Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
perasaan hati


__ADS_3

"Kalau kamu cuma berdiri di sana bisa-bisa aku mati membeku" timpal Joon.


"Baik-baik! Enggak ngomel sekali apa enggak bisa?" Balas Shaina.


Joon mendekat "kalau enggak gitu aku khawatir ini tidak akan berakhir dengan semestinya" bisik Joon, sekali lagi membuat Shaina merinding.


Dengan ekspresi jutek Shaina merebut shower air dari tangan Joon yang duduk di bangku depan wastafel, Joon merebahkan diri dengan bersandar di wastafel sedangkan kepalanya di atas lubang wastafel agar ketika disiram air tidak membasahi lantai.


Joon terus mengarahkan pandangan matanya pada Shaina memperhatikan setiap detail ekspresinya, senyum, mata hidung hingga bola matanya bergulir, di sela-sela kesibukannya membasuh dan memijat kepala Joon yang dipenuhi busa sampo.


"Kau pernah bekerja di salon?" Tanya Joon.


Shaina tersenyum dan berkata, "ada-ada aja kau ini", dan melanjutkan pekerjaannya.


Usai mencuci rambutnya, Joon keluar untuk berpakaian begitu juga Shaina yang membangunkan anak-anak agar tidak kesiangan pergi ke sekolah.


"Shaina, bisa bantu aku gantikan perban?" Ujar Joon pada Shaina yang berada di ranjang saat membangunkan anak-anak.


" Baiklah, kesini" sahut Shaina. "Alice mandi di sini saja dan Alfan di kamar ya? Biar enggak telat karena ngantri" tambah Shaina.


"Baik Ma" sahut mereka.


Joon membawa semua alat yang dibutuhkan termasuk obat yang oles ke atas ranjang. Shain agak meringis melihat Joon membuka perban sebelumnya membuat Joon tersungging.


"Ada-ada aja kau, tulangku yang retak malah kau yang terlihat merasa sakit" Kata Joon.


"Tapi itu kelihatan sakit sekali tahu! Aku mencoba mengeluarkan perasaanmu bukan seperti kau yang sok jaim" dengus Shaina.


"Terserah kau sajalah" imbuh Joon.


Shaina membalut kembali perban yang baru di lengan Joon dan mengabaikan perhatian Joon yang sejak tadi terus memandanginya.


"Apa aku terlihat seperti lukisan dari tadi kamu melihatku terus?" Sudi Shaina tanpa menoleh pada Joon.

__ADS_1


"Iya, kau seperti lukisan yang indah dari mahakarya terhebat hingga mataku hanya ingin melihatmu saja" sahut Joon.


"Gombal...!" Shaina tersungging, "pasti kau sering merayu wanita" tambahnya.


"Tidak, aku belum pernah merayu siapapun".


"Pasti aku sangat bodoh jika mempercayainya".


"Tidak apa-apa kalo tidak percaya, karena wanita-wanita itu datang begitu saja padaku tanpa aku memanggilnya atau merayunya" ungkap Joon.


Shaina mengangkat wajahnya dan menatap Joon, "kau memanfaatkan wajahmu" ujarnya.


Joon terkekeh, "memangnya bagaimana wajahku?" Tambah Joon.


Shaina jadi salah tingkah dan kembali merona seperti sebelum-sebelumnya, apalagi saat Joon mengangkat alisnya yang meminta Shaina untuk melanjutkan kalimatnya.


"Baiklah...." Sahut Shaina, "kau itu sangat.... tidak tahu malu! Hahahah....!" Gelak tawanya pecah.


Senyuman tipis mengembang di bibirnya Joon dalam diamnya melihat Shaina tertawa, perlahan ia mulai merangkul Shaina yang mulai berhenti tertawa tapi ia masih tersenyum-senyum karena mendapati wajah Joon yang sangat dekat dengan wajahnya.


Joon mengedipkan matanya dengan bibir yang tertarik sehingga terlihat sangat menggoda.


"Alice di kamar mandi kalo dia keluar bagaimana?" Bisik Shaina pada Joon yang saling beradu pandang dan sesekali tertuju pada bibir lawan jenis.


"Sudah ngerti juga kau, tahu kode-kode padahal aku tidak mengatakan apapun" balas Joon dengan ekspresi seperti orang menang lotre.


Seketika senyuman Shaina memudar dan tergantikan dengan ekspresi dingin dan jutek, namun Joon semakin kegirangan melihatnya.


Cup!.


Kecupan hangat didaratkan Joon di leher Shaina pada saat ia berpaling muka.


"I love you" bisik Joon yang seketika Shaina menolehkan mukanya pada Joon.

__ADS_1


"Aku mencintaimu" ulang Joon, meletakkan tangan Shaina di dadanya, sehingga detak jantungnya dapat dirasakan langsung oleh Shaina, "kau telah membuatku jatuh cinta padamu setiap saatnya, jantungku saja tidak bisa berbohong" lanjut Joon.


Shaina terdiam membisu, debaran jantungnya semakin berderu, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, Joon menyatakan cinta padanya dan itu kali pertama bagi Shaina ada seseorang yang mengaku mencintainya.


"Kenapa kau diam, kau tidak percaya?" Tatapan Joon semakin lekat menatap mata Shaina, "Shaina, seseorang yang ada di dalam tubuh ini, aku mencintaimu, aku mau kau cinta terakhirku dan berakhir bersamamu, jika kau menghilang nanti aku akan menemukanmu dan membawa pulang bersamaku meski orang lain menggenggam tanganmu" lanjutnya.


"Joon, aku juga tidak mengerti dengan perasaan ini, entah hanya sekedar hasrat dan nafsu saja karena kita terlalu lama tinggal bersama jadi wajar ada perasaan menyukai" papar Shaina.


"Shaina" sela Joon.


"Joon, kau menyukaiku karena fisikku Helena selebihnya tidak" Shaina memundurkan tubuhnya dan duduk di kasur ia memaksa bibirnya untuk tersenyum meski menelan pahitnya kenyataan, "jika ini fisikku mungkin aku ragu kau akan mengatakan itu, di kampung ku saja tidak ada yang tertarik padaku ku, kolot bodoh jelek itam kumal kurus itulah aku, tidak ada satupun yang istimewa dari ku, jikapun kita bertemu lagi nantinya, aku yakin kau akan berpura-pura tidak mengenaliku karena aku hanya bisa malu-maluin" Shaina tertawa menyamarkan perasaan sebenarnya.


Joon kembali mendekat pada Shaina, "Shaina, aku yakin pada diruku kau pasti salah jika berpikir aku seperti itu dan selama ini juga tidak sekalipun aku menganggap mu Helena walau mataku melihatmu Helena, aku menyukai kepribadian mu bukan fisikmu" Joon menyeka pipi Shaina, menatapnya semakin dalam, "Aku tahu ini agak aneh tapi begitulah perasaanku, aku ingin kita selalu bersama suka maupun duka, menjadi rumah tempat aku pulang yang selalu memberiku kehangatan dan kenyamanan".


Shaina tertegun melihat mata Joon berbinar-binar, "cinta? Jika aku cacat atau apapun itu apa kau tetap mencintai ku dan masih mengatakan seperti ini juga?".


"Shaina, cinta itu bukan dari fisik tapi dari hati, aku belajar itu darimu. Kau hadir di saat-saat aku membutuhkan seseorang yang mau menggenggam tanganku menyadarkan aku bahwa masih berharga di saat aku diabaikan" sambung Joon.


Shaina menyingkirkan tangan Joon dari wajahnya, menahan bendungan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata, ada getaran aneh yang ikut meramaikan hatinya, tapi ia masih ragu setiap perasaannya, karena ia tidak bisa mempercayai kata-kata manis Joon sepenuhnya agar ia tidak merasa kecewa di kemudian hari.


"Ku harap kau bisa membuktikannya, Joon. Cinta mu bukan fatamorgana yang menyenangkan ku sesaat dan hilang dengan berjalannya waktu, berubah ketika ada yang baru datang dan mampu membuatmu lebih bahagia lagi lalu berpaling dariku" tukas Shaina.


"Shaina, aku janji aku tidak seperti itu, aku akan membuktikannya bahwa cintaku murni dan akan selalu untukmu" Joon menggenggam tangan Shaina dan mencium punggung tangan tersebut dengan lembut.


"Aku menantikannya, jangan buat aku kecewa karena aku paling benci pada janji yang tidak bisa ditepati, tidak menjanjikan apapun itu lebih baik untukku agar kita pun tidak saling menyakiti satu sama lain, setelah ini kita juga akan menikah tanpa kata cinta pun aku masih bisa hidup dengan baik asalkan kau tidak menduakan ku saat kita masih dalam ikatan pernikahan" tukas Shaina.


Joon terus memandangi wajah sendu di depannya yang tidak percaya dengan ungkapan hatinya, meski berulang kali ia meyakinkannya, Shaina masih teguh pada prinsipnya yang menganggap cinta bukanlah sesuatu yang berarti melainkan sebuah pemanis kata. Ada rasa kegelisahan saat Shaina mengatakan ia masih bisa menikah tanpa mesti adanya cinta, oleh karena itu Joon beranggapan Shaina tidak mencintainya dan tidak memiliki perasaan seperti yang ia rasakan.


"Shaina, kau tidak mencintai ku?" ucap Joon.


"Hah?!" Shaina mengerling ke segala arah sambil meringis panik, "a-aku tidak tahu..." Gumamnya.


Sontak pertanyaan itu mengejutkan Shaina, bingung harus berkata apa, karena ia bukanlah orang yang suka mengungkapkan perasaannya pada sembarang orang apalagi orang yang ia sukai, tapi ia juga tidak menaruh harapan besar pada Joon meski dalam doanya nama Joon selalu di sematkannya.

__ADS_1


Melihat ekspresi Shaina semakin membuat Joon kacau dan semakin membenarkan anggapannya jika Shaina memiliki perasaan yang berbeda seperti perasaannya.


"Mama" ucap Alice yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi.


__ADS_2