
Alice kangen sama Mama Helena dan papa, kami dulu juga pernah tidur seperti ini" gumam Alice.
"Iya, Papa dulu juga suka peluk Alfan seperti paman sekarang" sambung Alfan.
Perkataan Alfan dan Alice membuat Joon terdiam sambil memikirkan sesuatu.
"Benarkah?" Tanya Joon, ia menatap lekat-lekat wajah Alfan yang mengingatkannya pada sosok almarhum kakaknya.
"Kita tidur seperti ini sudah seperti keluarga sungguhan" celetuk Alice yang terkekeh.
"Memangnya kita bukan keluarga sungguhan?" Tambah Joon.
"Iya sih! Tapi kata orang keluarga itu ada Mama ada Papa baru lengkap seperti teman-teman yang lain" tukas gadis.
"Kita tidak punya Papa tapi kita punya Paman walau agak galak" sela Alfan.
"Galak? Kalian menganggap ku galak?" Joon kaget dan memasang wajah juteknya.
Setelahnya diikuti suara tawa mereka karena Joon tiba-tiba menggelitik Alfan dan Alice, bahkan Shaina ikut tertawa bersama mereka, tapi itu tidak berlangsung lama karena Shaina sudah menyuruh mereka untuk menyudahi canda mereka agar Alice dan Alfan segera tidur apalagi sudah larut malam.
Waktu terus berjalan, anak-anak pun sudah terlelap tapi tidak dengan Shaina dan Joon, mereka saling beradu pandang.
"Kenapa kau belum tidur?" Tanya Shaina.
"Terima kasih ya, kamu mau membuat mereka bahagia dan mereka tidak merasa kehilangan orang tua mereka" kata Joon.
"Tidak usah berterima kasih, aku hanya menjalani hidup nona Helena malahan kamu yang pantas mendapatkan ucapan terima kasih" tukas Shaina.
"Kau salah, aku tidak pantas mendapatkannya".
"Aku tahu kau itu orang baik, kau juga bisa mencintai mereka sepenuh hatimu hanya saja kau butuh waktu untuk menyadarinya. Kau itu hebat!" Ungkap Shaina dengan penuh semangat.
"Ternyata kau ingin pintar bicara juga ya?" Joon tersenyum simpul, "jangan bicara lagi cepat tidur saja, kau harus menjaga kesehatan mu juga" timpal Joon.
__ADS_1
Shaina tersungging pada saat Joon terkekeh padanya. Hawa dingin yang dibawa Alpen dimana dapat membuat raga siapapun menggigil hebat telah lenyap begitu saja, dikalahkan oleh hangatnya selimut keluarga. Alice dan Alfan pun telah mendapatkan kembali pelukan hangat yang telah lama hilang selama ini meski dari orang yang berbeda, tapi dekapan Joon dan Shaina sudah mewakili pelukan orang tua mereka, meski Joon masih belum benar-benar dapat bersikap seperti Ervian sang ayah kandung mereka, namun dengan keberadaan Shaina dalam tubuh Helena mereka dapat merasakan kembali kehangatan sang ibunda tercinta.
Malam terus berlanjut, mereka semua tertidur pulas bahkan Alice dan Alfan tampak enggan untuk melepaskan pelukannya dari Shaina maupun Joon.
****
Di pagi harinya menjelang hari udaranya pun semakin dingin, Shaina yang terbiasa tinggal di negara beriklim tropis benar-benar tidak kuat menahan sejuknya udara Wina, meski ia sudah memakai baju bertumpuk-tumpuk ditambah lagi ia lengkapi dengan long sweater rajut untuk menghangatkan tubuhnya. Setelah berganti pakaian di kamarnya ia kembali ke kamar Joon untuk melihat anak-anak yang masih terbuai dalam mimpinya mereka.
Kecupan manis ia berikan ke masing-masing mereka walaupun tanpa diminta mereka, tapi sudah menjadi kebutuhan Shaina sendiri, ia merasa sudah ada ikatan dengan Alice dan Alfan, apalagi wajah imut kedua anak itu seakan memintanya untuk memberikan kecupan hangat tersebut. Saat Shaina sudah melakukan ritual kecupan manis itu ia kembali beranjak dari tempat tidur tapi ia malah dikejutkan dengan kehadiran Joon yang ternyata sejak tadi berdiri di pintu kamar mandi memperhatikan sikap Shaina atas anak-anak itu.
Lelaki itu yang baru selesai di kamar mandi dengan rambutnya berantakan karena baru selesai dikeringkan dengan handuk.
"Sepertinya semuanya sudah kebagian tapi aku tidak" ujar Joon.
"Kebagian apa?" Tanya Shaina yang tidak mengerti apa dengan perkataan Joon.
Joon mendekat pada Shaina sambil berbisik di telinganya, "mau tahu?".
Joon yang berbisik terlalu dekat membuat Shaina geli karena udara segar mengenai kulitnya, "apa?" refleks ia menoleh pada Joon dan tanpa diduga ia malah saling berhadapan dengan Joon di jarak yang sangat dekat, menyebabkan keduanya seakan-akan hendak berciuman.
"Jangan melamun!!" Ketus Joon sambil melempar handuk bekas ia mengeringkan rambutnya ke wajah Shaina.
Tindakan Joon itu sontak membuyarkan Shaina, ekspresi yang tenangnya tadi mendadak berubah jutek sambil menelan rasa malunya.
"Apaan sih!!" Timpal Shaina dengan wajah kesalnya.
Joon terkekeh, menertawakan Shaina yang meninggalkan kamar dengan ekspresi cemberut. Shaina terus mengumpat dirinya sendiri karena kejadian tersebut bahkan di depan panci bubur ia masih mendengus kesal.
"Apa ada kotoran di mataku tadi sampai-sampai merhatiin segitunya?" Gumam Shaina sambil kaca dipermukaan panci.
Shaina menggerak-gerakkan panci berbahan stainless itu agar ia bisa berkaca walau tidak jelas bahkan terlihat buram.
"Hebat juga kau, pantat panci bisa kau jadikan tempat ngaca!" Seloroh Joon yang tiba-tiba muncul di belakang Shaina.
__ADS_1
Secepatnya Shaina meletak panci tersebut, mukanya jadi merah, "apaan sih! Ganggu orang aja!" Dengus Shaina.
Joon terkekeh geli dan berdiri di dekat Shaina, tapi Shaina berpindah tempat dan menjauh untuk menghindari bertatap mata dengan Joon.
Setelah mengambil bahan-bahan masakan di dalam kulkas Shaina segera meletakkannya di meja, karena ia tidak tahan dengan dinginnya permukaan toples tersebut yang disebabkan oleh suhu kulkas ditambah lagi ia masih sedang bergulat dengan sejuknya udara. Didepan toples plastik berisi sayuran yang sudah dipotong-potong Shaina tampak menggosok-gosok telapak tangannya untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Dari tempat yang berbeda Joon juga melihat kakak iparnya itu tampak sangat serius dengan udara dingin tersebut.
Shaina dikejutkan dengan Joon yang memegangi tangannya dan ikut menghangatkan tangannya.
"Sangat dingin ya?" Tanya Joon, sambil menggosok-gosok telapak tangan Shaina lalu di letakkan di sisi lehernya agar dapat menghangatkan Shaina.
"Udah tau ditanya lagi!!" Dengus Shaina.
"Kau tidak terbiasa dengan udara dingin ya?" Tambah Joon.
"Ya tentu, mana ada udara dingin seperti ini di tempatku, karena aku tinggal di Afrika jadi aku terbiasa dengan udara panas yang semakin membuat kulitku gelap" sahut Shaina.
"Afrika bagian mananya?" Tanya Joon.
"Emmm.... Untuk apa?".
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan dimana asalmu yang jelas?" Tanya Joon.
"Tidak ada gunanya juga ngapain aku katakan?" Balas Shaina.
"Siapa tahu nantinya ada gunanya kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya" ucap Joon.
Shaina terdiam sambil memandang Joon yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sempurna indah, dan dirinya kembali dibuat terkaku diam, apalagi saat Joon menyingkirkan rambut Shaina ke belakang dan perlahan ia mendekat.
Shaina merasa dirinya benar-benar sudah membeku tapi bukan karena udara dingin melainkan oleh Joon yang setiap detiknya terus mendekat hingga tak berinci, hembusan aroma mint pun telah melekat di bibir Shaina yang tidak sanggup lagi bergerak bahkan berucap. Ia tidak lebih dari patung dengan mata terbuka merasakan bibirnya disentuh oleh bibir Joon lalu memaksakan mulut memberi celah untuk Joon lakukan aktivitas didalamnya dengan lid*hnya, menikmati setiap sensasi yang baru bagi Shaina.
Ini pengalaman pertama kalinya bagi Shaina, sekujur tubuhnya membeku seperti balok es, ditambah tangan Joon memegangi pinggangnya yang sesekali sedikit meremasnya, dengan mata terbuka Shaina melihat Joon melakukan itu atas dirinya namun ia tidak bisa menolaknya lagi. Perlahan-lahan Joon mengakhirinya dan kembali membuka matanya, melihat Shaina yang mematung dan menyadarkannya tindakannya yang sudah terlanjur jauh.
"Manis..." Gumam Shaina tanpa sadar.
__ADS_1
Joon awalnya cemas malah tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan Shaina. Joon tidak lupa menyeka bibir Shaina yang lembut itu setelah ia nikmati manisnya madu cinta di pagi hari.
"Ma" ucap Alice yang seketika mengagetkan Shaina dan Joon.