
Di Caffe Romantic tempat Joon bekerja, suasana agak lengang, tak banyak orang yang datang dikarenakan itu masih jam kerja jadi suasana seperti itu hal biasa tapi jika jam makan siang atau setelahnya nanti, pengunjung bisa membludak memenuhi cafe itu bahkan ada yang antri untuk dapat menikmati secangkir kopi atau menu andalan lainnya yang disediakan oleh kafe.
Selain ciri khas rasanya, kafe itu juga sudah seperti salah satu tempat yang disayangkan untuk dilewati oleh para wisawatan yang berkunjung ke kota itu. Sudah banyak yang orang yang membuktikan bahwa kafe itu memang pantas dijadikan tempat nongkrong yang nyaman dan makanannya juga sangat enak-enak belum lagi para Baristanya yang tampan-tampan seperti Joon salah satunya.
Karena suasana Caffe romantic masih lengang, jadi para pegawai masih diberikan waktu bersantai seperti halnya Joon sekarang sedang duduk bersama dua sahabatnya, Harris dan Calvin.
"Apa kau sudah gila, Joon? Mengatakan Helena yang sekarang bukan Helena tapi orang lain bernama Shaina" Tanya Harris
"Hahaha...! Joon, Kita hidup didunia nyata, jadi buang jauh-jauh khayalan mu itu" Tambah Calvin.
"Terserah kalian sajalah! Yang penting aku sudah mengatakan siapa Shaina yang terus kalian tanyakan itu" Timpal Joon.
"Tapi... Memang seperti ada yang beda dengan Helena sekarang" Ujar Calvin.
"Memang beda karena mereka bukan orang yang sama meski memiliki tubuh yang sama" Kata Joon.
"Jika benar yang seperti kau katakan bagaimana perempuan itu bisa berada dalam tubuh Helena?" Tanya Harris.
"Entahlah! Ketika aku jemput Helena di rumah sakit, tahu-tahunya dia sudah bukan Helena dan sangat panik" Jelas Joo
Joon menceritakan semuanya dari awal pertemuan mereka hingga saat Joon mulai percaya dengan yang dikatakan Shaina, membuat dua temannya terpaku diam karena yang dikatakan Joon benar-benar tidak bisa diterima dengan logika.
Disaat sedang bercerita tiba-tiba ponsel Joon bergetar dan itu panggilan dari Shaina, tidak menunggu lama Joon mengangkat telponnya dan ia sangat kaget karena Shaina memberitahukannya tentang anak-anak yang bertengkar di sekolah, sekarang Shaina di panggil guru mereka ke sekolah.
Joon meminta Shaina untuk tenang karena ia akan meminta izin untuk pulang. Setelah menutup telpon, Joon bergegas menemui pemilik kafe untuk minta izin pulang sebentar karena urusan keluarga, beruntung Joon di izinkan.
Joon bergegas menuju parkiran untuk menyalakan mobilnya, tapi beberapa kali di coba, mobil Joon tidak juga hidup itu membuat Joon kesal.
Calvin mengetuk jendela mobil Joon dan berkata, "Joon, masuk ke mobilku saja, aku akan mengantarmu".
" Terima kasih Vin, ayo kita pergi!" Kata Joon.
Harris menghentikan mobil Calvin yang hendak meninggalkan tempat parkiran, "aku ikut" Kata Harris.
"Ngapain?" Tanya Joon.
"Aku penasaran dengan perempuan yang mengendalikan tubuh Helena itu" Kata Harris.
"Jangan sekarang, aku lagi sibuk nih" Timpal Joon.
"Tapi aku sudah terlanjur bo'ong sama bos, minta izin pulang karena nenekku meninggal dunia" Kata Harris.
Joon dan Calvin terkekeh seketika.
__ADS_1
Beberapa menit sudah berlalu, Shaina masih duduk di ruang tamu menunggu Joon pulang dan saat mendengar mesin mobil berhenti di depan rumah, shaina langsung mencari tahu.
Melihat Joon pulang, shaina bergegas membukakan pintu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Joon yang diburu nafas tersengal-sengal.
Shaina juga menghampirinya dengan berkata, "pihak sekolah memberitahu anak-anak bertengkar dan memintaku untuk segera datang ke sekolah, aku khawatir mereka kenapa-napa".
Joon memegang bahu Shaina dan memintanya untuk tenang, karena mereka akan pergi ke sekolah, Shaina bergegas mengambil mantel untuk dikenakannya. Dibarengi dengan Joon mereka keluar dari rumah setelah mengunci pintu, Shaina terkejut melihat keberadaan Calvin dan Harris yang menunggu di mobil.
"Mobil mu dimana Joon?" Tanya Shaina dengan memancarkan pandangannya kesegala sudut halaman rumahnya.
"Mobil ku mogok tadi di kafe, kita bareng mereka saja" kata Joon.
"Tidak apa-apa kan, kami ikut?" Sela Calvin
"Tidak, malah aku yang harus berterimakasih" sahut Shaina dengan senyum ramahnya.
Harris duduk bersebelahan dengan Calvin yang menyetir didepan sedangkan Shaina dan Joon dibangku penumpang belakang. Raut kegugupan Shaina tampak jelas, melihat keluar jendela mobil tidak juga bisa membuatnya tenang, sesekali ia meringis sambil menggigit bibir bawahnya hingga ia berpegangan pada lengan Joon yang disebelahnya.
"Bagaimana ini? Aku tidak tahu harus bicara apa nanti sama guru mereka?" Bisik Shaina pada Joon.
Joon melihatnya dengan mata indahnya yang tidak lepas tersenyum, ia melepaskan tangan Shaina darinya agar dapat digenggamnya hingga kedua tangan mereka menyatu dalam satu genggaman.
"Semua akan baik-baik saja, kau harus tenang" ucap Joon.
"Jangan khawatir kita akan melakukanya bersama" tambah Joon.
"Apa kau sudah pernah melakukannya?" Tanya Shaina lagi.
Joon menggelengkan kepalanya dan saat itu pula tawa Shaina pecah membuatnya jadi perhatian teman-temannya Joon di baris depan. Calvin dan Harris ikut tersenyum melihat Shaina tertawa, mereka juga bisa mendengar isi percakapan Shaina dengan Joon walau mereka berpura-pura tidak mengetahui perbincangan dua orang itu.
Joon mengerenyit, ia masih bingung alasan Shaina bisa tertawa begitu lepas.
Shaina menghentikan tawanya, ia malu karena Calvin dan Harris ikut menoleh padanya, perlahan ia kembali mendekat pada Joon seraya berbisik, "ternyata ini pengalaman pertama kita".
Joon ikut terkekeh mendengar perkataan Shaina, namun itu berubah hening diantara mereka saat menyadari tangan yang saling menggenggam, seketika pipi Shaina merona merah muda, tampak jelas Shaina menjadi kikuk saat melepaskan tangannya dari genggaman Joon dan hal sama juga diperlihatkan Joon yang merenggangkan genggamannya.
Shaina tidak menduga dirinya bisa selepas itu menggenggam tangan laki-laki itu, padahal sebelumnya ia sangat malu, untuk memandang lelaki saja ia tidak berani apalagi untuk pegang-pegang.
Joon menghembuskan nafas panjang sambil tersenyum simpul dan mengarahkan pandangannya keluar jendela mobil yang melaju.
Di baris depan Harris dan Calvin juga sempat memperhatikan sikap kedua orang dibelakang mereka itu dari kaca spion depan mobil. Mereka bingung dengan sikap Joon yang bisa kalem saat bersama Helena.
__ADS_1
Dua puluh menit berlalu, mereka akhirnya tiba di sekolah Alice dan Alfan, Shaina kembali diserang kecemasan tapi Joon selalu saja bisa membuatnya tenang. Mereka berdua berjalan menuju ruang kepala sekolah meninggalkan Harris dan Calvin di tempat parkiran.
Joon dan Shaina menyusuri koridor sekolah menuju ruangan yang dikatakan oleh guru keponakannya itu, dan ketika mereka sudah berada di depan pintu masuk, kecemasan dan kegugupan Shaina semakin besar tapi Joon kembali memenangkannya karena ia berjanji akan menghadapi bersama.
Joon masuk lebih dahulu lalu diikuti oleh Shaina dibelakangnya, di ruangan itu terdapat guru yang sudah menunggu kedatangan mereka tidak hanya itu, Alice dan Alfan juga ada, duduk diam dengan menekuk wajah mereka dan disebelah mereka juga terdapat beberapa anak seumuran mereka, tampilan mereka kacau, ada yang hidupnya berdarah sampai harus di masukkan tissue untuk menghentikan darahnya, ada pula rambutnya yang berantakan seperti Alice.
Guru mempersilahkan Shaina dan Joon duduk untuk membicarakan masalah pertengkaran Alfan dan Alice dengan teman-temannya. Bukan hanya wali dari Alfan saja yang dipanggil guru, tapi orang tua murid yang lain juga memenuhi ruangan itu.
Sejak pertama kali masuk ke ruangan itu, aura para wali murid itu sudah membuat Shaina bergidik ngeri, karena tidak satupun dari mereka menunjukkan adanya sikap bersahabat melainkan tatapan menyalahkan atau menghakimi di tuju kearahnya meskipun Alfan dan Alice menceritakan kejadian sebenarnya.
"Saya selaku orang tua Alfan dan Alice, meminta maaf atas kejadian ini" ucap Shaina didepan semua orang di ruangan tersebut.
Suaranya terdengar parau dan tangannya juga berkeringat dingin, tidak pernah terbayangkan didalam benaknya ia akan berbicara sebagai orang tua didepan wali murid dan guru-guru.
Namun respon para wali murid yang lain tidak terima permohonan maaf Shaina begitu saja tapi karena Helena seorang profesor yang disegani mereka bisa menerima permintaan maaf Helena.
Tapi Joon bersikeras meminta pada guru untuk tidak hanya menyalahkan atau menghukum keponakannya saja karena masalah itu disebabkan oleh anak-anak nakal itu.
Pernyataan Joon tersebut kembali memancing kemarahan dari para orang tua murid, tapi sekali lagi Shaina meminta maaf dan meminta Joon untuk tenang.
Setelah berunding cukup lama akhirnya guru memutuskan mereka semua diskors seminggu dari sekolah. Shania dan Joon keluar dari ruangan itu bersama anak-anak termasuk para orang tua murid yang lain. Mereka kembali melewati koridor dimana terdapat beberapa murid ditempat itu.
Penampilan Alice dan Alfan termasuk teman-teman berantemnya jadi pusat perhatian mereka, dimana satupun dari mereka tidak ada yang terlihat baik-baik saja, berantakan, lusuh, dan berdarah adalah gambaran mereka semua.
Didepan sekolah, tiba-tiba Alice dan Alfan berhenti dengan wajah kusut, mereka menatap Shaina.
"Mama... Kami minta maaf" ucap mereka serentak.
Shania menatap wajah mereka dengan tatapan penuh belas asihnya, mendekati mereka dan merapikan rambut Alice dan mengelap darah di hidung Alfan dengan tangannya seraya berkata, "kita bicarakan ini dirumah".
"Kasihan juga professor Helena ya? Sudah ditinggal suami dan sekarang depresi berat sampai-sampai ia tidak bisa mengurus anaknya?"
"Iya benar, padahal dia itu dulu salah seorang yang penting dan disegani tapi sekarang ia seperti tidak bisa apa-apa selain minta maaf"
"Ku rasa anak-anak kita tidak salah mengatakan Professor Helena gila" tambah yang lain.
Gosip orang tua murid itu terdengar oleh Shaina dan Joon yang berada tak jauh dari mereka.
Dengan tergesa-gesa Joon menghampiri mereka para wali murid seraya berkata, "JAGA BICARA KALIAN! KALIAN PIKIR SIAPA KALIAN YANG BISA MENGATAI ORANG LAIN SEENAKNYA??" Berang Joon.
"Cukup! Cukup Joon! Kita pulang dan bicarakan di rumah saja" Shaina menghalau Joon untuk mendekati wali murid.
Joon menghentikan langkahnya dan ikut bersama Shaina yang menggiringnya kembali pada anak-anak, Calvin dan Harris pun telah menghampiri mereka. Joon mengatur pernafasannya yang sudah terlanjur dibakar emosi karena mendengar cemoohan dari orang tua murid itu.
__ADS_1
"Kalian pulang saja, kami akan pulang dengan taksi," kata Joon pada Harris dan Calvin.
Tapi Calvin menolak saran Joon, ia tetap bersikeras untuk mengantarkan mereka pulang, begitu juga dengan Harris, ia semakin penasaran dan ingin mengetahui seperti apa Shaina yang dikatakan Joon itu. Seperti saat mereka pergi yang diantar Calvin dan saat pulang mereka juga dengan mobil lelaki itu.