
"Siapa kau? Aku sangat mengenal Helena tapi saat berhadapan dengan mu sekarang aku seakan sedang berbicara dengan orang naif" ucap Darrell
Shaina tersungging, "kau benar, tapi sebentar lagi ku rasa kau takkan melihatnya lagi si naif ini" tukas Shaina.
Joon menghampiri Shaina dan menggenggam tangannya, "kenapa kau bicara seperti itu?" Gumamnya.
"Aku benar Joon, kau harus menjaga anak-anak dan dia, karena dia akan segera kembali, selama ini dia tidak bisa kembali karena aku yang terlalu takut untuk mengakui diriku, ini kesalahan ku, itu yang dikatakan olehnya" ujar Shaina.
"Lalu, bagaimana dengan Elif?" Tambah Joon.
Shaina kembali mengambil Elif dan menciumnya, air matanya mengalir deras seakan sungai yang deras, "sayang, kau akan kembali bertemu Mamamu, tolong jangan lupa padaku" ucap Shaina.
"Apa yang kakak bicarakan, kakak ini Mamanya dan bukan orang lain" sela Hannah.
"Bagaimana kau tahu Jika kalian akan kembali? Apa yang sedang kau sembunyikan dari kami?" Imbuh Calvin.
Shaina tersenyum, "beberapa hari terakhir, aku melihat banyak darah dalam mimpiku, aku melihat diriku terbaring di rumah sakit, aku juga melihat sebuah pemakaman dan lorong hitam, mungkin itu pertanda akan ada seseorang yang pergi untuk selamanya" kata Shaina.
Mendengar itu Joon jadi panik dan meyakinkan Shaina bahwa bukan dia yang akan pergi tapi Shaina membantahnya karena memang tubuh aslinya sedang terbaring di ranjang pasien rumah sakit, di mana anggota keluarganya terus membacakannya doa-doa.
Shaina memberitahu, ia mengetahui itu semua dengan bantuan ponselnya, ia sering mencari tahu tentang kehidupan aslinya secara diam-diam.
Joon menggenggam tangan Shaina lagi, "ayo kita menikah" ucapnya mengejutkan mereka semua.
Mereka membisu, meski tidak ada yang suka dengan sikap Joon tapi mereka ikut merasakan ketakutan yang di rasakan oleh Joon, ia takut kehilangan Shaina.
"Kau akan menyesalinya jika menikah denganku" sahut Shaina yang berusaha tersenyum.
"Kenapa kau bicara begitu? Bukankah kau setuju kita menikah waktu itu? Apa aku tidak terlalu baik untukmu?".
"Bukan itu, tapi hubungan ini tidak akan bertahan lama, karena kapan saja kita bisa berpisah, bisa nanti atau besoknya" sahut Shaina.
"Aku tidak peduli, asalkan kita tetap dalam ikatan suci, tidak di masa sekarang tapi mungkin di masa depan, kau akan tetap menjadi bagian dari hidupku" ujar Joon, ia beranjak dari duduknya yang duduk di ranjang Shaina, "aku sudah menyuruh orang membawakan orang-orang yang akan menikahkan kita" Joon melihat pada Cristian yang berdiri di pintu sejak tadi.
Joon memberi kode pada Cristian untuk menyuruh masuk orang-orang yang menunggunya di luar.
"Joon, kau yakin? Bagaimana jika Shaina tidak mau" ujar Calvin.
"Aku sangat yakin, kami sudah menunggu cukup lama untuk hari dan aku tidak mau tertunda dengan hal sepele" sahut Joon.
Shaina dan Joon saling berbagi pandangan dengan tatapan sendu mereka, di mana rasa takut kehilangan menghantui pikiran mereka.
Empat orang laki-laki masuk ke kamar pasien tersebut, mereka adalah penguasa minoritas di negeri itu, mereka juga yang berperan penting dalam proses pernikahan kaumnya, seperti Shaina dan yang lainnya.
Pak Kosim juga menyediakan pakaian tertutup untuk dikenakan Shaina saat berlangsungnya proses pernikahan itu, semua persiapan Joon yang sempurna itu dalam waktu singkat mengejutkan semua termasuk Shaina itu sendiri.
Walaupun agak sedikit memaksa tapi Shaina tidak bisa dipungkirinya jika ia juga ingin menikah dengan Joon, ia juga sangat mencintai lelaki itu. Jadi pernikahan yang diidam-idamkan akhirnya berjalan lancar di hadapan mereka semua termasuk Darrell yang tidak punya pilihan lain selain membiarkan pernikahan itu terjadi.
Usai ijab kabul di hadapan saksi dan wali yang di wakilkan oleh orang-orang yang pantas melakukannya. Shaina dan Joon menciumi Elif mungil dan si kembar.
Julukan papa langsung di sematkan si kembar pada Joon, teman-teman Joon juga menyelamatkannya, walau mereka merasa kesal tapi tidak bisa dipungkiri juga jika mereka ikut senang.
Shaina tampak paling bahagia di antara mereka tapi itu tidak bertahan lama, mendadak shaina kembali roboh dengan tubuh terkulai lemah.
"Shaina! Shaina bangun! Shaina kamu kenapa?" Pekik Joon menggerak-gerakkan tubuh Shaina.
__ADS_1
Hannah langsung menggendong Elif, kepanikan melanda mereka, si kembar pun ikut menangis melihat Shaina pingsan.
Calvin mencoba mengecek kondisi tubuh Shaina dan ia segera mengeluarkan Stetoskop dan mendengarkan suara yang terdapat di dalam tubuh Shaina, seperti paru-paru dan jantungnya.
Ekspresi tidak baik terlihat jelas di wajah Calvin, Joon dan yang lain terus bertanya kondisi Shaina, tapi Calvin menyuruh mereka semua keluar karena pihak medis akan memeriksa Shaina.
Beberapa saat setelah menunggu di luar, Dokter keluar untuk memberi tahu keadaan Shaina, tapi pandangan mereka tertuju pada Calvin yang tampak kecewa yang tidak bergeming dari tempat Shaina.
"Ada apa ini Dok? Kenapa Shaina pingsan?" Sosor Joon. "Vin! Apa yang terjadi dengan Shaina? Katakan lah sesuatu" titah Joon.
Namun Calvin hanya diam saja sambil menghela nafas panjang.
"Nyonya tidak apa-apa, dia hanya kelelahan pasca melahirkan, nantinya ia juga siuman" ujar dokter.
Joon bernafas lega mendengar berita itu, ia segera kembali menghampiri Shaina.
****
Sudah hari kedua Elif terlahir ke dunia, Shaina juga sudah di perbolehkan pulang, Hannah juga minta izin untuk kembali ke kuliahnya, masa cutinya telah berakhir, hasilnya cuma Joon dan Shaina saja di rumah bersama anak-anak.
Mulai hari ini Joon tidak lagi bekerja di kafe, dan sudah menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Harley, semua orang terkejut mengetahui status Joon yang sebenarnya.
Mulai sekarang Joon memprioritaskan keluarganya dan mengambil alih perusahaannya kembali dari tangan Darrell meski itu akan sulit di lalunya.
Joon melarang Shaina melakukan pekerjaan apapun, karena semuanya ia yang lakukan, baik memasak, mencuci pakaian, membersihkan rumah mengurus Alice dan Alfan atau apapun itu semua, bahkan Joon juga belajar mengganti popok bayi agar Shaina punya waktu banyak untuk istirahat, apalagi Shaina kurang tidur karena Elif sering terbangun dan menangis tengah malam.
Setelah beres dapur Joon langsung memeluk Shaina yang sedang memangku Elif di sofa. Beberapa ciuman lembut di berikan Joon pada Shaina, kebetulan anak-anak sedang tidur siang di matras yoga di gerai Joon di ruang tamu, jadi ia punya kesamaan bermesraan selayaknya pengantin baru.
"Sayang..." Gumam Joon.
Joon tersenyum, "aku lapar, mau makan kamu" ucap Joon.
Shaina berbalik badan untuk memberikan ciuman bibir pada Joon tapi saat Joon berkesiap adegan selanjutnya, tiba-tiba Elif menangis, sontak mereka tidak jadi berciuman.
"Aku susui Elif dulu ya" ucap Shaina.
Ia membuka kancing piyamanya dan mendekatkan mulut Elif di bagian sensitifnya. Joon tersenyum melihat gadis mungilnya menghisap asi dengan lahap.
"Lihat Elif nyusu kek gini malah ingat waktu aku lakukan itu padamu, bukankah dia mirip seperti ku?" Celetuk joon.
Shaina menyeringai dan mendorong Joon darinya. Setelah selesai menyusui, Elif kembali tertidur pulas dan Joon menidurkannya di boks bayi yang di belinya kemarin. Sebelum Joon meletakkan Elif di tempat tidurnya, Joon sempat menciumi pipi tembem bayi imut itu.
Lalu Joon kembali duduk bersama Shaina, "aku sangat bahagia, akhirnya kita menikah dan sekarang kita punya putra-putri yang lucu-lucu" ucapnya pada Shaina.
"Aku juga sayangku, dan tetap jadi suamiku saja jangan jadi suami wanita lain, aku memaksamu" balas Shaina yang beranjak dari sofa untuk duduk di pangkuan Joon.
"Tentu saja, kau satu-satunya perempuan yang berhak atas diriku" ucap Joon, beradu pandang dengan istrinya.
Perlahan-lahan Shaina mendekatkan bibirnya pada Joon dan tangannya bermain di dada Joon, sifat agresif yang ia sembunyikan selama ini telah muncul apalagi Shaina sangat penasaran dengan apa rasanya bercinta.
Ia malah tertawa saat junior Joon yang tersembunyi di balik celana mengenai pahanya. Joon larut dalam suasana menggairahkan hampir saja menyingkap rok Shaina untuk berkenalan dengan miliknya, tapi Shaina mencegatnya.
"Jangan dulu, bersabarlah sebulan lagi, kau tidak mau kan aku akan sakit?" Desas Shaina.
Joon mengecup bibir istrinya, "tentu saja, aku tidak ingin melihatmu kesakitan, aku sudah menunggu lima bulan jadi apa sulitnya menunggu sebulan lagi" sahut Joon.
__ADS_1
****
Darrell duduk diam di depan jendela kamarnya, melamun sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak paham dengan perasaannya sendiri, dan mengenai Helena yang kini menjadi istri sah Joon, ternyata bukan Helena tapi orang lain yang bernama Shaina, semua teman-teman Joon tahu itu kecuali dirinya.
"Siapa kau sebenarnya? Jika kau bukan Helena kenapa kau bisa mengendalikan emosi ku? Apa yang spesialnya dirimu untukku?" Gumam Darrell sembari menatap layar laptopnya yang terdapat foto Shaina yang sedang tersenyum lebar.
BUUKKK!
Pintu kamarnya terbuka yang dilakukan oleh maminya. Darrell menekan tombol di keyboard untuk mengganti layar laptopnya dengan gambar mengenai perusahaannya.
"Darrell! Apa benar Joon sudah mengumpulkan orang-orang untuk merebut kembali Calista group?" Berang nyonya Rossie.
"Iya Mi" sahutnya.
"Lalu apa yang kau lakukan? Kenapa kau bisa seceroboh ini? Yang kau tahu bersenang-senang dengan perempuan itu!" Bentak nyonya Rossie.
Darrell melirik maminya, "Mi, apa aku benar-benar bodoh?" Tanya Darrell.
"Tentu saja kau bodoh! Bisa-bisanya kau kalah dari Joon, percuma aku membesarkan mu sebagai tameng untukku jika ujung-ujungnya kau tetap bodoh!" Timpal nyonya Rossie
Nyonya Rossie meninggalkan kamar Darrell dengan kesal, ia keluar dari rumah dan masuk kedalam mobilnya.
"Awaaaass kau Joon! Kau telah menipuku, kali ini aku turun tangan langsung untuk merebut apa yang harus menjadi milikku" bengis nyonya Rossie, menekan pedal gas mobilnya dan berlaju cepat di jalanan.
Hari-hari bahagia telah berlalu seminggu, tidak ada yang berubah, yang ada mereka berdua semakin intens dalam hubungan yang penuh cinta itu.
Hari ini hari kedua musim semi, tunas-tunas baru bermunculan dari batang-batang tanaman menembus salju yang menutupinya selama ini, merangkak menjadi bakal dedaunan hijau.
Bumi yang di selimuti hawa dingin kini mulai berangsur hilang, begitu juga dengan ketakutan Joon selama ini yang menyelebunginya, ia sudah berani terang-terangan menyatakan dirinya untuk kembali pada perusahaan keluarganya di hadapan orang-orang yang menentangnya. Satu persatu berhasil ia ambil alih apalagi namanya tercantum jelas dalam surat wasiat jadi bukan hal sulit untuk Joon rebut kembali.
Sebagai keberhasilannya ia mengadakan perjamuan makan siang di luar ruangan yang terdapat di salah satu restoran terbaik bersama teman-temannya dan rekan-rekan kerjanya, sekaligus sebagai acara memperkenalkan Shaina sebagai istrinya, karena pernikahan mereka yang agak mendadak itu Joon tidak punya waktu membuat pesta resepsi.
Shaina tampil cantik dan anggun dalam balutan busana muslim, lengkap dengan kerudung yang menutupi kepalanya dimana ia terlihat semakin menawan bahkan Harris dan Calvin tidak ragu-ragu memuji kecantikannya meski di depan Joon sekalipun.
"Waahh ternyata nona Helena sangat cantik" ucap Gia.
"Terima kasih" ucap Shaina.
Harley menghampiri Joon, "aku minta maaf dulu aku sering memarahi mu, soalnya aku tidak siapa kau" ujar Harley.
"Santai saja lah bos! Itu biasa dalam pekerjaan" sahut Joon.
"Jangan panggil aku bos, aku merasa malu, perusahaan mu lebih besar daripada milikku" sela Harley.
Joon tersenyum, "dari kafe andalah saya bisa makan dan jadi seperti ini" balas Joon.
Teman-temannya bertepuk tangan sebagai rasa empati mereka pada Joon yang tetap rendah hati. Joon tersenyum manis pada istrinya yang juga terlihat bahagia.
Alice dan Alfan sedang asyik bermain dengan anak kecil lainnya yang merupakan anak dari rekan kerja Joon.
Harris sibuk memperlihatkan Elif pada yang lain sedangkan Calvin mengobrol dengan Shaina.
...**TAMAT...
Sssttt ...!
__ADS_1