Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Bertamu


__ADS_3

Alice tidak jauh-jauh dari Shaina, apapun dan kemanapun Shaina lakukan Alice akan selalu ada bersamanya, bahkan saat Shaina pergi ke pasar, Alice akan membuntutinya, tapi Shaina meminta Alice menutup kepalanya dengan kerudung yang di berikan Shaina sebelum duduk berboncengan di belakang motor Shaina.


Keusilan Alice tidak lagi mengganggu Shaina melainkan mereka jadi semakin akrab satu sama lain, Shaina juga tidak ragu-ragu menggandeng tangan gadis remaja itu, bahkan tertawa bersama saat merasa ada yang lucu. Shaina juga tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk membelikan kerudung baru untuk Alice.


Kembali ke rumah Shaina juga tampak sangat menikmati menyisir rambut lembut Alice hingga mandi bersama. Alfan juga terus mengakrabkan diri dengan adik-adik Shaina, kemanapun mereka pergi ia akan ada bersama mereka.


Di sela-sela membantu paman-pamannya Alfan tampak sibuk dengan ponselnya.


"Keren juga tuh hp bocah, model terkenal pula" gumam Jamal pada Adnan sambil melirik ponsel di tangan Alfan.


Saudaranya tersungging, "kayaknya dia anak orang kaya, lihat aja pakaian dan jam tangannya, bermerk semua" tukas Adnan.


"Paman, bisa pinjamin Alfan sepeda tuh bentar?" Sela Alfan pada Adnan dan Jamal sambil menunjuk pada sepeda yang bersandar di dekat pohon.


"Ambil aja, tapi mau kemana?" Tanya Adnan.


"Ke depan jalan bentar" sahut Alfan yang berlari untuk mengambil sepeda tersebut.


"Tapi kamu orang baru kamu bisa tersesat nanti, kami tidak mau dapat masalah" timpal Jamal.


"Tidak jauh kok, di persimpangan rumah saja" ujar Alfan yang menggowes sepeda dan meninggalkan Adnan dan Jamal.


Sesuai arahan google map Joon menyusuri perkampungan-perkampungan yang dipisahkan oleh persawahan dan pepohonan yang banyak terdapat di daerah itu, hingga ia berbelok arah saat terlihat Alfan yang menunggunya di persimpangan jalan lalu ia mengikuti sepeda Alfan masuk ke pekarangan rumah yang terbuat dari kayu, rumah sederhana namun terlihat asri dengan beberapa tanaman yang menghias rumah tersebut, udara segar terasa kuat dikarenakan di depan rumah itu langsung menghadap ke persawahan dan pepohonan.


Orang-orang keheranan dengan kehadiran Joon, sosok yang paling menawan diantara yang lain di tambah senyum manisnya yang membuat perempuan manapun akan jadi salah tingkah.


Orang tua Shaina menghampiri Alfan dan Joon setelah memarkirkan mobilnya.


"Nak Alfan, siapa ini?" Tanya pak Rahmat.


"Ini papa kami Kek" sahut Alfan.


Dengan alisnya yang terangkat Joon melirik Alfan yang memanggil lelaki paruh baya itu dengan panggilan kakek.


"Saya Joon, Pak dan ini Elif" ucap Joon menyalami tangan pak Rahmat dan yang lainnya satu persatu.


"Alice mana?" Tanya Joon.


"Alice lagi mandi" sahut Alfan.


Lalu Joon di persilahkan masuk kedalam rumah oleh orang tuanya Shaina, mereka berbincang-bincang mengenai negeri asal Joon, adik-adik Shaina pun tertarik untuk mendengarkannya, namun Joon tidak sekalipun menyinggung Shaina yang belum terlihat dari tadi.


"Papa, Elliiss ambil ini" ucap Elif.

__ADS_1


"Sayang, jangan sentuh-sentuh itu" ujar Joon.


Lebih satu-dua kali Joon bangkit dari duduknya untuk menangkap Elif yang kelayapan ke segala pelosok ruang tamu itu, barang-barang yang ada di ruangan itu pun tidak luput dari jarahannya dan tidak satupun orang diseganinya pula, apalagi Bu Yani malah membiarkan gadis kecil itu melakukan sesukanya.


Lelah berkeliling, Elif mendekati Adnan dan Jamal, membuat ia jadi bahan gangguan mereka dengan mengajak ngobrol dengan ala bahasa anak kecil, ketika Elif merasa bosan dengan dua pemuda itu, ia dengan santainya duduk di dekat pak Rahmat yang menyebabkan Joon jadi segan dengan lelaki paruh baya itu.


Tingkah berani Elif itu membuat semua orang tertawa kecuali Joon yang tampak menahan malu.


"Huussshhh! Segarrr!" Seru Alice yang keluar dari kamar mandi bersama Shaina.


"Dasar gadis manja" gumam Shaina, tersenyum melihat Alice yang menurutnya sangat periang dan manja, bagaimana tidak, ritual mandi yang biasanya hanya beberapa menit tapi karena Alice ikut mandi dengannya malah berakhir hampir satu jam. Karena Alice minta ini-itu pada Shaina, dari minta di gosok punggungnya hingga minta di keramasin rambutnya.


"Ma, Alice pake baju Mama ya? Soalnya punya Alice sudah basah tadi" ujar Alice yang berputar-putar dan tersenyum pada Shaina.


Shaina pun membalasnya dengan terkekeh kecil sambil melangkah pelan di dapur setelah keluar dari kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur.


"Aliiss!" Seru Elif, beranjak dari pangkuan pak Rahmat dan hampir-hampir saja menyodok dagu pria paruh baya itu akibat ulah Elif yang bangun secara tiba-tiba untuk berlari pada Alice yang tampak memasuki kamar Shaina.


"Elif? Kau disini? dengan siapa?" Tanya Alice pada adik kecilnya.


"Cama papa" sahut Elif dan saat ia melihat Shaina, ia langsung melepas diri dari cengkraman kakaknya, "Mama...!" Elif berpegangan pada handuk yang melilit tubuh Shaina.


Shaina melempar pandangan ke ruang tamu, betapa kagetnya ia saat mendapati sosok lelaki kemarin yang memeluknya bahkan mengaku sebagai suami. Saking kagetnya, Shaina berlari masuk dalam kamar sampai-sampai ia hampir kesulitan meraih gagang pintu kamar.


Sambil membuang muka Joon tersenyum puas melihat Shaina yang tertutup handuk itu, keluarga Shaina tampak terkejut dengan Shaina yang muncul dengan sehelai handuk.


Rambut panjang hitam pekatnya yang masih menitikkan air itu menutupi wajah cantik Elif yang terkekeh geli saat Shaina menyingkirkan rambut dari wajah si kecil itu, lalu di berikan kecupan manis di bibir lembut Elif hingga di tebarkan di seluruh wajahnya.


"Mama" ucap Alice ikut merebahkan diri di sebelah Shaina dan mendekapnya erat. Remaja cantik itu telah mengganti pakaiannya dengan baju bunga-bunga milik Shaina yang ia ambil sendiri di dalam lemari saat Shaina sibuk bermain dengan Elif.


Di mata Shaina hanya terlihat paras tampan yang ada dalam mimpinya semalam sedang bercumbu dengannya hingga membuat hatinya malu tanpa alasan.


Diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun sebenarnya bayangan Joon telah menemani mimpi-mimpi indahnya di setiap malamnya, hanya saja ia tidak tahu jika sosok itu benar-benar nyata, dan saat ia tahu si pemilik kornea biru itu kini menghampirinya maka hayalan liarnya juga menyapanya.


Bahkan saat pertama kalinya bertemu Joon di jalan waktu itu, Shaina hampir tidak bisa membuktikan antara nyata atau tidak. Meskipun demikian, Shaina tidak bisa mengatakan perasaannya pada siapapun, dan cukup dirinya dan sang pencipta saja yang tahu.


Namun ia merasa buruk, karena hayalannya itu tak seharusnya ada lagi karena laki-laki lain akan segera menggenggam tangannya dengan halal.


"Shaina, apa yang kau lakukan?" Tiba-tiba bu Yani berdiri di depan pintu kamarnya.


Shaina mengerjap kaget, terlebih-lebih saat mendapati dirinya ternyata belum memakai baju. Secepatnya Shaina beranjak dari kasurnya dan membuka lemari pakaian dan ia sedikit terkejut melihat Alice memakai salah satu baju kesukaannya.


Joon kembali tertegun melihat Shaina keluar kamar bersama putri-putri manis itu, dan kenangan indah masa lalu kembali muncul dalam ingatannya, saat Shaina menghampiri Joon pulang sambil menggendong Elif dan si kembar yang melompat kedalam rangkulan Joon dengan penuh keceriaan.

__ADS_1


Bayangan masa lalu Joon menghilang saat Elif berlari kedalam pelukannya, pita rambut yang pernah di buang kini kembali menghiasi rambut tebal Elif.


"Kau menemukannya kembali" ucap Joon, suaranya bergetar, dan tangannya menyentuh pita rambut Elif.


Sikap Joon menarik perhatian keluarga Shaina, sikap tenangnya mendadak berubah sendu dan menyiratkan perasaan sedih.


"Kenapa anda kesini?" Ketus Shaina pada Joon.


Shaina ikut duduk tapi dengan jarak cukup jauh dengan Joon.


Joon tersungging, "awalnya aku datang bermaksud untuk meminta maaf karena membuatmu malu kemarin, tapi melihatmu seperti ini aku jadi batal minta maaf" ucap Joon.


"Seperti ini? Apa maksudmu?" Usut Shaina.


"Lihatlah! Anak-anakku jadi tak menghiraukan ku bahkan ada yang tampak tidak mau pulang, jangan-jangan kamu sudah memantrai mereka" cetus Joon sambil melirik Alice yang dari tadi tidak mau jauh-jauh dari Shaina.


Merasa dirinya di cibir, Alice semakin mendekat pada Shaina dengan memasang wajah cemberut pada Joon.


"Mantra? Memangnya aku penyihir? Anak-anak mu saja yang agak aneh, tidak khawatir datang ke rumah orang tak dikenal" timpal Shaina.


"Anak-anakku terlahir sebagai putri dan pangeran, bertemu dengan penyihir bukanlah masalah bagi mereka" tambah Joon.


"Iiisshhh! Sombongnya! Mentang-mentang kau dan anak-anakmu sedikit lebih cakep dariku malah seenaknya menyebutku penyihir" sergah Shaina.


Sikap berani membela diri membuat yang lain heran dengan Shaina yang tidak seperti biasanya.


"Dasar tidak punya malu datang ke rumah orang malah mengatai orang penyihir, jika saja aku benar-benar penyihir pasti sudah ku masak kau kedalam kuali biar kau menderita disana!" Timpal Shaina.


"Shaina! Apa yang kau bicarakan, bersikaplah ramah, dia ini temannya Harris sepupu calon suami mu" terang Bu Yani pada Shaina.


"Ngapain aku sopan pada orang yang tidak tahu sopan santun seperti dia!" Sembur Shaina.


"Shaina! Sebaiknya kau siapkan makan siang saja di dapur daripada memarahi tamu calon suamimu!" Titah Bu Yani.


Shaina yang terlanjur kesal berdiri dengan kasar, bahkan ia sempat mendengus pada Joon sebelum ia pergi ke dapur.


"Maaf karena aku tidak pernah sopan padamu, bahkan disaat pertemuan pertama kita aku juga memarahimu, Minggu pertama kita, aku membiarkan mu sendiri berjalan dalam gelap, hari selanjutnya aku anggap kau bebanku sampai-sampai aku menuduh mu tidak waras dan bulan berikutnya aku menjauhi mu dari orang-orang baru karena aku takut kau tidak melihatku, bulan selanjutnya ku biarkan kau menderita bersama ku, bulan berikutnya ku buat kau menangis karena aku terlalu takut kau memilih orang baru yang memiliki segalanya daripada aku, minggu berikutnya ku biarkan kau berjuang sendiri demi buah cinta kakakku dan istrinya, setelah itu dengan egoisnya aku memutuskan kita untuk menikah tanpa ku sadari sejak lama kau menyembunyikan ketakutan mu bahkan kau menyembunyikan jejak hidupmu dariku" Joon memalingkan wajahnya sambil tersenyum getir, nafas berat pun di helanya dimana matanya kembali berbidik pada Shaina,


"aku bodoh sekali telah menciptakan mimpi semu untukmu tanpa sekalipun aku mencoba mendalami perasaanmu karena terlalu sibuk untuk kebahagiaan ku sendiri hingga hari itu datang, hari yang menyadarkan ku dari mimpi indah dimana kau pergi meninggalkanku sama seperti saat kau datang padaku hanya saja aku tidak menyangka kepergianmu itu terlalu sulit untuk ku terima, tapi melihat kau baik-baik saja disini bahkan tidak ingat apapun mengenai aku dan anak-anak, mungkin ini adalah hukuman yang pantas untukku atas kesalahan-kesalahan ku atau ini masih belum cukup untukku" lanjut Joon.


Shaina sedikit menertawai Joon meski ia merasa tidak enak hati tapi ia merasa Joon terlalu berlebihan dalam mengarang kata-kata.


"Kau salah orang, aku bukan orang yang kau maksud, selama hidup aku tidak pernah pergi ke manapun apalagi tinggal dengan orang luar negeri sepertimu, itu sangat-sangat mustahil" dengus Shaina.

__ADS_1


Orang tua maupun adik-adik Shaina memperhatikan mereka dengan ekspresi sulit di jelaskan.


Joon tersenyum, "kau benar itu mustahil, semua orang juga berpikir sama sepertimu" ucapnya sambil mengerling adik-adiknya Shaina yang sejak tadi berusaha menghindari kontak mata langsung dengannya.


__ADS_2