Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Orang jahat tercipta dari orang baik


__ADS_3

Shaina mendekat pada Joon, "siapa kau sebenarnya?" Retinanya menilik retina milik Joon.


"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud membohongi mu tapi aku tidak mau kau khawatir" sahut Joon.


"Khawatir? Khawatir kenapa? Khawatir aku tahu kau juga sama seperti Darrell? Kau bilang Darrell jahat yang tidak segan-segan melakukan apapun yang diinginkannya, tapi lihatlah! Lihatlah orang-orang ini! Mereka menggunakan senjata untuk mengancam orang lain, Kau juga sama mengerikan, sampai-sampai aku tidak percaya itulah kau" ucap Shaina, matanya mengalirkan air mata.


Joon terdiam dengan pandangan sendu.


"Shaina, itu tidak seperti yang kau pikirkan, Joon punya alasan melakukannya" sela Harris membela sahabatnya.


"Ya sudahlah kau pasti membela temanmu, aku tidak ingin berlama-lama di sini" balas Shaina, "Alfan, Alice ayo kita pulang, biarkan mereka disini dengan rasa tidak punya malunya bertengkar di mana saja" lanjut Shaina sembari mendesis pada Joon dan Darrell.


Alice segera berbalik badan dan menuju Shaina, begitu juga dengan Alfan yang melepaskan tangan Joon darinya.


"Shaina, aku minta maaf" gumam Joon lagi.


Shaina menyeka air matanya dan sesaat mengangkat wajahnya agar air matanya berhenti mengalir tapi itu tidak berhasil.


"Jangan minta maaf terus! silahkan bertengkar lagi, lanjutkan hobi kalian itu, oh ya! Apa kalian pernah berpikir bahwa kalian itu sama? Kau juga Darrell, maaf jika kau tersungging dengan kata-kataku yang tidak sopan ini, tapi aku ingin tahu apa yang kalian dapatkan setelah bertengkar? Kepuasan? Bahagia? Itukah yang kalian rasakan? Jika itu benar, berarti kebahagiaan dan kepuasan ku terlalu rendah untuk mencapai kalian" Shaina menatap Joon dan Darrell bergantian, "aku terlalu rendah untuk menikmati hidupku yang mudah sekali bahagia walau hanya melihat orang lain bahagia, apa itu karena aku orang miskin dan berasal dari kampung berbeda dengan kalian yang punya standar cukup tinggi untuk bisa bahagia" tambah Shaina.


Kata-kata yang di lontarkan Shaina seakan anak panah yang melesat ke hati orang-orang mendengarnya, bahkan Gia ikut tersenyum melihat shaina yang membuat dua lelaki itu tidak berkutik.


"Helena" ucap Joon, memberi kode agar Shaina tidak lagi mengatakan identitasnya sebagai perempuan miskin dan dari kampung karena Helena tidak seperti itu.


"Akhirnya kau tahu diri juga Helena! Kau itu tidak lebih dari orang rendahkan!" Sela Gladys yang tersenyum sinis.


"Diam kau, Gladys!" Bentak Darrell mendahului Joon angkat suara.


Gladys terkejut, "sayang, kenapa kau membentak ku? Itu pasti gara-gara wanita itu membuatmu emosi" ucap Gladys meraba-raba dada Darrell untuk menenangkannya.


Darrell malah menghempas tangan Gladys darinya, aksinya itu memberi tanda tanya besar untuk yang lain..


Joon mendekat pada Shaina, "kita pulang, kau terlihat pucat sekali" kata Joon.


Sesaat Shaina menatapnya lalu menggangguk, kakinya bergetar hebat, ia juga mulai merasakan rasa sakit di perut bawahnya, hanya saja tadi ia menahan rasa sakit itu, agar ia mengetahui semuanya tentang Joon dan Darrell.


Sejak masuk tadi Shaina memang sudah terlihat pucat, bahkan saat berbelanja perlengkapan bayi, Shaina sudah kelelahan hingga harus beristirahat beberapa kali di bangku yang tersedia di toko-toko.


Hannah menggandeng tangan Alfan sedangkan Joon dan Alice menggandeng Shaina. Tiba-tiba pertahanan Shaina roboh, tapi Joon dapat menangkapnya sebelum menyentuh lantai, shaina meringis kesakitan.


Harris dan Darrell segera mendekat.


"Shaina... Shaina, kamu kenapa?" Tanya Joon.


"Joon, sepertinya aku mau melahirkan!" Pekik Shaina memegangi perutnya, ia merintih kesakitan.


"Apa?!" Joon kaget sehingga tanpa sadar ia berteriak, hal yang sama juga terjadi pada Harris.


Semua orang mulai panik, Darrell yang biasanya garang, kali ini ia tidak ada bedanya dengan Joon dan Harris.


"Cristian! Keluarin mobil! Pak Kosim hubungi rumah sakit! Harris jaga Hannah dan anak-anak!" Perintah Joon.

__ADS_1


"Iya-iya Joon" sahut Harris yang panik.


Darrell juga segera menghubungi pihak rumah sakit untuk menyiapkan kamar dan dokter segera.


Joon segera membopong Shaina masuk ke mobil Cristian, tapi Harris mulai kebingungan mencari kunci mobil Joon di loker. Namun Darrell menyuruh anak-anak ikut dengannya terpaksa Harris juga ikut masuk kedalam mobil Darrell meskipun ia tidak di persilahkan oleh pemilik mobil.


Shaina terus memekik kesakitan, saat di mobil bahkan saat di atas ranjang dorong khusus pasien. Calvin yang baru tahu juga ikut menemui Joon untuk bertanya keadaan Shaina.


Di belakang mereka segera menyusul Darrell dan yang lain. Shaina di bawa ke ruang bersalin, mereka semua menunggunya dengan cemas.


Sudah setengah jam, waktu terasa begitu lambat dan mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam, menunggu terasa sangat tidak menyenangkan apalagi Joon, ia semakin besar kekhawatirannya saat belum mendengar apapun dari kamar Shaina.


Uweeeekkkk! Uweeekk!!


Mendadak terdengar tangisan bayi dari kamar yang di tempati oleh Shaina, mereka semua berdiri di depan pintu dan ketika dokter ingin memberitahu keluarga, ia terkejut melihat hanya Hannah yang perempuan.


"Dokter, bagaimana keadaannya ibu dan bayinya?" Tanya Joon mendahului yang lain.


"Ibu dan bayinya baik-baik saja, selamat ya pak, apa Anda bernama Joon?" ujar dokter.


"Iya Dok" sahut Joon yang semringah.


"Nyonya Helena meminta anda masuk" ujar dokter.


"Terima kasih" tambah Joon yang segera masuk seperti yang dikatakan dokter.


Joon mendekat ke ranjang shaina berbaring dan seorang perawat sedang membersihkan seorang bayi kecil.


Shaina tersenyum dan meminta bayinya untuk di adzanin selayaknya bayi-bayi yang baru lahir dalam keyakinannya, meski Joon dan Shaina adalah orang-orang yang tidak luput dari dosa.


Perawat menyerahkan bayi itu pada Joon dan Joon melakukan sesuai yang seharusnya dari telinga kanan si bayi di kumandangkan azan dan di sisi lainnya di Iqamahkan seperti aturannya.


Joon dan Shaina sama-sama berlinang air mata, melihat bayi mungil itu, lalu ia menyerahkan pada Shaina dan dokter meminta Shaina menyusui bayinya.


Walaupun hubungan mereka sudah sangat jauh, tapi mereka masih malu-malu untuk menunjukkan diri masing-masing, Joon yang paham keadaan segera berbalik badan saat Dokter perempuan itu mengajari Shaina menyusui bayi perempuannya itu.


Shaina langsung menutup badannya dengan selimut dan hanya terlihat sebagian dadanya karena ke tutupi oleh selimut dan tubuh mungil itu.


"Kau hebat" ucap Joon pada Shaina yang tersenyum.


"Alfan dan Alice mana?" Tanya Shaina.


"Mereka di luar, biarkan Elif minum dulu baru kita panggil mereka karena yang lain juga penasaran, aku tidak mau mereka melihatmu seperti ini" ujar Joon.


Shaina menyeringai sambil tersenyum lebar.


"Mama....!" Seru Alice dan Alfan yang masuk bersama yang lain.


Shaina tersenyum lebar sambil mengelus-elus bayinya yang tertidur dalam dekapannya, ia pun sudah berpakaian kembali.


"Adik bayinya lucu Ma" ucap Alice.

__ADS_1


"Mirip seperti mu" sahut Shaina.


Si kembar menciumi adik bayi mereka bergantian bahkan Hannah juga tampak senang melihat bayi tersebut.


"Siapa namanya kak?" Tanya Hannah.


"Elif, nama belakangnya nama ayahnya seperti kakak-kakaknya" sahut Shaina.


Hannah menggendong Elif dan menciumnya, bahkan ia berebutan dengan Harris yang juga ingin menggendong Elif.


"Selamat ya, akhirnya kau jadi ibu" ucap Calvin.


"Terima kasih" sahut Shaina, "aku sangat beruntung bisa merasakan pengalaman ini hanya saja aku merasa bersalah pada keluargaku, mereka tidak tahu apapun tentangku" lanjut Shaina.


"Apa maksudmu kak? Orang tua kita pasti bahagia, melihat kakak melahirkan dengan selamat" sela Hannah.


"Iya, semoga saja begitu" gumam Shaina.


Shaina menatap Darrell yang berdiri di depan pintu, ketika matanya mengarah pada lelaki itu maka semua orang juga mengalihkan perhatian pada Darrell.


"Lihatlah! Bukankah dia juga anggota keluargamu?" Ucap Shaina pada Darrell.


Perlahan-lahan lelaki itu melangkah dan mendekat pada Shaina, wajah imut Elif membuat menciptakan senyuman di bibir Darrell meski hanya sekilas.


"Maaf, aku pernah membenci dan berpikir yang buruk terhadap mu" celetuk Shaina.


Darrell menoleh pada Shaina dan yang lain juga ikut memperhatikannya meski mereka kurang suka Shaina bersikap ramah pada Darrell.


"Dia kan sangat manis" ucap Shaina lagi.


"Shaina" sela Joon yang menunjukkan reaksi tidak suka pada Darrell.


Shaina tersenyum tipis, "maaf aku pernah membencimu padahal aku tidak tahu apa-apa tentang mu" ucap Shaina menatap Darrell, "bukankah aku juga sangat jahat? Jika kau berpikir begitu kau benar, kita semua adalah orang-orang jahat tanpa sadar kita menyakiti orang lain baik secara langsung maupun tidak".


Darrell melihatnya dengan penuh seksama.


"Aku mendengar ceritamu tadi, menurutku kau tidak salah Joon juga tidak salah tapi keadaan yang salah, sebenarnya kau tidak bermaksud menyakiti orang tapi karena kau hanya ingin mendapatkan keadilan atas dirimu" ucap Shaina.


"Jangan berpura-pura memahami diriku karena kau tidak pernah tahu rasanya itu" sergah Darrell.


Shaina terkekeh, "kau salah besar, kau tidak tahu siapa aku, bahkan semua orang-orang di sini belum pernah melihatku juga" ujar Shaina.


"Shaina hentikan" sela Joon.


"Tidak Joon, kau juga sama sepertinya, semua orang tidak tahu apa-apa tentangku, kalian hanya melihat topeng ku sebagai Helena yang terkadang berpura-pura menjadi dirinya, tapi tahukah? Hidupku penuh kepalsuan, aku seorang teman yang tidak punya rasa iba karena aku dianggap tidak bisa merasakan perasaan orang lain, aku juga seorang anak yang membangkang pada orang tuaku karena aku tidak menurut, aku juga seorang kakak yang tidak bisa jadi peneduh buat adik-adikku karena aku tidak memilik apa-apa yang bisa kulakukan untuk mereka, aku juga tidak bisa di andalkan oleh siapapun bahkan untuk diriku sendiri tidak bisa, aku lemah, bahkan orang-orang mengabaikanku dan tidak mendengar pendapat ku karena aku dianggap bodoh, aku juga ingin mendapatkan keadilan atas yang ku rasakan seperti yang lain" Shaina menyeka air matanya yang menetes.


"Tapi bedanya aku tidak punya apa yang kau punya, uang, kekuatan atau apapun itu semua, pilihanku adalah diam, berpura-pura jadi orang tegar, memasang wajah bahagia, tertawa bersama yang lain seakan-akan aku tidak pernah tahu apa itu menangis dan sekarang aku juga berpura-pura menjadi orang lain, perempuan cantik, elegan dan menarik, semua orang yang melihat akan jatuh cinta padaku, bukankah aku sangat gila?" Shaina tersungging.


"Kenapa kau bicara begitu, Helena?" Sudi Darrell.


"Aku sekarang yakin kita sama, kita adalah korban dari orang-orang yang tidak mau berpikir apa itu luka orang lain, kau dan aku juga terlahir seperti Elif dan anak-anak lainnya, anak kecil tanpa dosa namun keadaan yang membentuk kita jadi pendosa, tapi aku tidak bisa menyalahkan orang lain karena aku punya pikiran dan hati sendiri untuk menjadi diriku sendiri, aku muak jadi pion-pion dari mereka yang tidak bertanggung jawab, sekarang giliran mu Darrell, apa kau tetap menjadi seseorang seperti yang mereka bentuk dari dulu atau menjadi sebaliknya untuk memutuskan rantai ketidak-adilan yang mereka ciptakan" ungkap Shaina.

__ADS_1


__ADS_2