan mereka saat mereka disekolah, memikirkan masak apa untuk mereka dan semuanya serasa hanya berputar-putar untuk Alice dan Alfan.


Bahkan tentang Joon juga, ia merasa sangat nyaman dan aman bila bersama Joon, Shaina juga tidak menyangka dirinya bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura seperti yang sering ia perlihatkan pada orang lain, memperlihatkan keanggunannya, dan kebaikannya. Tapi tidak pada Joon, sisi yang sebenarnya keluar begitu saja seperti arus air di sungai, jutek, marah, senang sampai menangis ia tunjukkan tanpa khawatir apapun.


"Aaa... Aaa... Keatas lagi... sedikit lagi, ya disitu, enak sekali..." Gumam Shaina dalam tidurnya.


Shaina meringis nikmat dalam tidurnya, tiba-tiba ia membuka matanya dengan cepat dan segera bangkit dari tidurnya karena merasa ada seseorang yang sedang memegang-megang dirinya. Samar-samar ia melihat sesosok lelaki duduk di kakinya, kekhawatiran menyelebunginya dengan cepat tapi terbantahkan lagi ketika penglihatannya mulai normal ia mendapati Joon memijat kakinya.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Shaina.


"Mijat mu, katanya tadi kakimu pegal-pegal" jawab Joon.


"Tapi kenapa sekarang?" Tanya Shaina lagi.


"Tadi saat aku datang kau sudah ketiduran jadi aku tidak mau membangunkan mu" sahut Joon. "Disini sempit jika kalian tidur bertiga apalagi Alfan dan Alice tidur dengan sembarangan, itu membahayakan bayinya jika kau terjatuh atau ketendang mereka nanti jadi ayo tidur di kamarku" lanjutnya.


"Tidak mau" sahut Shaina.


"Benarkah?" Joon tersungging.


"Iya, enggak mau! Aku serius!" Timpal Shaina dengan ekspresi jutek. "Memangnya aku ini apa? Enak saja aku diajak tidur bareng!" Gerutu Shaina yang menarik selimut untuk berbaring kembali dan mengabaikan Joon.


Tanpa sepatah katapun Joon berdiri dan berjalan kesisi tempat Shaina tidur, tiba-tiba Shaina dikejutkan dengan aksi Joon yang menggendongnya.


"Apa-apaan ini?!" Sembur Shaina.


"Jangan bawel! Bisa-bisa kau membangunkan anak-anak" ujar Joon.


"Tapi apa yang kau lakukan? Lepaskanlah! aku harus tidur".


"Ayo tidur di kamarku, anak-anak juga tidak akan keberatan jika aku mencuri Mama mereka dan membawa ke kamarku" ucap Joon yang tersenyum dengan menatap wajah perempuan yang digendongnya itu.


"Aku keberatan! Lepaskan aku! Atau aku melompat nih!" Ancam Shaina, matanya melototi lelaki itu yang semakin menambah senyumannya pada Shaina dan itu juga semakin sengitnya genderang bertabuh di dadanya.


"Silahkan" ucap Joon.


Shaina meringis ngeri saat melihat ke lantai karena ia tidak menduga Joon memang cukup tinggi dan jika melompat bukanlah pilihan yang tepat baginya sekarang yang sedang hamil.


"Kenapa? Kamu takut?" Tanya Joon dengan nada menyindir.


"Ini tidak adil, aku jadi perempuan hamil sedangkan kau terlalu kuat untukku" ketus Shaina yang tidak lagi melawan dalam gendongan Joon.

__ADS_1


Sambil berjalan ke kamar Joon berkata, "menurutku ini adil, aku memang harus kuat untuk kalian apalagi kamu yang hobi aku gendongin terus, kan?".


"Bicara apa kau ini! Aku gigit nanti!" Sembur Shaina.


"Dasar vampir" celetuk Joon yang tersenyum lebar.


Perlahan Joon menurunkan Shaina ke atas ranjangnya, meski perempuan itu tampak cemberut dan enggan menatapnya, tapi Joon dengan cekatan menyelimutinya dan menawarkan diri untuk memijat kakinya, Shaina menarik kakinya agar tidak di pegang Joon lagi.


Joon mengambil selimut satu lagi dari lemari dan berjalan ke luar.


"Jangan pergi, aku lebih baik tidur dengan anak-anak jika ditinggalkan sendirian" kata Shaina yang langsung Joon mengurungkan niatnya untuk tidur di ruang tamu.


Joon menaruh bantal guling ditengah-tengah ranjang berbaring bersama Shaina yang membelakanginya. Beberapa waktu berlalu, Shaina yang masih terjaga tidak mendengar atau merasa pergerakan lagi di arah belakangnya, lalu ia berbalik badan untuk mencari tahu Joon sudah tertidur atau tidak, perlahan-lahan ia bergerak dan ia melihat Joon sudah memejamkan matanya. Shaina memandangi wajah Joon lekat-lekat dan ia benar-benar terpesona dengan parasnya yang bahkan menyaingi para aktor ternama.


"Pantas saja Marissa kesal jika ada perempuan lain yang mendekati Joon, Joon nya aja yang terlalu tampan dan proporsional gini" batin Shaina.


Bulu mata Joon yang hitam lebat lagi lentik mendorong Shaina untuk menyentuhnya, perlahan-lahan ujung jarinya mendekati puncak hidung Joon yang sudah tertidur itu. Hatinya terasa geli sendiri hingga Shaina hampir tidak bisa menyembunyikan senyumannya, tapi disaat Shaina sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan didepannya Joon malah membuka matanya.


Sontak Shaina kaget dan dengan cepat menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang merona karena malu. Joon yang sejak tadi belum tertidur itu hanya bisa tersungging melihat tingkah lucu Shaina yang seperti anak kecil yang ketahuan berbuat salah.


"Mulai saat ini, kau boleh tidur sini" kata Joon.


Dibalik selimut Shaina menyeringai malu, mengingat tindakannya yang tidak tahu malu itu, apalagi mendengar perkataan Joon, rasa malunya semakin bertambah karena dimintai untuk tidur bersamanya.


Seketika Shaina berbalik dengan menyampingkan tubuhnya tapi malahan posisinya kembali berhadapan dengan Joon dan saat ingin mengganti posisi tidurnya, Joon mencegatnya.


"Jangan bergerak-gerak seperti itu, tidurlah ini sudah malam" kata Joon yang mengelus rambut Shaina.


Shaina terdiam, memaku selayaknya patung hanya saja matanya yang bergerak melihat tangan Joon membelainya lembut tanpa di cegahnya lalu memejamkan matanya hingga perlahan tertidur pulas.


Namun disaat ia mulai terlelap tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu yang ditekan seseorang, Shaina sendiri enggan untuk bangkit dari tidurnya karena rasa kantuknya benar-benar sudah menguasainya jadi ia membangunkan Joon yang juga mulai terlelap.


"Joon... Ada seseorang diluar" kata Shaina yang mengguncang-guncang tubuh Joon.


"Tidur sana jangan hiraukan itu, mungkin hanya kelakuan anak tetangga untuk konten mereka" gumam Joon.


"Tapi Joon bunyinya semakin cepat" tambah Shaina.


"Biarin aja, aku benar-benar ngantuk nih" jawab Joon.


Shaina kembali memperdengarkan bunyi bel tersebut yang semakin lama semakin keras jadi ia sendiri bangkit dari tidurnya hanya ingin ingin mengetahui apa yang terjadi.

__ADS_1


Belum lagi ia beranjak dari ranjang, Joon menarik tangannya, "biar aku saja yang lihat, kamu istirahat saja" kata Joon yang beranjak dari tempat tidur.


Shaina mengangguk seperti anak kucing imut yang menuruti perintah tuannya, melihat Joon yang menghilang dibalik pintu. Hampir lima menit berlalu, Joon belum juga kembali ke kamar, membuat Shaina khawatir jadi ia pun bangkit dari tidurnya untuk menyusul Joon di luar. Dan sungguh diluar dugaan, ternyata orang yang bertamu itu tidak lain adalah Marissa dan sekarang Joon sedang mengobrol serius dengannya.


"Selamat malam nona Helena" sapa Marissa pada Shaina yang melihatnya datang dari arah dapur.


"Malam" sahut Shaina, ia bersyukur saat keluar dari kamar Joon sempat mengawasi situasi luar sebelumnya jadi ia tidak kepergok tidur dari kamar Joon tapi dengan cepat ia mencari jalan keluar dengan seakan-akan ia keluar dari dapur.


"Marissa pulanglah ini sudah malam" kata Joon.


"Enggak mau, aku mau tidur bersamamu malam ini" sahut Marissa.


GLEK!!


Ucapan Marissa memaksa Shaina menelan salivanya, bagaimana tidak dengan gampangnya Marissa mengatakan ingin tidur dengan Joon. Shaina berpermisi untuk tidur daripada mendengar obrolan mereka, ia masuk ke kamarnya dan anak-anak, meninggalkan Joon bersama Marissa, saat ia melewati mereka, Joon sempat melirik Shaina dengan perasaan bersalah.


Di sebelah Alice, Shaina merebahkan tubuhnya dengan rasa kantuk yang amat sangat itu mendadak hilang, bahkan untuk memejamkan matanya saja terasa sangat sulit, pikirannya berkecamuk memikirkan Joon dan Marissa apa yang akan terjadi dengan mereka. Apalagi Shaina masih bisa mendengar percakapan dua sejoli itu hingga suara mereka mengarah ke kamar Joon, membuat Shaina tidak mau mengetahui kejadian selanjutnya.


"Joon... Jangan begitu, kau menyakitiku" pekik Marissa.


"Pelankan suaramu, kau membangunkan anak-anak dan Helena" kata Joon.


"Apanya yang membangunkan? aku sudah bangun dari tadi" batin Shaina yang diikuti dengan decak kesal terhadap penghuni kamar sebelah.


Shaina segera menutup telinganya karena tidak mau mendengarkan lagi suara dua sejoli itu dan ia tidak mau membayangkan kejadian selanjutnya di kamar sebelahnya.


...******...


Jam digital yang tergeletak di atas nakas disamping ranjang sudah menunjukkan pukul dua dini hari, mata Shaina masih enggan untuk terlelap, dadanya terasa panas dan sesak, membuatnya sulit untuk tidur. Percakapan dikamar sebelah antara Joon dan Marissa yang terbilang singkat itu pun tidak tidak terdengar lagi selain keheningan malam yang menemani tidur Shaina.


Tanpa disadari air matanya mengalir deras hingga membasahi pipinya, meski terus menyeka air matanya tapi ia tidak kuasa untuk membendungnya lagi, hatinya juga terasa sesak dan jantung yang berdebar kencang, kecemasan telah menyelimuti tidurnya, berharap ini segera usai.


...----------------...


Kira-kira apa yang terjadi di kamar sebelah ya hingga Shaina sampai menangis begitu?


Ada yang tahu?


Silahkan komen dibawah....


...----------------...

__ADS_1


**TERIMAKASIH UDAH MAMPIR DI CERITA JOON DAN SHAINA...


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE, VOTE, DAN KOMENNYA, BIAR AUTHOR SEMANGAT NULISNYA APALAGI DI SAAT-SAAT PUASA...


__ADS_2