
Malam tiba, Alfan dan Alice pun sudah terlelap, Shaina keluar dari kamar mereka setelah menemani tidur sikembar sebelumnya. Di ruang tamu masih terdengar suara TV yang menyala dan Joon tampak terbaring di sofa sambil menikmati siaran TV.
Melihat Shaina keluar dari kamar Alfan dan Alice, Joon langsung memintanya untuk di samperin.
"Temani aku nonton" ucap Joon yang tersungging pada Shaina.
Shaina yang berniat hendak masuk ke kamar Joon beralih ke sofa, mendekati Joon.
"Orang hamil tidak boleh begadang" ujar Shaina yang berdiri di dekat Joon.
Joon meraih tangan Shaina untuk memintanya duduk di sebelahnya, "ini belum larut malam, kita nonton aja sebentar" kata Joon, "kalau aku ajak begadang untuk yang lain baru itu bermasalah" lanjutnya sambil menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
Shaina tersungging karena mengerti maksud Joon tersebut, pembicaraan seperti bukan lagi sesuatu yang jarang didengar dari Joon, melainkan sudah menjadi sebuah kebiasaan Joon bicara dengannya ketika saat mereka sedang berdua.
Shaina ikut duduk di dekat Joon berbaring dan menjadikan lengan Joon sebagai sandarannya.
"Film apa yang sedang kau nonton?" Tanya Shaina.
"Film romantis yang banyak adegan dewasanya, kamu suka kan?" Ujar Joon yang penuh kemenangan sambil mengunyah kentang goreng.
Seketika Shaina menyentil bibir Joon, "bicara soal itu lagi ku lakban mulutmu!" Ancam Shaina dengan mata yang melototi Joon.
"Maaf-maaf, aku hanya bercanda, kita cuma nonton film action doang kok, seperti kesukaanmu" gumam Joon yang memanyunkan bibirnya, "makan ini biar kita seperti di bioskop" Joon menyuapi kentang goreng pada Shaina.
Bahkan sesekali Joon tidak ragu-ragu menyuguhkan air untuk Shaina di sela-sela mengemil keripik kentang saat menikmati acara TV.
"Bukankah ini lebih baik daripada di bioskop? Apalagi cuma kita berdua disini" celetuk Joon.
Shaina yang benar-benar sudah dalam dekapan Joon, hanya bisa tersungging melihat Joon yang cengengesan padanya.
Tidak lama kemudian perhatiannya kembali teralihkan pada film yang sedang di putar apalagi film tersebut film baru pertama kali tayang di televisi. Namun tanpa sadar Shaina mengelus perut berototnya Joon dan ia ikut mencengkram tangannya ketika adegan menegangkan sedang terjadi, ia tidak menyadari bahwa Joon sedang menikmati pijatan gratis tersebut.
Joon kembali memasukkan keripik kentang ke mulut Shaina dan saat Shaina ingin menggigitnya, secepatnya Joon mengalihkan keripik kentang dan menggantinya dengan jarinya, sontak itu mengagetkan Shaina dan itu dilakukan hingga beberapa kali untuk mengganggu perhatian Shaina yang menonton.
"Apa yang kau lakukan?" Timpal Shaina yang menatapnya tajam pada Joon.
Joon tersenyum dan segera mendekat pada Shaina dengan beradu pandang yang membius perasaan keduanya, perlahan namun pasti mengkatup mulut Shaina dengan hangatnya bibirnya di malam yang dingin, mengabaikan volume tv yang sengaja di naikkan Joon untuk menyamar suara mereka, namun masih dibawah standar agar tidak membangunkan anak-anak. Perlakuan Joon tersebut membangkitkan gairah Shaina dan ia pun seakan terhipnotis untuk melakukan lebih jauh lagi, melupakan siapa dirinya dan akibat yang akan timbul nantinya.
Membiarkan tangan Joon blusukan ke bawah piyamanya, menjamah bagian-bagian yang belum terjamah oleh siapapun, meninggalkan bekas di sekitar lehernya dan dadanya, Shaina pun merasa seperti bukan dirinya, bagaimana ia begitu hapal betul cara memanjakan Joon untuk tetap disisinya padahal sebelumnya ia tidak tahu apa-apa hal semacam itu. Otot-otot pun mulai meregang beserta kaki Shaina jadi kaku.
"Aaauuu...!" Pekik Shaina.
Seketika Joon melepaskan diri dari Shaina.
__ADS_1
"Kenapa? Apa ada yang sakit?" Joon cemas melihat Shaina meringis.
"Perutku..." Lirih Shaina sambil memegangi perutnya yang buncit.
"Ya ampun...! Apa kau kesakitan? Aku benar-benar tidak menekannya" ucap Joon yang di selebungi rasa panik.
Shaina terkekeh kecil dan membuat Joon semakin bingung. Shaina menyingkap piyama kremnya yang stelan dengan celana panjang dan memperlihatkan perutnya.
"Shaina...!" Seru Joon melihat ke perut Shaina.
Shaina tersenyum, "Elif bergerak" ujar Shaina pada Joon yang sangat terkejut melihat pergerakan yang aktif di perut Shaina.
Pergerakan janin tersebut terlihat sangat jelas dari biasanya, bahkan tampak seperti telapak kaki mungil yang menendang bawah permukaan kulit perut Shaina.
"Dia bergerak lagi...! Lihatlah kaki mungil itu, lucunya... dan lihat lagi ini seperti tangannya..." Ujar Joon yang tampak sangat antusias.
Joon tidak ragu-ragu menyentuh dan mengecup bayi mungil itu yang terselubung dengan kulit perut yang jadi rumah sementara bagi si bayi.
Joon melihat pada Shaina seraya berkata, "apa itu sakit?".
"Agak nyeri dikit tapi tidak tidak apa-apa" sahut Shaina.
Joon terus menyentuh perut Shaina dan mengajak ngobrol dengan sang janin sehingga tendangan atau pergerakan bayi kembali terulang beberapa kali.
Shaina memperbaiki posisi duduknya sambil meringis malu dengan perlakuan yang didapatkan dari Joon, tidak henti-hentinya Shaina cekikikan melihat Joon mengobrol tidak jelas dengan janin dalam kandungannya.
Ingatan tadi siang kembali berputar dalam pikiran Shaina tentang sosok perempuan yang mengenalnya dan Joon, sampai bahkan berencana jahat terhadap Helena, Shaina juga masih penasaran dengan sosok lelaki yang juga mengenal Joon dan dari pembicaraannya. Lelaki itu seperti ada hubungan kerabat dekat dengan Joon.
"Joon, kalau boleh nanya aku mau nanya sesuatu nih" gumam Shaina.
"Tanyakan saja" sahut Joon yang masih sibuk mengajak interaksi dengan sang janin.
"Lelaki tadi itu siapa? Kenapa ia mengaku juga sebagai paman Alice dan Alfan? Apa dia saudaramu? Pakaiannya juga terlihat seperti orang kantoran" Tanya Shaina.
"Kenapa? dia keren ya dengan jas itu?" Sudi Joon.
"Emmm... Iya sih, dia kelihatan sekali dewasa dan gentleman gitu apalagi brewoknya itu... Bikin gemesss...." ungkap Shaina malu-malu sambil membayangkan sosok yang di bicarakan itu.
Mendadak Joon melihat padanya dengan tatapan tajam sambil berdecak kesal, ia juga menjitak dahi Shaina sehingga mengejutkan perempuan itu.
"Tidak disana tidak disini semua perempuan sama saja, jika melihat yang rapi dan berdasi formal seperti itu udah lebay enggak jelas, padahal diluar sana juga banyak maling berdasi" ketus Joon.
"Apaan sih sewot enggak jelas? Aku kan cuma mengatakan dari sudut pandanganku" gumam Shaina.
__ADS_1
"Pandangan mu itu buram!! Jadi jangan sok mandang-mandang gitu! Aku juga lebih keren darinya jika kamu enggak nyuruh aku mencukur setiap harinya!!!" Seru Joon.
"Kenapa sih?".
"Masih nanyak lagi? Mulai besok aku tidak akan mencukur lagi! Aku akan berkerja di kantor dan memakai jas formal selalu!" Sembur Joon yang memalingkan wajahnya dari Shaina.
Shaina terkekeh melihat Joon ngambek seperti anak kecil.
"Kenapa denganmu? Aku cuma nanya siapa dia, itu doang!" Ujar Shaina.
"Tahu ah! Aku mau tidur!" Tukas Joon.
Ia mematika tv dan menuju ke kamar dan meninggalkan Shaina di sofa yang masih penasaran dengan lelaki itu. Namun ketika ia sudah berada di depan pintu kamar, Joon menghentikan langkahnya dan kembali ke menghampiri Shaina yang juga beranjak dari pembaringannya.
Tanpa permisi Joon langsung membopong Shaina ke kamarnya.
"Apa yang kau lakukan?" Ujar Shaina yang keget dengan tindakan Joon tersebut.
"Jangan banyak bicara lagi" titah Joon.
Shaina mengangkat alisnya sambil menarik bibirnya ke samping, ia tidak habis pikir Joon bisa ngambek juga bahkan dengan alasan yang tidak ia mengerti. Meski ia di cuekin, tapi Shaina suka melihat Joon bersikap seperti itu padanya. Joon membaringkan tubuh Shaina di tempat tidur lalu ia ikut berbaring di sebelahnya, memandanginya yang belum terlelap.
"Namanya Darel Vigor" ucap Joon.
Sontak Shaina mengalihkan perhatian pada Joon dan rasa penasarannya semakin besar mendengar Joon menyebutkan nama asing itu.
"Dia putra Tante Rossie, sepupu ku, tapi hubungan kami tidak terlalu baik" jelas Joon.
Shaina beranjak dari tempatnya dan mendekat pada Joon untuk mendengarkan cerita lebih lanjut mengenai kehidupan pribadi Joon yang belum ia ketahui apapun walaupun sudah cukup lama ia bersama Joon.
"Benarkah? Tapi kenapa?" Tanya Shaina dengan antusias untuk menjawab semua penasarannya yang terlanjur bersemanyam di pikirannya.
"Sudah cukup ngobrolnya, kamu enggak boleh bergadang, cepat tidur sana!" Tukas Joon berbalik badan dan membelakangi Shaina.
"Iihhh enggak seru...! Aku pengen tau lagi tentangmu dan orang-orang itu" kilah Shaina.
"Hidupku ingin kau usut tapi tentangmu ka rahasiakan! Dasar detektif Conan kw!" Ujar Joon.
"Ini berbeda, kau tidak ada sangkut pautnya dengan masa laluku sedangkan aku terjebak di sini dan aku memang harus tahu banyak tentangmu, agar aku tidak di tipu...!" Berang Shaina.
Joon kembali berbalik arah kearah Shaina, "ini sudah malam cepat tidur, kalau tidak aku akan menutup mulutmu seperti tadi!" Ancam Joon.
"Aku tidak akan terpengaruh lagi! Aku juga tidak bisa tidur jika kau tidak menceritakan tentang dirimu!".
__ADS_1