Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Menunggumu pulang


__ADS_3

Dalam hiruk-pikuk lautan manusia yang menikmati gemerlap dunia malam, terdapat Joon diantaranya yang sedang mengawasi aksinya nyonya Rossie yang mengikutinya dan ketika mobil menjauh barulah ia masuk kedalam, membaur dengan yang lainnya di tempat itu dengan disuguhkan dentangan musik yang mempekakan telinga serta menyentakkan para pengnikmatnya.


Aroma khas dari minuman memabukkan menyebar dari segala arah dan dipadu dengan goyangan erotis para perempuan cantik nan seksi yang mampu menggugah hasrat seksual siapa saja.


Namun diantara sekian manusia yang berada di tempat itu, perhatian Joon hanya tertuju pada seorang lelaki yang tampak sudah lunglai dengan penampilannya yang berantakan akibat pengaruh minuman yang dikonsumsinya.


Mengetahui dirinya di kunjungi oleh Joon, lelaki itu mengayun-ayunkan gelasnya sembari senyuman tipis menghiasi wajahnya.


Langkah Joon berhenti di meja bartender yang sibuk memainkan keahliannya dalam meracik minuman tersebut untuk di sajikan pada penikmatnya, tanpa di persilahkan joon duduk dekat lelaki itu.


"Sepertinya kau menikmatinya" ucap Joon, memulai percakapan dengan si pria itu.


Pria itu tersungging "Hei kawan... Hidup itu harus dinikmati jangan di bawa serius" seru lelaki itu sambil memainkan gelasnya yang berisi minuman haram itu.


"Kau memang tidak berubah" Joon terkekeh, "oleh karena itu aku ingin mengajakmu bermain denganku" mendadak aura gelap menyelebungi Joon, tatapan seriusnya memancarkan misteri.


Lelaki itu tertawa lepas, "Hei kawan! Berikan segelas untuk temanku ini, berikan minuman terbaik dari yang terbaik" serunya pada bartender.


"Aku tidak minum lagi" Joon tersungging, "kau juga harus berhenti, karena aku butuh kau yang sehat untuk bermain denganku, Tuan Brams" mendadak Joon menatap dingin dan aura misterius keluar dari dirinya, sontak Brams bergidik melihat Joon seperti itu.


Sejenak lelaki itu terpaku hingga ia kembali berbicara, "apa yang inginkan dari pemabuk sepertiku?" Mendadak Brams menjadi serius.


"Semuanya" putus Joon singkat.


Brams tersungging dan kembali melirik Joon yang tampak sedang melihat ke orang-orang yang sedang mabuk di sebelah mereka.


"Aku pernah mendengar pepatah mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, sekarang aku melihat hal yang sama dari anda tuan Joon" kata Brams.


Joon hanya menaikkan alisnya sebagai tanggapannya dari perkataan Brams yang merupakan salah seorang dari orang-orang kepercayaan orang tuanya, dan mereka juga tidak di ragukan lagi kesetiaan mereka meski sang tuan besar mereka sudah tiada.


Joon mengetahui jika Brams tidaklah semabuk yang dilihat, dia adalah Intel terpercaya dengan berbagai keahlian khusus dalam mengelabui para penipu besar yang berkedok pembisnis. Orang tua Joon sangat mempercayai pak Brams, ia setia pada pekerjaannya tapi istimewanya ia menjunjung tinggi persahabatan. Begitulah pak Brams yang tetap terrahasiakan identitasnya termasuk dari orang-orang seperti Nyonya Rossie dan Darrell.


Sudah hampir tengah malam Shaina menunggu Joon yang belum pulang, membuatnya semakin khawatir, dan saat di telponnya Joon juga tidak mengangkatnya.


Shaina duduk seorang diri di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya berharap Joon segera melihat panggilan masuk, sedangkan anak-anak sudah sejak tadi di suruhnya tidur agar mereka tidak kesiangan besok.


"Joon, pulanglah, aku takut di rumah, aku sangat menyesal tidak mau percaya padamu" gumam Shaina.


Bayangan Darrell dan Gladys sangat mengganggunya, bagaimana tidak, orang yang dipercayainya ternyata ingin menghabisi dirinya.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan pintu yang diikuti suara bel membuat Shaina semakin takut dan tidak berani mendekati pintu. Tapi dia memberanikan diri untuk tetap mendekat ke pintu, ia khawatir jika itu benar-benar Joon yang pulang.


"Joon! Joon! Itukan kau?" Tanya Shaina dengan menempelkan telinganya ke daun pintu.


Namun dari luar tidak terdengar jawaban apapun, Shaina semakin takut dan ingin kembali ke sofa, tapi beberapa langkahnya melangkah, ketukan dan bel pintu kembali berbunyi, kali ini ia benar-benar panik dan cemas.


Sebuah payung yang berada di sangkutan mantel jadi incarannya sebagai senjata untuk melindungi diri.


"Joon! Joon!' katanya lagi.


"Shaina? Kau masih terjaga? Tolong buka pintunya, ini aku" terdengar suara laki-laki dari luar.


"Jangan bohong! Katakan, siapa kau?" Timpal Shaina.


"Apa maksudmu? Ya tentu ini aku, siapa lagi?".


"Katakan password-nya baru ku buka pintunya" tambah Shaina.


"Apa-apaan sih! Ini enggak lucu, aku kedinginan di luar!".


"Katakan saja! Jika tidak sampai kapanpun tidak akan ku buka!" Shaina masih kekeh dengan tidak mau membuka pintu.

__ADS_1


"Aku tidak tahu! Memangnya sejak kapan kita harus pake kata sandi saat masuk ke rumah?" Ujar lelaki itu.


Tidak lama kemudian mengatakan itu pintu rumah terbuka dan Joon yang sudah kedinginan langsung masuk.


BUUKK!


"Aduhh!!" Pekik Joon yang kesakitan karena di pukul Shaina dengan gagang payung.


Joon berusaha menghindari pukulan tersebut dan menangkap tangan Shaina lalu membuang payung dari tangannya.


"Ada apa ini? Kenapa kau memukul ku?" Tanya Joon sambil meringis kesakitan.


Shaina yang tidak menjawab, melancarkan aksinya meraba-raba leher Joon.


"Kau tidak memakai topeng kan?" Ujar Shaina.


Joon yang keheranan berusaha menghindari Shaina, ia berjalan ke sofa dan duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Namun Shaina masih mengikutinya dan ikut duduk di sebelahnya untuk tetap memastikan orang tersebut memang Joon.


"Ini benar-benar kau kan Joon?" Pastikan Shaina.


"Ini aku, jangan khawatir ini benar-benar aku" sahut Joon dengan menatap wajah Shaina yang penuh kekhawatiran itu.


Shaina menghentikan aksinya dan menghembuskan nafas panjang.


"Syukurlah, aku sangat takut tahu! Kau pulang terlambat begini" ketus Shaina dengan menampar dada Joon yang duduk bersandar.


Joon mengelus rambut Shaina, "maaf, anak-anak mana?" Tanya Joon.


Shaina mendengus dan memukul Joon sekali lagi, "jam segini pulang, nanya anak-anak mana, ya tentu mereka sudah tidur!" Timpal Shaina.


Melihat sikap Shaina, Joon terkekeh. Tubuhnya yang teras lengket, Joon melepaskan jasnya dan juga dasi yang melingkari lehernya, tapi Shaina mencegahnya.


"Kenapa? ini gerah tahu" imbuh Joon.


"Biar aku saja yang membuka dasimu, aku juga pengen tahu rasanya buka dasi tu gimana, kamu kan tidak pernah pakai dasi sebelumnya" ucap Shaina.


"Ada-ada aja kau ini, tapi ok lah" sahut Joon.


Shaina kembali mendekat pada Joon untuk melepaskan dari leher Joon sehingga mereka sangat dekat dan wajah mereka hanya berjarak sejengkal.


"Kau lengket sekali, memangnya apa yang kau lakukan tadi?" Tanya Shaina.


"Tidak ada" sahut Joon.


Gerak-gerik Shaina sudah di ketahui Joon, bagaimana Shaina sedang mencari sesuatu dari tubuh Joon, karena perempuan itu tidak hanya melepaskan dasi saja tapi kemeja Joon juga tidak luput di lepaskan kancingnya, bahkan sesekali ia tampak sedang mengendus sesuatu dari tubuh Joon.


"Apa kau menemukannya?" Tanya Joon yang tersungging.


"Apa maksudmu?" Balas Shaina.


"Jangan berpura-pura padaku, aku tahu kau sedang mencurigai ku melakukan sesuatu dengan Marissa karena kau melihat kami bersama tadi kan?" Ujar Joon.


"Siapa yang curiga? Aku hanya membantu melepaskan dasimu saja" dengus Shaina.


"Emmm.... gitu?" Joon melirik Shaina, "hari aku melakukan banyak hal, kamu mau tahu itu?" Bisik Joon.


"Katakanlah".


Joon kembali berbisik, "tapi sebelum itu mau makan, aku lapar" ujarnya.


Shaina menoleh pada Joon, merangkak naik ke atas tubuh Joon mendekatkan wajahnya pada Joon dan merangkul lehernya.

__ADS_1


"Sedikit saja ya?" Bisik Shaina, matanya tertuju pada bibir Joon begitu juga sebaliknya.


"Aku tidak mau sedikit tapi yang banyak" balas Joon.


Dengan malu-malu Shaina semakin mendekat dan ia pun memejamkan matanya, namun tanpa sepengetahuannya Joon malah tersenyum.


KRUUUKK!!


Seketika Shaina membuka matanya dan berhenti untuk aksi ciumannya, matanya teralihkan pada perut Joon yang berbunyi. Sedangkan Joon tertawa terbahak-bahak melihat Shaina yang salah tingkah.


"Aku benar-benar sedang lapar dan ingin makan makanan sungguhan dan bukan makan yang itu" kata Joon.


"Iiiihhh! Enggak lucu tahu! Kau membuatku malu, menyebalkan! Sebal!" Pekik Shaina.


"Tapi kalo kamu mau yang itu juga tidak apa-apa, aku sih terserah kamu maunya apa" imbuh Joon yang terus tertawa.


Shaina yang terlanjur malu menyingkir dari Joon meski Joon menolaknya pergi, dan membuang muka dari Joon, ia benar-benar sangat malu bahkan tidak berani menatap Joon lagi.


Joon memegangi Shaina, "lepaskan aku! Kamu pergi sana makan!" Timpal Shaina.


"Ditemani..." rengek Joon, menempelkan dagunya di pundak Shaina, bertingkah seperti anak kecil, ditambah lagi ia memanyunkan bibirnya, wajah tampannya semakin terlihat sangat imut, membuat Shaina ingin tertawa.


"Aku lelah setelah memukulmu tadi" balas Shaina yang mendengus.


"Aaa!!" Pekik Shaina, ia kaget dengan perbuatan Joon yang tiba-tiba mengangkatnya.


"Lepaskan aku, aku gemuk dan berat" ujar Shaina.


"Siapa bilang kau gemuk? Kau hanya kegendutan saja" balas Joon.


"Dasar kau ini, itu sama saja!" Dengus Shaina dengan melirik tajam pada Joon yang tertawa.


Setelah menemani Joon makan, Shaina menuju ke kamar Alfan dan Alice untuk tidur tapi tiba-tiba Joon mencegat tangannya dan menariknya masuk ke kamarnya.


"Temani..." Ucap Joon merengek pada Shaina.


Shaina mendorong Joon dari dirinya, "Tidak mau lagi, aku sama anak-anak saja, nanti setelah kita menikah baru kita seperti dulu lagi" ujar Shaina, pipinya mendadak mebrush.


"Aku tidak akan melakukan hal itu lagi, kali ini aku percaya padamu dan...." Gumam Joon.


"Dan apa?" Tanya Shaina.


"Dan aku akan bersabar sebentar lagi sampai Elif kita lahir, setelah itu... Kita bisa..." Joon tersenyum-senyum pada Shaina.


Shaina semakin ngebrush pipinya, rona merah membuatnya semakin lucu dan menggemaskan hingga Joon tidak melihatnya dan terpaksa malam ini ia membiarkan Shaina tidur di kamar anak-anak, jika tidak mereka bisa dalam masalah besar.


"Baiklah, untuk malam ini aku lepaskan kau pergi karena aku juga sangat lelah" bisik Joon dengan membuka pintu kamarnya, agar Shaina keluar.


Mendadak Shaina sumringah dan segera keluar dari kamar Joon.


Air hangat yang mengguyur tubuhnya membuat Joon rileks setelah seharian menjalani hari dan melakukan banyak hal yang bahkan belum pernah di lakukan sebelumnya.


Saat keluar kamar mandi bunyi ponselnya yang sedang di cas-nya mengalihkan perhatiannya yang hendak berpakaian, sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal telah masuk ke ponselnya yang diikuti dengan pesan email.


Tidak menunggu lama, Joon menyentuh tombol bewarna hijau.


"Tuan Joon, kami telah melakukan sesuai perintah tuan, kami juga sudah meretas data-data penting milik mereka, saya juga telah mengirimkannya pada tuan" lapor seorang lelaki yang terdengar dari ponsel Joon.


"Kerja bagus" sahut Joon.


"Oh ya tuan, tentang isi surat yang tuan tanda tangani tadi".


"Itu sudah ku atasi, kalian lakukan saja sesuai rencana, aku masih ingin bermain-main sedikit lagi dengan mereka" sebuah senyuman tipis mengembang di bibir Joon, ia terlihat seperti seorang penjahat yang penuh dengan kelicikan.

__ADS_1


Rasa lelah seakan hilang dalam sekejap, urusan demi urusan telah ia selesaikan, terlebih lagi hubungannya dengan Shaina kembali membaik, dan masalahnya sekarang anak-anak, ia harus mengembalikan kepercayaan mereka lagi agar Joon semakin semangat menjalani hidupnya.


__ADS_2