
Satu persatu nama disebutkan termasuk tante Rossie yang mendapat salah satu cabang perusahaan di luar kota, dan kata pengacara itu membuat segaris senyuman dari bibir merah nyonya Rossie.
Hingga pengacara menyebutkan nama Ervian, "untuk putraku Ervian, aku berikan setengah saham Calista grup" Kata pengacara itu terhenti dan melihat ke orang-orang yang sedang menunggu kelanjutan dari isi surat itu, lalu melanjutkan katanya, "karena tuan Ervian sudah pergi lebih dulu dan secara otomatis sahamnya jatuh kepada anak-anaknya".
Kasak kusuk obrolan para kerabat keluarga Joon memenuhi ruangan pertemuan malam itu, mereka mempertanyakan siapa yang akan mengurus warisan bagian milik anak-anak Ervian diusia mereka yang masih kanak-kanak. Karena tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan itu, maka para kerabat tersebut kembali memperdebatkan orang yang jadi pengurus saham Calista grup bagian dari anak-anak almarhum Ervian. Namun suasana ruangan kembali ditenangkan oleh si pengacara untuk melanjutkan membaca isi wasiat itu.
"Dan untuk semua yang tersisa mulai dari properti, saham Calista grup dan cabang-cabang perusahaan termasuk saham di perusahaan lain juga rumah, ku berikan pada putra bungsu ku, Joon Rafardhan" Kata pengacara itu membuat semua orang terdiam membisu.
Seketika semuanya kaget, bagaikan sambaran petir di siang hari menyambar para pendengar itu, mengenai isi surat wasiat yang ditulis oleh Tuan Salman Roland sendiri, begitu juga dengan Joon, ia tidak menduga papanya memberikannya 70% dari kekayaan orang tuanya dan itu lebih besar dari milik Ervian, sang kakak yang selalu dibanding-bandingkan dengannya. Joon terduduk terdiam membisu, debaran jantungnya menggema didalam dadanya, tanpa sadar air mata penyesalan ikut mengenang dipelupuk matanya.
Kenyataan isi surat wasiat itu juga mengejutkan anggota keluarga yang lain, mereka tidak menduga pemuda yang pernah di usir itu malah mendapat bagian terbesar dari yang mereka perebutkan. Semua mata tertuju pada Joon dengan tatapan penuh amarah yang meragukan kemampuan Joon dalam mengurus perusahaan karena menurut mereka ia tidak lebih dari seorang Batista dan penggoda.
Usai pembacaan surat wasiat Tuan Salman Roland, pengacara itu mengambil amplop lainnya dari dalam tasnya yang masih tersegel rapi dari pernyataannya amplop itu milik Ervian sebelum ia meninggal.
"Saya juga memiliki amplop milik tuan Ervian tapi saya tidak bisa membacanya sekarang karena saya harus membacanya didepan istri dan anak-anaknya, jika ada waktu saya ingin mengunjungi rumah tuan Joon besok untuk bertemu dengan mereka" Ujar pengacara itu. "Keluarga tuan Ervian tinggal bersama tuan Joon, kan?" Tambah pengacara itu.
Joon mengangguk, karena tidak ada lagi yang dibacakan, Joon beranjak dari tempat duduknya untuk pulang.
"Permisi, aku mau pulang kalau tidak ada hal penting lagi" Kata Joon.
"Apa kau yakin Joon bisa mengurus perusahaan?"
"Iya juga, dia kan hanya tahu menghabiskan uang dan main perempuan, bisa-bisanya dibuat bangkrut jika ditangannya"
Bisik-bisik yang lain terhadap Joon tapi ia tidak menggubrisnya, ia berlalu menuju pintu keluar. Tidak terduga seseorang menyenggolnya sehingga menjatuhkan amplop yang ada dalam saku bajunya. Isi amplop itu berserakan yang merupakan uang gajinya tadi, orang-orang itu melihat Joon mengutip uangnya itu dan mereka menertawakannya karena jumlah uang Joon itu tidak seberapa dengan isi dompet yang mereka miliki.
"Jadi sebulan kau bekerja keras hanya untuk segitu?" Sindir mereka.
"Ini aku tambahin, aku kasihan melihatmu" Pria itu menjatuhkan beberapa lembar uang kertas pada Joon.
Joon tidak peduli dengan perkataan mereka, dan setelah mengambil uang yang hanya jadi miliknya saja, ia segera pergi dari gedung itu. Ditempat parkir nyonya Bianca kembali menghentikannya.
"Joon! Joon! Berhenti!" Dengan diburu nafas yang tersengal-sengal nyonya Rossie yang mengejarnya.
"Ada apa lagi tante? aku tidak tertarik dengan warisan itu terserah mau kalian apakan itu, aku tidak peduli" Kata Joon.
__ADS_1
"Tidak peduli? Apa kau tidak memikirkan perasaan almarhum kakakku? Dia memberikan semuanya untukmu tapi dengan mudahnya kau membiarkan orang lain mengambil alih begitu saja" Sergah nyonya Rossie.
"Tapi setidaknya aku tidak menghancurkan apa yang telah dibangun Papa" Gumamnya.
"Kau ini benar-benar naif, apa kau tidak berpikir kenapa almarhum kakakku mempercayai mu untuk memberikan semua itu?" Tambah nyonya Rossie, dari matanya terpancar pengharapan agar Joon memikirkan baik-baik perkataannya.
"Aku tidak ingin memikirkannya, ini sudah malam aku mau pulang dulu" Ucap Joon, lalu masuk kedalam mobilnya.
"Terserah kau! Kau kira dengan gajimu itu bisa membiayai anak-anak almarhum kakakmu?" Timpal Rossie pada Joon yang sudah meninggalkan parkiran.
Dalam hitungan menit suara mesin mobil Joon memudar diantara kendaraan yang lain. Sampai dirumah, Shaina dan anak-anak sedang menonton TV setelah mengerjakan tugas sekolah mereka.
Melihat Joon muncul di balik pintu dan dengan kesadaran penuh melegakan Shaina, karena ia khawatir jika Joon pulang larut malam seperti dulu saat ia mabuk dan harus dibopong oleh teman-temannya.
Shaina berdiri dari duduknya dan menghampiri Joon, "Sudah makan malam?" Tanyanya pada Joon yang baru pulang.
"Belum, aku sangat lapar" Kata Joon dengan mengelus perutnya.
"Kalau gitu aku hangatkan makan malam dulu ya?" Ujar Shaina.
Dimata Joon tampak melihat kelopak-kelopak bunga berterbangan disekeliling Shaina yang seakan memanggilnya untuk mendekati perempuan itu lebih dekat lagi.
Perlahan langkahnya yang tak berderap semakin mendekat hingga Shaina tidak menyadari keberadaan joon di belakangnya, sampai-sampai saat ia berbalik badan hampir menubruk tubuh Joon, "Aaaww!!!" Pekik Shaina yang kaget dengan Joon.
"Maaf aku mengagetkan mu" Kata Joon yang tersenyum dengan senyuman terbaiknya.
"Dasar kamu ini!!" Shaina memukul dada bidang Joon dan itu tidak berarti apa-apa bagi Joon dengan kekuatan Shaina, "jika aku jatuh bagaimana? Apa kau mau peri kecilku terluka?" Timpal Shaina.
"Aku minta maaf" Kata Joon tapi Shaina tidak menggubrisnya melainkan ia mengerucutkan bibirnya terhadap Joon. Joon merunduk setengah perut Shaina dan berbisik didekat perut besar perempuan itu, "hey peri kecil, kamu tidak apa-apa kan didalam sana? Tolong bujuk Mama mu untuk memaafkan paman mu ini".
Shaina terkekeh dan memundurkan langkahnya, ia berkata, "Hentikan Joon, kau membuatku malu".
Joon mengangkat kepalanya seraya terkekeh, "Apa yang harus di maluin? Aku bahkan sudah melihat perutmu saat USG dulu" Kata Joon.
"Ihhh kau ini...! Cepat makan sana sebelum makanannya keburu dingin" Dengus Shaina.
__ADS_1
Joon berbalik dan menuju meja makan yang sudah tersedia menu makan malam dibelakangnya disusul Shaina sembari membawa teko berisi air.
"Ini?" Tanya Joon dengan melihat heran ke menu makan malamnya.
"Apa ini sesuai dengan menu yang tadi pagi kau minta? yang namanya agak aneh itu?" Balas Shaina.
"Iya sih, tapi kamu kan tidak tahu cara masaknya bahkan kamu sulit mengucapkannya?".
" Hey tuan muda! Kita hidup di abad canggih, walaupun tidak tahu cara masaknya tapi kita kan bisa browsing di dunia yout*be atau intenet".
Joon tersungging yang diiringi dengan mengangkat salah satu alisnya ketika Shaina mengisi piringnya.
"Silahkan dicoba, katanya Alfan dan Alice sih enak tapi aku tidak tahu menurutmu bagaimana" Kata Shaina.
Shaina dibuat tegang menunggu jawaban Joon tentang cita rasa masakan terbarunya apalagi Joon terus berlama-lama saat memberi nilai setelah mencicipi makanan tersebut.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Shaina dengan mengerutkan keningnya serta tangan mencubit bibirnya dan mata tertuju pada ekspresi lelaki itu.
Joon menagkap adanya kekhawatiran dari Shaina dan itu membuatnya tersenyum simpul di balik ekspresi seriusnya. Sudah lebih dari tiga suapan Joon memakan makanannya tapi belum juga ada jawaban darinya dan masih kekeh dengan tampang seriusnya. Namun, Shaina benar-benar tidak sabaran menunggu hasil masakannya.
"Joon...! Tolong katakan, bagaimana rasanya...?" Paksa Shaina.
Joon meliriknya dan mengangkat sendok makannya lalu menyuapi perempuan itu hingga Shaina sendiri kebingungan dengan ulah Joon.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Joon balik pada Shaina yang sedang mengunyah makanan tersebut.
"Isshhh! Kenapa aku yang disuapin? Aku masih penasaran rasanya tahu!!" Ketus Shaina.
"Lumayanlah buat pemula" Sahut Joon yang tersungging.
"Ck, terserah kamu deh! Aku juga mau makan" Meski memasang muka sebal, tapi Shaina juga mengisi makanan ke piring yang di depannya, dan ikut makan bersama Joon hingga selesai.
Tingkah Shaina mengundang Joon untuk bertanya, "Kamu belum makan tadi?".
Shaina melirik kearahnya seraya berkata, "aku masih lapar dan ingin makan lagi".
__ADS_1
Joon terpaku mendengar jawaban Shaina, karena sebelum kedapur Joon sempat bertanya pada Alfan dan Alice yang sudah makan atau belum, mereka mengatakan sudah makan malam dan cuma Shaina yang belum makan malam. Mengetahui itu semua timbul pertanyaan didalam hati Joon tentang maksudnya Shaina yang menunggunya makan malam dengannya.