
...Satu bulan berlalu, Shaina sudah menghafal semua kebiasaan mereka, hubungannya juga sudah lebih baik dengan mereka khususnya khususnya dengan Alice dan Alfan, panggilan Mama dan bertemu dengan mereka sudah menjadi keinginan Shaina setiap hari, hubungannya dengan Joon pun sudah sangat dekat, ia tidak segan-segan lagi untuk memberitahu apa yang ada di dalam hatinya lagi Joon, kecuali tentang perasaan deg-degannya yang berbeda pada umumnya....
Pijatan joon selalu di dapatkan Shaina di sela-sela kesibukannya ketika ia butuhkan. Seperti halnya hari ketika joon tidak masuk kerja, ia akan berada di rumah membantu shaina. Atas kemauan Shaina, pagi ini semua orang sibuk bersih-bersih di hari libur mereka.
"Alice lepasin seprei yang di ujung sana" Kata shaina pada gadis manis itu.
...Alice berlari ke sisi ranjang seperti yang di katakan shaina dengan mengatakan, "baik Ma"....
...Alfan juga sudah mengumpulkan semua pakaian kotor kedalam keranjang yang ia letakkan di lantai, Shaina yang tampak cukup sibuk malah dikagetkan dengan kedatangan Joon yang tiba-tiba menjatuhkan diri ke atas ranjang yang sedang di lucuti sprei oleh Shaina dan Alice....
Alice menarik sprei yang ditindih Joon itu seraya merengek, " Paman...!!" Seru Alice dan Alfan yang geram dengan tingkah Joon.
Bukannya bangun dari tempat itu Joon malah semakin menjahili mereka dengan menggelitik Alfan dan Alice sambil tertawa.
"Joon... Bangun..." Seru Shaina dengan menarik tangan Joon.
...Joon memegang tangan shaina dan menarik hingga terjatuh dan dengan cepat Joon menahan shaina agar tidak terbentur perutnya....
Reflek Shaina memukul Joon, "Ihh...! Joon, bercanda mu enggak lucu..." Gumam shaina.
"Maaf, aku lupa tentang perutmu" Kata joon.
Shaina bangkit dari tempat tidur tapi lagi-lagi dicekal oleh Joon, "aku banyak pekerjaan tidak punya waktu untuk bercanda" Kata shaina.
..."Hei shaina! Tunggu, bersantai lah sebentar lagi, jika Helena tahu kau memaksakan tubuhnya, dia pasti memarahi mu" Ujar Joon....
...Refleksi Shaina mengkatup mulut Joon dengan tangannya yang memaksanya terlihat seakan menindih Joon, sesaat mereka terdiam dan saling berpandangan....
"Anak-anak ada disini, jangan panggil aku shaina" Bisik Shaina.
"Oops...! Aku lupa" Balas Joon dengan berbisik juga.
Lalu shaina juga ikut berbaring di sebelahnya karena Alice mencoba memeluknya, shaina cukup terkesiap dengan aksi gadis kecil itu yang tiba-tiba. Joon memperhatikan ekspresi keduanya yang tampak sangat bahagia ditambah lagi shaina terkekeh. Mendadak shaina kembali merasakan ada yang bergerak di dalam perutnya hingga membuatnya ternganga.
"Ada apa?" Tanya joon heran dengan ekspresi shaina.
"Elif ku bergerak" Sahut shaina.
"Elif?" Tambah Joon.
__ADS_1
Shaina mengangguk, "iya Elif, peri kecilku" Kata shaina.
"Maksudmu bayinya?" Tanya joon lagi.
...Lagi-lagi Shaina mengangguk dan tersenyum pada Joon, Joon terkekeh dengan mengatakan, "pertama kau memanggilnya peri kecil sekarang Elif, ada-ada saja kau ini". Joon meletakkan tangannya pada Alfan hingga dibuat kesusahan Alfan karena tangan kekar joon terasa berat bagi anak laki-laki itu....
"Elif berarti peri juga jadi aku suka nama itu, sama-sama kecil dan manis didengar" Sambung Shaina.
Diam-diam Joon memandang Shaina yang tampak sangat mempesona, seakan melihat sosok lain dari Helena, orang yang belum pernah ia temui sebelum. Sikap Joon itu disadari Shaina yang menyebabkan kedua pipinya merona menahan perasaan malu karena di perhatikan oleh lelaki tampan yang juga sekaligus orang yang di taksirnya.
Alice yang penasaran dengan perut shaina ingin menyentuhnya, Shaina yang tidak biasa di pegang-pegang merasa geli tapi dia juga tidak bisa melarangnya dikarenakan tubuhnya itu bukan milik pribadinya melainkan milik Helena, apa lagi yang memintanya Alice putri Helena sendiri. Dengan perasaan tak karuan, Shaina menahan geli sekaligus malu karena perutnya di raba-raba oleh Alice dan Alfan, apalagi di depan joon.
Shaina dan Joon sangat kaget saat Alice menarik tangan Joon untuk diletakkan di atas perut buncit shaina.
"Ma-maaf" Ucap Joon yang terkesiap.
Muncul sensasi aneh saat tangan Joon berada di perutnya yang membuat shaina malu dan tidak berani menatap Joon lagi. Hal yang sama juga dirasakan Joon, tapi dia bisa bersikap tenang seakan tidak terjadi apa-apa.
Shaina bangkit dari tempat tidur dan melanjutkan kegiatan bersih-bersih yang tertunda. Namun sejak berada di tubuh Helena, ia tidak bisa lagi bergerak sesuai keinginannya, ia mengalami kesulitan bergerak dan harus selalu berhati-hati. Melihat shaina mengalami kesusahan untuk bangun, Joon segera memegang tubuh shaina untuk dapat bangkit, tapi itu lagi-lagi membuat mereka jadi salah tingkah dan canggung.
...*****...
Ia tertegun di depan pintu tanpa bersuara, meski suara gaduh Alice dan Alfan memenuhi ruang tamu. Di dalam kamar, shaina sedang berputar-putar di depan cermin, memperhatikan setiap sudut perutnya yang sudah membesarkan itu dengan menyingkap bajunya hingga terlihat sepenuhnya bentuk perutnya.
DRRRRTTTT....!!!
Dering ponsel Joon didalam sakunya mengagetkan mereka berdua, dengan cepat Joon mematikan ponselnya begitu juga dengan shaina yang langsung menurunkan pakaiannya dan menutup kembali perutnya yang terekspos itu, shaina berbalik badan dengan membelakangi Joon sambil menggigit bibirnya, mendapati Joon ternyata melihat tingkahnya yang agak memalukan itu.
"Pe-perut besar itu agak aneh, kan? dan terlihat tidak menarik" Gumam shaina.
Joon terkesiap sekaligus tersenyum karena ia kepergok sedang melihat perut shaina, "tidak kok, itu malah terlihat seksi" Kata Joon, ia sadar dengan ucapan itu membuat shaina jadi malu, jadi Joon mengganti kalimatnya dengan terbata-bata ia mengatakan, "ma-maksudku bagus".
Shaina berbalik badan pada Joon,"Bagus?" Tanyanya.
"Oh! Bu-bukan begitu, maksudku kamu menarik" Tambah Joon.
Shaina mengernyitkan keningnya dengan pandangan tertuju pada Joon yang kebingungan mengolah kata-katanya, "maksudku perempuan hamil itu seksi dan hebat karena dia rela bagian dari tubuhnya terlihat aneh hanya untuk melindungi benih cinta pasanganya" Ungkap Joon.
Shaina tersungging, "kalau tubuh asliku pasti sangat aneh jika aku hamil karena tubuhku terlalu ramping" Kata shaina.
__ADS_1
"Benarkah? Aku jadi penasaran seperti apa kamu" Joon tersenyum, "kau punya media sosial? Aku ingin melihat wajahmu" Lanjut Joon.
Shaina terdiam dan memalingkan muka dari orang didepannya dengan memasang raut kesedihan di wajahnya.
"Aku takut membuka akun media sosial ku yang mungkin aku akan menemukan diriku benar-benar sudah mati" Gumam shaina.
Joon terdiam dan ikut khawatir dengan kata-kata shaina, meski dia tidak mengenal shaina namun ia berharap gadis itu masih hidup di suatu tempat.
Joon menggaruk pelipisnya sambil berkata, "jangan melihatnya jika kamu takut, tapi kamu jangan khawatir kamu tetap terlihat menarik meski dengan perutmu itu, kalau tidak kenapa orang-orang suka membuatnya?" Kata Joon.
Shaina tersungging dengan ketus, "bicara mu sudah seperti orang yang sudah pernah melakukannya saja" Celetuk shaina.
"Memang sudah" imbuh Joon.
Spontan Shaina kaget dengan ucapan Joon hingga kedua bola matanya membulat penuh, Joon menyadari telah berbicara hal yang tabu segera berkata, "CK, lupakan saja ucapanku tadi" Joon berbalik badan untuk pergi dari kamar itu.
"Ka-kamu..." Lirih shaina.
"Sudah ku katakan lupakan saja lagian tidak ada yang sampai hamil kok" Sambung Joon.
Reflek Shaina menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan matanya menatap punggung Joon yang menjauh, ia tidak terkejut dengan pernyataan Joon, pergaulannya sungguh berbeda jauh dengan dirinya yang selalu menjaga kehormatannya.
Shaina terduduk di ranjang seorang diri kata-kata Joon masih bergema dengan baik di telinganya, "tidak ada yang sampai hamil? Berarti sudah berapa perempuan ia lakuin itu? " Gumam shaina.
Di luar kamar terdengar seseorang berbincang-bincang dengan Joon, karena penasaran shaina keluar untuk melihat orang itu, dan ia juga ingin mengenal banyak orang selama di sana. Shaina kembali di kagetkan dengan seorang perempuan bertubuh langsing dengan mengenakan legging panjang dan baju sampai diatas pusarnya, pakaiannya membentuk sempurna lekukan tubuhnya, ia semakin seksi kunciran rambutnya pun semakin menambah nilai plus keseksiannya, siapa saja yang melihat enggan untuk mengalihkan pandangannya dari perempuan itu. Perlahan langkah shaina menghampiri perempuan itu yang duduk bersama joon di sofa.
Joon berdiri saat melihat shaina datang, "Helena, kenalkan Marissa" Kata Joon pada shaina memperkenalkan gadis cantik itu.
Shaina juga memperkenalkan diri sebagai Helena seperti yang terlihat oleh semua mata yang melihatnya. Anak-anak juga tidak luput diperkenalkan joon pada perempuan itu. Shaina menangkap Joon amat sering berbagi tersenyum dengan Marissa, itu muncul perasaan jengkel dari lubuk hati shaina, apalagi mereka terlihat sangat akrab di mana tangan perempuan itu terus merangkul lengan Joon.
"Nona Helena tinggal di sini?" Tanya Marissa.
Shaina mengangguk dan ikut duduk berhadapan dengan mereka. Alice dan Alfan kembali melanjutkan bermain di sudut berbeda, sesuai pinta shaina agar anak-anak tidak ikut duduk bersama orang dewasa disaat mereka mengobrol.
"Nona Helena tinggal di sini hanya sampai melahirkan saja kan?" Tanya Marissa lagi.
Joon mengerlingkan pada shaina dan tersenyum pada Marissa sembari berkata, "iya, mereka akan bersama ku hanya sampai melahirkan saja".
Marissa mengobrol banyak dengan shaina dan ia mengakui kekagumannya pada sosok Helena yang sangat cerdas dan cantik, namun semua itu tidak di mengerti oleh shaina yang jelas-jelas bukan Helena yang sebenarnya. Tapi dia sedikit terbantu oleh Joon yang menyela dan ikut memberi jawaban saat Marissa bertanya pada shaina. Shaina lebih banyak diam, ia mulai cemas dengan kehidupannya setelah melahirkan karena ia tidak tahu apa-apa tentang kehidupan Helena sebelumnya.
__ADS_1
Selain itu pandangan didepannya juga tidak menyenangkan hatinya, Marissa dan Joon kerap bermesraan, yang tidak ragu-ragu memeluk dan berciuman. Bagi shaina pemandangan semacam itu sesuatu yang memalukan apalagi dilakukan didepan orang.