
Darel membuka bungkusan makanan cepat saji dan memakannya dan diam-diam Shaina meliriknya.
"Untukmu" Darrell memberikan sebagian makanannya untuk Shaina.
"Terima kasih" ucap Shaina yang kegirangan mendapatkan burger yang diberikan Darrell, "Uummm... Ternyata begini rasanya hamburger..." Gumam Shaina seraya mengunyah burger dengan lahap.
Darrell terkekeh, "jadi kau belum pernah makan makanan seperti ini?" tanya Darrell.
Shaina mengangguk-angguk sambil terus menikmati makanan di tangannya.
"Tapi ngomong-ngomong, makanan cepat saji itu tidak baik untuk kesehatan" celetuk Shaina.
Darrell tersenyum melihat Shaina yang tetap menikmati burger hingga hampir tidak tersisa.
"Tahu tidak? Sebelumnya tidak ada orang yang berani memprotes ku apapun yang kulakukan" ujar Darrell.
Shaina tersentak dan melihat Darrell tampak serius dengan ucapannya membuatnya bergidik.
"A-aku tidak bermaksud memprotes, aku hanya mengatakan apa yang ku pikirkan" gumam Shaina, "tapi jika itu untuk kebaikan mu kenapa tidak? Kau juga harus menjaga kesehatanmu agar kau bisa selalu sehat dan melakukan aktifitas mu" tambah Shaina.
Darrell melirik Shaina yang tampak bergidik, dan itu membuat Darrell tertawa hingga sang sopir ikut bingung melihat reaksi Darrell yang tidak biasa itu.
Tiba di rumah, sopir membukakan pintu mobil untuk Shaina keluar begitu juga dengan Darrell yang ikut keluar.
"Terima kasih sudah memberikan tumpangan" ujar Shaina pada Darrell.
"Tidak masalah" sahut Darrell.
Shaina jadi salah tingkah dan Darrell menyuruh sopirnya membawakan belanja Shaina ke dalam rumah, meski sempat di tolak Shaina bantuan tersebut.
"Masuklah bentar, akan ku buatkan kopi sebagai ucapan terima kasihku" ujar Shaina.
Darrell sempat berpikir sebentar hingga ia menerima tawaran tersebut.
Shaina segera ke dapur dan membuat kopi seperti yang dikatakannya sebelumnya lalu dihidangkan untuk Darrell yang duduk di ruang tamu.
"Minumlah, tapi aku tidak tahu buatan ku enak atau tidak tapi Joon suka dan katanya enak" ujar Shaina.
Darrell mengambil cangkir kopi dan meminumnya tapi pada seremput pertama sudah membuat mukanya masam.
"Kenapa? Apa kopinya tidak enak? Apa terlalu pahit atau terlalu manis?" Sela Shaina yang panik melihat ekspresi Darrell.
" Bukan, hanya panas saja, kopinya enak" kata Darrell.
Shaina semakin salah tingkah di tambah waktu menunjukkan sebentar lagi anak-anak akan segera pulang sekolah dan ia belum masak, sedangkan Darrell masih berada di rumahnya dan ia tidak tahu cara menyuruh Darrel pergi.
"Emmm... Aku belakang dulu ya, mau masak soalnya sebentar lagi Alice dan Alfan pulang, mereka pasti lapar" ujar Shaina.
"Silahkan, aku bisa sendiri" sahut Darrell yang jauh dari perkiraan Shaina.
__ADS_1
Shaina kembali ke dapur untuk memasak tapi yang mengejutkannya darel juga ikut menyusul ke dapur.
"Mau masak apa?" Tanya Darrell.
"Oh?! iiitu aku lupa namanya, tapi kenapa kau kesini? Ini sangat memalukan" kata Shaina.
"Kenapa malu?".
"Dapurku berantakan"
Darrell hanya memperhatikan tindak-tanduk wanita itu sembari bersandar di dinding kulkas.
"Permisi, aku mau ambil tomat di kulkas" kata Shaina.
Darrell menyingkir dari kulkas dan menceritakan cerita bohongnya yang sering berkunjung ke rumah Joon dulu, tapi akhir-akhir ini mereka jarang bertemu karena pekerjaan masing-masing sehingga hubungan mereka pun jadi renggang.
Shaina ikut larut mendengarkan cerita tersebut bahkan Darrell menceritakan kisah masa kecil Joon dan dirinya yang kerap bermain bersama dan pertengkaran acap terjadi diantara mereka.
"Kami punya kue kering, kau mau?" Sela Shaina yang meletakkan kaleng kue kering di depan Darrell.
Darrell menyungging senyum tipis melihat keramahan Shaina yang tidak biasanya, karena Helena dulu tidak cengengesan seperti Helena sekarang yang mirip ABG dengan tingkahnya. Tanpa sadar Darrell bicara banyak dengan Shaina sampai-sampai ia tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak tertawa mendengar setiap celoteh Shaina hingga waktu terus berjalan mengiringi perbincangan mereka.
"Sepertinya aku harus pergi" ujar Darrell sembari melihat kearah jam tangannya.
Shaina mengantarkan Darrell sampai di depan pintu, beberapa saat setelah mobil Darrell menghilang, Alice dan Alfan pun tiba di rumah.
****
"Hei bro, lamun aja kerjanya! Tuh pelanggan nunggu kopi mereka" Harris menepuk pundak Joon yang seketika menyadarkan Joon dari lamunannya.
Joon kembali berkutat dengan mesin espresso dan berbagai barang lainnya yang mendukung kinerjanya, meski hanya dengan tangan kirinya saja, namun pelanggannya kali ini cukup menarik perhatiannya dari pada yang lain karena ia datang bersama anak kecil.
Dari penampilannya lelaki itu bukan dari kalangan atas karena ia hanya menggunakan pakaiannya sederhana di tambah ada robekan di sisi jaketnya yang semakin menguat bahwa ia orang tidak mampu. Perhatian Joon semakin dalam, karena lelaki itu memesan untuk anaknya dan tidak untuk dirinya.
Setelah memesan ayah dan anak itu memilih meja di sudut kafe, dimana sang ayah hanya duduk tersenyum sambil memperhatikan putranya makan dengan lahap. Setelah makan, laki-laki datang ke meja kasir untuk membayar pesanan mereka.
Namun saat mereka hendak keluar, Joon menghampiri mereka.
"Maaf sebelumnya jika pertanyaan saya menyinggung, tapi saya hanya penasaran melihat Anda tidak makan tapi hanya putra Anda yang makan, memangnya kenapa?", tanya Joon untuk menjawab penasarannya.
Pria itu melirik putranya yang senang setelah makan.
"Sudah beberapa hari ini putra saya minta diajak makan di tempat ini, dan saya tidak punya uang waktu itu jadi saya tidak bisa memenuhi keinginan itu tapi sekarang memiliki sedikit uang, saya langsung mengajaknya makan, itupun hanya cukup putra saya, jadi saya tidak ikut makan" papar pria itu.
Joon terdiam sejenak kemudian ia kembali bertanya, "tapi bapak bisa ikut bersamanya".
Pria itu tersenyum, "tidak perlu karena melihatnya senang seperti ini saja sudah membuatku bahagia, anak muda seperti mu ini mana tahu kebahagiaan seorang ayah yang cukup hanya melihat anaknya bahagia" tukas laki-laki itu, meski di mukanya terlihat wajah lelahnya, "Sekeras atau setegas apapun seorang ayah ia tetap manusia biasa yang akan melakukan apapun demi kebahagiaan anak-anaknya sekalipun harus mengorbankan dirinya" lanjut pria itu.
Joon terdiam tanpa kata namun laki-laki itu kembali berkata, "jika Anda jadi seorang ayah suatu hari nanti tuan pasti tahu rasanya seperti yang saya rasakan ini" ucap lelaki itu sebelum ia meninggalkan Joon yang mematung.
__ADS_1
Setiap kalimat yang terlontar dari mulut pria itu terasa seperti tamparan keras untuk Joon, mengingat perlakuannya dulu yang selalu bertindak sesuka hatinya terhadap kedua orang tuanya.
Jam makan siang kantor sudah usai, pelanggan pun sudah mulai lengang, Joon menemui bos-nya di ruangan pribadinya, ia meminta izin kerja setengah hari dengan alasan tangannya terasa sakit dan tidak nyaman jika bekerja seharian.
Setelah izin di dapat, Joon tidak langsung pulang melainkan pergi ke sebuah gedung bertingkat dengan orang-orang yang berlalu lalang, dimana di atas depan gedung terukir nama Calista groups.
Tanpa menyapa siapapun Joon yang menenteng alat pembersih masuk kedalam gedung tersebut dengan penampilannya tidak biasa, topi dan baju yang dikenakannya berlogokan cleaning servis membuatnya semakin terlihat sebagai petugas cleaning servis di tempat tersebut. Sesekali menurunkan topinya agar wajahnya yang tertutup masker hitam tidak ada yang mengenalinya meski sekedar menegurnya kecuali lirikan sinis yang didapatkannya dari orang-orang bersetelan formal yang berlalu-lalang di gedung tersebut.
"Hei kau!" Ucap seseorang dari belakang.
Joon segera berbalik badan kearah orang yang memanggilnya itu, Joon menundukkan wajahnya darinya.
"Kenapa kau disini? Toilet di sana?" Tanya orang itu.
"Maaf pak, saya tersesat" kilah Joon yang berbalik arah.
Orang yang menegurnya itu menunjukkan ke arah berlawanan dari arah Joon sebelumnya tapi saat orang tersebut lengah ia segera kembali dan menyelinap masuk kedalam lift sehingga sampai ke lantai atas, lalu menyelinap masuk ke salah satu ruangan.
"Saya tidak memanggil cleaning servis di sini" seru seorang lelaki yang heran melihat petugas cleaning servis masuk ke ruang kerjanya.
Joon membuka topi dan masker hitam yang menutupi wajahnya yang menyebabkan pria itu mematung. Pria 35 tahun itu segera menghampiri Joon sembari menundukkan kepalanya, ia berkata "maafkan saya tuan muda, saya tidak tahu kalau itu Anda".
Joon melangkah ke depan meja kerja pria itu, sedangkan sang pemilik meja dengan terburu-buru mengunci pintu ruangannya.
"Sepertinya kau nyaman di sini, Cristian?" Ucap Joon, tersungging menoleh pada Cristian yang tertunduk itu.
"Maafkan saya yang tidak bisa di andalkan ini, tuan muda" sahut Cristian yang mengangkat kepalanya dan melihat kearah Joon.
Joon meletakkan peralatan yang di bawanya itu di meja kerja Cristian sehingga sang pemiliknya jadi mengerenyit heran. Joon melangkah lalu duduk di sofa tamu yang terdapat di ruangan cukup luas itu, Cristian yang memperhatikannya sejak tadi segera mendekat pada Joon dan jadi salah tingkah, tidak tahu mesti bersikap bagaimana saat Joon melihat-lihat barangnya.
"Papa mempercayai mu sebagai tangan kanannya dan sekarang aku ingin tahu apa yang telah kalian lakukan bersama sampai sekarang" ujar Joon.
"Tuan muda, saya hanya sekretaris biasa, yang hanya melakukan perintah dan-".
"Ceritakan" tukas Joon, sepasang mata indahnya tidak lagi menunjukkan keindahannya melainkan seperti anak panah yang melesat cepat kearah Cristian.
Cristian sendiri merasa ia seperti seekor kelinci yang sedang dihadapkan pada seekor harimau yang siap menerkamnya, sehingga ia menceritakan semuanya tentang tuan utamanya yaitu tuan Salman dan rencana-rencana yang di persiapkan untuk Joon sebelumnya, cerita tersebut tidak di lebihkan ataupun dikurangi Cristian, semua diceritakan apa adanya selama ia bekerja bersama Papanya Joon.
Setelah mendengar cerita tersebut yang keseluruhannya tentang kebenaran yang tidak Joon ketahui sebelumnya memutuskan untuk segera pergi dari gedung tersebut, tapi saat berada di lobi ia hampir saja berpapasan dengan Nyonya Rossie dan para koleganya yang lain namun ia berhasil menghindari mereka dengan atributnya yang mampu mengelabui orang-orang tersebut.
Buruknya lagi ketika ia keluar, di depan pintu berputar, ia kembali hampir saja berpapasan dengan darel, beruntung ia segera membalikkan badannya seraya menundukkan kepalanya di depan Darrell.
Jejeran bangku yang tersedia di sepanjang sungai untuk penikmat senja di kala musim panas di pinggir sungai yang jadi ikonik kota tersebut, namun diantara jejeran bangku itu terdapat Joon seorang diri, merintih dan meringis tanpa ada yang peduli, meraup muka sembari menyeka air matanya.
"Pa, maafkan Joon, Joon tidak tahu papa sayang sama Joon, Joon terlalu jahat dan bodoh. Pa, Ma, kak Ervian, Joon minta maaf, Joon ingin kembali ke masa itu dan mengubah semuanya, Joon ingin pulang ke rumah kita dan kita bisa memulainya kembali" rintihan Joon diantara salju yang menyelimuti bumi.
"Joon merindukan kalian, kembalilah... Joon tidak punya siapapun di sini, kakak dimana kau? Kenapa kakak tidak menuntun Joon lagi? Mama, Joon minta maaf, terlalu sering Joon menyakiti hati Mama dan sekarang Joon sangat butuh pelukan Mama... Kenapa kalian meninggalkan Joon sendiri disini?" Tangisnya semakin dalam bersama dinginnya hembusan angin yang menenggelamkan rintihannya.
****
__ADS_1