Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Pertanyaan keramat


__ADS_3

Di sela-sela obrolan itu, diam-diam Joon mencuri-curi pandang dengan Shaina, dan tidak sengaja Colleen menyinggung pada hubungan Joon dan Marissa.


"Ngomong-ngomong kau joon tidak berencana melanjutkan hubungan yang lebih serius dengan Marissa, menikah gitu?" Celetuk Colleen pada Joon, seketika Joon merasa terganggu dengan pertanyaan itu.


Namun respon berbeda ditunjuk oleh dua temannya, Harris dan Calvin yang ikut nimbrung dalam pertanyaan tersebut.


"Benar juga, lagian kalian sudah saling mengenal satu sama lain" timpal Harris, yang ikut penasaran.


Seketika Joon risih dengan Harris termasuk Calvin turut serta berpendapat dengan berkata, "iya juga, Marissa kan cantik dan seksi, pasti banyak yang suka padanya bisa-bisa kau keduluan oleh orang lain" sambung Calvin.


Dengan cepat bola mata Joon melesat pada kedua temannya yang seakan sengaja menyudutkannya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan, padahal mereka sudah tahu prinsip Joon yang tidak berencana menikah sebelum ia menggapai apa yang diinginkannya..


"Kalian ini! Bicara kayak sudah nikah aja!" Sergah Joon.


"Aku memang sudah nikah, tapi bagaimana dengan kalian berdua? Kau Harris anak tunggal pasti orang tua mu sangat menginginkan agar kau segera menikah kan?" Colleen melirik ke Harris dengan sikap mencercanya.


"I-itu..." Gumam Harris.


"Kau juga Vin! Sudah waktunya untuk mencari pasangan, jadi dokter itu melelahkan dan kau butuh seseorang untuk mengurus mu juga di rumah" timpal Colleen.


"Iya-iya bising amat sih! Tunggu aja nanti aku pasti kan ku perkenalkan sama kakak!" Timpal Calvin pada Colleen sambil sambil berdecak kesal dan melihatnya dengan ujung mata. Lalu diam-diam tersenyum pada Shaina yang sedang mengelap bibir Alice yang belepotan saat makan sup.


Namun aksi Calvin tersebut tertangkap oleh dua temannya, membuat mereka berdecak kesal padanya. Terlebih Joon, sebab ia tahu Calvin bermaksud mendekati Shaina.


Di tengah-tengah menikmati obrolan mereka, ponselnya Colleen berdering, yang merupakan panggilan dari suaminya, tak lama setelahnya Colleen berpamitan karena ada urusan penting, dan meninggalkan mereka semua di rumah makan tersebut.


Meski sudah jauh, Shaina yang mengagumi kecantikan Colleen masih menatap kepergiannya, meski bayangan perempuan itu sudah hilang dalam kejauhan.


"Aku tidak menyangka seorang Professor kondang seperti nona Colleen juga suka bertanya seputar pernikahan seperti emak-emak di kampung ku" celetuk Shaina yang tersungging.


"Jangan lihat luarnya saja dia itu tidak lebih dari nenek-nenek dan suka ikut campur urusan orang" sela Calvin.


Shaina tertawa mendengarnya.


"Apa ada yang lucu?" Tanya Joon pada Shaina.


"Ya tentulah, ku kira cuma di tempat ku saja orang-orang suka menanyakan pertanyaan sekeramat itu" ujar Shaina.


"Memangnya kau pernah ditanyakan hal semacam itu?" Tambah Harris.


Shaina tersenyum sambil mengangkat salah satu alisnya, ia berkata, "sering".

__ADS_1


Shaina menceritakan bagaimana ia sangat sering mendapatkan pertanyaan seputar kapan menikah dari orang-orang disekitarnya bahkan keluarga jauhnya juga tidak luput menanyakan hal tersebut, hampir setiap hari-hari tertentu saat ada pertemuan keluarga Shaina selalu berusaha menghindar dari mereka agar tidak mendapatkan pertanyaan seputar pernikahan, karena ia sudah kehabisan jawaban untuk menjawabnya.


Shaina juga membagikan ceritanya yang terus dibanding-bandingkan dengan teman-teman seusianya yang semuanya sudah menikah dan tidak jarang mereka sudah memiliki anak bahkan ada yang sudah bersekolah.


Tanpa disadari Shaina, ketiga lelaki itu terus memusatkan perhatian mereka padanya disela-sela pembicaraan tersebut, dan mereka ikut tersenyum mengikuti gerakan bibir Shaina, saat ia dengan malu-malu menceritakan kehidupan masa lalunya.


"Kenapa kau tidak menikah?" Tanya Calvin pada Shaina.


Shaina tersenyum tipis sambil memutar bola matanya, "tidak ada orang yang mau denganku apalagi aku ini gadis rumahan dan sangat kolot, banyak hal yang tidak aku ketahui di luar sana" ujar Shaina malu-malu.


"Menurutku tidak begitu, kau itu cerdas hanya saja kau tidak berani mengungkapkannya" kata Calvin menatap Shaina.


Tatapan lembut Calvin membuat Shaina tersipu malu hingga ia menundukkan wajahnya dari lelaki itu. Namun respon berbeda di perlihatkan Harris dan Joon yang terus berdecak kesal dengan tingkah teman mereka tersebut.


"Nih..! makan aja dulu jangan terpikat dengan rayuan makhluk ini!" Timpal Joon mendekatkan mangkuk sup kedekat Shaina sambil melirik Calvin dengan ujung matanya.


"Jika sekarang ada seseorang yang menyukaimu, apa kau mau jadi pasangannya?" Sela Harris pada Shaina.


Shaina mengerjap kaget lalu melirik Joon sesaat. Pertanyaan tersebut tidak hanya membuat Shaina kaget tapi Calvin dan Joon ikut bereaksi sama.


"I-itu, aku tidak tertarik dengan hubungan tanpa ikatan yang jelas apalagi hanya untuk sesaat" ungkap Shaina ragu-ragu pada ketiganya.


"Kalau begitu kamu mau kan menikah bila ada orang yang mengajakmu menikah?" Sambung Harris yang sumringah.


Mendadak Joon terbatuk-batuk tanpa alasan, sehingga semua perhatian tertuju padanya tidak terkecuali Shaina yang mencuri-curi pandang dengan Joon.


"Bagaimana Shaina? Kamu mau kan?" Lanjutnya Harris, menunggu jawaban Shaina.


Shaina menoleh pada Harris dengan perasaannya yang tidak tenang karena mendapati pertanyaan tersebut.


"Sekarang aku tidak bisa menikahi siapapun" Shaina tersungging getir, melihat kearah perut besarnya yang sedang dielusnya itu.


Pernyataan Shaina tersebut langsung di pahami oleh semuanya, ditambah lagi Shaina menambahkan dengan berkata, "siapapun aku sekarang aku adalah Helena, anak-anaknya anakku juga, jadi aku tidak punya tanggung jawab tentang hidupku" tukas Shaina.


"Maksudmu?" Tambah Calvin yang ikut menyudi Shaina.


Di arah yang berlawanan Joon tampak memalingkan wajahnya sambil menggaruk-garuk alisnya dengan ujung telunjuknya.


"Bisakah kalian membahas yang lain? Jika tidak aku mau pulang ada hal yang harus kulakukan" sela Joon.


Sontak ucapan Joon itu membuat yang lain jadi kesal mendengarnya, karena Joon dianggap kerap mengacau saat mereka ingin berbicara serius dengan Shaina.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong Alice, Alfan bagaimana jika Mama Shaina kalian ada yang suka, apa kalian mau punya Papa baru?" Celetuk Harris pada si kembar.


Joon dan Shaina kaget mendengar perkataan Harris, tidak hanya mereka berdua tapi Alfan dan Alice juga sama terkejutnya.


Sikembar saling melempar pandangan mereka, "kami sudah punya Paman Joon" sahut Alice.


"Papa kami cuma satu, dan kami tidak mau punya Papa baru, lagian rumah paman Joon sempit dan tidak punya tempat tidur lagi jika nambah orang lagi" tutur Alfan.


Shaina terdiam sambil meringis panik, berharap Alice maupun Alfan tidak membahas tempat tidur yang bisa-bisa terbongkarnya hubungannya dengan Joon, tapi disisi lain Joon cengengesan dengan sikap keponakannya yang menyebabkan teman-temannya skakmat, karena mau memodusin Shaina.


Saat pulang Calvin juga menawarkan tumpangan di mobilnya, tapi saat mereka mau pulang tiba-tiba Joon di datangi seorang lelaki berjas formal, merupakan lelaki yang tidak sengaja di tabrak Shaina tadi.


"Hai Joon, apa kabar?" Sapa laki-laki itu.


Ada ketidaksukaan Joon melihat lelaki itu muncul, bahkan senyuman manis yang dapat melelehkan setiap kaum hawa pudar hanya ada ekspresi dingin darinya.


"Kenapa kau disini?" Tanya Joon.


"Apa kau bercanda? Ini kan tempat umum dan tidak ada larangan untukku datangi" tukas lelaki itu.


"Aku tidak punya urusan denganmu" timpal Joon yang membukakan pintu mobil untuk Shaina dan anak-anak.


Lelaki itu menoleh kepada Shaina dan anak-anak sambil tersenyum tipis.


"Hai Alice, jika kalian butuh apa-apa jangan ragu-ragu hubungi Om ya, Om ini juga pamanmu seperti paman Joon" ujar lelaki itu pada Alice.


"Paman ini paman kami?" Alfan dan Alice serentak bertanya.


"Iya, kalau enggak percaya tanyakan saja pada Mama kalian" lelaki itu melihat kearah Shaina yang kebingungan, "jika nona Helena tidak ingat kalian bisa tanyakan pada Joon, karena dia pasti tidak lupa siapa aku," sambungnya, sambil beradu pandang dengan Joon.


"Cepat masuk, kita harus pulang" ucap Joon pada yang lain.


Sambil tersungging pada Joon, lelaki itu memundurkan langkahnya untuk membiarkan Shaina dan anak-anak masuk ke mobil Calvin.


Di sela-sela menyetir mobilnya, Calvin sesekali menoleh pada Joon yang tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Apa ada yang tidak beres?" Tanya Calvin pada Joon.


"Tidak ada" sahut Joon.


Sikap Joon tidak hanya menarik perhatian Calvin saja tapi Shaina juga yang sejak tadi melihat ada yang aneh dengan Joon setelah bertemu dengan lelaki tadi, ia lebih banyak diam dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

__ADS_1


Tiba di rumah, mereka segera keluar dari mobil Calvin, Alice dan Alfan berlarian menuju pintu rumah, sedangkan Joon berjalan di belakang bersama Shaina, mengamati anak-anak sambil tersenyum lebar.


__ADS_2