
Kemarahan Shaina sudah benar-benar mereda dan emosinya sudah kembali berada di titik terendah, bahkan ia sedang asyik mendongeng bersama anak-anak di ruang tamu.
Dongeng karangannya yang di buat-buat Shaina hanya untuk menghibur kedua anak kembar itu, yang ia selipkan cerita membangun karakter anak-anak. Sedangkan Joon hanya duduk diam sambil memperhatikan mereka yang tampak begitu bahagia dan tidak luput canda tawa.
"Ma, kita main tebak-tebakan yuk!" Ajak Alfan.
"Ayo!" Sahut Shaina dengan antusias.
"Alice juga suka main tebak-tebakan" tambah Alice.
Awalnya berjalan normal tapi ditengah permainan Shaina kalah karena ia memang tidak begitu tahu tentang tebak-tebakan mereka yang beda jauh dari tempat asalnya. Hampir seluruh bagian wajah Shaina di coreng bedak tabur akibat dari kekalahannya.
Alfan menoleh kearah Joon yang sejak tadi diam-diam memperhatikan mereka dan sekali-kali ikut tertawa ketika Shaina dapat hukumannya.
"Paman, ayo ikut main! Ini seru sekali lho paman" ujar Alfan.
"Tidak usah, kalian main saja" kata Joon.
"Iiihh...! Paman ini enggak asyik!" Timpal Alice.
Shaina ikut tersenyum meski wajahnya penuh dengan goresan bedak tabur tersebut.
Setelah beberapa kali dibujuk, akhirnya Joon mau ikut bermain bersama mereka, dan permainan berjalan dengan lancar hanya saja Shaina yang selalu jadi korban kekalahan, tapi tidak sekalipun ia marah atau tersulut emosi seperti saat makan tadi, melainkan tawa di bibirnya tidak pernah lekang.
"Waaaahhh! Mama kalah lagi" seru Alice yang terkekeh melihat Shaina, "Mama harus di coreng lagi" tambahnya.
"Benarkah? Tapi Mama harus membersihkan wajah Mama dulu" sela Shaina.
Tanpa permisi, Shaina langsung menciumi Alice sekaligus menggosok-gosok wajahnya di wajah Alice, sehingga Alice terkekeh-kekeh cukup keras, begitu juga dengan Alfan yang menjadi korban kejahilannya.
Setelah wajahnya bersih dari bedak, Shaina mendongakkan mukanya ke arah Joon sambil memejamkan mata agar di gores bedak oleh Joon. Bukannya menggores bedak, Joon malah terdiam menatap Shaina yang tampak sangat menggemaskan dengan ekspresinya yang lucu apalagi Shaina menggigit bibir bawahnya.
Jantung Joon kembali berpacu dengan hebat memperhatikan setiap inci dari wajah Shaina, begitu juga dengan anak-anak, menunggu Joon yang sejak tadi hanya menatap Shaina tanpa melakukan apa-apa.
TUK! TUK! TUK!
Diwaktu bersamaan terdengar ketukan pintu, Joon beranjak dari duduknya dan Shaina bergegas membersihkan wajahnya dengan tissue. Saat membuka pintu tampak pengacara keluarga Joon yang berdiri di balik pintu tersebut, Joon mempersiapkannya masuk.
Melihat ada tamu Shaina pun beranjak dari tempatnya dan ingin masuk ke kamar tapi sang pengacara mencegahnya.
__ADS_1
"Nona Helena, saya ada perlu dengan anda juga" kata pengacara tersebut.
Shaina mengerenyit sambil melemparkan pandangannya pada Joon dan Joon sedikit mengangguk yang bermaksud menyuruh Shaina untuk tetap tinggal begitu juga dengan anak-anak.
Setelah sedikit berbincang-bincang dengan Joon, pengacara itu memulai percakapannya tapi sebelum sang pengacara memulai topik pembicaraannya, pintu rumah Joon kembali di ketuk oleh seseorang.
Yang ternyata Tante Rossie juga datang untuk mendengar wasiat Ervian.
"Maaf tuan Joon, saya juga meminta Nyonya Rossie untuk ikut bersama kita agar ada saksinya" kata pengacara.
"Tidak apa-apa" sahut Joon.
Shaina mengerenyit keningnya, keheranan melihat orang-orang tersebut ada perlu dengannya malam-malam begini.
Pengacara memulai pembicaraannya, "maaf nona Helena saya mengganggu anda, tapi saya ada sesuatu yang harus saya sampaikan untuk anda dari suami anda, tuan Ervian" kata pengacara.
Mendengar perkataan pengacara itu, Shaina berusaha bersikap tenang apalagi ada tante Rossie, meski ia tidak ada hubungannya dengan orang-orang tersebut. Pengacara itu mengambil sebuah amplop dari dalam tasnya lalu di buka-nya.
"Saya Ervian Roland, jika terjadi sesuatu denganku, dengan ini menyatakan seluruh harta saya, saya berikan untuk anak-anak saya dan istri tercintaku tanpa boleh di ganggu gugat oleh seorangpun, dan aku percayakan keluarga kecilku pada adikku, Joon Rafardhan" ucap pengacara yang membuat Joon tersentak kaget.
Shaina kembali mengarahkan pandangannya pada Joon yang sulit diartikan, walaupun Joon tampak menundukkan pandangan.
"Sekian terima kasih, untuk semuanya" kata pengacara itu sambil melipat kembali kertas itu dan memasukkan ke amplop semula.
Usai membaca surat wasiat, pengacara itu berpamitan pada Joon, Helena alias Shaina sampai ke tante Rossie. Shaina duduk di tengah-tengah Alice dan Alfan, sedangkan Joon duduk di sebelah mereka yang berhadapan dengan Tantenya.
"Anak-anak, kalian masuk kamar dulu aja ya" kata tante Rossie pada Alice dan Alfan.
Si kembar saling beradu pandang dan mereka melihat kepada Joon, dan Joon segera menyuruh mereka masuk ke kamar.
"Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Joon" sambung tante Rossie dengan melirik Shaina di depannya.
"Eemmm... Aku lihat anak-anak dulu ya" gumam Shaina yang mengerti maksud tante Rossie, segera berpamitan masuk ke kamar.
Di ruang tamu hanya menyisakan joon dan tantenya, Tante Rossie terlihat serius dengan pembicaraan yang akan di mulainya.
"Kemarin Papa mu sekarang Ervian, sebenarnya ada apa sih dengan mu?" Ujar tante Rossie.
"Maksud Tante?" Tanya Joon.
__ADS_1
"Mereka semua sangat mempercayai mu tapi kenapa kau masih lari dari tanggung jawabmu? Hidupmu akan kembali seperti sediakala, memiliki semua yang kau inginkan, kau hanya perlu menjadi CEO mengurus apa yang mereka tinggalkan untukmu" tukas tante Rossie.
"Aku belum siap" sahut Joon.
"Menunggu siap maka tidak akan siap kecuali kau berani memulainya" timpal tante Rossie.
Joon terperangah dengan perkataan tantenya, lalu berkata, "sebenarnya apa yang tante inginkan hingga memaksaku untuk terima semua tanggung jawab tersebut?" Tanya Joon.
Nyonya Rossie, mengerjap kaget dengan pertanyaan Joon yang tiba-tiba, "tidak ada yang kuinginkan selain kebahagiaan mu" ucapnya.
"Yang benar saja Tante? Kau kira aku akan percaya itu?" Timpal Joon.
Nyonya Rossie tampak menghembuskan nafas panjang, dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, ia berkata "kakekmu meninggal dunia saat aku masih sangat kecil dan satu-satunya yang menjadi pelindungku adalah kakakku, kak Salman. Meski kami beda ibu, tapi kak Salman tidak pernah membedakan ku, dia selalu ada untukku tidak peduli dengan kata orang lain" tante Rossie mengarahkan pandangannya ke depan, "walaupun begitu mereka selalu menyisihkan ku karena aku adik tirinya dan menganggap ku hanya menyukai uangnya saja, karena ucapan mereka juga aku termakan hasutan, membuatku iri dengan kakakku yang hidup mewah dan di hormati oleh semua orang, sehingga aku melakukan berbagai cara untuk merebutnya bahkan aku pernah memfitnah ibumu, karena aku juga ibumu meninggalkan dunia saat menyelamatkanku dari kecelakaan maut itu, saat itu aku merasa bersalah apalagi kak Salman tidak menyalahkan ku, meskipun begitu aku rasa iri ku tak juga berkurang. Namun, setelah kak Salman meninggal aku baru tahu" Nyonya Rossie menyeka setetes air mata yang mengalir dari pelupuk matanya, "Kakak tidak pernah menganggapku adik tiri tapi sebagai adik kandungnya, dia-lah yang membiayai pendidikan ku dan kakak juga selalu berziarah ke makam ibuku selama hidupnya, aku sangat menyesalinya". Nyonya Rossie menoleh pada Joon.
"Posisi kita sama Joon, kita sama-sama kehilangan orang-orang baik pada kita, dan aku ingin memperbaikinya melalui dirimu untuk menghentikan mereka yang telah merenggut orang-orang yang kita sayangi" tukas Nyonya Rossie.
Joon terdiam, pandangannya tanpa arah dalam diam seribu bahasanya.
Didalam kamar sejak tadi Shaina sangat penasaran apa yang di bicarakan Joon dengan Nyonya Rossie, ia khawatir Joon akan menceritakan tentang dirinya yang bukan Helena seperti pada dua sahabatnya, Harris dan Calvin. Shaina duduk di pinggir ranjang menyandarkan kepalanya di dinding ranjang, sembari membelai lembut di kembar yang sudah terlelap dalam buaiannya.
Mendadak pintu kamarnya terbuka dan ia mendapati Joon yang masuk menghampiri mereka. Shaina memperbaiki duduknya saat Joon mendekat pada Alice dan Alfan.
"Nyonya Rossie?" Tanya Shaina.
"Tante sudah pulang" sahut Joon. Ia duduk sembari memandang kedua anak itu, sesekali ia menghela nafas panjang serta menundukkan wajahnya.
Joon mengalihkan pandangannya pada perut besar Shaina yang sedang di elus lembut oleh perempuan itu.
Joon berkata, "mereka masih sangat kecil untuk kehilangan orang tuanya" gumamnya.
"Mereka masih punya kamu, aku percaya kau bisa menjaga dan melindungi mereka dengan baik, aku juga percaya nona Helena pasti akan kembali" tambah Shaina.
Joon menatap Shaina, "mereka akan baik-baik saja karena Mama mereka akan kembali" kata Joon yang melemah.
"Iya" angguk Shaina.
Mendadak Joon memalingkan muka dari Shaina, ia beranjak dari duduknya dan berkata, "ini sudah malam kau harus segera tidur".
"Kau benar aku juga sangat mengantuk, selamat malam!" tukas Shaina yang membaringkan tubuhnya disisi Alice.
__ADS_1