
Tidak lama kemudian Alice dan Alfan berdebat soal adik mereka yang masing-masing menginginkan berjenis kelamin seperti mereka, Alice mau adiknya cewek biar ada teman buat main boneka, sedangkan Alfan maunya adik cowok agar punya teman main bola. Namun dari perdebatan dua bersaudara kembar itu menyebabkan gelak tawa orang-orang di ruang pemeriksaan itu termasuk Bu dokter dan seorang perawatnya tidak terkecuali Shaina.
Dokter memindahkan peralatan pemeriksaannya dari Shaina dan ia pun mulai bangun dengan di bantu oleh Joon.
"Pertumbuhan bayi normal dan tidak mengalami kendala apapun, hanya saja ibu jangan terlalu lelah atauangkat yang berat-berat" kata dokter.
"Baik dokter, saya rasa tidak pernah merasa lelah karena Joon tidak memperbolehkan saya melakukan yang berat-berat" sahut Shaina pada dokter.
"Waa... Beruntung sekali ibu, kalau begitu saya sarankan Nyonya enggak boleh stress dan makan makanan bernutrisi serta harus tepat waktu" pesan dokter.
"Terima kasih Dok" sahut Joon.
"Oh ya Pak! Tolong di perhatikan kenyamanan si ibu jika sedang berhubungan intim" tambah dokter.
Joon dan Shaina saling beradu pandang mendengar perkataan dokter itu.
"Maaf dokter, kami..." Ucap Joon.
"Berhubungan suami istri saat hamil memang ada baiknya tapi harus dilakukan dengan cara yang benar, dan bapak juga tidak boleh memaksa si ibu jika sudah merasa tidak nyaman lagi" ujar dokter itu memotong pembicaraan Joon.
"Dok..." Sahut Joon lagi.
"Ini ada buku menjelaskan tentang posisi yang benar saat berhubungan intim dengan pasangan yang hamil besar, bisa bapak dan ibu baca-baca agar tidak membahayakan janin kalian" lanjut dokter itu sambil membuka lembaran buku yang ia keluarkan dari laci mejanya.
Saat dokter membuka lembaran buku itu, refleks Shaina terkejut sembari berkata, "uuppsss!" dengan mata yang melotot karena ia sempat melihat gambar di buku tersebut.
Joon juga terkejut melihat ekspresi Shaina yang terkesan aneh, ia segera menutup buku tersebut.
"Ku rasa kami tidak membutuhkan buku ini" sergah Joon yang mengerjap pada Shaina.
"Apa itu buku gambar? Aku mau lihat" seru Alfan yang berdiri di belakang Shaina.
Joon langsung menyanggah tangan Alfan yang hendak mengambil buku tersebut, "bukan! Ini bukan buku gambar, kamu diam saja di sana" timpal Joon.
Shaina mengatup mulutnya dengan tangannya karena ia benar-benar malu melihat isi buku tersebut.
"Tapi pak, ini buku yang bagus untuk pasangan muda seperti kalian, jadi kalian tahu kapan untuk berhenti dan waktu yang bagus untuk melakukannya" sela dokter.
"Kami tidak butuh buku ini" sahut Joon lagi yang tampak kesal.
"Maaf dok, mereka sudah punya anak sebelumnya dan mungkin sudah tahu yang harus dilakukan" sela suster yang berdiri di sebelah dokter itu.
Shaina hanya bisa menggigit bibir melihat Dokter dan perawat yang terus memaksa Joon untuk menerima buku tersebut, dimana Joon terus berdecak kesal.
"Ya, kami sudah berpengalaman jadi kami tidak butuh buku itu lagi, jika tidak ada keperluan lain kami permisi!" Terang Joon yang berdiri sambil meraih tangan Shaina dan Alfan untuk pergi.
"Tapi pak, buku ini lengkap" sembur dokter tersebut yang bersikeras pad buku tersebut.
Joon tidak peduli dengan dokter itu, ia bergegas pergi keluar tapi saat ia hendak membuka pintu seseorang sudah membukanya lebih dulu.
__ADS_1
"Maaf Dok, saya mengganggu anda dan pasien Anda, tapi saya lagi butuh bantuan" kata orang yang baru masuk itu.
"Apa yang bisa saya bantu?" Tanya dokter.
Lelaki yang baru masuk itu melihat kearah Shaina dan matanya tertuju pada perutnya, Sontak Shaina meletakkan tangannya berharap orang itu tidak melihat padanya lagi. Namun lelaki itu malah mendekat pada Shaina.
"Pas sekali! Pak izinkan saya bertanya-tanya bentar seputar kehamilan, ini untuk riset kami" ungkap lelaki itu.
Joon melihat pada Shaina yang terdiam sejak tadi.
"Maaf, kami tidak bisa" kata Joon pada orang itu.
"Tapi pak, ini demi kepentingan ilmu pengetahuan, kami harus mendapatkan jawaban langsung dari pasangan yang hamil" ujar orang itu.
"Maaf, kami tidak bisa melakukannya" balas Joon.
"Tapi Joon, katanya ini untuk ilmu pengetahuan berati bermanfaat untuk orang lain juga dan kita tidak ada ruginya juga, kan?" sela Shaina, menatap Joon. Lelaki itu juga ikut mengangguk kepalanya pada Joon.
Joon sempat berpikir sesaat, "baiklah, tapi hanya sebentar saja" kata Joon.
"Iya pak, terima kasih banyak" jawab orang tersebut.
Joon sekeluarga dipersilahkan masuk ke salah satu ruangan di rumah sakit tersebut dan disana juga sudah ada beberapa orang lainnya, saat Shaina diajukan pertanyaan seputar awal-awal kehamilannya ia selalu berkilah kalau ia tidak ingat apa yang telah terjadi, namun saat ditanya dimana-mana memasuki bulan ke empat sampai sekarang ia baru bisa memberikan pernyataan yang sebenarnya, meski ia tidak nyaman dengan suasana ruangan itu karena mereka selalu bertanya sesuatu yang sensitif terhadapnya.
"Oh ya Bu! Bagaimana dengan hubungan Anda dan suami anda?".
Sontak pertanyaan tersebut mengejutkan Joon dan Shaina, mereka saling beradu pandang, tenggelam dalam pikiran masing-masing dan Shaina semakin bingung dengan pertanyaan itu.
"Begini Bu, dalam fase ini apakah ibu mengalami libido yang agak meningkat daripada sebelum-sebelumnya?"
Orang tersebut kembali mengajukan pertanyaan yang membuat Shaina skakmat.
Shaina terkaku dan kebingungan harus menjawab apa, selain ia dilanda rasa malu yang luar biasa.
"A-aku..." Gumam Shaina.
"Ini sudah cukup! Kami harus pulang" sela Joon, ia mendekat pada Shaina yang duduk di depan menghadap para pengaju pertanyaan, dimana beberapa orang tampak sibuk mencatat setiap jawaban yang di berikan Shaina.
"Tunggu dulu pak, riset ini juga diperuntukkan bagi masyarakat luas" sergah si penanya pada Joon.
"Benarkah ini berguna untuk orang lain?" Sela Shaina.
"Iya Bu, satu jawaban anda adalah informasi bagi yang lain" sahut orang itu.
Namun Joon masih berharap Shaina tidak mendengarkan orang-orang tersebut karena ia tahu, Shaina tidak nyaman diajukan pertanyaan semacam itu apalagi ia perempuan yang belum menikah dan hubungan semacam itu masih sangat tabu baginya.
"Sa-saya ti-dak tahu apa yang terjadi pada tubuh sa-ya ta-tapi akhir-akhir ini saya menyukai i-itu" ucap Shaina yang tergagap dan tertunduk sembari menggigit bibirnya.
Sontak Joon terperanjat kaget mendengar kalimat yang diucapkan Shaina.
__ADS_1
BUUKK!!
Seketika semua orang menoleh pada asal suara itu, suara yang berasal dari buku yang terjatuh milik seorang lelaki bertubuh tinggi tegap dan mengenakan jubah dokter, lengkap dengan stetoskop di lehernya.
"Dokter Calvin? Kenapa anda di sini?" Tanya orang yang mengajukan pertanyaan pada Shaina sebelumnya.
Joon berdecak kesal melihat Calvin juga ada di ruangan yang sama dengan mereka.
"Sial! Kenapa dia bisa di sini juga?" Gumam Joon.
"Joon? Kau disini?" Tanya Calvin yang menghampiri mereka.
"Ada keperluan sebentar tadi, oh ya! Semua sudah selesai kami harus pergi dulu"
Joon meraih tangan Shaina untuk diajak pergi dari ruangan itu dan tanpa mengucapkan sepatah kata lagi pada Calvin.
Sambil menggenggam tangan Shaina dan Alice Joon berjalan cepat agar segera keluar dari tempat itu.
"Joon... Bukankah itu temanmu? Ternyata dia Dokter ya?" Celetuk Shaina.
"Abaikan dia, kita harus pulang" ketus Joon.
"Iya-iya, tapi aku tidak bisa jalan cepat-cepat" kata Shaina dan salah satu tangannya memegang Alfan.
Baru beberapa meter mereka menjauh dari ruangan itu, Joon dan sekeluarga malah kembali bertemu dengan dokter sebelumnya yang memeriksa Shaina.
"Pak! Bu! Tunggu dulu, coba lihat-lihat buku ini sebagai panduan kalian untuk melakukan itu" kata dokter itu.
Joon sudah habis pikir dan tidak tahu harus bagaimana lagi untuk bisa pergi dari dokter itu terpaksa ia mengambil buku tersebut.
"Terima kasih saya sudah mengambilnya jadi tolong biarkan kami pergi" kata Joon pada dokter.
Setelah menarik buku Joon segera bergegas keluar dari rumah sakit bersama keluarga kecilnya tersebut. Saat berjalan menuju pintu keluar, Joon membuang buku itu kedalam tempat sampah yang terletak di samping sudaut lobi rumah sakit. Setelah semuanya telah masuk ke dalam mobil, mobil segera meninggalkan kawasan rumah sakit, dan tanpa disadari mereka semua, dibelakang Calvin sedang memperhatikan tingkah mereka terutama sikap Joon terhadap Shaina.
"Kenapa sih kamu? buru-buru sekali, padahal aku ingin lihat-lihat rumah sakit sebesar itu bentar lagi" seloroh Shaina yang duduk di bangku depan bersebelahan dengan Joon sang pengemudi mobil.
"Ini rumah sakit bukan museum, pake dilihat-lihat segala" timpal Joon, "memangnya kau betah lama-lama dengan dokter sales itu?" Lanjutnya.
Shaina tersungging dengan mengarahkan pandangannya kedepan tanpa melihat pada Joon.
"Apa kau sadar tentang pertanyaan orang-orang tadi?" Tanya Joon.
"Memangnya ada yang salah? Aku cuma jawab apa yang ku rasakan, karena ini bukan tubuhku dan semuanya terjadi karena pengaruh hormon nona Helena jadi wajar aku dapat merasakan hal semacam itu" ungkap Shaina.
SRREERTTT!
Mendadak Joon menginjak pedal rem depan tiba-tiba dan mengagetkan mereka semua.
"Ada apa paman?" Tanya Alice dan Alfan yang ikut terkejut dan panik karena Joon mengerem dengan tiba-tiba.
__ADS_1
"Kau ingin mencelakai kami ya?" Timpal Shaina dengan sorotan mata tajamnya terhadap Joon.
Joon malah menatapnya dengan tatapan aneh membuat Shaina menyadari sesuatu dari topik pembicaraan mereka sebelumnya hingga pipinya jadi merona, dan secepatnya Shaina memalingkan wajahnya dari Joon.