Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Konspirasi terselubung


__ADS_3

Puas bermain ice skating, Alice dan Alfan menghampiri Shaina dan Joon yang sejak tadi menunggu mereka selesai. Mereka memutuskan untuk menyudahi permainan tersebut karena masih ingin lihat-lihat yang lain sambil jalan-jalan.


Shaina mengangkat jari kelingkingnya pada Joon yang biasa dilakukan Alfan dan Alice ketika mereka ingin ke toilet. Joon yang paham yang dimaksud Shaina, ia segera mengajaknya pergi ke toilet, di depan toilet khusus perempuan, Joon dan anak-anak menunggu Shaina selesai.


Di salah satu pintu toilet, terdapat Shaina yang sedang buang air kecil. Klotak-klatik sol sepatu yang bergesekan dengan ubin lantai toilet terdengar dari pintu sebelahnya, perempuan bermantel merah mendekat ke wastafel untuk mencuci tangannya dan meletakkan tas branded di sisi wastafel. Setelah mencuci tangan dan mengelap, ia membuka tasnya untuk mengambil ponselnya yang berdering.


"Halo honey...!" Ucap wanita itu.


Wanita terus mengobrol dengan seseorang yang Shaina duga sebagai kekasihnya karena perempuan itu kerap melempar kata-kata manja yang mendayu-dayu. Bukan maksud ingin menguping pembicaraan orang, tapi perempuan itu berbicara cukup lantang hingga terdengar ke ruang tempat Shaina berada kebetulan bersebelahan dengannya.


"Enggak di kampung enggak di sini semua orang lebay banget kalo bicara dengan pacar padahal belum tentu setia, dasar bucin!" cicit Shaina.


Terbesit rasa jengkel mendengar gaya bicara perempuan itu, dan ingin segera pergi dari toilet agar tidak mendengar percakapan kekasih itu.


"Apa kita harus menyingkirkan Professor Helena juga?" Ucap perempuan itu.


DEG!


Seketika Shaina menghentikan tangannya untuk menarik pintu toilet saat mendengar perempuan itu menyebutkan nama Helena, meski Shaina tidak tahu Helena mana yang dimaksud, tapi itu sudah membuatnya cukup kaget, karena dari pembicaraan perempuan itu tersirat rencana yang mengerikan.


"Jika kau mau, aku juga bisa menyingkirkan perempuan gila itu, apalagi ku dengar-dengar dia sekarang tinggal bersama adik suaminya" tambah perempuan itu.


Shaina semakin yakin Helena yang dimaksud adalah dirinya, kekhawatiran kembali menyelimutinya, tubuhnya terasa membeku dan ia ingin segera pergi dari toilet.


Perlahan-lahan ia membuka pintu toilet dan berusaha tenang di depan perempuan bertubuh seksi itu meski ia menggunakan mantel tapi tampak jelas dia bukan perempuan bodoh seperti dirinya. Dengan segala keberanian Shaina mendekati wastafel di sebelah perempuan itu, ide aneh muncul saat Shaina masih di ruang tadi yaitu membalikkan mantelnya dan menutupi wajahnya dengan tudung baju yang berbulu tersebut agar wajahnya tidak dapat dikenali, karena Shaina yakin perempuan yang berencana ingin menyingkirkan Helena pasti sangat mengenali wajah Helena juga.


"Anak-anaknya masih kecil dan tidak membahayakan posisi mu jadi kita harus ambil alih saham milik suaminya dulu agar kita punya senjata untuk menyingkirkan orang-orang CALISTA groups" sambung perempuan itu.


Jantung Shaina semakin berpacu mendengar itu, tangannya bergetar dan berusaha untuk cepat-cepat selesai mencuci tangan, ia memberanikan diri untuk melirik kearah perempuan itu melalui pantulan cermin di depan mereka yang memperlihatkan perempuan itu sangat cantik dengan bibir merahnya yang seksi seakan sengaja di bentuk.


Secepatnya Shaina memalingkan wajahnya ketika menangkap sepasang bola mata perempuan itu terarah padanya.


"Lalu bagaimana dengan Joon?" Tanya perempuan itu pada lawan bicaranya di telponnya.


Shaina tersentak mendengar Joon ikut terseret dalam pembicaraan itu.


"Apa kau yakin Mamimu bisa mengurusnya? Karena kalau tidak, dia bisa membahayakan posisimu juga" tambah perempuan itu.


Shaina bergegas menuju pintu keluar, ia merasa ada yang tidak beres dengan isi pembicaraan perempuan itu, sekaligus ia penasaran siapa mereka terutama laki-laki yang berbicara dengan perempuan di sebelahnya tersebut.

__ADS_1


"Nona!" Panggil perempuan itu.


Mendadak Shaina membeku, langkahnya ikut terhentikan, ia menoleh pada perempuan itu karena memanggilnya, ingin rasanya segera kabur tapi jika ia melakukan maka akan ketahuan kalau dia orang di bicarakan itu.


"Sarung tanganmu tertinggal" ujar perempuan itu sambil melirik kearah sarung tangan yang diletakkan Shaina sebelumnya di wastafel.


"Oh... Makasih..." Sahut Shaina yang kembali mendekat untuk mengatasi sarung tangannya yang tertinggal.


Setelah itu Shaina secepatnya berbalik badan. Perempuan itu kembali mengobrol dengan lawan bicaranya dengan ponselnya.


"Kita tahu Joon itu anak ingusan dan tahunya hanya bersenang-senang jika kau mau aku bisa mendapatkannya untukmu" perempuan itu tersungging menatap dirinya di cermin.


......


"Oh... soal itu jangan khawatirkan, Joon berbeda dengan kakaknya, dia tidak lebih dari pangeran buangan dan tidak tahu-menahu konspirasi orang-orang di sekitarnya untuk merebut posisinya".


Shaina ingin sekali mendengar lebih lanjut pembicaraan tersebut tapi keadaan tidak mendukungnya untuk berlama-lamaan di dekat perempuan itu, sebelum curiga Shaina segera meninggalkan toilet.


Tak jauh dari pintu keluar toilet, Shaina sudah melihat Joon bersama anak-anak yang menunggunya sejak tadi, ia mempercepat langkah untuk menghampiri mereka.


"Apa yang kau lakukan didalam sana? lama sekali kau membuat kami menunggu" celetuk Joon, melihat Shaina mendekat.


Tanpa basa-basi Shaina segera merangkul tangan Alfan dan Alice, "Joon, cepat kita pergi dari sini!" Ujar Shaina yang berjalan lebih dulu ke depan.


Tanpa menjawab satu katapun, Shaina semakin meningkat kecepatan langkahnya meninggalkan tempat itu karena ia khawatir akan bertemu lagi dengan perempuan di toilet tadi.


"Shaina! Kenapa kau buru-buru sekali?" Joon menyeimbangkan langkah Shaina yang cukup cepat berjalan meski ia sedang hamil besar.


"Aku tidak suka tempat ini, ayo kita pergi" ujar Shaina.


Berulang kali Joon mempertanyakan alasan Shaina terburu-buru meninggalkan toilet, dan alasan yang sama pula diberikan Shaina. Ketika dianggap sudah jauh dari toilet dan aman dari perempuan tadi, Shaina baru memperlambat jalannya.


"Kenapa ini?" Joon memegang mantel Shaina, "kenapa kau memakai mantel terbalik?" tanya Joon.


"Oh ini? Aku lupa perhatiin tadi saat make di toilet" Shaina membuka mantelnya untuk memakai dengan benar, "ngomong-ngomong bagaimana kalau kita ke tempat lain aja, aku bosan di sini" lanjut Shaina, memasang wajah imutnya.


"Kayaknya kita baru bentar disini, masak udah bosan?" Celetuk Joon.


"Bukan aku yang mau tapi dia..." Shaina mengedip-ngedip matanya sembari menunjuk pada perutnya berharap Joon mempercayai alasannya.

__ADS_1


Kebohongan Shaina tidaklah sia-sia karena Joon ikut tersungging seraya menghela nafas panjang melirik Shaina, setelah itu ia pun menuruti keinginan Shaina untuk keluar dari tempat tersebut. Tidak jauh tempat sebelumnya mereka tiba di tanah lapang dan terdapat perbukitan, di tempat tersebut para pengunjungnya juga tidak kalah banyak dari area ice skating tadi. Banyak masyarakat lokal maupun turis berkerumun untuk ikut seru-seruan bermainan ski menuruni lereng bukit yang menantang.


"Wow! Banyak sekali orang" kata Shaina yang kagum dengan para pengunjung.


Ia terus berpegangan pada Joon sambil menggandeng Alice karena takut ada yang terpisah atau tepatnya ia yang kesasar karena belum pernah datang ke tempat keramaian seperti sekarang apalagi tempat itu tempat baru baginya.


"Paman, ada yang main ski...! Kita ke sana yuk!" Seru Alfan sembari menunjuk ke orang-orang yang sedang bermain ski di permukaan salju.


Joon yang sejak awal berniat ingin menyenangkan kedua keponakannya, jadi tidak ada alasan untuk menolak pinta Alfan dan tanpa ragu-ragu ia membawa mereka lebih dekat ke kerumunan orang-orang di bawah bukit agar dapat melihat orang bermain ski dengan sebilah papan khusus serta sepasang tongkat yang berfungsi untuk menyeimbangkan diri supaya tidak terjatuh saat mereka berselancar menuruni bukit yang diselimuti tebal oleh salju, dan ada pula yang mendaki bukit agar mereka dapat berselancar bebas, ada juga yang hanya sekedar melihat-lihat saja.


Mulai dari anak-anak sampai orang tua telah bersatu padu, larut dalam keseruan mereka yang telah menghangatkan perasaan mereka di dinginnya salju, berbagi tawa dan canda yang di sebut dengan istilah bahagia, begitu juga dengan Alfan dan Alice walaupun mereka tidak punya kesempatan untuk ikut menikmati licinnya papan ski seperti anak-anak yang lain.


Dari kejauhan tampak tiga orang berpakaian tebal lengkap dengan kacamata pelindung sedang menuruni bukit berselimut salju itu dengan papan ski mereka, namun ketika ketiganya sudah mendekati dataran kaki bukit, mereka malah berbelok kearah Joon dan yang lain berada, serta dua diantaranya melakukan pengereman mendadak tepat di depan Joon, karena hal itu juga menyebabkan Shaina kaget sekaligus takut akan terjadi hal buruk.


ketegangan berakhir saat dua orang tersebut membuka kacamata mereka yang ternyata Calvin dan Harris yang sengaja melakukannya untuk mengerjai teman mereka, yaitu Joon, namun Joon malah terlihat terlihat biasa saja seakan ia sudah menduga mereka itu Harris dan Calvin.


"Hai bro! Kita ke atas yuk!" Harris menepuk pundak Joon setelah melepaskan kacamatanya.


"Enggak ah!" Tapis Joon.


"Shaina? Kau disini juga?" Calvin mendekat ke Shaina.


"Iya, tadi Joon ngajak kami kemari" sahut Shaina.


Joon melihat Alice dan Alfan yang kagum dengan stick serta papan ski Calvin.


"Om Calvin keren! Bisa main ski, apalagi saat om Calvin turun tadi, keren banget...!" Ujar Alfan yang terkagum-kagum dengan Calvin.


"Terima kasih, kamu suka?" Tanya Calvin pada Alfan.


"Suka...! Suka sekali..." Sahut Alfan dengan antusiasnya.


Orang yang datang bersama mereka sebelumnya ikut bergabung dengan mereka, yang merupakan ia seorang wanita.


"Hai Helena?" Tanyanya pada Shaina.


"Hai...ju..ga.." sahut Shaina terbata-bata sembari menoleh ke kiri dan kanan pada Joon beserta dua temannya yang lain.


Perempuan itu melepaskan sabuk papan ski yang terikat pada sepatunya lalu berjalan mendekati Shaina untuk memeluknya. Walaupun Shaina ragu-ragu membalas pelukan itu tapi ia tetap melakukan meski ia belum pernah melihat apalagi tahu siapa perempuan itu.

__ADS_1


"Sayangku, aku ikut sedih apa yang menimpa padamu, kamu harus kuat ya demi anak-anak mu dan bayimu" ujar perempuan itu sembari mendekap Shaina dengan hangat.


"Te-terima ka...sih" sahut Shaina sambil melirik Joon dan yang lainnya.


__ADS_2